Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KEMANA DIA PERGI?


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Selena mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang rumah sakit. Ia merapikan selimut Zionathan agar menutupi seluruh tubuhnya dengan baik.


"Anda memang paling hebat dalam hal merepotkan." Selena menyenderkan punggungnya ke kursi sambil memeluk dada.


"Tapi melihatmu tertidur seperti ini, anda seperti manusia tanpa dosa." Ia berdecak sambil menggelengkan kepala.


"Tapi sejujurnya anda egois pak, anda semaunya tanpa memikirkan perasaan saya."


"Tapi sejauh ini saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga Lucius. Tapi bukan berarti saya memberi sela untuk anda agar memijak saya. Jika anda bertindak semaunya. Saya tidak bisa diam."


Selena memalingkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam.


"Jadi jika menurut saya benar, saya akan tetap memperjuangkan keadilan."


"Cih... keadilan?" Selena tersenyum saat menyadari ucapannya.


Selena tidak menyangka akan terjerat seperti ini. Awalnya ia bahagia bertemu dengan cinta pertamanya. Namun kenyataan tidak seindah yang dibayangkannya. Pak direktur bahkan tidak...? Tiba-tiba wajah Selena berubah.


"Hah? Bukankah pak Alex ingin mengatakan tentang masa lalu pak direktur?"


Selena kembali menatap ke arah Zionathan. "Aku penasaran, masa lalu apa maksud pak Alex?"


"Ahhh....terserah, aku tidak mau memikirkannya." Selena melepaskan senyumannya sambil mengangkat bahu.


TOK....TOK ...TOK...!


Ceklek!


PINTU TERBUKA.


Selena langsung melihat ke arah pintu. Steven muncul sambil melemparkan senyumannya.


"Selamat siang nona! Saya membawakan makan siang untuk anda." ucap Steven sambil membawa bungkusan di tangannya.


Selena tersenyum ramah, "Terima kasih pak Steven."


"Apa tuan Zionathan belum bangun?" Tanya Steven.


Selena mengangguk sambil memandang ke arah Zio. "Hmm. Tadi dokter mengatakan, keadaannya sudah membaik."


"Tapi kenapa tuan Zio belum bangun juga ya?"


"Mungkin itu efek dari obat penenang. Kata dokter semalaman dia tidak bisa tidur karena menahan sakit. Dia juga menolak untuk di infus."


Steven tersenyum sambil menaruh bawaannya ke atas nakas. "Ya, aku dengar tuan Zio alergi makanan. Apa memang efeknya sampai seperti ini nona? Tuan Zio sempat sesak juga."


Selena mendesah lesu. "Saya juga tidak tahu pak," Ia mengangkat ke dua bahunya sambil menatap ke arah Zio.


"Baiklah. Saya tinggal dulu nona. Jangan lupa makan siangnya." Steven melirik ke arah bungkusan yang dibawanya. "Ini kuliner terenak di sini nona."


"Benarkah, Kuliner apa itu pak?"


"Lancashire hotpot terbuat dari daging sapi, dipanggang dan dimasak seharian dengan api kecil. Hidangan satu ini biasanya akan disajikan sebagai menu utama di sebuah pesta di Inggris. Rasanya gurih dan lezat, makanan ini juga sangat cocok dijadikan sebagai teman bersantap di kala cuaca dingin seperti ini." Steven menjelaskan seperti seorang koki.


Selena tersenyum mengangguk. "Terima kasih ya pak anda sudah repot-repot." Ucap Selena lagi.


"Tidak masalah nona, saya melakukannya dengan senang hati." Ucap Steven mengangguk sambil mengacungkan jempolnya menyatakan tidak masalah. "Kalau begitu saya permisi nona. Nanti sore saya kembali lagi." Kata Steven tersenyum.


"Baiklah." Selena membalas senyuman itu.


Steven pun keluar dari ruangan itu. Saat pintu tertutup, Selena mengembuskan napas singkat sambil tersenyum. Ia mengingat pertemuannya singkatnya dengan pak Steven. Sekilas ia mirip dengan Ferdinand. Tapi mungkin usianya lebih tua dari Ferdinand. Ia sangat menikmati obrolan ringan dengan Steven. Raut wajahnya berubah begitu pula dengan senyumannya. Dan sekarang Selena sendiri lagi di dalam ruangan ini.


"Huffft.....!" Ia mengembuskan napas lesu.


"Sepertinya aku memang harus makan dulu. Jika dia bangun, aku rasa untuk menarik napas saja pak direktur tidak mengizinkanku." Selena terkekeh dengan ucapannya.


Tak butuh lama Selena selesai menghabiskan makanan yang dibawa Steven. Ternyata benar makanan yang dibawakan Steven benar-benar makanan terenak. Ia tersenyum sambil mengusap perutnya. Selena seperti berenergi lagi. Ia juga selesai meneguk air mineral tanpa sisa.


Selena membersihkan sisa makanan tadi. Ia melangkah mendekat ke arah jendela untuk melihat keadaan luar. Salju semakin menutupi jalanan dan atap rumah.


"Aku harus memakai syal lagi. Penghangat ruangan tidak cukup untuk menghangatkan tubuhku." Kata selena mendekat ke arah sofa dan mengambil syal itu.


Selena memperhatikan syal itu. "Sepertinya syal ini dirajut sendiri." Batinnya. Ia mengerutkan keningnya saat ujung syal ini ada inisial nama. "Heuh OLZI? Apa itu OLZI? Apa nama seseorang?" Selena meraba nama itu.


Syal panjang itu kemudian hanya diikatkan satu kali di sekitar kepala Selena, lalu disampirkan dari belakang.


Tiga puluh menit telah berlalu tapi Zionathan tidak juga bangun. Ia memilih menyibukkan diri dengan mengutak-atik handphonenya. Selena mulai bosan, rasa ngantuk menguasainya. Ia membuang rasa bosannya. Selena membaca novel yang ada di aplikasi handphonenya. Tidak juga membantu. Akhirnya Selena tertidur dengan posisi duduk dan menelungkup di samping ranjang Zionathan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Uap dari alat dehumidefir terlihat aktif mengepulkan droplet hydrogen ke udara. Menjaga kelembaban di kamar petak dengan satu single ranjang yang memiliki roda empat di setiap kakinya.


Sesaat kemudian Zionathan menyadari kalau posisinya tengah berbaring. Ia mengerjap beberapa kali. Pandangannya buram masih beradaptasi dengan cahaya yang ada di dalam ruangan. Namun perlahan-lahan ia membuka matanya. Pertama kali yang dilihatnya adalah dinding kamar rumah sakit. Dan kemudian dahinya mengernyit saat melihat seorang wanita tertidur di samping ranjangnya. Wanita itu berbantal pada lengannya dengan wajah menyamping. Syal itu?


DEG!


"OLIVIA?"


Zionathan tiba-tiba panik, saat melihat Olivia ada di depannya. "Olivia, sayangku...."


Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung dan matanya mulai memerah. Matanya berkaca-kaca. Zionathan menarik napasnya lagi. Mencoba menahan perih yang mulai terasa di hidungnya.


Selena menyadari sesuatu. Suara itu yang awalnya pelan kini terdengar parau. Samar-samar hampir tidak terdengar. Namun Selena bisa mendengar dan membuatnya terbangun. Tangan Zio mengulur untuk menyentuh bagian kepala Selena dan....


"Pak direktur?" Selena langsung bangun dan melihat ke arah Zionathan. "Anda sudah sadar."


Umpatan dan makian yang sedari tadi diucapkannya hilang saat melihat suaminya sadar. Naluri keibaan tiba-tiba mencuat dari dalam dirinya.


Zionathan memicingkan matanya, menyadari ternyata wanita yang berdiri di depannya bukanlah Olivia melainkan wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya.


"Kata dokter anda keracunan makanan. Tadi malam anda tidak bisa tidur karena menahan sakit. Jadi dokter terpaksa memberikan penenang, agar bisa mengurangi rasa sakit itu. Dan suhu badan anda juga....." Selena mengulurkan tangannya dan hendak menyentuh dahi Zionathan.


Namun dengan cepat Zionathan menampik tangan Selena. "Jangan coba-coba menyentuhku!" Kata Zio dengan ketus. Sorot matanya begitu tajam, menyatu diantara kedua hidung mancung yang sempurna.


Zionathan langsung membuka selang oksigen yang bertengger di hidungnya dan dengan cepat merubah dirinya ke posisi duduk, lalu mendorong tubuhnya ke belakang sampai berhenti pada sandaran kasur.


"Siapa menyuruhmu memakai itu?" Nada suara Zio sudah naik satu oktaf. Napasnya terdengar naik turun menahan emosi. Syal itu diberikan Olivia saat hari jadi hubungan mereka. Dia merajut sendiri dengan penuh cinta.


"Heuh? maksud anda apa pak?" Selena mengerutkan keningnya saat mata Zio menyalang tajam seakan hendak menerkamnya. "Apa yang salah?" Kata Selena menatap dirinya dari atas sampai ke bawah.


"Kau tidak berhak memakai itu!" Sorot mata Zio benar-benar menampakkan kemarahan.


Selena masih berusaha bersabar, mungkin racun dalam tubuhnya berdampak ke otaknya. Sejenak Selena menurunkan pandangannya dan kemudian menatap Zio dengan kesal.


"BUKA!!!" Suara Zio nyaris menyakiti gendang telinga Selena. Rahangnya mengeras.


Selena menahan napas sambil memejamkan mata karena terkejut. "Ma-maksudnya apa pak?" ucap Selena pelan dan mendekat ke arah Zionathan. "Biar aku panggilkan dokter? mungkin racun itu masih berproses di tubuh anda dan merusak otak anda."


Sebelum Selena berbalik, Zionathan dengan cepat menarik tangan Selena. Mata Selena membulat kaget karena tangannya ditarik kuat. Lalu dengan cepat menarik syal itu dengan kasar.


Zzzzeeeetttttt......


Syal itu terlepas dari leher Selena. Tanpa pikir panjang, Zionathan mendorong tubuh Selena hingga terhuyung ke belakang.


Selena terkesiap. "Apa yang anda lakukan?" kedua mata Selena membulat penuh.


"Kenapa syal ini ada di tanganmu?" Bentak Zio menghunuskan tatapan tajam kepada Selena. Seolah dirinya adalah pencuri.


"Apa sebegitu pentingnya syal itu? syal murahan yang harganya tidak seberapa." Selena menggeram karena Zio begitu kasar.


"Apa?" tatapannya semakin dipertajam.


"Kenapa?" tantang Selena. Hal itu tidak membuatnya takut sama sekali. "Kau benar-benar lelaki tidak punya perasaan. Kau sengaja mencari-cari kesalahanku. Ibu Davina yang memberikan syal itu. Marahi saja ibumu."


"Apapun yang diberikan ibuku kau tidak berhak menerimanya." Rahang Zio mengeras penuh perintah.


Rasanya ingin menangis. Tapi Selena berusaha menahannya. Tangan mengepal kuat dan berkata. "Sepertinya anda sudah sehat. Kau punya energi untuk marah. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengurus orang sakit yang bahkan tidak punya perasaan seperti kamu." Selena memalingkan wajahnya, ia tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Kemudian melemparkan tatapan tajamnya ke arah Zionathan.


"Kau sama sekali tidak menghargai kedatanganku." Setelah mengucapkan itu, Selena segera membalikkan badannya dan melangkah pergi.


"Aku tidak pernah memintamu datang ke sini."


Langkah Selena terhenti, tangannya semakin mengepal kuat menahan amarah. Ia masih posisi memunggungi Zio. Selena menarik napasnya dalam-dalam.


"Jadi pulanglah! Aku tidak ingin melihatmu."


Rahang Selena mengencang kuat. Tak tahan lagi Selena berjalan setengah berlari keluar pintu. Ia menutupnya dengan kasar dan berlari sekencang-kencangnya ke bagian koridor rumah sakit. Area itu tampak sepi. Mungkin karena bangunan ruang rawat inap ini dikhususkan untuk pasien VIP.


Selena sampai dibagian belakang koridor. Dinding tempat itu terbuat dari kaca, sehingga dengan jelas Selena bisa memandang keluar. Ia berhenti menarik napasnya. Tangannya berpegangan pada pagar stainless pembatas. Selena mengerutkan wajah, menutup mata mencoba meredam amarahnya. Namun hatinya terlalu sakit. Selena membungkuk dan memegang lutut, mencoba menstabilkan napas yang naik turun begitu cepat. Matanya berkaca-kaca, Selena seperti orang kebingungan. Ia kemudian berdiri dan menyapu rambutnya ke atas.


"Dia menyuruhku pulang?" Selena tertawa sambil menangis dalam hati, tak mengeluarkan suara, hanya napas yang berembus dan masuk lewat mulut yang terbuka. Ia tidak boleh menangis karena pria brengsek itu. Selena kembali menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menahan sesak yang teramat sangat.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan hari pun berganti. Selena tidak kembali ke kamar itu. Handphone dan tasnya masih tertinggal di ruangan itu. Steven ikut panik saat mengetahui Selena tidak pulang. Ia bertanggung jawab untuk menjaga Selena selama di London. Steven berpikir kalau Selena itu tersesat.


Sementara itu, Zionathan mengusap kepalanya dengan frustasi saat ibunya kembali menghubungi handphonenya.


"KEMANA DIA PERGI?" umpat Zio menggeram.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^