
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Anak buahnya langsung memberikan kursi kepada Zionathan dan mempersilakannya duduk di sana.
"Silakan duduk, tuan."
"Dimana Alex?" tanya Zionathan sembari mengeluarkan handphonenya dari kantong celananya.
"Sepertinya pak Alex masih di jalan tuan." Jawab salah satu anak buahnya yang stand bye berdiri di belakangnya.
"Heemmm." Zionathan mengembuskan napasnya, saat melihat handphonenya tidak ada panggilan dari Alex. Ia kemudian melemparkan handphonenya ke anak buahnya. Dengan sigap anak buahnya menangkap handphone itu. Lalu menunduk cepat dan mundur beberapa langkah tidak jauh dari bosnya.
Zionathan kemudian menarik napas dalamnya lalu menatap gadis yang terus menunduk itu. Ia bersedekap sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.
"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan sia-sia. Apakah kamu orang yang mengirimkan foto-foto itu kepadaku?"
DEG!
Saat mendengar kalimat itu, jantung gadis itu terpukul kencang, dengan perlahan ia mengangkat wajahnya. Waktu terasa berhenti sejenak. Suasana seakan melingkupi atmosfer ruangan itu. Hening, Ia hanya bisa meremas tangannya begitu erat. Suara detak jantungnya bahkan bergemuruh di dalam rongga dadanya begitu cepat. Ia shock saat melihat siapa yang lelaki yang duduk di depannya.
"Bukankah aku mengirimnya dengan nomor baru dan langsung membuangnya, kenapa dia bisa tahu?" Ucapnya dalam hati, wajah terkejutnya tak bisa ditutupi.
Dengan cepat ia mundur untuk mencari tempat yang aman baginya. Tubuhnya terhenti ke dinding dekat jendela rungan itu. Ia menekuk kakinya seakan melindungi diri.
Zionathan mengerutkan keningnya. "Kau mengenalku?" tanya Zionathan dengan sorot mata tajam.
"Tentu saja aku mengenalmu, kau lelaki brengsek yang tidak tahu malu." Gadis itu berucap lantang untuk menutupi rasa takutnya. Kedua tangannya gemetar saat tatapan Zionathan begitu dingin menatapnya. Bahunya melengkung ke depan. Tubuhnya masih menggigil karena kedinginan atau juga karena ketakutan, keduanya bercampur aduk.
Salah satu anak buahnya maju dan memberi peringatan kepada gadis itu. "Kau tidak pantas menyebut tuan Zionathan seperti itu!"
Zionathan mengangkat tangannya memberikan gestur kepada anak buahnya agar tidak menyakiti gadis itu. Ia semakin mengerutkan keningnya bingung. "Aku bertanya, apakah kau orang yang mengirimkan foto-foto itu?"
Gadis itu tersenyum sinis, tatapannya mengunci ke arah Zionathan. "Iya, aku yang mengirimnya." Hal itu semakin membuatnya berani menatap ke arah lelaki itu. Sorot matanya semakin menantang.
"Kau tidak takut melakukan itu?"
"Takut? hahahaha..." Gadis itu tertawa hambar. "Aku tidak takut sama sekali." Ia menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sarkastik.
Zionathan mencondongkan tubuhnya membungkuk dengan siku yang terpangku di atas lutut. Ia mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. "Apa untungnya kau mengirim foto-foto itu?" Tanya Zionathan berusaha bersikap sabar.
"Kau tidak tahu?" Matanya bahkan mendelik tajam. "Aku ingin memberi pelajaran kepada Selena."
Alis Zionathan menukik tajam. "Memberi pelajaran? Kau mengenal Selena?" Tanya Zionathan lagi. Ia sempat berpikir, gadis ini adalah satu suruhan investor yang gagal bekerja sama dengan perusahaan Lucius. Ternyata dugaannya salah. Sasarannya adalah Selena.
Gadis itu tersenyum sambil mengeluarkan decakan. "Jika aku tidak mengenal Selena, buat apa aku menghabiskan waktuku untuk mengikuti mereka. Aku bahkan mengenalnya cukup baik."
"Apa kau pikir itu berpengaruh kepadaku saat kau mengirimkan foto-foto itu? Selena juga tidak tahu bahwa foto-foto itu kau kirim untukku."
Ia membuang mukanya dan tersenyum sinis di sana, lalu menatap ke arah Zionathan lagi. "Cih...dasar lelaki angkuh. Aku ingin hubungan kalian berantakan dan melihat Selena menderita. Dan foto-foto itu sengaja ku kirim untukmu, bukan untuk Selena."
"Kau teman yang tidak punya malu, berani kau mengatakan itu kepada temanmu sendiri." Emosi Zionathan sudah tersulut mendengar perkataan gadis itu.
Ia membalas dengan senyuman jahat. "Kau tidak tahu Selena adalah penghianat. Dia pantas mendapatkannya. Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu."
Zionathan menarik napasnya dalam-dalam, mengunci pandangan kepada wanita yang nampak begitu tenang tanpa ada beban itu. "Apa maksudmu?"
"Selena menusukku dari belakang. Dia tahu aku mencintai Ferdinand. Tapi apa yang aku lihat, setiap Ferdinand kembali ke sini, mereka diam-diam bertemu dan menghabiskan waktu bersama tanpa mengatakan apa-apa kepadaku. Apa mereka pikir aku bodoh, aku tahu semuanya. Apa yang mereka lakukan aku tahu semuanya. Ini luapan perasaanku akibat merasa dikhianati seseorang yang selama ini sudah aku anggap sahabat dekat."
"Selena tidak seperti itu." Bentak Zionathan mencoba membela istrinya.
"Kau tahu apa tentang Selena. Dia licik, tak punya malu. Dia bermulut manis dan pintar menutupi semua kebusukannya. Aku mendapatkan pengkhianatan dari seseorang yang aku anggap sebagai teman baikku, kau tidak tahu semua perbuatan mereka. Semua menyesakkan. Kepercayaan yang aku berikan kepadanya, tak berbalas. Justru dibalas pengkhianatan seperti ini." Chesa menarik napasnya yang terasa berat, matanya berkaca-kaca menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.
"Jadi wajar saja aku merasa kecewa, sedih, jengkel, atau marah setelah mengetahui Selena yang aku andalkan, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Dia bahkan wanita bermuka dua, dia seorang teman yang tega menusukku dari belakang. Bukankah Selena sudah menikah, tapi dia dia selalu memanfaatkan Ferdinand. Karena apa? karena dia kaya. Selena itu jahat. Aku sangat membencinya." Teriak Chesa diujung kalimatnya. Ia meluapkan emosinya di sana. Matanya sudah mengkristal penuh dan terjatuh begitu saja membasahi pipinya.
DEG
DEG
DEG
Jantung Zionathan terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap gadis itu. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Hahahaha." Chesa tertawa, bahkan tawanya mengundang sejuta makna. Antara mengejek atau hanya menutupi kekalutan hatinya. Kita tidak tahu.
Sudut bibirnya melengkung ke atas. Menatap tajam ke arah Zionathan. "Aku sudah bilang, Selena wanita yang bisa menutupi semuanya. Dia bisa melakukan apa saja untuk mencari perhatian semua lelaki."
"Tutup mulutmu!" bentak Zionathan. Wajahnya menegang di sana.
Chesa tersenyum lagi, Ia berpaling menatap ke arah lain. "Apa kau sudah membuka hatimu untuk istrimu itu. Bukankah kau mati-matian menolak pernikahan ini. Aku rasa Selena sudah berhasil menahlukkanmu." Kata Chesa tersenyum tipis dan pembawaannya begitu tenang. Ia masih duduk sambil menekuk kakinya di sana. Mengibarkan tatapan permusuhan ke arah Zionathan.
"Apa kau sekarang mengejekku?"
"Apa aku terlihat seperti itu? Bagaimana aku bisa mengejek lelaki terpandang dan terkaya di kota ini. Kau bahkan bisa melakukan apa saja. Lihat, dalam waktu hitungan jam saja, kau bisa melacak siapa yang mengirimkan foto itu. Itu artinya kau benar-benar berkuasa, bukan?"
"Apa Selena tahu, kau adalah seorang sahabat jahat yang berani melakukan semua ini?" Kata Zionathan tidak mau kalah. Walau ia tidak bisa menutupi betapa terkejutnya ia saat mendengar pengakuan gadis yang duduk di depannya. Namun Zionathan tetap tidak goyang dengan cintanya. Zionathan tahu, jika seseorang sudah sakit hati, apapun ia lakukan untuk menghancurkannya. Walau pun itu sahabatnya sendiri. Ia tetap tenang, harga dirinya terlalu besar jika hanya terpengaruh kata-kata murahan yang terlontar dari mulut gadis yang duduk di depannya itu.
Chesa tersenyum sinis. Ia hanya diam dan memilih tidak menjawab.
"Apa kau tidak menyesal telah melakukan itu? sementara Selena hanya menganggap Ferdinand sebagai temannya."
Senyuman Chesa masih merekah saat mendengar itu. "Tidak. Sama sekali tidak. Aku bahkan tidak takut jika Selena tahu semua ini. Bahkan lebih baik jika dia tahu."
Zionathan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. "Kau berani menyakiti wanita yang aku cintai dan menghina ketulusan hati Selena yang menyayangi sahabat-sahabatnya. Aku jauh mengenal Selena dan kau tidak pantas untuk menghinanya." Tatapan Zionathan begitu tajam menghunus ke jantung Gadis itu.
"Dia berhak mendapatkan itu. Selena tak layak hidup bahagia, sama halnya dengan Ferdinand."
"Apa?" Zionathan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Matanya terlihat merah menahan segala emosi. Wanita ini benar-benar tidak menyadari kesalahannya. "Sedikit pun kau tak menyesalinya" Zionathan menunduk dan memegang dahinya.
"Tidak sama sekali." Chesa semakin tidak takut saat sorot mata Zionathan mendelik tajam. Sorot matanya tak kalah menantang. Dia tidak mengerjakan hal buruk. Dia hanya menunjukkan bahwa ia kecewa kepada Selena.
Zionathan tersenyum samar, "Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Aku hanya kau minta maaf kepada Selena."
"Untuk apa?" kejar Chesa.
"Kau akui semuanya, bahwa kau telah mengambil foto mereka."
"Tidak. Aku tidak mau. Seharusnya mereka yang minta maaf kepadaku."
Zionathan menarik napas dalam-dalam, ternyata gadis ini tidak semudah dibayangkan. "Baiklah jika kau tidak mau, aku akan proses ini ke jalur hukum."
"Cih... bukankan kau tidak suka Selena, seharusnya kita kerja sama untuk menghancurkan mereka. Selena pernah mengatakan bahwa kau lelaki arogan yang tidak punya hati. Kau bahkan lelaki yang paling menjijikkan."
"Tutup mulutmu!" Bentak Zionathan.
"Kau percaya dengan Selena?"
"Aku lebih percaya istriku dari pada memercayai wanita sepertimu."
Zionathan bangun dari duduknya. "Aku harap kau jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Jika kau berani menyakiti Selena. Aku tidak akan memaafkanmu." Kata Zionathan dengan ancaman.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukan itu?" Chesa ikut bangun. Wajahnya terlihat angkuh di sana. "Kau sepertinya begitu mencintai Selena."
"Kau akan menyesal jika berani menyakiti Selena." Ucap Zionathan dengan rahang mengencang kuat. "Urus wanita itu!" Kata Zionathan tegas. Ia segera membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan itu.
"Baik tuan!" Ucap mereka serentak seraya membungkukkan badannya.
"Kita lihat saja, apa kau masih bisa mengancamku jika melihat seperti apa sebenarnya Selena itu." teriak Chesa. Suaranya bahkan memenuhi ruangan itu.
"Diam! Kau tidak berhak mengatakan itu." Dua orang pria dengan cepat memegang tangan gadis itu.
"Lepaskan aku!" Gadis itu berusaha berontak dan melepaskan diri.
"Jangan banyak bergerak, kami akan mengantarmu pulang seperti perintah bos kami."
"Kalian tidak perlu repot-repot melakukan itu. Aku bisa pulang sendiri. Lepaskan aku!"
Namun anak buah Lucius tak perduli, mereka membopong tubuh Chesa masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang dengan selamat seperti perintah bosnya itu.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^