Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MAAFKAN AKU.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Sebelum Ferdinand kembali ke Jepang. Ia mengajak Selena dan Chesa makan di restoran ternama di kota A. Mereka sudah memesan menu dan tinggal menunggu. Tidak beberapa lama. Pelayan langsung membawa makanan pembuka.


"Makanan pembuka akan segera di sajikan tuan."


"Silahkan!" ucap Ferdinand tersenyum sambil mempersilakan.


"Restoran kami juga menyimpan wine terbaik." pelayan menawarkan.


"Boleh. Bawa wine terbaik restoran ini." Kata Ferdinand lagi.


Selena mencondongkan badannya dan berbisik. "Restoran ini pasti mahal, seharusnya kita makan di restoran biasa." ucapnya pelan sambil melirik sekilas ke arah pelayan.


"Dia tidak akan rugi mengajak kita makan di tempat seperti ini. Bukankah begitu Ferdi?" kata Chesa melemparkan senyum ke arah Ferdinand.


"Hmm, benar kata Chesa. Tidak ada kata rugi untuk teman. Lagian belum tentu kita bisa bertemu seperti ini. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, atau mungkin tidak pulang sama sekali." Kata Ferdinand tersenyum menatap Selena dan Chesa bergantian.


Wajah Chesa terlihat sedih. "Benarkah?"


"Hmm. Aku tidak bisa bolak-balik ke sini dan meninggalkan perusahaan di sana. Aku bisa dipecat."


Tak menunggu lama pelayan pun datang. Menu makanan beraneka ragam Bubble & Squeak yang mereka pesan sudah tersedia di atas meja. Makanan ini berbahan dasar daging beku, kentang dan kubis, tetapi wortel, kacang polong, kecambah Brussels. Sayuran dan daging dingin dicincang dan kemudian digoreng. Ada Roast meats, daging panggang dan menu makanan lainnya.


Pelayan membuka botol wine dan menuang ke gelas mereka masing-masing.


"Terima kasih." ucap Selena tersenyum saat pelayan menuang wine untuknya.


"Kita bersulang," kata Chesa mengangkat gelasnya dengan semangat.


"Bersulang." Ucap mereka serentak.


TING !


Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.


"Terima kasih, atas jamuan makannya Ferdinand." Kata Chesa membenturkan gelasnya ke gelas Ferdinand lagi. Ia lalu menyesap minuman anggur itu secara perlahan.


"Sama-sama, ini hanya makan malam sederhana. Selamat menikmati." balas Ferdinand tersenyum.


"Ini tidak sederhana Ferdi, baru kali ini aku menikmati makanan semewah ini." kata Chesa dengan wajah berbinar bahagia.


Ferdinand memotong daging itu kecil-kecil lalu memberikannya kepada Selena. "Ini untukmu,"


"Heuh?" Selena mengerjap saat Ferdinand memberikan beberapa potongan daging kepadanya. Ia tersenyum canggung saat melihat perubahan wajah Chesa. "Terima kasih Ferdi." Ucap selena dengan wajah datar. Ia lalu mengambil lipatan serbet yang ada dihadapannya dan membentangkannya dalam pangkuan.


Ferdinand tersenyum, lalu memotong daging yang ada di piringnya lagi. Dan segera memberikan kepada Chesa. "Ini untukmu, makan yang banyak Chesa."


Deg!


Tatapan mereka bertemu. Jantung Chesa berdetak tak beraturan dari rongga dadanya. Ferdinand hanya bisa tersenyum melihat perubahan wajah Chesa. Melihat senyum itu, jantung Chesa semakin bergemuruh. Ia melarikan pandangannya ke bawah. Rasa gugup seketika menyerangnya.


"Terima kasih." ucapnya tersipu malu.


Mereka pun menikmati makanan sesuai dengan urutan makanan yang di sajikan para pelayan. Selena sendiri menikmati makanannya dalam diam, rapi dan tenang. Ia bahkan memperhatikan sikap konyol Chesa yang membuatnya geleng-geleng kepala.


"Kapan berangkat?" Tanya Selena menatap lurus ke arah Ferdinand.


"Kalau tidak ada halangan. Kemungkinan besok malam."


"Sukses terus ya. Aku dan Chesa hanya bisa mendoakanmu. Semoga selamat sampai tujuan dan kembali ke sini membawa pasangan hidup."


"Hahahaha," Ferdinand tertawa. "Pasangan hidup? Saya rasa untuk itu sangat sulit Selena."


"Kenapa? harus optimis dong, kamu mau dibilang jomblo abadi?"


"Doakan saja ya," Jawab Ferdinand dengan senyum simpul.


"Pasti dong," kata Chesa dengan wajah terpaksa.


"Eits...untuk soal traktir jangan lupa traktir kita. Kami siap kapan saja jika diundang." Selena mengedipkan salah satu matanya.


Chesa terkekeh, lalu menyikut lengan Selena. "Kau terlalu jujur." bisik Chesa tanpa melepaskan tatapannya kepada Ferdinand.


"Hahahaha..." Ferdinand lagi-lagi di buat tertawa. "Pasti itu, aku tidak akan pernah melupakan teman baik seperti kalian. Apalagi hanya sekedar makan seperti ini."


"Kau teman paling baik."


"Kita doakan juga buat Selena semoga cepat dapat pekerjaan. Harus tetap semangat terus dan jangan putus asa." kata Chesa menimpali.


"Kau tidak memikirkan tawaranku?" tanya Ferdinand.


Selena tersenyum samar, lalu mengambil air putih di sampingnya. Meneguknya pelan. "Maafkan aku Ferdi, bukan aku tidak mau, tapi aku tidak bisa meninggalkan keluargaku." Sahut Selena kembali memotong daging dengan pisau lalu memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.


"Wah... tawaran kerja di Jepang, kenapa kau tidak mau? Itu peluang besar untukmu, kau bisa menikmati bunga sakura di sana Selena."


Selena hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa."


"Dasar anak manja. Aku yakin semua keluarga pasti mendukungmu. Termaksud aku,"


Selena tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tinggal sebentar ya." Selena bangun dari duduknya.


"Hei...kau mau kemana?"


"Ke toilet. Kau mau ikut?"


"Astaga, jawab aku dulu. Kau mau ya? Akhir tahun aku akan mengunjungimu."


"Kau saja yang pergi," kata Selena tersenyum kecut. Lalu meninggalkan meja itu.


Selena melangkah anggun menuju toilet yang lumayan jauh ke arah belakang. Ia berjalan dengan tempo teratur. Tanpa di duga ia perpas-pasan dengan Zionathan. Seperti gerakan slow motion, Selena melangkah ke arah toilet wanita. Sementara Zionathan keluar dari toilet pria. Selisih sedikit, sehingga Selena tidak melihat Zionathan. Ia langsung masuk ke dalam toilet. Saat itu toilet sedang sepi. Hanya ada Selena di sana. Setelah keluar dari toilet, Ia menuju wastafel. Ia membuka kran air dan membasuh wajahnya dan kembali merapikan rambutnya. Setelah di rasa rapi Selena keluar dari toilet.


SEMENTARA ITU.


Ferdinand seperti mengenal sosok lelaki yang sedang berdiri di depan kasir. Ia sedang melakukan pembayaran di sana.


"Zio?" gumamnya pelan. Ia segera bangun dari duduknya dan memohon permisi kepada Chesa yang masih asyik menikmati makanannya.


Ia melangkah cepat, sebelum Zionathan meninggalkan kasir itu. Setelah lima tahun berlalu, baru kali ini Ferdinand bertemu dengan Zio. Walau Zionathan tidak pernah menganggapnya sahabat lagi.


"Zionathan?" panggil Ferdinand pelan tapi masih bisa terdengar oleh Zio.


"Apa kabar Zio?" Tanya Ferdinand tersenyum meskipun dia tahu kalau Zionathan tidak akan pernah membalas senyumnya.


Zionathan berusaha tetap tenang, walau dalam hatinya ada amarah yang terpendam. "Aku tidak mengenalmu." Kata Zio ketus dan melangkah pergi setelah mengambil kartu kreditnya.


Ferdinand mengejarnya sampai di depan pintu restoran dan menghadang Zio.


"Zio, sepertinya kita harus bicara!"


Zio mengangkat alisnya setengah. "Bicara?" Tatapan permusuhan ia kibarkan di sana. "Apa kurang jelas, aku tidak mengenalmu." tegas Zionathan menekan kalimatnya.


"Tapi kita harus bicara, kita selesaikan baik-baik Zio." Kata Ferdinand dengan raut wajah serius.


"Cukup! Kau terlalu banyak bicara...!" kata Zionathan dengan nada geram. Zionathan melangkah lagi.


Ferdinand memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam.


"Maafkan aku Zio...." Ucap Ferdinand dengan lantang.


Langkah Zio terhenti, masih dalam posisi memunggungi Ferdinand. Tangannya mengepal kuat.


"Maafkan aku jika pertemuan ini membuatmu tidak nyaman, tapi aku sungguh-sungguh ingin minta maaf." Ferdinand sesaat terdiam, menarik napas singkat. Ia menatap punggung Zionathan yang tak juga berbalik.


Napas Zionathan naik turun menahan emosi. Setelah kematian Olivia. Ferdinand mengakui semua. Bahwa ia sengaja merencanakan dansa konyol itu. Hanya dengan kata maaf, tentu saja Zio tidak akan semudah itu menerimanya. Ia meredam amarah yang siap meledak kapan saja. Ia masih tetap berdiri memunggungi Ferdinand


"Aku mengerti, terkadang kata maaf saja tidak cukup untuk memulihkan hatimu. Tapi setidaknya untuk kali ini, kau bisa melihat hatiku. Aku benar-benar menyesalinya."


Zionathan tersenyum sinis, "Menyesali?" gumam Zio mendesah pelan.


"Aku ingin persahabatan kita kembali lagi. Aku tahu ini salah. Tapi yang berlalu biarlah berlalu, jangan karena masa lalu persahabatan kita hancur."


Zionathan memejamkan matanya begitu erat. Menarik satu-satu napasnya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Kupingnya panas saat mendengar kata maaf dan maaf lagi. Tapi yang membuatnya tidak terima. "Yang berlalu biarlah berlalu?"


"Dan aku yakin Olivia juga tidak ingin melihat kita seperti ini. Sampai kau menerimanya, aku akan terus mengucapkan jutaan kali hingga kau mau memaafkanku."


Zionathan tidak tahan lagi. Mata Zio terbakar dengan kemarahan, Ia segera membalikkan badannya dan melangkah ke arah Ferdinand.


Dan....


BRUKKK!


Satu pukulan kuat mendarat di pipi Ferdinand. Pukulan Zio membuat Ferdinand terjatuh. Zionathan menarik kerah baju Ferdinand dengan ke dua tangannya.


"KAU BRENGSEK! KAU MASIH BERANI MENGATAKAN MAAF."


Ferdinand merasa pusing dengan pukulan telak dari Zio.


"Mulutmu tidak pantas mengatakan maaf." Rahang Zio mengencang menahan amarah.


Tak cukup hanya sekali. Zionathan kembali mengangkat kerah baju Ferdinand dan memukul wajahnya lagi.


Ferdinand tidak membalasnya. Ia hanya tersenyum pasrah. Bibirnya berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.


"Dasar brengsek!" Zionathan sudah di kuasai amarah yang siap membakar Ferdinand hidup-hidup.


Saat melihat keributan. Security langsung berlari ke arah Zionathan dan Ferdinand. "Apa yang kalian lakukan? Kalian sudah berani membuat keributan di sini." Ucap security dengan tegas.


Napas Zionathan memburu cepat. Tatapannya begitu mengintimidasi.


Ferdinand tersenyum, ia memegang bibirnya yang terluka. "Bapak tak perlu khawatir, kami akan menyelesaikan masalah ini."


"Ya...saya harap begitu, selesai baik-baik dan jangan membuat keributan lagi." ucap pria itu dengan tegas.


"Baik pak," kata Ferdinand lagi. Sementara Zio hanya diam. Ia membuang muka, tidak ingin melihat Ferdinand.


Ferdinand mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Ia menatap ke arah Zio. "Aku tidak akan bosan mengatakan itu, maafkan aku." Kata Ferdinand menahan sakit pada bagian pipinya.


Sudut bibir Zio melengkung ke atas. "Kau ingin aku memaafkanmu?"


"Tentu saja, hanya itu yang aku tunggu darimu."


Zionathan menarik napas dengan mulut terbuka. "Baiklah aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat."


Raut wajah Ferdinand berubah, bibirnya tersungging senyum bahagia. "Apa itu? aku akan memenuhi syarat itu." ucapnya cepat.


"Kembalikan Oliviaku. Aku pasti memaafkanmu dan kita akan berteman seperti dulu lagi." Ucap Zio dengan mata menyalang tajam.


Ferdinand menghela napas panjang. "Itu tidak mungkin Zio."


Zionathan menatap penuh penghakiman. Suaranya pelan tapi penuh dengan intonasi yang begitu menusuk. "Ya aku tahu itu, kau memang tidak bisa melakukannya. "


"Zio, dengarkan aku!"


Zionathan mengangkat tangannya, "Cukup! Aku harap ini pertemuan terakhir kita."


Dengan segera, Zionathan membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu. Tak beberapa lama Selena pun keluar. Karena Ferdinand tidak juga kembali.


"Ferdinand..." Panggil Selena mendekat.


Ferdinand tersenyum dan segera mengajak Selena masuk lagi. "Kita masuk,"


"Tunggu!" Kata Selena saat melihat bibir Ferdinand berdarah. "Astaga, kenapa dengan wajahmu Ferdi." Selena terkejut.


"Aku bilang tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan." Kata Ferdinand menolak saat Selena ingin memeriksa wajahnya.


"Ini benar-benar keterlaluan. Siapa yang berani melakukan ini kepadamu?"


"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."


"Biar aku obati."


Selena menarik tangan Ferdinand masuk ke dalam. "Mungkin pihak restoran menyiapkan obat P3K di sini." Kata Selena lagi.


Ferdinand hanya pasrah. Ia terus melihat ke arah tangannya yang ditarik paksa oleh Selena. Ada rasa bahagia menggelitik hatinya. Bisa dikatakan Ferdinand bersyukur mendapatkan pukulan itu. Ia bisa mendapatkan perhatian dari wanita yang dicintainya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^