Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MAAFKAN AKU


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Lima belas menit sebelumnya.


Zionathan tiba di depan apartemennya. Ia menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobil. Zionathan tersenyum sendu begitu menyadari ia hanya menempuh waktu dua jam agar sampai di sini.


Sepanjang jalan, ia merenung. Bagaimana Selena masih bisa dekat dengan Ferdinand. Rasa sakit itu datang kembali lagi. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya begitu marah. Tapi Zionathan menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu. Zionathan bersandar dan menengadah ke atas. Ia tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada.


Zionathan mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Ia membenamkan wajahnya di setir mobil, mencoba mengerti dengan semua ini. Untuk bertanya langsung ia tidak siap. Takut jika Selena salah paham dan memilih untuk pergi lagi.


Zionathan kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Sebelumnya Zionathan telah melacak nomor ponsel Selena lewat Google. Ia masuk mencari nama Selena dalam kontak untuk mengetahui posisi Selena berada. Zionathan mengklik pada kontak target yang ingin dia lacak, dan Google Maps pun secara otomatis melacak Selena dan tanda merah pada ponselnya berubah menyala untuk memberitahu keberadaan Selena yang telah terlacak. Namun ternyata handphonenya Selena berada di kawasan apartemen diamond. Itu artinya ia meninggalkan handphonenya di sana.


"Apa kau sengaja meninggalkan handphonemu, istriku?"


Zionathan melepaskan napas panjang. Lalu mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Alex.


"Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Alex dengan ramah.


"Apa Selena ada?"


"Maksud bapak, sekertaris Selena?"


"Apa nama Selena ada di kantor Lucius selain istriku, Alex?" Zionathan mulai kesal.


"Ahhhh....maaf pak. Tadi sekretaris Selena datang ke kantor memberikan berkas yang anda minta agar direview ulang. Dan setelah itu, beliau minta izin keluar pak, karena ada urusan penting yang harus diselesaikannya."


Zionathan memijit pelipisnya. "Baiklah. Terima kasih." ucap Zionathan mematikan handphonenya dengan sepihak. Ia membuang asal benda pipih itu.


"Urusan penting?" Zionathan tersenyum miris di ujung kalimat. Rasanya benar-benar menyesakkan.


Ia memilih turun dari mobil. Sebelum membuka pintu, Ia melihat Ferdinand dan Selena berjalan beriringan menuju ke arah lobby apartemen. Zionathan mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia menelan salivanya dan menunggu di dalam mobil dan terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Ada rasa sakit yang tak bisa ditutupi. Zionathan mendengar semuanya. Ia menarik napas dan menunggu sampai Selena benar-benar masuk. Sementara Ferdinand sudah pergi meninggalkan apartemen.


Zionathan menarik napasnya lagi. Setelah cukup tenang. Zionathan akhirnya membuka pintu mobil dan memencet tombol kunci.


TIT !


Ia mengarahkan kunci remote ke arah mobil dan memasuki lobby apartemen.


TING!


Pintu lift terbuka, Zionathan melangkah keluar dan berjalan menuju apartemennya. Ia menekan tombol angka di sana.


TININIT!


Bunyi dari pintu berbunyi ketika Zionathan membuka dengan mengetikkan password yang berupa angka untuk membuka pintu kunci digital apartemennya. Sebelum masuk, Zionathan pun menarik napasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya sekaligus. Ia membuka kenop pintu dengan sangat pelan. Perlahan Zionathan memasuki ruangan itu. Remang-remang tidak terlalu terang, mungkin Selena sengaja tidak menyalakan lampu utama. Zionathan melepas napas panjang dan melangkah.


Pandangan Zionathan yang awalnya turun, mengernyit saat mendengar suara Selena dari arah dapur.


"Sudah pulang suamiku?"


Matanya berkedip cepat saat Selena memanggilnya dengan sebutan 'Suamiku'. Suara itu begitu merdu di telinganya.


Selena berdiri di depan meja yang tersambung dengan kitchen set. Di dapur yang luas itu. Ia tersenyum begitu hangat. Menyambut Zionathan pulang. "Sepertinya aku tahu bahwa kau pulang hari ini. Aku menyiapkan makan malam istimewa untukmu. Pasti kau suka," Selena tersenyum di ujung kalimatnya.


Zionathan masih terdiam dan terus melihat Selena. Ia hanya bergeming di posisinya sambil menatap Selena begitu dalam. Wajah Zionathan nampak kelelahan. Matanya begitu sayu.


Selena dapat merasakan ekspresi wajah Zionathan yang dingin itu. Itu artinya Zionathan memang tahu jika ia sedang bersama dengan Ferdinand. Ditambah ia mencari tahu keberadaannya melalui pak Alex. Menguatkan firasatnya bahwa Zionathan sedang marah kepadanya.


"Aku belum mandi. Makanlah dulu. Nanti aku akan menyusul." Kata Zionathan melangkah meninggalkan ruangan.


Mendengar itu, Zionathan membuang napasnya dengan mata terpejam. Ia masih memunggungi Selena dan tak juga berbalik.


Selena menarik napas sambil tersenyum tipis. Ia berusaha bersikap tenang, menatap Zionathan dengan perjuangan batin yang cukup berat. "Maaf, tadi aku bertemu Ferdinand, kami menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan dan makan bersama." Kata Selena dengan suara terendahnya. Ia bisa melihat reaksi dari Zionathan di sana.


Zionathan mengepalkan tangannya. Seharusnya Selena tidak perlu mengatakan itu. Kejujuran Selena melukai hatinya.


"Kau tidak cemburu? Kau tidak marah?" Tanya Selena menatap punggung suaminya.


Zionathan tidak menjawab. Ia memilih bertahan dalam posisinya.


Selena berjalan pelan dan hanya bisa terdiam. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya. Ia memasukkan tangannya dengan perlahan ke sela tangan dan pinggang Zionathan. Ia terus menatap ke bawah dan semakin memajukan tubuhnya.


Zionathan mengerjap dan mengerutkan dahinya. Otaknya belum bisa menyimpulkan apa yang akan dilakukan Selena. Kini tangan Selena berhasil menggapai pinggang Zionathan. Dengan lembut Selena merebahkan kepalanya dengan nyaman di punggung Zionathan. Selena memejamkan matanya. Membagi rasa hangat dan nyaman dari sebuah pelukan.


"Aku bahkan canggung jika melihatmu terdiam seperti ini. Seharusnya kau mengatakan sesuatu suamiku." ucap Selena mengeratkan dekapannya. Mengambil posisi nyaman. Lalu merenggangkannya lagi.


Sensasi itu membuat Zionathan memejamkan matanya berkali-kali. Ia melihat kesamping, merasakan pelukan itu kembali. Ia tidak bisa menolak, hatinya berubah hangat. Rasa kesalnya hilang bersama dekapan Selena.


"Ferdinand adalah salah satu teman terbaikku. Dia kukenal sejak kami kuliah bersama di kampus A. Anaknya baik, pengertian dan ramah. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri." Selena tersenyum, posisi tangannya masih memeluk Zionathan.


"Dia sama sekali tidak tahu jika aku sudah menikah. Karena memang pernikahan kita dirahasiakan. Bahkan sahabat dekatku tidak tahu aku sudah menikah dengan lelaki tampan sepertimu." Selena menarik napas singkat. Sementara Zionathan hanya bergeming di sana.


"Tadi siang, aku yang memintanya untuk bertemu. Karena sebelumnya, aku dan Ferdinand punya janji ingin merayakan natal bersama dan itu sudah menjadi kebiasaan kami setiap tahunnya. Sebagai ungkapan rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi janjinya. Aku memajukannya menjadi hari ini. Aku mengajaknya makan, main kereta layang dan jalan-jalan ke taman seperti yang biasa kami lakukan." Selena menarik napasnya lagi. Ia kembali mencari posisi nyaman di punggung Zionathan.


"Dan hari ini juga Ferdinand mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku tidak bisa marah-marah dan memakinya karena telah mencintaiku. Aku bahkan memilih kata yang tepat agar tidak menyakiti hatinya. Setidaknya persahabatan kami masih terjalin dengan baik dan tidak harus saling melukai. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku sudah menikah dan suamiku ternyata sahabatnya juga."


Zionathan menghela napas sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali.


"Ferdinand menceritakan semuanya tentangmu. Ia telah menyesal telah membuatmu kehilangan wanita yang pernah hadir dalam hidupmu. Dia ingin persahabatan kalian kembali seperti dulu."


Zionathan membalikkan badannya dan tangan Selena pun terlepas dari pinggangnya. Ia menatap Selena begitu dalam. Ia masih tak bicara, hanya sebagai pendengar di sana.


"Aku tahu kau marah karena aku bertemu Ferdinand. Dia hanyalah teman yang tak bisa aku jauhi. Maafkan aku, jika sudah membuatmu terluka. Aku juga tidak tahu jika masa lalu kalian membuatmu begitu membenci Ferdinand. Tapi jika kau meminta aku memutuskan persahabatan dengan Ferdinand, aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah mengenal Ferdinand cukup lama. Jadi aku mohon, tetaplah mempercayaiku."


Heeee.... Zionathan mengembuskan napasnya yang terasa berat. Ia lagi-lagi hanya bisa melakukan itu tanpa bicara. Bagaimana Selena begitu mudahnya mengatakan itu. Kebenciannya kepada Ferdinand sudah berakar dan untuk memaafkan sangat sulit baginya.


"Kau tahu? sekarang yang aku butuh itu adalah kau. Kita berjanji akan saling percaya dan memulainya dari awal. Aku bisa merasakan itu. Kau bisa membuatku nyaman dan selalu tersenyum. Aku ingin engkaulah pria pertama dan terakhir yang mengisi hatiku. Apapun yang terjadi, aku ingin kita selalu bisa bersama sampai maut memisahkan."


Selena kembali mendekat dan memeluk Zionathan. "Aku tahu kau pernah terluka dan kehilangan orang yang kau cintai. Kau bahkan sulit untuk menyembuhkan luka itu. Jadikan aku obat untuk menutupi lukamu. Aku juga tak ingin terluka lagi, tak ingin disakiti seperti yang pernah kualami sebelumnya. Kau tahu itu? Jadi percayalah dengan cinta yang ku punya ini. Aku dan Ferdinand tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman dan tidak lebih dari itu."


Selena kembali memejamkan matanya. Mengeratkan pelukan, menyandarkan kepalanya di dada Zionathan. Ia bisa merasakan detak jantung Zionathan di sana.


Zionathan ikut meresapi setiap kata-kata yang di ucapkan wanita yang kini mengisi hatinya. Rasa cemburu terlalu menguasai hatinya. Ia mengulum senyum sambil melihat ke arah wajah Selena. Kemudian ikut memejamkan matanya dan menghela napas panjang. "Seharusnya aku yang minta maaf. Awalnya aku meragukan kesetianmu. Maafkan aku." kata Zionathan. "Aku mencintaimu Selena,"


Ia memegang ke dua bahu Selena, agar bisa melihat mata indah yang sudah mengkristal dengan air bening yang siap menetes di pipinya. "Kamu menangis?" Alis Zionathan saling menyatu. Ia mengusap pipi Selena dengan lembut.


Selena menggeleng pelan, bibirnya ikut mengerucut ke depan. "Aku hanya terlalu bahagia memilikimu. Cinta yang aku punya akhirnya terbalaskan juga." Selena menahan air matanya agar tidak terjatuh. Mata mereka saling mengunci begitu dalam.


Zionathan tersenyum, ia mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba.


Cup!


Zionathan mencium bibir Selena, Selena sedikit terkejut saat merasakan ciuman itu. Mata mereka saling mengunci begitu dalam. Seakan waktu berhenti hanya untuk saling melihat satu sama yang lain. Zionathan kini benar-benar terjebak pesona Selena. Tatapan menginginkan dan tatapan kagum.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^