Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
AKU TIDAK BISA PERGI.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


BRAKKK!


Pintu terbuka dengan kasar.


"Selena..." Teriak pak Alex, tiba-tiba keluar dari ruangannya.


Selena yang tengah santai menyeruput teh buatanya, terjengkit kaget dari duduknya saat mendengar suara pak Alex.


Wajah selena mengerut serius. "Astagaaa pak! Ada apa? kenapa anda panik?" ucap Selena dengan wajah tegang sambil mengelus dadanya.


Alex berusaha mengatur napasnya, ia menarik napas dalam-dalam lalu berbicara. "Pak direktur sakit, tuan Alberto meminta anda menyusul beliau ke London."


Wajah Selena berubah. "Heuh? pak direktur sakit?"


Alex mengangguk. "Kemarin, sepulang dari rapat, pak direktur tidak keluar dari kamarnya. Sementara rapat dilanjutkan setelah makan siang. Satu jam menunggu, beliau tak juga kembali. Hingga rapat ditunda dan dilanjutkan besok. Dan ternyata hari ini pak direktur tidak hadir juga. Handphonenya sudah dihubungi tapi tidak aktif. Akhirnya Mr Rudolf sebagai penanggung jawab bagian operasional Lucius yang ada di London, langsung mendatangi hotel dimana pak Zio menginap. Dan ternyata pak direktur tertidur dalam posisi kesakitan. Mereka berusaha membujuk untuk dibawa ke rumah sakit, tapi beliau menolak. Melihat kondisi pak direktur yang semakin lemah. Akhirnya David memutuskan untuk menghubungi pak Alberto."


"Cih... dasar cengeng. Biarin aja dia. Kan dia sendiri yang gak mau ke dokter? Buat apa repot-repot. Yang sakit dia sendirilah. Tapi semua orang yang kerepotan." umpat Selena dalam hati. Wajahnya tanpa ekspresi, Ia tidak terkejut atau panik. Selena hanya bergeming di posisinya.


"Sekretaris Selena, apa kau mendengarkanku?" ucap Alex saat menangkap ekspresi itu.


Selena mengangkat wajahnya dan menatap Alex. Ia kemudian melepaskan cangkir yang dipegangnya, lalu melipat tangannya di depan dadanya "Saya tidak bisa ke sana pak." Ucapnya the point. Posisinya tenang seperti tidak ada beban.


"Heuh, tidak bisa ke sana? Kenapa sekertaris Selena?" tanya Alex menatap Selena dengan serius. Ia memberikan ruang kepada Selena untuk menjelaskan.


Selena menarik napas dan mencoba memilih kalimat yang tepat untuk diucapkannya kepada pak Alex. "Sebenarnya pak direktur tidak menginginkan pernikahan ini. Saya tidak ingin menjadi beban untuknya." Selena lebih baik terus terang kepada pak Alex.


"Saya sudah tahu itu."


Alis Selena berkerut. "Bapak sudah tahu itu?"


"Ya. Saya tahu semuanya. Pak direktur punya alasan sendiri. Dan suatu hari kau akan tahu kenapa beliau seperti itu. Tapi untuk saat ini, beliau hanya belum siap menerima pernikahan ini."


Selena tak percaya. Ia menarik napas sambil berkacak pinggang. Tunggu dulu, jangan bilang pak Alex tahu soal lamaran kerjanya dan ia diterima tanpa melalui tahap interview. Selena menarik napasnya lagi. Merasa tak puas, ia pun bertanya. "Jadi anda juga sudah tahu soal pak Alberto menerima saja bekerja di sini?"


"Hmm. Tuan Alberto sudah merencanakan ini semua. Dari awal sampai akhir dan saya diminta untuk merahasiakan ini dari pak direktur."


"Tapi untuk apa pak?"


"Karena pak direktur menolak dijodohkan. Tuan Alberto berharap kalian bisa memulai dari awal."


"Dasar manusia sombong, Dia menolak dijodohkan? Kalau tidak mau dijodohkan, sono cari pacar. Buktinya dia tidak memiliki pacar. Apa jangan-jangan benar kata Chesa. Dia adalah Gay."


"Aku harap kau mengerti situasi ini Selena, pak direktur membutuhkanmu."


"Membutuhkanku? tidak mungkin!"


Selena menatap datar sambil menarik napas singkat. Ia menggigit bibir bawahnya. Memandang Alex sekilas, lalu melarikan lagi pandangannya lagi.


"Apa kau takut?" tanya Alex.


Selena kembali menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini? Yang jelas saya tidak mau pergi ke London pak." Ucap Selena memantapkan hatinya.


Alex mengernyitkan dahi. "Apa kau tidak mengkhawatirkan pak direktur?"


"Pak direktur sendiri tidak pernah memikirkan saya pak. Bapak lihat sendiri bagaimana kerasnya beliau. Dia berangkat ke London saja, tidak mengatakan apa-apa kepada saya. Itu artinya saya itu bukan istrinya." ucap Selena tegas.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi ini demi kebaikan pak direktur. Tuan Alberto dan nyonya Davina sangat mengkhawatirkan keadaan beliau."


"Kenapa tidak pak Alex saja yang ke sana?"


"Tidak bisa Selena. Karena saya bukan istrinya."


"Saya juga tidak bilang anda istrinya pak, tapi anda orang kepercayaannya." Selena tidak mau kalah.


Alex hanya terdiam dan menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, sepertinya aku harus mengatakan ini. Tapi sebaiknya kita duduk dulu. Aku tidak ingin kau..." Alex tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Aku apa, pak?"


"Kita duduk dulu, " Kata Alex memegang bahu Selena dengan lembut. Ia sudah menganggap Selena seperti adiknya. Jadi Alex terkadang tidak sungkan dengannya. Hanya Selena saja yang bersikap formal kepadanya.


Selena mengerutkan dahinya bingung. Ia terus menatap Alex dengan tatapan penuh tanya sambil melangkah ke arah sofa yang ada di sana. Mereka duduk saling berhadapan.


"Sekarang anda bisa menjelaskannya pak."


Alex menatap lirih dan memegang lengan Selena. "Ini berhubungan dengan masa lalu pak direktur. Ia pernah terpuruk dan terpenjara dengan masa lalunya."


Selena memicingkan matanya. "Ada apa dengan masa lalu pak direktur?" Selena antusias mengangkat alisnya saat mendengar soal masa lalu pak direktur.


Alex mendesah lalu tersenyum singkat untuk memulai pembicaraan ini. Bagaimana pun Selena harus tahu. Ia lalu menatap Selena dengan serius. "Pak direktur...."


Nothing's gonna change my love for you


You oughta know by now how much I love you


One thing you can be sure of


I'll never ask for more than your love


Nada dering yang dinyanyikan oleh George Benson yang berjudul Nothing's Gonna Change My Love For You berbunyi memecahkan kesunyian di ruangan itu. Selena sekilas memandang handphonenya yang terletak di atas meja.


"Aku angkat dulu pak." Kata Selena.


"Hmm. Silakan!" Alex tersenyum mengangguk.


Selena berlari kecil mengambil handphonenya dari atas meja. Ia menatap layar pipih itu dan melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata panggilan itu dari ayah Alberto. Jantungnya semakin terpukul kencang. Selena menarik napas dalam-dalam lalu menggeser tanda terima dari handphonenya.


"Ini ibu sayang," Ucap Davina dengan suara serak. Lalu sepersekian detik, terdengar isak tangis dari ibu Davina. Seketika dahi Selena mengerut dan perasannya menjadi tidak enak.


"Ibu, kenapa ibu menangis?" Alis Selena melengkung.


"Sayang, Zionathan sakit. Ia sudah di bawa ke rumah sakit karena trombositnya turun. Awalnya Zio hanya demam. Kepalanya sakit, dan saat dibawa ke dokter sistem kekebalannya turun dan menyerang sel-sel sehat. Ibu...ibu sangat takut sayang....ibu takut sesuatu terjadi kepada Zionathan." Kata Davina terisak.


DEG


Jantung Selena terpukul kencang. Ia tidak bisa mendengar suara tangisan seperti itu. Hatinya sakit. Telinganya seakan berdengung dan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dadanya seketika sesak. Ia ingat kejadian ayahnya saat tiba-tiba pingsan di kantor dan dilarikan ke rumah sakit. Ayahnya sampai dua hari tak sadarkan diri.


"Ibu tenang dulu bu, jangan menangis." Selena berusaha menenangkan ibu mertuanya.


"Ibu yakin Zio pasti salah makan."


"Salah makan apa bu?" tanya Selena lagi.


"Zio juga pernah dilarikan ke rumah sakit saat acara party teman-temannya. Saat itu Zio masih kuliah tingkat satu. Setelah diperiksa Zionathan alergi dengan makanan itu. Sedikit saja masuk ke tubuhnya. Itu bisa menurunkan kekebalan tubuhnya."


"Makanan apa itu bu?"


"Makanan Fugu sayang." Kata Davina dengan suara gemetar. Ia benar-benar ketakutan. "Jadi ibu mohon sayang. Kau bisa ke sana kan?"


"Tentu bisa bu. Ini tugas Selena. Ibu jangan menangis lagi. Selena akan usahakan berangkat malam ini." Selena membuang napas sambil menutup matanya.


"Terima kasih sayang. Nanti Alex akan mempersiapkan semuanya."


"Baik bu." ucap Selena mengakhiri panggilan mereka.


Tit!


Panggilan pun terputus.


"Bagaimana?" tanya Alex tidak sabaran.


"Pak direktur sudah dibawa ke rumah sakit. Ibu Davina memintamu untuk mempersiapkan tiket keberangkatanku."


"Baiklah. Saya akan mempersiapkan. Terima kasih Selena." ucap Alex menepuk lengan Selena dengan lembut.


"Tidak apa-apa pak. Ini sudah tugas saya." Jawab Selena tersenyum samar. Walau hatinya menolak. Tapi bagaimana pun Zio adalah suaminya. Soal dia tidak suka dengan kehadirannya. Ia bisa mengurusnya nanti.


⭐⭐⭐⭐⭐


Hanya hitungan jam. Alex bisa mempersiapkan semuanya. Selena duduk di sisi ranjang sambil menatap ke arah lantai kamarnya. Ia tersenyum samar. Surat-surat dan tiket pesawat sudah di tangannya. Ia membuang napas panjang. Penerbangannya di jadwalkan malam ini. Tentu saja, perjalanan yang panjang dan melelahkan.


Selena bangun dari duduknya dan mengambil kopernya "Sekarang waktunya berangkat!" ucapnya dengan satu kali tarikan napas singkat. Ia sudah turun dengan kopernya.


Dengan cepat Alex membantunya dan membawa koper itu dan menyimpannya di bagasi mobil.


"Semuanya sudah siap sayang?" Tanya Davina langsung memeluk menantunya.


Selena tersenyum sambil mengangguk. "Sudah bu." jawabnya tersenyum simpul. Ia berjalan dan memeluk ayah mertuanya juga.


"Sampai di sana, ayah sudah mempersiapkan supir untuk mengantarmu sampai ke rumah sakit."


"Hmm, baik ayah." Ucap Selena menarik napas berat.


"Kamu sudah makan sayang? biar ibu yang siapkan?" tanya Davina.


"Saya sudah makan bu." jawab Selena tersenyum tipis.


"Baiklah," kata Davina tersenyum. "Kau pasti memerlukan ini sayang." Ibu Davina memberikan syal kepada selena.


"Terima kasih bu." Selena tersenyum lembut.


"Jaga kesehatan, cuaca di London tidak sama dengan di negara kita." Ibu Davina memberi nasehat.


"Hmm," jawab Selena dengan bergumam. "Aku akan menghubungi ibu melalui video call. Ibu dan ayah juga jaga kesehatan juga." Lanjutnya.


"Pasti nak." Kata Ibu Davina tersenyum.


"Sudah waktunya berangkat sekertaris Selena." tiba-tiba muncul Alex di sana.


"Baiklah." Kata Selena tersenyum.


"Aku berangkat bu," Ucap Selena memeluk pinggang wanita paruh baya itu.


Mereka berjalan keluar. "Jangan lupa hubungi ibu ya nak," ucap Davina mengingatkan menantunya itu.


"Ehmm...Nanti aku hubungi ibu jika sudah sampai di rumah sakit."


Davina hanya mengangguk "Hati-hati nak." ucapnya lagi. Alberto hanya diam berdiri si samping istrinya.


"baik bu." Selena memeluk Davina sebelum masuk ke dalam mobil, mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Aku pergi bu." Ucapnya melepaskan pelukannya.


Alberto dan Davina melambaikan tangannya. Selena tersenyum. Bagaimana pun ia harus bisa bersandiwara di depan mereka. Selena ingat pasal kelima surat perjanjian itu. "Di depan ayah dan ibu, kita harus menjadi pasangan suami-istri. Jangan sampai ayah dan ibu tahu surat perjanjian ini."


huffft...! berulang kali Selena harus melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba untuk menstabilkan napasnya. Ia berusaha menenangkan diri. "Semoga semua berjalan dengan baik." ucap Selena menguatkan hatinya.


Alex pun membawa mobil itu meninggal apartemen mewah milik Zionathan.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^