Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
RASA CEMAS DAN TAKUT


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


ZIONATHAN LUCIUS.



Zionathan dan beberapa tim mendapatkan jamuan makan siang di sebuah restoran BBQ.


Pelayan langsung membawa mereka menuju ruangan bagian kelas VIP. Sementara Alex masih stand bye menunggu tamu di depan restoran.


Dalam restoran.


"Tuan Zionathan? Lama tidak melihat anda di sini. Anda benar-benar banyak berubah." Sapa seorang pelayan yang mengenal Zionathan. Dia dan Olivia sering makan di tempat ini dulu. Tentu saja sebagian pelayan begitu menghafal wajah karena Zionathan kerap melakukan reservasi.


Zionathan sendiri sudah lupa tempat ini, ia menyadari sesuatu dan mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitarnya.


"Dimana Olivia pak, beliau juga tidak pernah datang ke restoran ini."


Zionathan menarik napas berat lalu berucap. "Olivia sudah meninggal."


Ekspresi wajah pelayan itu langsung berubah. Ia terdiam dan mulutnya sedikit terbuka. "Oh. maafkan saya pak. Saya Turut berduka cita."


Zionathan tersenyum ramah. "Tidak masalah. Terima kasih atas perhatiannya."


Pelayan itu pun menunduk lalu mengonfirmasi paket pemasangan tamu yang ada di sana dan kemudian meninggalkan ruangan itu.


Zionathan tersenyum dengan tarikan napas panjang. Ia tidak ingin bersedih lagi. Di sini ia hanya ingin merasakan kenangan manis yang pernah dilaluinya. Tidak ada yang bisa menyalahkan takdir. Ia hanya perlu bersyukur merasakan cinta. Mengingatkannya bahwa ia pernah punya cinta. Apakah itu artinya Zionathan sudah mulai melupakan Olivia?


Mr Rudolf melangkah masuk dan langsung melempar senyum kepada Zionathan yang berdiri menyambut kedatangannya.


"Selamat siang Mr Rudolf." Sapa Zionathan dengan senyum menawannya. Pria itu terlihat beberapa tahun lebih tua dari Zionathan.


Rudolf membalas sapaan. "Selamat siang pak Zionathan. Apa kabar?" ucapnya tersenyum mencari sosok yang berdiri di depannya.


"Seperti yang ada lihat. Sangat baik."


Mereka saling berjabat tangan. Zionathan pun membawanya masuk. Disusul dengan sekertaris Rudolf tersenyum kepada Zionathan.


"Senang bertemu dengan anda pak Zionathan." Laura mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Zionathan. "Anda jauh lebih tampan dari yang saya pikirkan pak."


"Terima kasih atas pujiannya." kata Zionathan dengan wajah datar.


"Oke, silakan duduk Mr Rudolf." Zionathan menunjuk kursi.


"Saya dengar anda sudah menikah pak Zionathan. Apa itu benar?"


Zionathan tersenyum. "Menikah? dari mana anda mendapat kabar itu. Jika saya menikah, pasti saya akan mengundang anda."


"Ah...sudah kuduga." Rudolf mengangguk lalu tersenyum dengan badan sedikit condong ke arah Zionathan.


Mereka pun duduk bersama. Berdiskusi singkat. Mereka kembali membahas banding profit. Zionathan sudah memperhitungkan agar tetap mendapatkan keuntungan dan tidak ingin rugi.


Pelayan pun datang dan memulai mengatur makanan mereka. Beragam jenis sayur dan juga daging tersedia memenuhi meja dengan kompor dan alat pemanggang sudah tersedia di depan mereka.


Mereka mulai membakar BBQ yang telah tersedia. Mereka sambil membicarakan masalah bisnis. Cara berbicara Zionathan sangat fasih, tenang dan dewasa. Sementara Rudolf sangat ramah dan elegan seperti halnya pria berkelas dan berkedudukan tinggi.


Percakapan yang kadang mengundang gelak tawa. Sampai waktu tak terasa berlalu begitu cepat. Mereka pun telah selesai makan dan kembali melanjutkan pembicaraan masalah penandatanganan kontrak.


Embusan napas lega dari mereka akhirnya keluar dengan panjang. Mereka sama-sama tersenyum karena kerjasama bisnis berjalan dengan baik. Penandatanganan kontrak pun berjalan dengan baik. Urusan bisnis pun telah selesai. Rudolf dan sekretarisnya pun pamit undur diri.


Zionathan bangun dari duduknya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menujukkan pukul pukul 15.00 wib.


"Terima kasih pak Zionathan, senang bertemu dengan anda." Rudolf kembali mengulurkan tangannya dan Zionathan pun menjabatnya lagi. Lagi-lagi ia memperlakukan hal yang sama.


Laura pun maju dengan sendirinya, "Senang rasanya bisa kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan Lucius. Tidak sia-sia saya datang ke sini. Selain mendapat pengetahuan, saya juga bisa melihat pria tampan seperti anda." Laura ikut berjabat tangan dengan Zionathan dan menempelkan pipinya pada Zionathan.


Zionathan terkesiap dengan gerakan itu, tapi sudah terlambat untuk menghindar. "Terima kasih atas pujian anda sekretaris Laura, saya juga senang bisa bertemu dengan wanita hebat seperti anda." Kata Zionathan tersenyum canggung.


Laura tersenyum manis setelah kecupan pipi itu berakhir. Zionathan kembali membalas dengan senyuman formal. Mereka pun berpisah sementara Zionathan masih duduk di sana. Pelayan restoran langsung membersihkan meja sesuai permintaan Alex.


Sementara Alex pergi melakukan pembayaran. Setelah melakukan pembayaran, Alex kembali ke ruangan VIP.


Zionathan mendongak melihat Alex melangkah masuk. Seperti biasa hanya ada ulasan senyum tipis yang terukir di wajahnya.


Alex berdiri tepat di depannya dan segera membungkukkan badan.


"Mobilnya sudah siap, pak." kata Alex memberitahu.


"Tunggu sepuluh menit lagi." Sahut Zio sambil memijit tengkuknya.


"Baik, pak." Alex menjawab dengan anggukan singkat. Ia diam dan hanya bisa menunggu. Jarak mereka tidak terlalu jauh.


Zionathan kembali menyandarkan punggungnya menatap ke atas langit-langit ruangan sambil memijit hidungnya.


"Alex," Panggil Zionathan dengan suara terendahnya.


Alex maju dua langkah lagi, "Iya, pak."


Zionathan menarik napasnya dalam-dalam lalu menatap ke arah Alex yang siap menunggu instruksi darinya. "Besok, tolong, siapkan bunga untukku. Aku ingin berkunjung ke makam Olivia."


Alex mengerutkan keningnya, "Bukankan seminggu yang lalu anda sudah berkunjung ke sana pak?" Alex kembali bertanya. Takut bahwa informasi yang baru di dengarnya salah.


Dalam setahun ini, Zionathan sudah mengurangi Jadwal kunjungannya. Sekarang Zionathan berkunjung hanya satu kali dalam satu bulan saja.


"Aku ingin melepaskan Olivia dan membiarkannya pergi dengan tenang."


Lagi-lagi Alex tidak mengerti. Jika menyangkut soal Olivia ia tidak tanggap. Maklumlah, Alex belum pernah mengalami seperti ini. Dunianya hanya bekerja dengan perusahaan Lucius saja.


Zionathan menaikkan alisnya, menatap Alex yang tak memberi jawaban. "Apa kau mendengarku Alex?" tanya Zionathan dengan mata memicing tajam.


"Maaf pak," Alex mengembalikan pikirannya. "Besok aku akan membawa bunga."


Alex hanya mengangguk. "Baik pak."


Zionathan bangun dari duduknya dan kembali mengenakan jasnya. Ia berjalan pelan dan keluar dari restoran yang di ikuti oleh Alex dari belakang. Mereka tiba di depan pintu depan restoran. Alex dengan cepat melangkah lebih dulu untuk membuka pintu.


"Mari, pak. Silakan." Alex mempersilakan Zionathan untuk berjalan mendekat ke arah mobil. Ia segera membukakan pintu mobil bagian belakang, seperti yang biasa ia lakukan selama ini.


Zionathan pun masuk dan duduk di belakang. Alex ikut masuk dan memasang sabuk pengaman.


Klik! sabuk pengaman terpasang dengan baik. Ia pun mulai menginjak pedal gas dan membawa mobil itu. Sepanjang jalan, Zionathan tertidur tenang di bangku bagian belakang. Tadi malam, ia tidak bisa tidur. Sampai-sampai Zionathan tidak tahu kalau jalan yang mereka lalui tergenang air hujan. Hujan begitu deras mengguyur kota ini.


Mereka tiba di apartemen pukul tujuh 19.15 wib. Mobil mewah itu langsung masuk ke dalam basemen.


"Kau bisa pulang Alex." kata Zionathan mengancingkan jasnya kembali.


"Biarkan saya mengantar anda sampai ke atas pak."


"Tidak perlu." Ucap Zionathan datar.


"Baik pak," Alex membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


Zionathan langsung naik melalui lift khusus menuju apartemennya. Sementara Alex sudah pulang.


"Selamat malam tuan," Kata seorang wanita menyambut Zionathan di depan pintu apartemen.


Zionathan mengerutkan keningnya saat melihat dua asisten rumah tangganya masih berada di rumah.


"Kalian belum pulang?"


"Kami tidak bisa pulang tuan, dari tadi nona Selena belum pulang."


"Belum pulang?"


"Iya tuan."


"Apa dia masih di kantor? tapi tidak mungkin."


Zionathan kemudian menghela napas singkat, "Baiklah, sekarang kalian sudah bisa pulang."


"Baik tuan,"


"Hmmm." Zionathan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih sudah bersedia bekerja di sini."


"Kami yang seharusnya berterima kasih pak. Anda sudah sangat baik. Selama kami tidak bekerja, anda masih memberikan gaji kami."


Zionathan tersenyum tidak menjawab.


"Kalau begitu kami permisi tuan." Ucap mereka pamit undur diri.


Zionathan kemudian melangkah menuju kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Hari yang melelehkan untuk hari ini. Selena menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya. Ia mendesah saat melihat jam tangannya.


Huffft...Sebagian berkas masih diperiksanya setengah. Masih banyak list pekerjaan yang belum terselesaikan dan semua menunggu di periksa dengan benar.


Selena menarik napasnya dalam-dalam. Selama tiga bulan bekerja di perusahaan Lucius. Hanya tekanan yang ia dapatkan dari bosnya itu. Zionathan memang selalu perfeksionis masalah pekerjaan. Sikapnya kadang memang terlalu kejam, datar dan dingin. Asal main perintah, berpikir bahwa semua orang bisa dengan begitu saja mengerti semua keinginan hatinya. Sifatnya yang tidak bisa menerima alasan, apalagi karyawannya yang tidak cekatan. Membuat karyawannya tertekan. Jika tidak kuat mental, mereka siap kehilangan pekerjaan.


Sampai malam hari ternyata hujan benar-benar tidak mau berhenti. Selena benar-benar terperangkap di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi hujan tak juga reda. Bahkan bertambah deras. Selena teringat, bahwa tadi pagi ia berangkat menggunakan taksi.


"Astaga, aku bisa gila." Selena mengacak rambutnya dengan asal.


"Jangan mati lampu dong, please..." Selena berdoa dalam hati. Ia masih bergelut dengan pekerjaannya.


Suara petir itu menggelegar di telinga Selena dan membuatnya tersentak. Bersamaan itu pula semuanya tiba-tiba gelap. Jantung Selena terpukul kencang. Ia reflek menutup mata dan telinganya. Selena ketakutan sampai tangannya mengeluarkan keringat dingin.


Napas Selena keluar terbata-bata. Ia mulai merasa ruangan itu mulai menciut dan kegelapan di sekitarnya serasa menindih tubuh Selena. Ia mulai sesak napas. Pipinya basah oleh air mata. Selena berusaha melawan namun ketakutannya semakin menjadi.


"Ayah....ibu...."


SEMENTARA ITU.


Zionathan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada. Zionathan segera memakai pakaiannya dan mencoba menghubungi Selena.


Panggilan masuk tapi tidak di angkat. Zionathan mencoba menghubungi lagi. Tapi tetap saja tidak diangkat. Ia mulai kesal.


"Apa dia sengaja ingin menghindari hukumannya?" Ucap Zionathan dengan geram. Ia menekan tanda panggil dari handphonenya kembali. Panggilan diangkat tapi,


Hening...


Sangat senyap dan tidak ada suara.


"Apa kau ..." Zionathan ingin memaki Selena, namun saat mendengar suara isak tangis. Dahi Zionathan mengerut. Suara Selena terdengar pendek-pendek dan tidak beraturan.


"Selena..." Panggil Zionathan.


"Tolong.. aku takut...Aku...." Selena tidak bisa melanjutkan Kalimatnya.


Tut....tut...tak beberapa lama panggilan itu mati.


"Hallo...hallo.... Selena?" Wajah Zionathan panik, suara itu seakan mengingatkannya kepada Olivia.


Pikiran Zio langsung kacau, Ia benar-benar blank. Tanpa pikir panjang ia berlari keluar dari ruangannya. Dengan terburu-buru, Zionathan masuk ke dalam mobilnya. Ia memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Zionathan langsung menancapkan mobilnya dan pergi meninggalkan apartemennya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.