Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MEMBERI PELAJARAN.


πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Chesa tertawa saat panggilan itu terputus. Ia menatap Ferdinand yang tak sadarkan diri. Posisi tangannya terikat ke belakang. Badannya lemah setelah anak buahnya berhasil menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya.


"Kalian bisa keluar." perintah Chesa pada anak buahnya.


"Baik nona." Kedua pria itu membungkuk bersamaan. Lalu meninggalkan kamar.


Chesa dengan angkuh berjalan menuju sofa. Ia duduk dengan anggun sambil memangku kakinya dengan bersedekap, menatap Ferdinand dengan seringai tipis.


"Dua mangsa tertangkap hari ini." Chesa tertawa lepas di sana. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Selena saat melihat Ferdinand ternyata ada di sini.


"Aku pastikan kalian tidak akan pernah melupakan hari ini."


Chesa tersenyum jahat sambil mengangkat wajahnya. Dengan sengaja ia membusungkan dadanya, menujukkan belahan dadanya yang menonjol. Ia menggunakan pakaian dengan leher bermodel V. Ia tersenyum penuh kemenangan menatap Ferdinand dengan sinis. Lagi-lagi dengan sengaja ia membuka lebar-lebar kancing bajunya. Sampai membuat bagian dalam itu meluap ingin keluar. Sudut bibirnya naik ke atas sambil mengangkat alisnya. Posisinya masih memangku kakinya ke atas. Sengaja memperlihatkan bentuk pahanya yang kencang dan terawat di balik rok mininya yang mencengkram sempit.


"Apa aku sudah terlihat seksi sayang?" Chesa bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Ferdinand yang tak sadarkan diri.


"Jika kamu bangun, aku pastikan kamu menikmatinya Ferdinand."


Perlahan Chesa menaikkan sebelah tangannya membelai rambut Ferdinand dengan lembut. Turun perlahan ke hidung menyapu panjang hidung Ferdinand yang mancung. Gerakan halus Jari-jari Chesa bergeser sedikit menyapu atas dan bawah yang sangat menggoda itu. Jari-jarinya masih berada di pipi Ferdinand, mengakses setiap lekukan rahang tegas milik lelaki yang dicintainya itu. Lelaki yang sempurna, Chesa tersenyum samar dan terus menikmati wajah itu kembali. Tatapan menginginkan dan ingin segera memiliki. Dengan persiapan napas, Chesa memajukan wajahnya. Pelan-pelan namun pasti. Ia mengecup bibir Ferdinand cukup lama. Lalu menarik tubuh menjauh dari lelaki yang tak berdaya itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Pikiran Selena langsung kacau, Ia benar-benar blank. Selena hanya mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan. Selena menarik napas dan mencengkram kepalanya. Melepaskan emosinya.


"Tidak, aku harus menemui wanita brengsek itu," Ucap Selena mantap dan langsung meraih kunci mobil dan berlari keluar dari kamarnya.


Ia tidak akan membiarkan Chesa bertindak semaunya lagi. Jika Chesa ternyata berbohong dan mengarang cerita mengenai ayahnya. Selena tidak akan diam. Ia harus memberi pelajaran.


Selena dengan cepat berjalan keluar dari kamarnya. Ia melakukan panggilan kepada suaminya. Namun tidak di angkat. Berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Selena juga tidak menemui ibu Berta di apartemen.


"Shiiiittt....aku tidak ada waktu."


Selena langsung keluar dari apartemennya. Dengan terburu-buru, Selena masuk ke dalam mobil. Wajahnya datar dan sangat dingin. Tatapannya tajam ke depan. Ia memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Selena langsung menancapkan mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen diamond.


Rasa penasaran benar-benar mengganggu pikirannya sejak tadi. Dia masih terus mencerna perkataan Chesa. Bagaimana ayahnya bisa memberikan suatu kepada wanita rubah itu. Pikirannya kalut, sampai-sampai ia tak menyentuh sarapannya. Sementara akhir-akhir ini, ia butuh sarapan untuk menambah energinya.


Selena mencoba menghubungi suaminya lagi. Ia menggunakan earphone wireless dan langsung di pasang ke telinganya. tujuan Selena ingin membatalkan janji makan siang mereka. Jarak waktu ke villa lumayan jauh.


"Tolong, dijawab sayang."


Selena mengusap wajahnya dengan tangan yang satu. Rasanya benar-benar frustasi. Akhirnya Selena menyerah untuk menghubungi suaminya itu. Ia menarik napas dalam-dalam. Selena terus menancapkan mobilnya menuju tempat yang biasa mereka datangi. Ia berusaha menenangkan pikirannya yang berkecamuk.


Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa Selena saat memasuki area pegunungan. Pepohonan rindang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan membuat suasana menjadi teduh. Mobilnya tetap melaju ke sebuah villa mewah milik keluarga Chesa. Sebuah pedesaan yang cocok bagi siapa pun yang menghabiskan liburannya. Karena suasana pegunungan dan udara yang sejuk bisa menenangkan hati dan pikiran.


Dari persimpangan. Selena masuk ke pembelokan ke arah kanan. Ia terus membawa mobilnya. Ia menemukan jalan di persimpangan tiga. Selena sangat ingat tempat ini. Ia membawa mobilnya ke arah kiri. Tak jauh dari pertigaan itu akhirnya Selena menemukan papan penunjuk jalan yang akan mengantarnya sampai di Villa 'Mimpi Indah' milik keluarga Chesa.


Chesa sendiri yang memberikan nama Villa itu. Karena ia bermimpi mempunyai keinginan bisa tinggal di sini bersama orang-orang yang dicintainya. Villa 'Mimpi Indah' ini hanyalah sebuah penginapan khusus untuk keluarga terdekat Chesa saja. Berada di atas bukit yang menawarkan panorama alam sangat indah.


Hampir satu setengah jam perjalanannya. Ia mabuk karena jalan tikungan.


"Biasanya aku tidak seperti ini, apa karena aku tidak sarapan tadi ya?" Selena memijit tengkuknya berulang kali sambil terus membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


Mobil mewah milik Selena akhirnya tiba di halaman yang cukup luas. Model desain yang bahannya semua terbuat dari kayu. Taterial kayu yang natural membuat tampilan rumah terkesan unik. Belum lagi, pilihan kayu tertentu dengan corak yang bervariasi bisa membuat tampilan rumah terasa berkarakter. Kayu yang diukir sesuka hati sesuai dengan kreativitas bisa menjadi dekorasi yang menarik.


Rumah bergaya Kanada ini memiliki tampilan yang bukan saja unik namun elegan. Salah satu keunikannya bisa dilihat dari log yang menjadi elemen utama pada rumah ini.


Ukuran log yang besar serta perpaduan warna coklat tua dan muda membuat rumah ini tampak mirip seperti rumah lego. Pola warna kayu yang tidak seragam membuat kesan natural yang ditampilkan terasa lebih kental. Villa 'Mimpi Indah' ini juga terlihat menyatu dengan alam, seperti merasakan hidup bebas dengan langit biru dan gema hijau. Apa lagi jika pagi hari, dari atap langit biru membuat siapa saja akan tahan berlama-lama sambil bersantai di teras sambil menghirup udara bebas.


Selena turun sambil mengedarkan pandangannya. Ia melangkah memasuki halaman luas itu. Ia sengaja memarkir mobilnya jauh dari villa. Agar Chesa tidak menyadari kedatangannya.


Ia melangkah pelan untuk melihat keadaan villa itu. Saat ini ia seperti seorang pencuri yang mengendap-endap. Ia tidak akan mudah percaya dengan Chesa setelah mengetahui bukti rekaman suara yang tersimpan dihandphone ayahnya. Kakinya melangkah cepat sedikit membungkuk. Saat ini dia memikirkan bagaimana caranya ia masuk ke dalam villa itu. Walau sekalipun ia harus mengorbankan dirinya.


Semua jendela tertutup rapat. Hanya ada pintu dari depan dan belakang. Selena berlari ke arah belakang. Berbahaya jika ia terlalu lama berdiri di sana. Bisa-bisa Chesa tahu keberadaannya. Ia harus mencari amannya dulu. Sebelum Chesa mengetahui ke datangannya.


Selena menyenderkan punggungnya ke dinding. Sekilas bayangan hitam tanpa sengaja melintas dengan cepat di depan matanya saat Selena mengintai ke dalam ventilasi yang ukurannya sangat kecil. Selena sempat panik dan kembali menundukkan kepalanya.


"Kenapa aku serasa nonton film horor ya." ucapnya mengatur napasnya yang keluar dari mulutnya. Seumur hidup baru ini dia melakukan hal seperti ini.


Selena kembali melihat ke kiri dan ke kanan, ia mencoba masuk dari pintu belakang. Namun saat daun pintu terdorong ke dalam. Chesa sudah berdiri di depannya. Selena sangat terkejut.


"Kenapa harus masuk lewat pintu belakang Selena. Kau seperti pencuri." ucap Chesa tersenyum dengan wajah datar. Ia membuka pintu itu lebih lebar lagi.


Selena masih bergeming tak bicara. Rasanya seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Silakan masuk," Chesa mempersilakan.


"Sekarang serahkan apa yang diberikan ayahku kepadamu." Selena mengulurkan tangannya.


"Tidak masuk dulu?"


"Aku tidak ingin basa-basi. Aku datang ke sini untuk menagih janjimu." Mata Selena menyorot tajam.


"Ferdinand ada di sini, kau tidak ingin bertemu dengannya dulu?"


Wajah Selena langung berubah, dahinya mengerut menatap Chesa. "Ferdinand ada di sini?" tanyanya tak percaya.


"Hmm...Ferdinand juga menunggumu." Chesa tersenyum tipis. "Yuk, kita masuk!" ucapnya dengan lembut tanpa dosa. Ia berjalan pelan meninggalkan Selena.


Seperti terhipnotis Selena mengikuti langkah Chesa. Ruangan itu pun seketika berubah hening, sangat hening.


"Dimana Ferdinand?" tanya Selena lagi.


"Sssstttttt....jangan berisik, Ferdinand lagi tidur."


"Jangan bohong!" Selena menghentikan langkahnya saat ia menaiki anak tangga.


Chesa tak menjawab, ia terus berjalan sampai tiba di depan pintu di lantai dua.


Selena sedikit bergidik. Harusnya dia berhenti, namun rasa penasaran yang bertambah besar mengalahkan rasa takutnya. Dia mulai menapaki anak-anak tangga itu satu persatu dan mengikuti langkah Chesa.


CEKLEK!


Pintu itu terbuka. Dan...


DEG...DEG... DEG...!


Jantung Selena berdetak kencang saat melihat Ferdinand. Darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya sulit bernapas. Napasnya berembus cepat tidak beraturan. Ia diam membeku di sana.


"Lihat, Ferdinand sudah menunggumu." Saat itu juga Chesa tertawa jahat.


"Apa yang kau lakukan kepada Ferdinand?" teriak Selena. Tangannya gemetar karena menahan emosi yang bercampur aduk.


"Ferdinand sedang tidur." ucapnya santai tanpa dosa.


"Kau gila....."


"Lepaskan Ferdinand atau aku hubungi polisi!" Ancam Selena. Matanya berkaca-kaca saat melihat posisi tangan Ferdinand terikat ke atas.


"Jangan sampai aku berteriak Chesa. Sekarang lepaskan tangan Ferdinand." Mata Selena menyorot tajam. Namun Chesa tidak juga bergerak. Ia tersenyum angkuh dengan tangan bersedekap.


"Baik. Jika kamu tidak mau, aku hubungi polisi dan aku pastikan kau membusuk di penjara." Selena sudah begitu marah. Napasnya terdengar naik turun karena begitu emosi. Selena langsung mengeluarkan handphonenya.


"Apa yang kau lakukan?" Dengan cepat Chesa mengambil handphonenya dan membantingnya ke lantai hingga handphone Selena hancur mengenaskan.


Mata Selena terbelalak tak percaya. "Dasar wanita gila,"


Selena mengeram dan berlari mendekat ke arah Chesa. Ia dengan cepat mencekik leher Chesa, mencengkramnya begitu kuat, hingga membuat Chesa kesulitan bernapas. "Dasar iblis! Mati saja kau!"


Wajah Chesa memerah dan berusaha melepaskan tangan Selena dari lehernya. "Aahhhkkkk...leeepaskan..."


Selena tak perduli lagi, Ia bahkan lebih kuat menekan tangannya. Ia tidak menyangka Chesa bertindak senekat ini.


Namun tiba-tiba anak buahnya masuk ke kamar dan membawa sapu tangan yang sudah ditaruh obat bius. Untuk menghentikan tindakan Selena. Lelaki bertubuh tegap itu dengan cepat membekap mulut Selena.


"Hhhmmpppp.."


Seketika tubuh Selena lemas dan tidak sadarkan diri. Saat itu juga Chesa terbatuk-batuk dan mengatur napasnya dengan cepat karena ia kesulitan bernapas.


BERSAMBUNG.....


🌹Mohon maaf kalau updatenya sekali dua hari ya. Banyak kesibukan di dunia nyata benar-benar tidak bisa aku tinggalkan. Cara ibu beranak tiga lah πŸ˜‚ Tapi saya akan usahakan up setiap hari. Terima kasih πŸ™