Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KAU TIDAK BOLEH PERGI


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Saat melihat Zionathan tertidur. Selena seperti melihat Nathan kecil di sana. Tiba-tiba Kenangan masa kecil mereka kembali mencuat dan mengajaknya mengenang masa itu. Selena merasa sangat rindu dengan Nathan kecil. Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung matanya mulai memerah. Selena menarik napasnya lagi. Mencoba menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Selena semakin mendekat. Memandang wajah Nathan dari dekat. Ia tersenyum sesaat.


"Nathan, kemana saja kau pergi?" Satu ucapan lembut dan pelan keluar dari mulut Selena. Bisikannya sangat pelan bahkan terdengar seperti d*sahan.


"Nathan lagi, kenapa dia selalu memanggil nama kecilku." Zionathan menggerutu dalam hati.


"Kau tahu kenapa aku menyukaimu. Karena kau sering melindungiku dari bully-an teman-temanku. Kau seperti pria dewasa saat itu. Padahal sesungguhnya kau lelaki cengeng dan suka menangis saat di tinggal Uncle dulu." Selena mengeluarkan tawa kecil di sana.


"Cengeng? Siapa yang cengeng? ini benar-benar ya..." lagi-lagi Zio protes dalam hati.


Kemudian Selena menarik napasnya lagi. "Banyak kenangan masa kecil kita dulu dan aku merindukan masa-masa itu Nathan? Kemana Nathan kecil itu pergi?" ucap Selena pelan hampir tak terdengar oleh Zio. Wajah Selena memerah mengerut dan ingin menangis.


Zio membeku saat mendengar ungkapan dari wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu. Ia bergeming dan tak berani bergerak sedikit pun. Hanya napasnya yang berembus stabil. Kelopak matanya tenang tanpa gerak acak dari pupil matanya di dalam. Hal itu menandakan Zionathan tertidur dengan nyaman.


Perlahan selena menaikkan sebelah tangannya membelai rambut Nathan dengan lembut. Turun perlahan ke hidung menyapu panjang hidung Nathan yang mancung. Gerakan halus Jari-jari Selena bergeser sedikit menyapu atas dan bawah yang sangat menggoda itu. Jari-jarinya masih berada di pipi Nathan, mengakses setiap lekukan rahang tegas milik Nathan. Lelaki yang sempurna. Selena tersenyum samar. Menarik napasnya dengan berat, lalu menarik tangannya kembali.


Zionathan berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya. Saat Selena membelai pipinya. Ia meremas tangannya dengan erat, agar tidak tertangkap basah karena sudah berpura-pura tidur.


Selena mencoba berpijak dari tingkat kesadaran yang nyata. Ternyata lelaki yang tertidur di depannya bukan lah Nathan. Ia tidak boleh seperti ini, mengingat Nathan lagi. Selena menarik napasnya dalam-dalam. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Ia masih diam mengamati wajah lelaki yang tertidur di depannya. Laki-laki yang sama sekali tidak punya hati itu.


Selena mengembuskan napas singkat dan lalu berkata. "Kau bukan Nathan yang kukenal. Nathan yang suka tersenyum dan selalu memberikan kenyamanan untuk Selena kecil."


Selena menggeleng pelan. Ia terus berkelahi dengan batinnya. Terus mengatakan, cukup, cukup, cukup sampai di sini. Selena sudah bertekad untuk mengakhiri ini semua dan ia berhasil menguasai hatinya.


"Aku tidak mau diperlakukan seperti ini terus. Besok aku pulang dengan penerbangan pertama. Aku harap kita tidak bertemu lagi." Selena terdiam sesaat. Mencoba menahan sesak yang menghimpit dadanya. Ia pun kembali melanjutkan kalimatnya.


"Kita tidak bisa menjalani pernikahan seperti ini. Saling menyakiti. Aku benci dengan semua peraturan yang kau buat. Kau benar-benar tidak memikirkan perasaanku. Walau tidak ada cinta tapi setidaknya kau menghargai aku sebagai istrimu. Sebelum kita melangkah jauh. Aku ingin kita mengakhiri dengan baik tanpa harus menyakiti. Aku akan menjelaskan kepada orangtuaku dan kau juga bisa menjelaskan kepada orangtuamu."


Selena terdiam lagi, ia memenjamkan matanya berusaha untuk tidak menangis. "Jangan bodoh Selena, kamu jangan menangis karena pria brengsek ini."


Dengan suara parau dan gemetar, selena kembali berucap. "Selamat tinggal! Semoga kamu menemukan wanita yang jauh lebih baik dan bisa menerimamu apa adanya." Napas Selena tertahan.


"Mari kita memulai hidup baru tanpa terikat pernikahan dan aku harap di kehidupan berikutnya, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Ucap Selena dengan yakin diiringi dengan napas yang terbuang sangat berat.


Tarikan napas mendandakan kemenangannya atas keinginannya untuk menyudahi ini semua. Selena sudah selesai. Ia tidak ingin berlama-lama dan akhirnya membuat pria ini bangun. Selena langsung memasukkan barang-barangnya, dia tidak ingin meninggalkan jejaknya di sini.


Zionathan tertegun di sana. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan melihat Selena membawa semua barang-barangnya. Setelah semuanya beres. Selena melangkah dan segera meninggalkan ruang VIP itu.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" Suara Zionathan terdengar berat di sana.


Bubk..!


Tubuh Selena terjingkat saat mendengar suara bariton yang tak asing di telinganya dan reflek menjatuhkan tas yang dipegangnya. Ia benar-benar terkejut. Mata Selena membulat penuh dan dengan cepat membalikkan badannya.


"Apa dia mendengar semuanya?" Awal kata yang terucap dari mulut Selena.


Zionathan langsung turun dari tempatnya tidurnya dan melangkah mendekat ke arah Selena.


Perlahan Selena mundur langkahnya ke belakang. Napasnya keluar terbata dan benar-benar tidak stabil. Selena kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Mungkin ia akan lebih sulit bernapas lagi setelah ini.


"Setelah kekacauan yang kau buat, kau ingin pergi begitu saja. Cih..." Zio berdecak sambil menaikkan sisi bibirnya. Ia menggeram. Tatapannya mendominasi. Rahangnya mengencang kuat dan sorot matanya menajam seakan ingin menerkam Selena.


Selena tidak terima. Ia membalas menatap tajam ke arah Zio. Tatapannya penuh penghakiman. Ia sudah siap meledakkan lahar yang tertumpuk di dadanya.


"Siapa yang membuat kekacauan? Bukankah kau mengatakan tidak ingin melihatku?" ucap Selena dengan sorot mata semakin menantang. "Kau tidak menghargaiku sama sekali. Aku tidak bisa seperti ini terus. Kau menyiksaku dengan kata-kata pahitmu." Desis Selena dengan mata menyalang tajam.


Zionathan tidak menjawab, entah mengapa tatapan itu membuatnya seperti kehilangan kesadaran. Tatapan mendominasi membuatnya tak bisa bergerak dari tempatnya.


"Kau tidak berhak mencegahku untuk pergi. Aku tidak ingin menjalani pernikahan seperti ini. Kita lepaskan ikatan ini." Selena membuka cincin dan memberikan langsung ke tangan Zio. "Ambil cincin ini dan berikan kepada wanita yang benar-benar kau cintai."


Zionathan mengernyit menyadari bahwa Selena mengembalikan cincin pernikahan mereka.


Selena mengusap keningnya dan menatap sinis ke arah Zionathan yang masih bergeming ditempatnya. "Kau tidak perlu meminta Steven mengantarku ke bandara. Aku bisa pergi sendiri."


Selena mengambil tas kembali dan berbalik ingin pergi. Tanpa pikir panjang Zionathan dengan cepat meraih tangan Selena.


"Apa kau tidak dengar, kau tidak boleh pergi."


"Lepaskan! apa yang anda lakukan? Jika anda seperti ini, aku akan teriak." Selena masih berusaha melepaskan tangannya.


"Kau masih sah menjadi istriku, aku bisa melakukan apa saja."


"Apa?" Selena menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka. Ia masih berusaha melepaskan tangannya dari pria yang sama sekali tidak punya hati itu. "Aku sudah bilang ingin mengakhiri ini semua. Aku tidak tahan lagi." Tengking Selena.


"Dan aku tidak mau mengakhiri ini semua. Kau tidak baca kontrak yang aku berikan?" Zionathan lagi-lagi mengingatkan isi kontrak pernikahan mereka.


Selena menggeram kesal. Dahinya masih mengerut, mulutnya terbuka. "Lepaskan, aku akan teriak agar pihak rumah sakit keluar." gertak Selena dengan tegas. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Lepaskan aku brengsek," maki Selena tak ada rasa takut.


Emosi Zio tersulut mendengar perkataan Selena. Ia mencengkeram pergelangan tangan Selena dan mendorong tubuh Selena hingga menempel ke dinding. Selena membelalakkan matanya kerena terkejut. Dadanya terlihat naik turun karena napas yang tidak beraturan. Kedekatan ini membuatnya tidak nyaman. Tangan Zio masih menggenggam tangan Selena. Mereka saling menatap, mata mereka saling bertemu dan terdiam beberapa detik.


Selena melepaskan pandangannya dan menatap ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Zio. "A-apa yang kau lakukan?" ucap Selena gugup.


"Jangan main-main denganku. Aku bisa saja merusakmu malam ini." Ia memandang tajam ke arah Selena.


"Heuh?" Ia tidak mampu menjawabnya. Karena tatapan pria itu begitu tajam. Napas Selena benar-benar tercekat.


"Bukankah kau mencintaiku, harusnya kau sudah siap menerima itu semua." Kata Zio tak kalah dinginnya.


"Kau benar-benar gila," Desis Selena dengan mata menyalang tajam.


"Terserah apa yang kau katakan. Kontrak masih ada. Jika kau melakukan tindakan bodoh seperti tadi. Kau akan tahu akibatnya." ucap Zio tersenyum sinis sambil terus mempertahankan matanya di wajah Selena.


"Apa ma-maksudmu?" bibir Selena gemetar karena menahan emosinya.


Zionathan berdecak, tersenyum kecil sambil membuang napasnya menatap ke arah Selena. "Aku bisa melakukan apa saja untuk keluargamu. Tidak hanya kau. Tapi termasuk itu Samuel, aku bisa membuat adikmu menjadi sampah masyarakat. Apa kau menginginkan itu?"


"Apa?" Kata Selena menggeram kesal.


Zionathan tersenyum sambil mengangguk, ia memasukkan tangannya ke kantong celana. Berdiri dengan posisi santai. "Aku sudah pernah katakan, ke ujung dunia aku bisa mengejarmu Selena. Jadi jangan pernah meremehkan perkataanku."


"Kau benar-benar gila?" napas Selena kembali tersengal karena menahan emosi. "Aku sudah katakan tidak mau terikat dengan lelaki sinting seperti kau."


Zionathan tersenyum sambil mengusap dagunya. "Terserah kau menilaiku apa, lakukan tugasmu layaknya seperti seorang istri."


Selena mengembuskan napas panjang, ia jengah dengan sikap lelaki ini. "Kau benar-benar tidak waras. Sinting. Gila. Aku tidak menyukaimu. Kau seharusnya melepaskan aku!" Tangannya Selena mengepal kuat Rasanya ia ingin menghajar lelaki ini.


Zionathan semakin tertawa sambil menunduk. Entah mengapa perasannya menggelitik saat melihat kemarahan Selena.


"Kau masih bisa tertawa? Astaga kau benar-benar gila. Seharusnya kau dimasukkan ke rumah sakit jiwa." Selena menarik napas satu-satunya. Ia menggeram sambil menjepit bibirnya.


"Aku hanya mengingatkan saja, jangan coba-coba kabur."


Selena menarik napas panjang dan mengembuskan sekaligus. "Aku tidak nyaman seperti ini, jangan terlalu berlebihan kita akhiri saja pernikahan ini. Jangan menyiksaku." Bentak Selena.


"Terserah lakukan saja mana menurutmu terbaik. Kau ingin keluargamu hancur, kau bisa pergi sekarang. Dan saat itu juga kau memohon dan merangkak kepadaku. Aku tidak akan bisa menarik ucapanku."


Selena benar-benar dikuasai emosi melihat sikap Zionathan. Dengan kekuatan penuh ia langsung menampar pipi Zio.


PLAKKK!


Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. "Kau benar-benar lelaki brengsek! Kau tidak punya hati." Napas Selena terdengar naik turun. Matanya berkaca-kaca menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya.


Zionathan menyentuh bagian pipinya, rasa panas bekas tamparan yang menjalar di pipinya menyisakan rasa sakit yang teramat sangat, telinganya sampai berdengung dan pandangannya juga berkunang- kunang.


"Berani kau menamparku,"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^