Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
ZIONATHAN FRUSTASI


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Zionathan duduk di kursi kekuasaannya. Ia menyenderkan punggungnya kesandaran kursi dan mendongak ke atas menatap langit- langit ruangannya. Zionathan memejamkan matanya. Menarik napasnya pelan. Begitu banyak yang dia lewati untuk hari ini. Semuanya hampa. Zionathan hanya melamun dan terdiam saat mengikuti rapat tadi. Ia merasa sesak dan tak berdaya.


"Pak?" panggil Alex dengan suara terendahnya.


"Hmmm." Zionathan hanya bergumam, tak melihat ke arah Alex.


"Apa perlu aku persiapkan sesuatu, atau baju ganti mungkin?" Kata Alex sedikit ragu dengan ucapannya.


"Tidak usah Alex. Persiapkan untuk rapat sore ini saja. Ada beberapa kendala yang harus kita selesaikan." ucapnya datar tanpa menatap ke arah Alex. Ia masih nyaman dengan posisinya.


"Ah, baik pak. Kalau begitu saya permisi." Alex sedikit menunduk lalu melangkah pergi.


Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali larut dalam pikirannya.


Selena total tidak bisa dihubungi selama tujuh hari semenjak kejadian itu. Zionathan pernah menghubunginya masuk tapi tidak di angkat. Itu berarti Selena sudah mengganti handphonenya yang rusak. Pikirannya kalut dengan berbagai pertanyaan dan asumsi. Kini Zionathan sepenuhnya menyadari kesalahannya.


Aahhh... Zionathan tidak bisa menutupi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia seperti kehilangan arah, Selena tiba-tiba menghilang dan membuatnya merindukan sosok itu.


Tujuh hari berturut-turut Zionathan selalu datang menemui Selena di kediaman Gwyneth. Rumah itu sepertinya tidak berpenghuni, tertutup rapat dan tidak ada siapa-siapa. Setelah bertanya kepada warga yang ada di sana. Ternyata mereka berkunjung ke tempat saudaranya yang meninggal. Yang jadi pertanyaannya. Kenapa ayah mertuanya tidak pernah menghubunginya? Apakah Selena sudah mengatakan semuanya?


Huffft


Zionathan sangat berantakan, wajahnya kusut. Ia frustasi, tidak bisa bertemu dengan Selena. Awalnya Zionathan menduga bahwa Selena hanya menenangkan diri saja dan ia tidak ingin mengganggunya selama beberapa hari ini. Tapi semua di luar dugaannya. Selena sekarang menghindarinya.


Rasanya Zionathan ingin mengulang waktu itu kembali. Saat Selena menatapnya dengan jutek. Raut wajahnya begitu jelas menunjukkan kekesalannya. Apalagi jika ia tersenyum lesung di pipinya terlihat jelas di wajahnya. Ahhhhh...rasa rindu yang terselip kembali mencuat.


Lagi-lagi Zionathan melakukan ritualnya. Menghembuskan napas untuk menenangkan hatinya.


"Aku akan memperbaiki hatimu yang terluka." Zionathan sudah memantapkan hatinya.


Ia kembali mengambil handphonenya mencoba untuk menghubungi Selena. Panggilan masuk. Matanya terbelalak dan menatap handphonenya kembali, ia masih belum percaya.


"Hallo," Akhirnya Selena mengaktifkan handphonenya dan panggilan masuk Selena langsung mengangkatnya.


Selena sudah kembali dari tempat keluarganya. Ia sudah memikirkan dengan matang. Mengakhiri adalah jalan terbaik. Selena dalam posisi duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


"Hallo? Selena. Aku tidak bisa menghubungimu. Aku sangat mencemaskanmu. Kenapa tidak memberitahuku bahwa kau pergi mengunjungi keluarga. Kau tahu, aku hampir frustasi tidak bisa menghubungimu. Aku juga mencoba menghubungi ayah dan ibu tapi tetap tidak bisa. Kau membuatku hampir gila Selena."


Selena tersenyum kecut di sana. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan kembali menguatkan hatinya. Dia sudah yakin dengan keputusannya.


"Selena, malam ini aku datang menjemputmu." Kata Zionathan. Hatinya bahagia mendengar suara Selena lagi.


"Tidak usah menjemputku."


DEG!


"Kenapa Selena?"


"Aku bisa pulang sendiri."


TOK TOK TOK.


Alex membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. "Pak, semuanya sudah berkumpul."


Zionathan mengangguk. Ia memberi gestur agar Alex keluar dari ruangannya. Alex hanya tersenyum sambil membungkukkan badannya. Ia kembali menutup pintu itu kembali.


"Selena?" panggil Zionathan lagi. Sikap diam Selena membuatnya benar-benar frustasi. Ia bahkan tak membalas pesan darinya atau menjawab panggilannya. "Selena izinkan aku menjemputmu."


"Bukankah kau ada rapat, aku harus mengakhiri panggilan ini."


"Se...."


Belum lagi Zionathan bicara, Selena sudah mengakhiri panggilan itu. Ia mengembuskan napasnya berulang kali. Zionathan akhirnya membatalkan rapat hari ini.


SETENGAH JAM TELAH BERLALU.


TOK TOK TOK!


Terdengar ketukan pintu lagi. Alex langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari Zionathan.


"Pak!" panggil Alex dengan suara terendahnya.


"Ada apa?" tanya Zionathan fokus dengan pekerjaannya.


"Ada surat tapi tidak ada nama pengirimnya, hanya surat ini ditujukan kepada bapak." ucap Alex memberikan Amplop coklat kepada Zionathan.


Zionathan mengernyitkan keningnya. "Surat? " ucapnya pelan dan meraih amplop yang diberikan Alex. "Baiklah. Kau bisa keluar."


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi pak." Ucap Alex segera membungkukkan badannya lalu berbalik dan keluar dari pintu ruangan.


Zionathan kembali menatap amplop coklat itu dan kembali mengernyit dan menatap ampop itu dengan penasaran. Zionathan pun membuka dan menyobek bagian atas dan mengeluarkan isinya.


DEG....


Jantung Zionathan seketika berdetak kencang, yang dibacanya bukanlah surat penting atau semacamnya. Melainkan kertas yang isinya SURAT PERCERAIAN.


Hk! Napas Zionathan terasa sesak membaca isi dari kertas itu. Bahkan Selena sudah memberikan tanda tangannya di sana. Jantungnya seperti berhenti. Ia menahan napasnya.


"Ini tidak mungkin."


Zionathan menggeleng cepat. Jantungnya berdebar tak beraturan di dalam rongga dadanya. Napasnya berhembus cepat dari mulutnya. Ia berusaha untuk menarik napas dalam-dalam agar bisa memenuhi paru-parunya. Namun tidak berhasil. Ia semakin sulit bernapas. Zionathan lalu mencengkram tangannya sendiri karena rasa sakit yang teramat sangat.


Zionathan lalu berdiri dan keluar dari mejanya, Ia berlari keluar dari pintu ruangannya. Sontak membuat Alex bangkit dari tempat duduknya.


"Apa yang terjadi?" batin Alex. Ia melangkah masuk ke ruangan yang bertuliskan CEO itu. Ia melihat amplop yang sudah terbuka lalu melihat kertas putih yang masih berada di atas meja.


"Surat cerai?" ucap Alex terkejut, wajahnya berubah tegang. Alex membuang napasnya dengan berat.


Sementara itu Zionathan memacu mobilnya begitu cepat, sehingga dengan sekejap ia sudah sampai. Zionathan menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan hatinya. Ia segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju pintu rumah Selena. Dengan tidak sabaran Zionathan menekan bell berulang kali.


TING TONG TING TONG!


Tak menunggu lama, nampak Joanna membukakan pintu, tanpa disuruh masuk Zionathan ia sudah masuk lebih dulu.


"Nak Nathan?"


Zionathan berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha menahan segala gejolak yang ada di dadanya. Hatinya begitu terpukul dengan surat yang dikirim Selena langsung ke kantornya. Ia menarik napasnya dan berbalik menghadap ibu mertuanya itu.


"Aku ingin bertemu Selena bu." ucapnya parau dan gemetar.


Joanna menarik napasnya. "Selena tidak ingin bertemu nak."


Zionathan langsung memejamkan matanya, hatinya sakit saat mendengar itu. "Aku mohon bu pertemukan aku dengan Selena."


"Tidak bisa nak, kau pulang lah!"


Zionathan menurunkan kaki dan berlutut dengan gemetar dihadapan ibu mertuanya. Joanna terkejut saat melihat tindakan yang dilakukan menantunya itu. Zionathan menanggalkan semua harga diri yang ada padanya. Melucuti semua yang ada padanya. Demi rumah tangganya ia rela melakukan apa saja.


"Apa kau lakukan nak? Sekarang bangun dan kita duduk di kursi." Joanna memegang pundak Zionathan.


Namun Zionathan menolaknya. "Tidak, aku tidak akan bangun jika Selena tidak keluar bu" ucap Zionathan bersikeras tidak mau berdiri. Namun napasnya tertahan karena berusaha mengatur detak jantung yang memburu. Hatinya terlalu sakit saat ini. Apa yang sekarang harus dilakukannya?


Joanna tersenyum sendu. Ia menatap Zionathan dengan lekat. "Untuk saat ini ibu tidak bisa berbuat apa-apa nak. Sebenarnya ibu tidak tahu permasalahan kalian. Selena sepertinya tidak ingin menceritakannya. Dan ibu juga tidak bisa memaksanya. Ini adalah masalah rumah tangga kalian dan ibu tidak bisa ikut campur. Tapi jika untuk mengubah hati Selena. Ibu tidak bisa membantumu nak."


Mendengar itu, mata Zionathan berkaca-kaca. Ia tidak kuat menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya. Ia menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan nanar.


"Tolong bu. Setidaknya pertemukan kami. Aku bisa memohon kepadanya. Heeeehhh." Napas Zionathan tertahan dalam tangisan. Bibirnya gemetar, begitu juga dengan tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sendu dengan air mata yang terjatuh di pipi. Ia berlutut dengan bahu yang gemetar dan menangis dihadapan Joanna.


Joanna diam dan hanya bisa menghela napas panjang.


"Aku minta maaf telah menyakiti Selena. Aku...aku.. sangat ketakutan setengah mati saat Selena mengirimkan surat cerai bu. Aku mohon, tolong bantu kami bu..." Zionathan bahkan tidak bisa berkata dengan jelas karena tangisannya yang tertahan dan napas yang sesenggukan. Ia menjadi lelaki lemah. Karena terlalu takut kehilangan Selena yang berarti dalam hidupnya.


"Surat cerai? Kenapa Selena ingin bercerai nak?" Joanna terkejut, Selena tidak pernah mengatakan itu.


Dari arah luar tiba-tiba muncul Berto dan Samuel.


"Ada apa ini?" Suara Berto terdengar tegas dan melangkah panjang menuju ruang tamu.


"Sayang?" Joanna meremas tangannya saat melihat kedatangan suaminya. Sementara Samuel masih bingung dengan apa yang terjadi di rumahnya.


"Siapa yang menyuruhmu berlutut seperti itu. Segala masalah tidak harus diselesaikan dengan cara merendahkan diri. Sekarang bangun dan duduk di kursi!" titah Berto dengan suara tegas dan lantang.


"Samuel panggil Selena." Sambung Berto menatap ke arah Samuel.


"Baik ayah." Ucap Samuel melangkah menuju kamar kakaknya.


"Sekarang duduklah."


Zionathan bangun sambil menundukkan kepalanya. Melangkah menuju ke arah kursi sofa.


Lama mereka terdiam, Berto juga tidak mau bicara. Ia hanya menunggu sampai Selena datang. Jika Selena tidak keluar, mereka akan terus membisu di sana. Dua hari yang lalu Selena pernah mengatakan niatnya untuk mengakhiri rumah tangganya. Berto terkejut dan langsung mencari tahu permasalahan kenapa putrinya sampai seperti ini. Setelah mencari tahu kebenaran, fakta mengejutkan yang di dapatkannya.


Setengah jam telah berlalu. Akhirnya Selena mengalah setelah bujukan maut dari Samuel. Ia melangkah tanpa ekspresi, Selena duduk di samping ibunya dan hanya menundukkan kepalanya.


Berto menarik napas dalam-dalam. Menatap Zionathan dengan wajah serius. "Kau masih ingat kecelakaan lima tahun yang lalu?"


DEG!


Zionathan mengerutkan keningnya. "Kecelakaan, kenapa ayah tahu soal kecelakaan lima tahun yang lalu?"


"Tentu saja aku tahu, karena yang menolongmu saat itu adalah aku."


Zionathan begitu terkejut, begitu juga dengan Selena. "Apa maksud ayah?" kata Zionathan masih tak percaya.


"Saat itu hujan deras, mungkin kau tidak mengingatku. Tapi kecelakaan lima tahun yang lalu tentu saja masih bisa aku ingat. Kau Selamat dan wanita yang sedang bersamamu meninggal saat itu juga."


DEG DEG DEG!


Jantung Zionathan kembali berdetak dengan kencang. Semua yang di dengarnya begitu jelas. "Jadi ayah yang menyelamatkan aku?"


"Ya betul. Jadi ini bukan kebetulan. Tuhan telah merencanakan ini semua. Walau dari kecil kalian sudah saling mengenal dan takdir yang mempertemukan kalian kembali. Perceraian tidak pernah diizinkan."


"Tapi ayah?" Selena angkat bicara.


"Ayah percaya kau bisa melaluinya. Dan kau juga nak Zio. Jika kau tidak mampu melindungi putri kami satu-satunya. Aku yang akan bertindak tegas. Aku tidak akan memaafkanmu untuk ke dua kali jika kejadian ini terulang lagi. Kau mengerti!" Kata Berto dengan tegas.


Zionathan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak menyangka ayah mertuanya menyelamatkannya untuk ke dua kalinya. Ia sangat bersyukur akan itu. Selena hanya memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat ke arah Zionathan.


"Kalian bisa pulang, selesaikan rumah tangga kalian. Soal perceraian, ayah tidak pernah mengizinkannya."


FLASH BACK OFF


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^