
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Hidup dan mati ada di genggaman Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menghindar dari kematian yang sudah ditakdirkan. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi kapan kematian akan menghampiri termaksud Zionathan dan Selena sendiri. Kematian memang datang secara tiba-tiba. Tugas kita di dunia hanya menunggu waktu kapan akan dipanggil untuk menghadap sang pencipta, sang pemilik bumi dan langit.
⭐⭐⭐⭐⭐
Zionathan dan Selena pulang ke rumahnya diantarkan oleh Alex. Mereka bersiap, mandi dan mengganti pakaian berwarna hitam-hitam. Selena hanya terus terdiam, hanya suara isak tangisnya yang terdengar saat ia melakukan aktivitasnya. Ia juga menggunakan pakaian berkabung. Mewakili hatinya yang juga terasa penuh duka.
Zionathan sendiri sangat sakit melihat keadaan istrinya saat ini. Bahkan ia kehabisan ide untuk membujuk istrinya. Setiap tangisan Selena membuat luka di hatinya semakin teriris dua kali lebih besar dan lebih sakit. Semua itu, membuat rasa bersalahnya semakin membuncah. Selena seperti mayat hidup, pucat pasi. Setelah sadar, Selena banyak diam, wajahnya sembab karena banyak menangis. Bahkan parahnya Selena tidak ingin bicara kepadanya.
Setelah selesai bersiap, Zionathan dan Selena kembali ke mobil. Alex mengendarai mobil itu hingga sampai ke kediaman Gwyneth. Tak ada perbincangan selama di mobil. Selena diam membisu sambil menatap jalanan.
Sepanjang jalan menuju rumah Selena. Papan bunga berjejer rapi. Ucapan turut berduka cita dari kerabat dan rekan bisnis dengan berbagai warna dan bentuk. Termaksud karangan bunga dari Lucius group. Zionathan mengembuskan napas panjang.
Begitu mereka sampai di depan pagar tangisan Selena kembali pecah. Zionathan menarik Selena dalam pelukannya dan membiarkan istrinya menangis di dadanya.
Zionathan berusaha menguatkan Selena. "Sabar sayang. Ingat! Aku akan selalu ada untukmu, dalam sedih atau pun susah. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu." Zionathan mengusap-usap punggung Selena memberikan ketenangan lewat sentuhannya.
Selena hanya mencurahkan kesedihannya lewat air bening yang keluar dari mata. Kini air matanya benar-benar tercurah. Ia semakin menangis dalam pelukan Zionathan. Selena ingin melepaskan pilu yang teramat dalam.
Alex menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Cukup banyak orang-orang yang datang berpakaian hitam, menujukkan bahwa mereka ikut berduka. Melihat mobil Zionathan sudah datang, Davina pun langsung keluar menyambut mereka.
"Kita keluar sayang," ucap Zionathan begitu lembut kepada Selena.
"...."
Selena mengusap air matanya yang terus menetes di pipinya. Ia hanya menarik napas dalam-dalam dan turun dari mobil.
"Selena ..." Davina membuka tangannya dan memeluk Selena. "Kamu harus kuat nak."
"Ibu.." Selena kembali melepas tangisannya. Pelukan ibu mertuanya benar-benar menghangatkan hatinya. "Aku gagal menjadi anak yang baik, meninggalkan ayah disaat sakit seperti ini." Selena mengadu dengan suara lirih.
Zionathan mulai menangis mendengar perkataan Selena. Ia dengan cepat menghapus air mata di ujung pelupuk mata. Zionathan membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Hatinya begitu sesak melihat itu.
Davina semakin mengeratkan pelukannya. "Dokter sudah berusaha semampunya. Ibumu sudah menjaganya dengan baik sampai akhir. Tidak ada yang salah di sini. Berto sudah bahagia sayang. Dia sudah ada di tempat yang lebih baik." Davina mengusap punggung menantunya itu berulang-ulang.
"Sekarang masuklah! Banyak yang ingin menemui kalian." Davina melepaskan pelukannya.
Selena hanya mengangguk sambil menahan tangisannya. Zionathan dan Selena pun masuk ke dalam rumah. Dan benar kata Davina, sudah banyak orang di sana menanti mereka untuk bersalaman dan mengucapkan belasungkawa kepada mereka.
"Selena, saya turut berduka cita atas meninggalnya ayah tercinta." Ucap Tere teman satu sekolahnya yang sekarang sudah sukses dalam menjalankan bisnisnya.
Selena tersenyum singkat dan mengangguk. Ia membalas jabatan tangan itu. "Terima kasih Tere."
Mereka menjabat tangan orang-orang yang ada di sana. Mereka mengucapkan kalimat menghibur dan menguatkan. Zionathan dan Selena merespon dengan baik.
Samuel dan ibunya sudah duduk di sana. Selena mendekat ke arah peti. Tak terasa air mata Selena tergelincir bebas membasahi pipinya lagi. Peti berwarna putih yang mengkilat dipadukan dengan warna keemasan. Kayunya dipolish begitu rapi. Ayah mertuanya benar-benar menggunakan jasa pemakaman yang terbaik untuk sahabatnya itu.
Selena dan Zionathan mendekat dan melihat ayahnya tertidur damai. Selena menutup mulutnya dengan erat sambil menitikkan air mata melihatnya. Zionathan merangkul bahu Selena untuk menguatkan. Ia pun mengeratkan rangkulan dan membuat Selena menempel pada tubuhnya. Zionathan lalu mengusap-usap lengan Selena dengan lembut.
"Ayah sangat tampan menggunakan jas yang Selena beli saat menerima gaji pertama di kantor Lucius." Selena tersenyum sambil menitikkan air mata melihatnya. "Sungguh. Ayah tampan sekali."
“Ayah,” panggilnya kemudian memeluk erat tubuh kaku lelaki yang sangat disayanginya. Mustahil kalau tangisan Selana tidak pecah. Manusia mana yang mampu menahan kerapuhannya. Terlebih lagi ketika ditinggal si pahlawan kesayangan. Sosok yang selama ini selalu dibanggakan di depan teman-temannya. Yang paling kokoh diterpa badai apa pun. Yang paling tangguh diterjang ombak mana pun. Yang berarti segalanya bagi ibu, Samuel dan terlebih-lebih untuk Selena.
⭐⭐⭐⭐⭐
Sebelum menutup peti, keluarga kembali diberi kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan. Saat giliran Selena, tangannya benar-benar gemetar. Begitu juga dengan bibirnya.
"Heeeehhh...."
Tangisan Selena kembali tercurah. Wajahnya mengerut menahan sakit di hatinya. Ayah yang sangat dihormatinya kini sudah menutup mata selamanya. Dia tak akan pernah tersenyum lagi. Lelaki kuat yang selalu memberikan semangat untuk Selena. Ayah yang selalu penuh perhatian dan hobi mengambil foto dirinya di berbagai kesempatan.
Ayah sangat gemar mengambil foto Selena melalui ponselnya. Tak berselang lama, foto itu lantas akan dikirim Berto melalui pesan singkat. Hal itu merupakan kebiasaan Berto yang selalu membuat Selena tertawa. Kini, semua hal itu tinggal kenangan.
Selena terus memandangnya dan terus menangis. Semua orang melihat Selena ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan Selena ayah, jika aku belum bisa membahagiakan ayah. Tapi sungguh... sungguh, aku sangat menyayangimu. Sangat, sangat, sangat menyayangimu. Heeekkk....heeekkk...." Perkataan Selena terhenti karena ia semakin menangis tersedu.
Selena mendekatkan wajahnya mendekat ke wajah ayahnya. Ia mengecupnya beberapa kali sambil menangis. Air matanya jatuh berlinang. Selena mengangkat wajahnya dan memandang mata yang tak akan terbuka lagi.
Lagi Selena mencium ayahnya untuk terakhir kali. "Beristirahatlah yang tenang ayah, kami semua menyayangimu. Ayah sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik di dunia ini. Ayah lelaki yang hebat." Selena tersenyum di sana.
Ia kembali berdiri, Zionathan langsung cepat memeluknya karena Selena hampir saja terjatuh.
"Sayang kamu harus kuat."
Selena hanya mengangguk, menatap Zionathan dengan sendu. Dengan dipapah Zionathan, manik-manik basah itu seakan melaju lebih deras dari sebelumnya di pipi Selena, saat raungan suara sirine ambulans serta iring-iringan jenazah akan mengantarkan Ayahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tepat ketika jingga begitu merona, keharmonian alam yang sangat disukai oleh ayahnya itu.
Mereka mengantarkan Berto ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua keluarga ikut datang dan merasakan kesedihan yang terdalam. Dengan hati yang kehilangan, entah percaya atau tidakkah dengan kejadian ini. Entah bisa atau tidaknya untuk merelakan kepergiannya.
Di hari natal Selena masih melihat ayahnya yang selalu ceria, yang selalu tersenyum, yang selalu menujukkan perhatian kepadanya. Tidak ada tanda-tanda ayahnya akan pergi selamanya. Kini Selena tak bisa merasakan kehangatan itu lagi. Tak terasa air matanya mengalir lagi.
"Untuk kamu Ayah yang sangat luar biasa, ayah yang sangat sempurna. Kami tidak akan melupakan semua kenangan saat bersamamu." Selena berusaha kuat menatap gundukan tanah yang ada di depannya.
"Selamat tinggal ayah. Tuhan titip Ayah ya, beri dia tempat yang terbaik di sana." Selena menunduk dengan luka dan kesedihan yang mendalam. Air matanya terjatuh di gundukan tanah yang masih basah itu.
SATU JAM KEMUDIAN.
Pemakaman Berto telah selesai. Tapi Selena tidak juga meninggalkan tempat itu. Sementara semua keluarga sudah pulang. Zionathan berdiri tidak jauh dari Selena.
Hidup Selena seakan tak berdaya. Kematian ayahnya yang tiba-tiba membuatnya benar-benar terpukul. Zionathan juga pernah merasakan hal yang sama. Seperti tidak ada harapan hidup saat orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita selamanya. Namun seiring perjalanan waktu, Selena pasti bisa melaluinya.
Walau yang dirasa bumi terasa gelap. Di saat sedih seperti ini, Zionathan benar-benar sadar betapa rapuhnya istrinya itu.
Satu-satunya keajaiban yang tak mampu pecahkan sejagat adalah kematian itu sendiri. Kita tak pernah bisa tahu, kapan, dan bagaimana kita berakhir. Yang kita tahu hanyalah bahwa kita semua sebelum dilahirkan telah menanggung beban takdir yang tak dapat ditolak yaitu kematian.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Saya benar-benar sedih sekali menulis part ini 😭 Karena saya juga kehilangan seorang ayah yang hebat. Tak ada pesan terakhir dan tidak ada firasat saat ayah pergi meninggalkan kami.
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^