
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
DUA MINGGU KEMUDIAN.
Pagi yang indah, langit terlihat biru cerah dengan beberapa gulungan awan putih yang lembut. Saat yang tepat untuk memulai aktivitas di kantor Lucius. Setelah dua minggu tinggal di hotel. Tanpa melakukan apa pun dan tidak bisa menghubungi keluarga seperti perintah Zio. Hal itu benar-benar membuatnya bosan. Selena hanya makan, tidur dan begitulah seterusnya.
Selena saat itu merasa seperti dikurung di dalam labirin agar tak bisa keluar untuk selamanya. Dia merasa berjalan dalam lorong yang entah sampai kapan akan mendapatkan jalan keluar. Rumput-rumput dan tanaman-tanaman yang menjulang tinggi terus saja mengikatnya dengan ucapan cacian serta makian. Ia sama sekali tidak berbeda seperti labirin. Kebebasan diikat oleh sebuah pangeran yang berhati iblis.
Kini kebebasannya kembali. Malam itu, pak Alex menjemputnya dari hotel dan mengantarnya ke apartemen mewah milik Zionathan. Apartemen ini terkenal dengan fasilitas kemewahan yang begitu Wow. Setiap unit memiliki ruangan dengan konsep infinity pool. Apartemen ini memiliki empat teras yang saling menyambung. Selain menyediakan fasilitas mewah, ada beberapa pembantu rumah tangga khusus di sediakan di setiap unit. Selena terpesona dengan kemewahan apartemen itu. Tapi tidak ada suaminya. Ia sudah bisa menebak itu. Zionathan memilih lembur di kantor dan tidak pulang.
Selena tiba di kantor Lucius. Bunyi sepatu heels tujuh senti milik Selena bergema di sepanjang koridor yang di lewatinya. Tubuhnya tegap seperti seorang sekretaris yang sudah terlatih.
Tuk...tuk...tuk...
Tuk...tuk...
Tuk...
"Selamat pagi sekretaris Selena," ucap setiap karyawan lain yang berpapasan dengannya.
"Selamat pagi," Sahut Selena dengan senyum elegan miliknya. Tangan kanannya membawa secangkir kopi dengan gelas sekali pakai. Minuman terbaik untuk menambah semangat pagi ini.
Selena berjalan tegap menyusuri di koridor kantor. Hari yang sibuk setelah dua minggu tidak masuk kerja. Hanya pejabat penting yang tahu soal pernikahannya dengan pak direktur. Sementara karyawan lain tidak ada yang tahu.
"Huffft..." Selena mengembuskan napas singkat. Ia menaruh tas dan cangkir kopi yang di bawanya tadi.
Ia duduk sambil membuka laptop yang di atas meja. Banyak pekerjaan menumpuk dan perlu untuk di-review, diperiksa, didata ulang, divalidasi dan diversifikasi. Jika tidak ingin mendapat masalah, Selena harus bisa menyelesaikannya. Pekerjaan kali ini sedikit lebih banyak karena ketidakhadirannya selama dua minggu.
"Selamat pagi sekretaris Selena," pak Alex muncul dengan senyum merekahnya. Ia sudah tiba lebih dulu.
Selena reflek bangun dari duduknya. "Pagi, pak Alex." Sahut Selena dengan senyum ramah.
"Ah, senang sekali anda bisa kembali. Maaf tidak bisa membantu pekerjaanmu selama dua minggu ini. Itu perintah langsung dari pak direktur. Jadi sebelum beliau kembali, anda harus sudah menyelesaikan semuanya."
"Tidak apa-apa pak Alex, ini memang pekerjaan saya dan saya akan usahakan bisa menyelesaikan secepatnya." Ucap Selena mengembuskan napas dengan tangan mengunci di depan dada. Walau di dalam hati, dia ingin memaki pak direktur.
"Dan saya juga berterima kasih, dua bulan kau bekerja di sini. Kau cukup membantu pekerjaan saya, termasuk saat melakukan meeting lewat video call. Kau begitu gesit menyiapkan semuanya. Permulaan yang baik untuk seorang sekretaris seperti kamu. Kau benar-benar berusaha untuk menjadi karyawan terbaik." Puji Alex.
"Jika bukan berkat bantuan anda, saya tidak bisa seperti ini. Semua modul yang anda berikan kepada saya sangat membantu juga. Anda juga selalu stand bye jika saya memerlukan bantuan." Ucap Selena balas memuji.
"Dan kabar baik untukmu."
Dahi Selena mengerut. "Kabar baik apa pak?"
"Berkat kerja kerasmu, kontrakmu diperpanjang."
Selena terbelalak dengan mulut terbuka. "Kontrak saya diperpanjang pak?"
"Ya. Pak direktur juga sudah menandatanganinya."
DEG!
Entah mengapa saat mendengar kalimat itu, hati Selena seperti terbebani. Ia seperti diajak bertempur di tengah padang gurun yang diasumsikan kemampuan hidupnya sangat kecil. Hatinya tidak tenang. Ia gelisah, apa yang akan terjadi nantinya. Melihat sikap pak direktur membuatnya tidak nyaman. Selena bahkan tidak menginginkan perpanjangan kontrak itu.
"Sekertaris Selena, anda melamun?"
Selena hanya terdiam tidak menjawab.
"Yuhuuu. Sekertaris Selena?" lagi panggil Alex sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Selena.
Selena mengerjap. "Egh! Maaf pak."
"Maaf, untuk apa sekretaris Selena?"
"Ahhh..maksud saya anda bilang apa pak?"
Alex tersenyum. "Kontrak kerjamu diperpanjang. Semangat untuk bisa lebih baik lagi. Siapa tahu anda dapat promosi jabatan sebagai general manager, kita tidak tahu, kan?!"
Selena tersenyum samar. "Mohon bantuannya pak, tanpa anda juga saya tidak bisa seperti ini."
Alex menganggukkan kepalanya. "Pasti." Ia kemudian memberikan pekerjaan tambahan kepada Selena. "Pak direktur tadi malam berangkat ke London." Kata Alex memberi tahu.
Selena mengangkat wajahnya menatap pak Alex. "Ke London pak?"
"Hmm. Ada kontrak kerja yang harus disepakati di sana. Jadi selama beliau di sana. Saya harap anda bisa menyelesaikan tugas ini. Jika sudah selesai, kamu bisa meletakkan berkas itu di mejanya."
"Baik pak,"
"Terima kasih Selena." Ucap Alex menepuk lengan Selena dengan lembut. Lalu meninggalkan Selena di sana.
Heeeee Selena mendesah, "Dia benar-benar tidak menganggapku sebagai istrinya. Setidaknya ia minta izin." Ucap Selena bermonolog sambil menatap pintu pak direktur yang tertutup.
"Apa yang kau harapkan Selena, minta izin? jangan mimpi." Selena mendesah lagi.
"Kemana Nathan yang aku kenal lembut dan baik hati itu. Apa hatinya tertutup untuk mengingat masa kecilnya dulu dan bagaimana...." Selena menangguhkan kalimatnya. Ia segera menggeleng mencoba menepis setiap perasaan yang mengingatkannya kepada Nathan.
"Jangan bodoh Selena, Kau tidak boleh berharap banyak, pernikahan ini hanya sebatas di atas kertas saja. Zionathan menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan ayah Alberto saja." Selena mendongak ke atas. Ia mencoba menarik napasnya dengan mulut terbuka. Selena memenjamkan matanya, mencoba tersenyum walau hatinya sakit.
Ia mendengkus saat mengingat pembicaraan terakhirnya dengan Zionathan lewat telpon. "Kau bisa pulang malam ini, nanti Alex menjemputmu. Kau bisa bebas melakukan apa saja apartemen itu. Tapi ada satu kamar yang tidak boleh kau masuki. Jika sampai kau tertangkap kamera cctv, aku tidak akan memaafkanmu."
Selena mengeram. "Kenapa dengan kamar itu? Apa ada harta karun?"
Aaahhhh....Selena mengembalikan pikirannya. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskan dari mulut yang terbuka. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ia tidak boleh memikirkan pria arogan itu.
DUA HARI KEMUDIAN.
Selena kembali berkonsentrasi. Tidak ada kabar dari Zionathan. Zio hanya menghubungi Alex saja. Tidak apa-apa, Selena tidak berkecil hati.
Ia menyelesaikan tugas tumpukan yang berminggu-minggu ditinggalkannya. Pekerjaan Selena benar-benar padat dan menumpuk hari ini. Selena bergelut dengan pekerjaan yang masih bisa dikejarnya. Ia bahkan hanya menjeda untuk merenggangkan otot-ototnya. Lalu mengejar semua yang ketinggalan. Dan sekarang semua hal itu berjalan dengan baik.
Dddrrrttt dddrrrttt...
Perhatiannya teralihkan saat mendapat panggilan dari handphonenya. Selena tersenyum saat melihat kontak Ferdinand ada di display layar handphonenya. Ia sedang melakukan panggilan Video call.
Selena dengan cepat menggeser tombol jawab dari handphonenya. "Hallo, Ferdi?"
"Hei Selena," Ferdinand melambaikan tangannya. "Bagaimana kabarmu? Kau sibuk sekali dan tidak mau mengangkat panggilanku." Protes Ferdinand di sana.
"Siapa yang sombong? Kau menghubungiku saat aku tidur. Aku juga malas menjawabnya."
"Cih kamu jahat." Ferdinand mengerucut wajahnya.
Selena terkekeh. "Di jepang sudah malam ya?"
"Hmm, ini lagi makan bersama teman-teman."
"Kenapa kau menghubungiku saat kau sendiri sedang bersama teman-temanmu. Apa kata mereka nanti."
"Tidak masalah, aku hanya ingin melihat wajahmu saja."
"Mulai..." Selena membengkokkan bibirnya.
"Tidak, aku serius Selena. Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu Ferdi. Chesa juga merindukanmu. Kami semua sangat merindukanmu."
"Kau selalu membawa nama Chesa." Nada suara Ferdinand begitu kesal.
"Memang kenyataannya, kami semua merindukanmu. Liburan natal, pulanglah...kami menunggumu."
"Ya, aku pasti pulang." Kata Ferdinand tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Dan di malam natal itu jugalah, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu Selena. Aku semakin tidak sanggup menahan ini semua. Cintaku semakin besar untukmu."
"Dua bulan lagi lho. Awas, kalau kamu tidak pulang." ancam Selena.
Ferdinand tersenyum lagi. "Apa mau aku bawakan oleh-oleh dari sini?"
"Tidak usah repot-repot,"
"Yakin, tidak mau oleh-oleh dari sini? Soba-boro Cookie jepang sangat terkenal enak di sini atau mungkin Muso Castella Cake ?"
Selena mulai tertarik." Apa itu Muso Castella Cake?" tanyanya penasaran.
Ferdinand terkekeh di ujung telepon. "Muso Castella Cake, Kue yang berbentuk bulat dengan garis-garis khas wafel di bagian tengahnya. Kue ini memiliki rasa manis dengan aroma kayu manis. Muso Castella Cake ini salah satu makanan khas dari Jepang yang mendunia. Kau mau?" Ferdinand menaikkan alisnya setengah untuk menggoda Selena.
Selena tersenyum saat melihat ekspresi lucu dari Ferdinand. "Boleh juga. Bawa saja semuanya, biar kamu puas!" ucap Selena akhirnya.
"Hahahaha..." Ferdinand menang, ia tertawa awkward di depan layar handphonenya.
"Aiss...Sudah ya. Pekerjaanku masih banyak, aku bisa di marah bosku." Kata Selena sambil melambaikan tangannya.
"Hmm. Baiklah sampaikan salamku buat Chesa."
"Kenapa tidak langsung menghubunginya?"
"Hahahaha...benar juga."
Selena tersenyum sambil melambaikan tangannya di depan Ferdinand. "Aku tutup ya,"
"Bye, Selena!" Ferdinand membalas senyuman itu dan ikut melambaikan tangannya juga.
TIT!
Selena mengakhiri panggilan video mereka. Ia tersenyum sambil menarik napas singkat. Selena kembali sibuk. Memeriksa pekerjaannya lagi. Email dari London membuat pekerja internal bertambah. Wajahnya serius melihat berkas-berkas itu. Tangannya menopang dagu dengan wajah serius. Sesekali ia mengernyit lalu mengambil pulpen untuk menandai. Selena benar-benar sibuk dan serius saat ini.
LIMA BELAS MENIT BERLALU.
Selena merenggangkan otot-ototnya dengan ekspresi kelelahan. Wajahnya datar sambil mengembuskan napas. Sepersekian detik, bibirnya mengulas senyum.
"Selena..." Teriak pak Alex, tiba-tiba keluar dari ruangannya.
Suara pak Alex menganggetkan Selena yang tengah menyeruput teh hangat.
"Astagaaa pak! Ada apa? kenapa anda panik?" ucap Selena dengan wajah tegang sambil mengelus dadanya.
"Pak direktur sakit, tuan Alberto meminta anda menyusul ke London."
DEG!
Dan di saat itu juga, handphone Selena berdering. Panggilan itu ternyata dari ayah Alberto. Jantungnya semakin terpukul kencang.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^