
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Rapat hari ini selesai, sampai bertemu minggu depan. Ingat, aku ingin masalah ini ditangani secepatnya. Aku ingin solusi yang lebih efesien. Aku ingin benefit yang lebih setiap bulannya." Ucap Zionathan dengan tegas.
"Baik pak," jawab mereka serentak.
Tiba-tiba Zionathan menatap tajam ke arah Edward. Ia berucap dengan penuh penekanan. "Pak Edward, bawa laporanmu ke ruanganku, sekarang!"
"Heuh?" Edward tersentak. Lalu sepersekian detik Ia mengembalikan pikirannya. "Ba-baik pak." Ucapnya gugup.
Sudut bibir Zio melengkung ke atas saat melihat reaksi Edward. Ia mengumpat Edward dalam hati. "Kau sepertinya bermain-main denganku."
Edward hanya menutup matanya sesaat sambil mengepalkan tangannya. Hatinya sempat tenang saat laporan kerjanya tak diperiksa. Namun dugaannya salah.
"Huffft, bagaimana ini apa pak direktur mengetahui jika laporan ini tidak sesuai dengan yang diharapkan."
Edward tetap bersikap tenang. Dia sudah cukup lama bekerja di sini. Bukan Zionathan namanya jika tidak teliti memeriksa hasil laporan karyawannya. Ia tidak akan melepaskan begitu saja jika terjadi kesalahan. Neraka ini ternyata belum berakhir. Edward hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Zionathan segera bangun dari duduknya sambil membenarkan jasnya. "Kau!" Tangannya menunjuk ke arah Selena. "Sekarang ikut denganku!" ucapnya datar dan penuh penghakiman.
"Ss-saya pak." Selena menunjuk ke dirinya.
"Siapa lagi jika bukan kamu."
Dengan cepat Selena menundukkan kepalanya. "B-baik pak," ucap Selena menatap pak direktur sekilas, lalu menurunkan pandangannya. Ia tidak berani jika harus menatap mata itu lama-lama.
Zionathan menarik napasnya lalu keluar begitu saja dari ruang rapat. Selena hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Sementara Edward masih duduk di sana mempersiapkan laporan yang diminta pak direktur.
Langkah kaki menggema serentak, Selena terus mengikuti langkah pak direktur. Tidak cepat dan tidak lambat. Zionathan mempercepat langkahnya. Selena pun ikut mengimbangi dengan mempercepat langkahnya. Ia berulang kali mengembuskan napas lewat mulut. Seakan bersiap hari ini akan dimarahi habis-habisan. Wajahnya yang datar dan dingin. Selena tambah gugup, rasa berkeringat, gemetar, panas dingin, dan sekarang dirinya seperti sengsara menghadapi sikap bosnya itu.
Zionathan sudah masuk ke ruangannya. Sementara Selena langsung berjalan menuju ke pantry untuk menyiapkan kopi. Dia ingat pesan pak Alex. Pak direktur butuh kopi jika sudah selesai mengikuti rapat. Selena berjalan menuju ruangan pak direktur sambil membawa kopi dengan baki.
Tok...tok... tok..!
"Permisi pak," Selena mengintip di ujung pintu. Tak ada jawaban. Ia melihat Zionathan sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia sedang berbicara dengan seseorang. Selena dapat melihat kalau pak direktur sedang marah. Terlihat jelas ada aura ketegangan di sana. Rahang Zionathan mengeras. Ruangan ini sudah sangat menakutkan. Selena yakin ini mengenai pekerjaan yang dibahas dalam rapat tadi. Selena melangkah pelan membawa baki yang dipegangnya.
"Siapa yang memintamu membuat proposal ini?" Tanya Zio pada intinya.
"Heuh?" Edward pura-pura bingung. "Proposal apa maksud anda pak?"
Selena sedikit menundukkan kepalanya. "Maaf pak, saya buatkan kopi untuk anda."
Zionathan memalingkan wajahnya, menatap tajam ke arah Selena.
Selena hanya bisa menahan napas, mencoba tenang. Ia menaruh kopi itu di atas di meja. "Permisi pak! Anda mau minum apa?" tanya Selena kepada Edward.
"Terima kasih. Tapi saya tidak minum." sahut Edward tersenyum ramah.
Selena tersenyum seraya mengangguk. Ia mundur beberapa langkah. "Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi dulu, pak." ucap Selena menundukkan kepalanya dan segera memutar tubuhnya ingin meninggalkan ruangan itu.
"Kau!!! Tunggu di sini. Siapa yang menyuruhmu pergi?" cegat Zio memerintahkan.
DEG!
Selena menghentikan langkahnya. Ia menggigit bibir bawahnya begitu kuat dan memutar tubuhnya untuk menghadap pak direktur. Ia tak berani mengangkat wajahnya lagi.
Zionathan tidak melepaskan tatapannya kepada Selena. "Kesalahanmu tidak bisa dibiarkan begitu saja." Ucap Zio dingin. Selena semakin menundukkan kepalanya. Ia meremas tangannya erat-erat.
Zionathan memalingkan wajahnya menatap ke arah Edward lagi. Ia kembali fokus ke topik permasalahan. "Sekarang jelaskan, siapa yang memerintahkanmu untuk membuat proposal ini?"
"Maaf pak, ini perintah dari ibu Amora." Ucap Edward pelan.
"Bukankah kau ikut juga bertanggung jawab dalam masalah pengembangan proyek baru di kota A?" Zionathan membolak-balikkan proposal itu dengan kasar.
"Benar pak." jawabnya canggung.
"Berani sekali kau membuat proposal seperti ini, sebelum membicarakannya kepadaku?" Zionathan melempar proposal ke arah Edward, lelaki berusia 45 tahun itu nampak gugup dan langsung menundukkan kepalanya. Selena terkejut. Ini pemandangan ke dua yang terjadi hari ini. Kenapa pria ini bisa begitu kasar kepada yang lebih tua darinya.
"Dari mana pak direktur tahu? Bukankah proposal itu di tangan ibu Amora?"
Zionathan menurunkan sejenak pandangannya dan menatap tajam ke arah Edward. "Kenapa? Kau terkejut?" Desis Zio tersenyum sinis. Selena bergeming di tempatnya. Ia hanya bisa meremas tangannya karena tidak nyaman.
"Ma-maafkan saya pak, saya tidak bermaksud membuat proposal itu tanpa sepengetahuan anda."
"Berapa lama kau bekerja di sini Edward? apa aku harus mengajarkanmu kembali mengenai dasar-dasar pengembangan proyek?" emosi Zionathan kembali tersulut. Wajahnya terlihat dingin, kaku dan menatapnya tajam.
"Maafkan saya sebelumnya pak, ibu amora adalah salah satu bagian tim yang mengerjakan pengembangan proyek itu. Beliau di pindah tugaskan dari perusahaannya A untuk ikut dalam melaksanakan proyek ini. Dan beliau yakin proyek ini akan sukses jika proposal itu berjalan sesuai rencana." ucap Edward mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Sukses? dari mana dia bisa yakin proyek ini bisa sukses? Apa kau tidak bisa melihat proposal itu? Ini proposal berantakan dan ini jelas-jelas sudah merugikan perusahaan." Tengking Zionathan, ia menatap Edward dengan tatapan tak terbaca. Membuat hati Edward menciut dan terdiam.
Sementara Selena mencengkram baki yang dipegangnya. Sedikit pun ia tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa kamu pikir perusahaan ini pembuat mainan plastik? Kamu bermain-main dan tidak mengikuti prosedur yang ada. sehingga perusahaan Lucius bisa merugi triliunan rupiah." ucap Zio dengan tatapan gaharnya. Edward hanya bisa menunduk pasrah.
"Kalian benar-benar tidak kompeten dalam hal ini. Karyawan seperti kalian tidak pantas bekerja di perusahaan ini lagi." lanjut Zio menatap tajam ke arah Edward.
DEG...
Sontak membuat jantung Edward berdebar tidak beraturan. Sampai membuat tubuhnya gemetar. Wajahnya sudah merah padam, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Zionathan sudah marah.
"Maaf pak kalau saya tidak kompeten, saya akan berusaha untuk mengendalikan semua masalah yang terjadi. Biarkan saya dan ibu Amora yang bertanggung jawab. Jika memang tidak bisa diatasi kami siap di pecat." ucap Edward sedikit menunduk.
"Benarkah?" ucap Zio menaikkan alisnya, menatap Edward untuk mencari kebenaran. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat.
"Kami akan berusaha semampu kami pak."
"Dipecat saja tidak cukup untuk mengatasi masalah ini, kerugian bukan ratusan juta melainkan triliunan. Uang sebanyak itu tidak cukup hanya untuk mengganti nyawamu." sarkas Zio menatap Edward dingin.
"Kami siap menerima konsekuensinya pak." ucap Edward dengan yakin.
"Saya tak butuh banyak bicara. Sekarang adalah pembuktiannya. Kau harus bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini. Saya tunggu dalam satu bulan. Jika tidak ada perkembangan baik, saya akan menuntut Anda berdua kejalur hukum." Zionathan menekan setiap perkataannya.
"Baik pak." Edward menunduk lesu saat mendengar keputusan berat itu. "Kami akan usahakan sebaik mungkin."
"Kau bisa keluar!" usir Zionathan kemudian. Edward pun segera keluar dari ruangan itu. Sekarang tinggal mereka berdua.
Zionathan mengembuskan napasnya dan mendongak menatap ke arah Selena. Selena bergeming di tempatnya. Jantungnya terpukul kencang, pasokan oksigen seakan enggan masuk ke paru-parunya.
"Siapa yang memerintahkanmu untuk membuatkan kopi ini?" Tanya Zionathan mengangkat alisnya, menatap wajah Selena yang terus menunduk.
Selena mengangkat wajahnya dan membalas menatap Zionathan. "Pak Alex, pak." ucapnya pelan hampir tidak terdengar oleh Zio.
Zionathan terus mengunci tatapannya pada Selena. "Apa kau tahu takaran yang biasa digunakan Alex?"
"Sa-saya sudah tahu pak." jawab Selena ragu-ragu.
Zionathan mengambil cangkir kopi yang diletakkan di depannya. Dengan wajah datar, Zionathan mendekatkan cangkir itu ke mulut, meniup sejenak dan menyeruput kopi itu tanpa melepaskan pandangan tajamnya ke arah Selena.
DEG
DEG
DEG
Jantung Selena terpicu takut. Tatapannya yang begitu dingin mampu melumpuhkan Selena. Tangan Selena semakin gemetar, ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Tangannya berkeringat, rasanya ingin lari dari ruangan itu.
Zionathan kembali melepaskan cangkir ke tempat semula, ia mengangkat alis ke arah Selena dengan tatapan penuh penghakiman.
"Saya tidak tahu kenapa bagian HRD menerimamu bekerja di sini. Bahkan peserta yang melamar kerja memiliki tahap seleksi yang benar-benar ketat. Apa kau sengaja menggunakan trik agar sampai ke tahap ini? yang saya lihat kau tidak memiliki pengalaman sebagai seorang sekretaris. Kau lambat, tidak cekatan bahkan menurutku kau memasuki level wanita bodoh."
GLEK!
Selena menelan salivanya begitu susah. Tangan Selena bergetar hingga baki yang dipegangnya ikut bergetar. Wajahnya menegang dan kaku. Pucat seperti tidak ada aliran darah yang mengalir ke tubuhnya.
Zionathan kembali duduk bersandar, ekspresi wajahnya begitu datar, menatap lurus ke arah Selena.
"Tapi saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Dan saya yakin Itu hanya membuang waktuku saja. Saya kasih kesempatan satu bulan. Jika kamu tidak sanggup untuk menjadi sekretaris. Saya harap kamu buat surat pengunduran dirimu. Silakan cari perusahaan lain yang mau menerima kriteria seperti kamu."
DEG DEG DEG
Jantung Selena terpukul lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Ia menunduk sambil menjepit bibirnya dengan erat. Kata-kata itu seperti tamparan keras untuknya. Baru kali ini ia dihina seperti ini.
"Kau boleh keluar!" Zionathan mengangkat tangannya, mempersilakan Selena untuk keluar dari ruangannya.
Selena menarik napasnya dengan terbata-bata. "Kalau begitu saya permisi pak," Ucap Selena pelan, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Ia segera membalikkan badannya. Matanya berkaca-kaca menahan segala rasa sakit di dalam dada.
"Tunggu!" Panggil Zionathan.
Selena pun segera membalikkan badannya dan menjawab. "Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Silakan bawa kopi ini. Kau bisa tanyakan kepada Alex, bagaimana membuatkan kopi yang benar."
Selena berusaha untuk tersenyum. Ia mengangguk dan melangkah mengambilkan cangkir yang ada di atas meja. Sementara Zionathan sudah kembali ke kursi kekuasaannya. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.
Selena segera melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu di luar pintu, Selena segera menegakkan badannya. Mengusap air mata yang belum sempat jatuh. Menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. kemudian Ia melangkah menuju ruangan Alex.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^