
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Apa mungkin aku tidur sambil berjalan?" Kata Selena mencoba mengingat. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin! Seumur hidup aku tidak pernah mengalami somnabulisme." Ucap Selena dengan yakin.
"Atau jangan-jangan..."Selena menangguhkan kalimatnya. Matanya terbelalak dengan mulut terbuka.
"Lelaki itu tidak bisa dipercaya. Dia saja Berani merenggut ciuman pertamaku."
"Huffft." Ia mengembuskan napas dengan pipi mengembung.
Selena mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Selena mengerucutkan wajahnya seakan meringis. Dengan cepat Ia memeriksa bagian tubuhnya. Pakaiannya lengkap sempurna. Baju tidur panjang tak terlihat sobek atau di buka paksa. Selena mengeluarkan napas lega sampai kedua bahunya ikut turun.
Tak puas dengan bukti pertama, Selena memejamkan mata. Meningkatkan Indra perabanya. Ia mencoba mendeteksi bila mana ada sisa-sisa rasa sakit pada aktivitas yang dicurigainya. Selena memfokuskan pikiran di setiap bagian sensitif tubuhnya. Tidak ada yang dirasanya sakit, atau bekas stempel merah yang tertinggal di bagian dadanya.
"Ya, Tuhan. Apa yang aku pikirkan?"
Selena merutuki kebodohannya. "Bagaimana mungkin aku bisa berpikir seperti itu. Jangan gila Selena. Pria arogan itu tidak mungkin melakukannya, bisa kiamat dunia ini."
Selena mencoba meyakinkan dirinya. Mengingat begitu jahatnya Zionathan. Lelaki itu bahkan tidak punya hati.
Ia menggeleng dan mencoba mengembalikan pikirannya. Membayangkan wajah Zionathan saja membuatnya merinding ketakutan. Selena memalingkan wajahnya lalu melihat ke arah jam.
"What! ya Tuhan!! Aku terlambat!!!!" Wajah Selena seketika panik. Ia meremas rambut di kepalanya dan segera bersiap. Selena segera melompat dari tempat tidurnya
"Astaga aku benar-benar terlambat. Kenapa alarm handphoneku tidak berbunyi ya."
Selena berlari ke kamar mandi. Ketika sampai di pintu kamar mandi, Ia hampir saja terpeleset karena tidak memperhatikan jalan. Beruntung Selena tidak jatuh hanya saja jantungnya saja yang berdebar sangat kencang dan mengumpat segala kecerobohannya.
BRAKKKKKK!
Lagi-lagi Selena menutup pintu dengan kasar. Lima menit harus selesai mandi. Tak butuh lama, Selena sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Selena duduk di depan meja rias. Memberikan sedikit polesan ke wajahnya. Hari ini ia tidak bisa berlama-lama hanya untuk melakukan make up saja. Ia benar-benar terlambat.
Sejenak Selena menghentikan aktifitas make upnya. Menyadari bahwa ia tidak melihat suaminya.
"Apa dia sudah pergi?" Mata Selena memicing penuh kewaspadaan.
Ia mencoba masuk ke kamar mandi, tidak ada pakaian Zionathan di sana. Bantal di atas tempat tidurnya saja hanya ada satu lengkap dengan gulingnya. Itu artinya Zionathan tidak masuk ke kamar ini?
Selena mengangkat ke dua bahunya. Buat apa aku memikirkannya? Melihat sikapnya tadi malam, membuat Selena benar-benar marah. Sedikit pun ia tidak merasa bersalah.
Selena kembali duduk dan memberikan sedikit lipstick di bibirnya dan menepuk-nepuk bibirnya sendiri agar lipsticknya merata. Selena memperhatikan penampilannya lagi. ia tersenyum di sana. Selena sudah rapi dengan menggunakan pakaian kantornya.
Tak ingin menunggu lama, Ia pun keluar. Dahinya mengerut saat melihat dua orang wanita tengah sibuk di dapur. Selena memperlambat langkahnya.
Saat menyadari kedatangan Selena. Mereka dengan cepat memberi hormat.
"Selamat pagi nona, perkenalkan saya asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini."
Alis Selena melengkung. "Asisten rumah tangga? Bukannya kemarin kalian sudah dipecat?" tanyanya dengan ekspresi heran.
"Benar nona. Tapi tuan Zio meminta kami bekerja lagi."
"Apa??" ucap Selena dengan gerakan mulut tanpa bersuara. Wajahnya sangat heran.
Bukankah Zionathan sengaja membuat peraturan yang tidak masuk di akal itu. Selena kembali mengingat surat perjanjian itu
"Jangan pernah bermimpi dan menganggap dirimu nyonya Lucius. Kau tetap menjalankan pekerjaan layaknya asisten rumah tangga. Lakukan tugasmu sebaik-baiknya. Mulai besok, asisten rumah tangga diberhentikan."
Ingatan itu begitu jelas. Selena menatap ke arah dua orang wanita itu, meminta penjelasan lagi.
"Setelah dipecat, apa anda mau bekerja di sini lagi?" tanya Selena.
Kedua wanita tersenyum sambil menujukkan deretan giginya, wajah mereka tampak berseri. "Tentu saja nona, siapa yang tidak mau di gaji tiga kali lipat dari gaji biasanya."
"Kami juga tidak bisa menolak. Tuan Zio sudah begitu baik dengan kami. Beliau juga sering menambahkan bonus di luar dari gaji kami." Seorang wanita cantik yang seumuran dengan Selena menimpali.
Dahi selena semakin mengerut melihat ke arah ke dua wanita itu secara bergantian. "Baik? astaga! baik dari mana? "
Selena masih tak percaya, sikap lelaki benar-benar berbeda. Ia merasa kaget dengan perubahan sikap yang dirasakannya tiba-tiba itu.
Tidak ingin ambil pusing, Selena kemudian berkata. "Baiklah, lanjutkan pekerjaan kalian. Saya berangkat dulu."
"Anda tidak sarapan, kami sudah menyiapkan sarapan buat nona."
"Tidak. Saya sarapan di kantor saja. Oh iya. Jangan panggil nona ya, panggil Selena saja." Kata Selena berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Ia benar-benar tidak nyaman jika dipanggil dengan nona.
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah tiba di kantor, Selena langsung pergi menuju pantry dengan membawa mi instan dalam kemasan gelas yang dibelinya dari supermarket. Di sela kerjaan yang nggak bisa ditinggal, waktu istirahat yang super pendek, atau hari hujan malas keluar, sangat tepat menikmati mie seperti ini. Cara menyambung hidup sembari melanjutkan pekerjaan. Selena tersenyum sambil membawa mi instan itu.
"Sekertaris Selena, anda diminta pak direktur ke ruangannya." Ucap Alex saat melihat Selena keluar dari pantry.
"Baik pak." Jawab Selena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tidak baik sering makan itu Selena." Alex mengingatkan.
"Hehehehe." Selena tersenyum. "Siap pak!"
"Jangan sampai pak direktur melihatnya. Beliau bisa marah." Kata Alex kembali masuk ke ruangannya.
"Siapa dia mengatur hidupku. Aku mau makan apa. Terserah aku lah,"
Selena meletakkan mie instan yang sudah diseduhnya itu. lalu berjalan mendekat ke arah ruangan yang bertuliskan CEO. Sebelum mengetuk pintu Selena menarik napasnya dalam-dalam. Ia kemudian mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
TOK ..TOK...TOK..
Selena membuka pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Zionathan.
Zionathan masih sibuk memeriksa tabletnya. Ia menyadari langkah kaki Selena semakin mendekat. Zionathan mengangkat sedikit kepalanya dan menaikkan tatapannya melihat ke arah Selena.
Selena membungkukkan badannya, lalu menatap lurus ke arah Zionathan. "Apa anda memanggil saya, pak?" tanya Selena tetap bersikap propesional.
Zionathan meletakkan tabletnya di atas meja. Ia menekuk siku, dan melipat tangannya di atas meja. Kini wajah dan tatapannya fokus menatap ke arah Selena.
Selena mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud pembicaraan lelaki itu.
Zionathan tersenyum menyeringai. "Apa kau benar-benar lupa kejadian tadi malam?"
"Saya tidak mengerti maksud anda pak?"
Zionathan menarik napasnya, mengunci tatapannya ke arah Selena. "Kau tidak merasa bersalah, setelah membuang makanan itu. Kau bahkan pergi begitu saja dan berhasil membuatku kelaparan."
Selena memalingkan wajahnya, ia diam tak menjawab.
Merasa menang, Zionathan menaikkan dagu dan menatap Selena semakin dalam. "Dan setelah itu, kau diam-diam naik ke atas kasur dan memelukku."
Selena tercengang. "Ha? Tidak mungkin? Bagaimana mungkin aku memeluknya."
Zionathan terus memandang Selena. "Kau tidak mengingatnya? Sampai aku harus keluar dari kamar karena tidak tahan mendengar dengkuranmu."
Selena memejamkan matanya dan semakin meremas erat tangannya. Ia menunduk dan terus berpikir. "Bagaimana bisa, ini tidak mungkin." Selena terus berucap dalam hati.
"Sepertinya kau masih terobsesi dengan Nathan kecil. Sampai tidur saja, kau bisa tahu aku ada dimana."
Zionathan tersenyum tipis saat Selena tidak berani mengangkat wajahnya. Ia menaikkan sikunya ke atas meja dan menopang dagu. Seakan sangat menikmati pemandangan itu.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Ekspresi Zionathan benar-benar tidak terbaca.
Selena membuang d*sahan kesal, memperbaiki postur berdiri. Wajahnya kembali ditegakkan meski masih terlihat tegang. "Aku tidak mungkin melakukan itu."
Zionathan mengeluarkan tawa kecil sambil mengusap dagunya. "Mana ada maling mau mengaku. Pasti mereka menepis tuduhan, mengingkari kenyataan, menolak anggapan dan merasa benar."
"Terserah jika menurut anda itu benar. Tapi saya yakin tidak melakukan itu." jawab Selena ketus.
"Ya.. Kalau dipikir-pikir memang pengakuan itu menakutkan. Banyak resiko dari akibat pengakuan. Tapi tenang saja, aku tidak akan memperpanjang masalah ini."
Selena melarikan pandangannya ke bawah dan mencoba mengalihkan perhatian. Setiap lirikan kontak mata yang dibuat Zionathan membuatnya kesal. Sorot matanya seakan memaku Selena ke lantai.
Zionathan tersenyum. Entah mengapa melihat sikap Selena, hatinya semakin tertarik. Ia segera keluar dari meja kerjanya. Melangkah dengan percaya diri. Zionathan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Melihat Zionathan mendekat, Selena langsung menundukkan wajahnya. Zionathan terus mendekat. Hingga jarak tubuh mereka cukup dekat.
"Aku harap kejadian itu tidak terulang lagi. Aku takut kau melakukan sesuatu karena kau sangat mencintai Nathan kecil."
Selena terjebak! ia benar-benar terjebak. Apa Zionathan memang sengaja ingin membalasnya. Selena tidak tahu. Namun kali ini tatapannya berbeda. Selena seperti terikat dengan sorot mata itu.
Zionathan mencondongkan tubuhnya, namun reflek Selena menjauhkan dirinya.
"Apa yang anda lakukan?" Wajah Selena kembali tegang. Dia takut kejadian cium paksa itu kembali lagi.
"Kau akan dihukum."
"Apa ma-maksudmu?" ucap Selena tergagap.
"Kau telah membuatku tidur di luar. Jadi kau pantas mendapatkan hukuman." Ucap Zionathan datar.
"Aku tidak mau men..."
Tok...tok...tok....
Belum lagi Selena menyelesaikan kalimatnya, terdengar ketukan pintu.
"Permisi pak, anda kedatangan tamu." ucap Alex dari luar.
Zionathan lagi-lagi tersenyum. "Suruh dia masuk." Ucap Zio tanpa melepaskan tatapannya ke arah Selena.
Tiba-tiba pintu terbuka, muncul Felicia melangkah cepat dan langsung memeluk Zionathan. Pelukan singkat, namun berhasil membuat mata Selena terbelalak. Penampilan wanita itu membuat Selena beberapa kali menelan salivanya.
"Apa kabar Zio? kau tampan sekali." Felicia meloncat kecil-kecil.
Zionathan bisa menangkap ekspresi itu. Ia tersenyum dan memegang lengan Felicia.
"Seperti yang kau lihat, kabarku baik. Kau juga jauh lebih cantik."
Felicia tersenyum malu, "Kamu bisa aja,"
"Silakan duduk!" tangannya mengulur ke arah sofa. Kemudian Zionathan menatap ke arah Selena. "Sekretaris Selena, kau bisa keluar!"
"Baik pak," Selena membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
"Sekertaris Selena," Panggil Zio lagi.
Selena membalikkan badannya. "Iya pak?"
"Biasakan bertanya kepada tamu mau minum apa."
"Ahhh...maaf pak!" Wajah Selena seperti tertampar. Ia tersenyum hambar menatap wanita yang tersenyum manis di sana. "Anda ingin minum apa?" Tanya Selena dengan sopan.
"Minuman apa saja bisa."
"Baiklah. Saya akan menyiapkan teh hangat."
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Oh iya, sekertaris Selena. Jangan lupa, pikirankan hukumanmu." ucap Zio lagi.
Selena meremas tangannya, tak ingin berlama-lama di ruangan itu, Ia pun pamit undur diri.
"Dia sekretaris kamu ya?"
"Hmm. Sekertaris yang tidak tahu apa-apa."
DEG!
Jantung Selena terpukul kencang saat mendengar itu. Namun Zionathan tersenyum usil saat melihat Selena melangkah cepat meninggalkan ruangannya.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^