Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MEMBERI KEJUTAN.


πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


DUA JAM SEBELUMNYA DI RUANG RAPAT.


Dengan ragu, gadis itu melangkah pelan mendekat ke arah pak direktur. Ia berhenti tepat di depan Zionathan. Menunggu dengan posisi tegap sambil memeluk berkas yang dibawanya tadi. Zionathan masih tampak serius membaca, menandai beberapa hal di tabletnya. Saat melihat ekspresi serius itu, gadis itu tertegun menatapnya.


"Astaga... pak direktur tampan sekali." ucapnya dengan seringai menawannya. Kepalanya bahkan ia miringkan sedikit mengikuti tatapannya.


"Apakah dia sudah menikah?"


"Aku berharap dia belum menikah."


Gadis itu terus berbicara sambil tersenyum sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berkhayal. Mulutnya bahkan sedikit terbuka, takjub akan pesona pak direktur. Sebagai wanita normal, ia mengagumi lelaki setampan itu.


Gadis itu terus melanjutkan khayalan di angan-angannya sambil tersenyum sendiri.


"Dia benar-benar mempesona, berkharisma, ahhhhhh...." Jiwanya meronta-ronta. Sepersekian detik, ia tersadar.


"Astaga kenapa aku berkhayal seperti ini. Aku hanya wanita biasa yang tidak berhak mengagumi pria setampan pak direktur. Dia pria terpandang dan tentu saja sudah memiliki kekasih." Kata gadis itu bermonolog dalam hati.


10 menit....


30 menit....


40 menit telah berlalu.


Tapi dokumen itu tak juga di minta pak direktur darinya.


Zionathan masih tampak serius di depan tabletnya. Ia sedang memeriksa email penting yang baru masuk. Tampangnya saat ini begitu serius. Wajahnya mengerut menatap tablet itu dengan sedikit bergumam. Ia memeriksa ulang bahkan berkali-kali. Takut terjadi kesalahan. Sementara peserta rapat lainnya hanya bisa menunggu sampai pak direktur menyelesaikan tugasnya. Satu jam mereka dibuat menunggu di ruang rapat. Tanpa berbicara, hanya ekspresi tegang yang mereka tunjukkan di sana.


Zionathan menggeleng dan belum puas dengan hasil akhir. Sebelah tangannya memegang tablet dan terus bermain di sana. Sementara kepalanya dimiringkan untuk menahan handphone di telinganya. Zionathan sedang melakukan panggilan kepada Alex yang ia perintahkan mengambil dokumen yang tertinggal di kamar hotel.


"Iya pak?" Alex menjawabnya dengan cepat hanya dengan satu dering panggilan saja.


"Alex, tolong perintahkan karyawan Lucius untuk mencari data agar saya bisa marking. lengkapi semua data itu secepatnya. Tampilkan melalui grafik dan secepatnya di kirim ke saya. Biar saya langsung bisa menjelaskan dengan pak Desmond."


"Baik pak," jawab Alex di ujung telepon.


"Saya ingin dibagi menjadi empat data versus agar mudah di pahami dan juga bisa membandingkan data itu hanya dengan cara melihatnya dan mudah mengatur strategi untuk ke depannya. Kamu mengerti?"


"Saya mengerti pak."


"Oke, lanjutkan. Saya tunggu tiga puluh menit. Jangan lupa segera di kirim melalui email ya. Saya tunggu secepatnya." kata Zionathan dengan ekspresi serius.


"Baik pak." jawab Alex dari ujung telepon. Ia tersenyum di sana.


TIT!


PANGGILAN TERPUTUS.


Zionathan meletakkan kembali handphonenya dan kembali memeriksa tabletnya. Tangannya mengulur untuk mengambil dokumen yang ia minta tadi.


"Mana dokumennya?" Ucap Zionathan tanpa melihat ke arah gadis itu.


Gadis itu tak merespon. Kakinya sakit terlalu lama menunggu. Satu jam pak direktur membiarkannya berdiri di sampingnya. Desmond berusaha memberikan kode kepada gadis itu, dia tahu betul sifat pak direktur seperti apa.


Desmond terus memandang pergerakan gadis itu. Namun tak juga menatap ke arahnya. Ia hanya terus menunduk di sana. Desmond pura-pura batuk dengan kepalan tangan di depan mulut. Mencoba mengambil perhatian agar gadis itu melihatnya.


"Uhukkkk....uhukkk...."


Tak juga ada respon. Desmond kembali mengalihkan pandangannya menatap ke arah pak direktur lagi.


"Astaga...gawat ini pasti pak direktur sudah marah." Desmond memilih pasrah sambil membuang napasnya dengan lesu.


Karena tidak ada jawaban, Zionathan berdecak memindahkan matanya dan melihat ke arah gadis itu.


"Kau tidak mendengarnya, serahkan dokumen itu kepada saya, kau tuli atau bagaimana?" Bentak Zionathan menunjukkan wajah gaharnya.


Gadis itu mengerjap. "Ma-maafkan saya pak." ia langsung membungkukkan badannya, menunduk sambil menyerahkan dokumen itu.


"Ini pak!" Ia menegakkan badannya lagi.


Deg!


Sepersekian detik, Zionathan terjengkit dari duduknya. Jantungnya terpukul kencang. Napasnya ikut tertahan di dada. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menegang saat melihat sosok wanita yang berdiri di depannya.


"OLIVIA...." ucapnya pelan hampir tak terdengar.


Saat melihat perubahan wajah pak direktur, gadis itu menunduk kembali. Ia sudah sangat ketakutan. Apalagi kabar yang ia dengar pak direktur adalah orang tegas dan disiplin.


"Maafkan saya pak," Ia menutup matanya saat menyadari jika pak direktur sudah sangat kesal.


Zionathan masih terdiam dengan mulut terbuka. Napasnya sudah terlihat naik turun. Zionathan masih tidak percaya. Olivia kekasihnya sudah meninggal.


"Kenapa wanita ini begitu mirip dengan Olivianya? Aaaah...ini tidak mungkin."


"Pak, apa ada yang salah?" Ucap Desmon menyadari perubahan wajah dari pak direktur. Semua keheranan saat melihat ekspresi terkejut pak direktur. Begitu juga dengan peserta rapat lainnya.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Zionathan menyadarkan dirinya. "Tidak, dia bukan wanita yang pernah hadir dalam hidupnya. Olivianya sudah meninggal."


"Pak, ini dokumen yang anda minta." ucap gadis itu lagi. tersenyum dengan ramah.


Aaahhhhhhhhh Zionathan menarik napasnya kembali. Kini wajah Zionathan sudah terlihat pucat. Ia terdiam tanpa mengucap apa-apa.


"Anda tidak apa-apa pak?" tanya gadis itu mendekat.


Bersamaan itu pintu terbuka, muncul Alex yang sama shocknya dengan pak direktur. Langkahnya melambat melihat gadis itu begitu mirip dengan wanita yang sangat dicintai pak direktur. Butuh waktu lama ia bisa mengubur masa lalunya itu. Kenapa ia tiba-tiba muncul di saat hati pak direktur sudah membaik.


"Pak direktur?" Alex mendekat.


Ekspresi Zionathan begitu pucat. Ia nampak gugup dan langsung meninggalkan ruang rapat dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Semua nampak bingung melihat sikap pak direktur. Mereka saling berpandangan, ingin mencari tahu, tapi tidak ada yang berani bertanya.


Zionathan mengeluarkan napasnya secara cepat tidak beraturan dari mulut. Ia melonggarkan dasinya, untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Ini tidak mungkin...tidak... mungkin! Apakah Olivia ada saudara kembar?" Zionathan menggeleng dan tak percaya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Zionathan menghubungi Alex memerintahkannya agar mereka keluar dari ruangan rapat itu. Saat ini ia hanya butuh bicara dengan wanita itu.


"Mohon maaf rapat akan dilanjutkan besok. Pak Desmond, anda diminta untuk mengurus klien, saat ini pak direktur tidak bisa diganggu."


"Apa beliau sedang sakit?" tanya Desmond.


"Saya tidak mempunyai wewenang untuk menjawab itu pak, saya mohon maaf!" jawab Alex dengan lugas.


"Adele, kita keluar." Kata Desmond menatap ke Adele. Ia yakin ini karena perbuatan karyawan barunya itu.


"Maaf. Kecuali anda. Pak direktur ingin bicara dengan anda. "


"Hah??? dengan saya pak??" Adele terkejut sambil menunjuk ke dirinya.


"Ya, pak direktur ingin bicara dengan anda."


Adele mengerutkan keningnya, menatap ke pak Desmond. Ia ingin meminta jawaban dari pria itu. Namun Desmond hanya bisa mengangkat kedua bahunya, bertanda ia juga tidak mengetahui apa-apa.


"Kenapa tiba-tiba bapak direktur ingin bicara denganku. Apa karena aku cantik? atau jangan-jangan pak direktur tertarik kepadaku?"


"Maaf pak, pak direktur tidak mau menunggu lama. Beliau ingin bicara dengan ibu Adele." kata Alex tersenyum ramah, ia membaca id card yang dipakai Adele.


Adele reflek menarik tangan lelaki paruh bayah itu. "Jangan tinggalkan aku pak, bapak bisa dampingi aku." Adele memohon dengan wajah memelas.


"Maaf ibu Adele. Pak direktur tidak mau menunggu lama." Alex mengingatkan.


Perasaan Alex tiba-tiba tidak enak. Kenapa juga pak direktur ingin mencari tahu siapa wanita ini. Walau kemiripan bisa dikatakan 89 persen. Tapi Olivia sudah meninggal, ia tidak mungkin bisa hidup kembali. Ahhhhhh tapi ya sudahlah.


Adele hanya menutup matanya sambil membuang napas dari mulut. Ia meremas tangannya, seakan pasrah. Mereka melangkah meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke arah kamar hotel dimana pak direktur sedang menunggu.


"Silahkan masuk!" Alex mempersilahkan Gadis itu masuk.


"Anda tidak pergi, kan pak?" Tanya Adele penuh harap agar pria ini tidak meninggalkannya.


"Maaf, saya akan menunggu di luar." Alex sedikit membungkukkan badannya. Ia lalu menutup pintu dengan pelan dan memilih menunggu di luar.


"Astaga..." Ia memutar bola matanya seakan tidak percaya. Adele menatap pintu yang sudah tertutup.


Sebelum ia melangkah masuk, Adele kembali melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut. Lalu ia melangkah pelan memasuki kamar eksklusif.


Adele terpesona saat melihat kamar hotel yang di tempati pak direktur, benar-benar kamar mewah. Baru kali ini ia melihat kamar hotel semewah ini.


Sementara di dalam kamar.


Zionathan menarik napasnya dalam, bunyi langkah masuk semakin terdengar. Jantungnya semakin terpicu cepat dan ia sangat gugup saat ini. Seperti pertama kali kencan dengan Olivianya. Kenangan bersama Olivia kembali mencuat.


Deg Deg Deg


Lagi-lagi Zionathan menarik napasnya dalam. bahkan jika dikatakan saat ini Ia lebih sulit bernapas. Zionathan sedang berdiri menatap ke dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan kota dari atas.


"Permisi pak!" Adele sudah berdiri empat meter dari jarak ia berdiri.


Napas Zionathan berhembus pelan dari mulut, namun tidak mengubah posisinya. Ia tetap berdiri dengan posisinya sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya.


Melihat pak direktur tidak bergeming, Adele bertambah gugup. Ia bahkan meremas tangannya dengan kuat. Adele bahkan mengembuskan napas dengan pipi yang menggembung untuk mengatur rasa gugupnya. Takut jika pak direktur membalikkan tubuh dan memakinya karena kecerobohannya.


Zionathan pun akhirnya membalikkan badannya.


"Aku ingin bertanya, cukup kau menjawab ia atau tidak." suara Zionathan terdengar tegas di sana.


Adele mengerjap beberapa kali, ketika pandangan mereka bertemu. Bukan kata makian yang ia dengar di sana.


"Maksud anda apa pak?" kata Adele semakin tersiksa dengan tatapan itu.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Selena berhasil memarkirkan mobil dengan baik setelah tiba di hotel ternama dimana suaminya menginap. Ia membuka pintu mobil dan mengarahkan kunci remote ke arah mobil dan berlari memasuki lobby hotel. Ia melihat jam ada dipergelangan tangannya. Tidak sampai tiga jam ia sudah sampai di sini. Selena tersenyum, ia ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Setidaknya dengan cara seperti ini, bisa memperbaiki hubungannya dengan Zionathan.


Setelah butuh perjuangan meminta kartu serep dari petugas resepsionis dengan alasan ingin memberi kejutan kepada suaminya sedang berulang tahun. Beruntung petugas resepsionis percaya. Selena tersenyum sumringah. Ia melangkah dengan anggun memasuki lift setelah kartu serep sudah ada di tangannya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai.. Jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih banyak 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^