Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
TIDAK MAU DIJODOHKAN


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


"Ibu ingin menjodohkanmu dengan putri dari sahabat ibu."


DEG!


Jantung Zio terpukul kencang, napsu makannya langsung hilang. Wajahnya seketika berubah dingin. Ia pun melepaskan sendoknya secara terbalik. Menandakan ia sudah selesai dengan makannya.


Melihat perubahan wajah putranya. Davina langsung menyentuh tangan Zio dengan lembut. "Dengarkan ibu dulu, sayang."


Zionathan menarik tangannya dan kemudian mengusap mulutnya dengan tissue, lalu ia berbicara. "Aku sudah menduga itu, ayah dan ibu mengundangku ke sini untuk membahas pernikahan lagi."


"Semua ini kami lakukan demi kebaikanmu." Ucap Davina dengan lembut.


"Kebaikan seperti apa ibu? bukankah selama ini aku baik-baik saja."


"Tapi hatimu sedang tidak baik sayang. Kau tidak mungkin seperti ini terus, ingat usiamu semakin bertambah. Apa kau tidak ingin menikah?"


Zio menghela napas singkat, menatap ke arah lain. Moodnya langsung hilang jika menyangkut soal perjodohan.


"Dan dia wanita baik. Ibu sangat tahu siapa keluarganya. Dia teman masa kecilmu juga. Kau masih ingat Selena?"


"Aku sudah bilang tidak mau dijodohkan." ucap Zionathan to the point. Ia mengarahkan pandangan serius kepada ke arah Alberto dan Devina. "Dan aku belum ingin menikah, aku masih sibuk memikirkan pekerjaan dan ibu jangan memaksaku."


Begitu kata-kata itu lolos Zio ucapkan. Davina langsung memandang ke arah suaminya. Begitu juga dengan Alberto, ia nampak menarik napas dan menahannya di dada. Ia melepaskan cangkir gelas yang dipegangnya.


"Sampai kapan kau akan begini nak?" Alberto angkat bicara. Ia tahu Zio menolak ini karena belum bisa melupakan Olivia.


"Sampai aku benar-benar siap untuk menikah ayah. Aku tidak mau dijodohkan, biarkan aku menemukan wanita yang cocok untuk pendamping hidupku." ucap Zio dengan yakin.


"Tapi setidaknya kau bertemu dengan Selena dulu. Ibu yakin kau akan suka dengan gadis itu." Davina menimpali dan terus meyakinkan putranya.


"Aku tidak mengenal Selena lagi ibu. Lagian untuk apa Ibu menjodohkan aku dengan teman kecilku? ini terlalu konyol." Ucap Zio dengan kesal.


Kesabarannya benar-benar hilang. Kejadian seperti ini pernah terjadi juga, ayah dan ibunya sengaja mengajaknya makan di restoran ternama. Satu jam Zio menunggunya, namun yang datang bukanlah orangtuanya melainkan seorang wanita. Yang membuat Zio kesal, wanita itu mengumumkan kepada semua orang yang ada di sana, mengatakan bahwa mereka akan menikah. Hal itu membuat Zio sangat marah kepada orangtuanya.


Dan perjodohan terulang lagi? Zio benar-benar tidak suka. Apalagi sampai memilih wanita untuk menjadi pasangan hidupnya. Pernikahan bukannya permainan, yang pada akhirnya akan dijalani menjadi setengah hati, bahkan tidak ada cinta di dalamnya. Selain itu, dampak buruknya bisa terjadi konflik rumah tangga dan berujung pada perceraian. Zio tidak mau hal itu terjadi.


Alberto menarik lagi napasnya dan mencoba menstabilkannya dengan baik. Tangannya mengepal erat. Berusaha bersikap tenang. Dia tahu seperti apa Zio. Mereka harus pelan-pelan meyakinkannya. "Tapi benar kata ibumu, setidaknya kau bertemu dengan Selena dulu. Dia adalah anak dari keluarga baik-baik."


"Ayah, aku serius. Aku belum siap menikah. Jangan memaksaku." ucapnya dengan tegas.


"Tapi sampai kapan? atau kau menginginkan salah satu dari kami meninggal dulu?" Davina mulai menangis. Ia begitu putus asa melihat sikap anaknya. "Harapan ibu hanya satu, melihatmu menikah dengan wanita yang baik. Bukan menikah dengan wanita sembarangan. Selena gadis sederhana dan bertanggung jawab kepada keluarganya. Ibu yakin dia wanita yang tepat untukmu nak."


Zionathan terdiam sejenak, ia menaruh tangannya di atas pangkuan dan menunduk dengan tatapan kosong. "Apa aku tidak bisa menikah dengan wanita yang aku cintai bu?" Tanya Zio menatap tangannya yang sedang mengepal.


"Tapi sampai kapan? Sampai sekarang kau masih menutup hatimu. Ibu tahu kepergian Olivia membuatmu terluka dan kau selalu menyalahkan dirimu atas kematian Olivia. Tapi kejadian itu sudah lima tahun berlalu sayang. Kau tidak mungkin seperti ini terus. Kau harus memulai hidup baru. Olivia sudah bahagia dan dia juga tidak ingin melihatmu seperti ini." Ucap Davina dengan alis mengerut serius.


Zio bangun dari duduknya dan menggeser kursinya ke belakang. Menatap ibunya dengan sendu. "Benar kata ibu. Aku belum bisa melupakan Olivia." Zio menarik napasnya yang terasa sesak, matanya berkaca-kaca saat mengingat wajah Olivia. Bagaimana Olivia melindunginya agar tidak terhantam dengan tiang listrik itu. Bagaimana pesan-pesan terakhirnya sebelum ia menutup mata. Zio memejamkan matanya sesaat, lalu kembali berkata.


"Maafkan aku ibu, sampai sekarang aku belum bisa menggantikan Olivia dari hatiku. Kematian Olivia masih menyisakan luka dan membuatku trauma. Olivia melindungi aku dari kecelakaan itu. Jadi biarkan aku menemukan wanita yang tepat untukku. Aku pasti menikah, tapi tidak dengan wanita pilihan ibu. Jadi jangan pernah lagi memaksaku. Aku berharap ini terakhir kalinya ayah dan ibu membahas soal perjodohan." Setelah mengucapkan itu. Zio meninggalkan ruangan itu. Ia pergi tanpa sepatah kata. Zionathan membawa mobilnya meninggalkan kediaman Lucius.


⭐⭐⭐⭐⭐


Hari terakhir Selena bekerja sebagai status pengangguran.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, dan jam kerja efektif sudah berakhir. Beberapa karyawan yang bekerja di perusahaan itu pun berangsur meninggalkan kantor untuk bertemu keluarganya di rumah. Namun ternyata ada satu ruangan yang masih melakukan aktifitas. Selena dengan timnya belum bergerak dari duduknya. Ia seakan kembali pada kenangan yang tak terlupakan.


Rasanya ingin menangis, tapi bibirnya selalu terukir senyum. Karena mengingat momen-momen saat pertama kali ia datang ke kantor ini. Selena mengedarkan pandangannya setiap sudut ruangan. Tempat ia menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore hari. Tempat dimana ia bekerja dan digaji. Momen-momen saat pertama kali di marah. Bahkan momen cemerlang yang sudah dilaluinya. Semua berpadu, menyatu, membentuk satu perasaan yang campur aduk yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata.


Sudah lama ia bekerja di sini. Pasti banyak suka dan duka dan juga bahagia. Selena kembali tersenyum samar. Kini ia dibiarkan sendiri di dalam ruangan ini. Ia mengambil box ukuran sedang dan memasukkan barang-barangnya. Ada foto bersama dengan satu timnya waktu mengadakan acara makan bersama. Ada juga foto dirinya bersama dengan Chesa. Semua ia masukkan tanpa sisa. Selena akhirnya selesai dengan tugas-tugasnya. Selena sudah memasukkan surat lamaran pekerjaan ke semua perusahaan. Semoga di waktu terdekat ini ia dipanggil.


Selena membalikkan badannya dan memaksa bibirnya tersenyum, ia berjalan keluar ruangan.


CEKLEK!


Tepat saat pintu terbuka. Selena mengangkat wajahnya dan melihat satu timnya sudah berdiri di sana. Wajah mereka terlihat sedih. Selena bisa merasakan kesedihan itu. Matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun sedih meninggalkan sahabatnya.


"Ini ada hadiah dari kami Selena," Mark


Memberikan hadiah untuk kenang-kenangan berupa cinderamata yang bisa dikenang. Memori selama dia bekerja dengan album foto-foto candid dengan ekspresi lucu dan kegilaan saat bekerja di kantor bersama mereka.


"Terima kasih buat kalian semua." Ucap Selena tersenyum haru. Ia membuka album itu dan tertawa melihat foto-foto itu. Ada foto pada saat mereka selesai mengadakan rapat. Selena sudah tidak ingat foto ini di ambil tahun berapa. Ia benar-benar lupa.


Chesa muncul dengan mata berkaca-kaca, bibirnya gemetar, ia pun mulai bicara. Ini mewakili dari semua yang ada di sana.


"Jangan lupakan kita satu tim yang pernah selalu bersamamu."Ucap Chesa menjepit bibirnya, berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Dengan suara terbata-bata ia melanjutkan ucapannya. "Kami tahu bagaimana kinerjamu selama ini. Target bulanan dan penilaian kinerjamu luar biasa. Kau memberikan cerita yang berbeda setiap harinya. Kenangan selama bekerja denganmu akan tetap di hati kami selamanya." Chesa menutup mulutnya. Air matanya yang sudah mengkristal penuh di kelopak matanya terjatuh begitu saja.


"Perpisahan memiliki rasa manis pahit. Pahit untuk perpisahan saat ini dan manis untuk kerinduan masa depan. Semoga perpisahan ini hanya bertahan untuk waktu yang singkat. Semoga kau cepat mendapat pekerjaan baru ya. Itu harapan dan doa kami. Dan jangan lupakan kami Selena." Ucap Chesa menutup mulutnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Hidung dan matanya sudah memerah.


Selena dengan cepat menganggukkan kepalanya. Kenangan-kenangan itu akan selalu diingatnya. Kenangan yang semakin membentuknya semakin baik. Kerjasama yang luar biasa dengan semua tim-nya.


Selena menarik napasnya dalam-dalam. Ia menatap haru kepada rekan kerjanya lalu tersenyum simpul.


"Terima kasih atas segala hal yang tercipta selama di kantor ini. Saya tidak butuh waktu lama untuk menjadikan kalian seperti keluarga saya sendiri. Saya beruntung pernah bekerja bersama dengan kalian. Kerjasama yang baik, pertemanan, dan segala hal yang dikerjakan bersama-sama, akan saya kenang di dalam hati. Semoga ikatan yang telah kita bangun ini tetap baik, kenangan manis bekerja di kantor ini akan selalu melekat di dalam hati. Meski saya sudah tidak disini lagi. Kita masih tetap bisa berhubungan baik dengan kalian. Jadi, jangan hapus nomor saya."


Mendengar kata-kata Selena semua tertawa. "Tentu saja tidak Selena." Ucap mereka serentak.


Selena tersenyum." Iya, saya berharap kita jangan putus kontak."


"Yang terpenting kau tetap semangat ya.."


Selena kembali menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja, saya akan lebih bersemangat untuk menghadapi tantangan baru ini. Sebagian dari diri saya merasa sedih karena harus berpisah dengan kalian. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah saya lakukan selama di sini dan sukses buat kita semua." Ucap Selena memberikan senyum terbaiknya.


Selena pun segera memeluk Chesa, yang di Ikuti karyawan lainnya. Mereka memberikan jabatan dan pelukannya buat Selana. Suasana haru benar-benar menyelimuti mereka.


Selena dibiarkan pergi lebih dulu meninggalkan kantor. Dengan membawa box dan beberapa hadiah kenangan yang didapatnya hari ini. Selena melangkah mantap dan terus berjalan di koridor kantor. Perpisahan hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tidak ada yang namanya perpisahan. Tidak ada jarak tempat atau selang waktu yang dapat mengurangi persahabatan mereka yang benar-benar diyakinkan akan nilai satu sama lain. Dalam hati Selena akan selalu ada kenangan tentang mereka.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^