
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Bersihkan kekacauan yang kau buat itu." Zionathan segera membalikkan badannya dan tidak ingin melihat ke arah Selena.
"Heuh?" Selena menahan napasnya. "Kekacauan apa maksud anda pak?"
Zionathan menghentikan langkahnya dan segera membalikkan badannya. Ia menatap tajam ke arah Selena.
"Apakah karena saya makan di rooftop ini, anda memandang saya sehina itu pak?" Mata Selena begitu merah menahan perasan yang membuncah. Kali ini ia ingin menujukkan bahwa ia kecewa dengan tindakan pak direktur ini. Selena bahkan berani menatap ke arah mata Zionathan. Tidak ada ketakutan sama sekali.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau mendengarnya?"
"Heuh?" Selena tersentak dari lamunannya.
Selena menarik napas dalam-dalam dan mencoba berpijak dari tingkat kesadaran yang nyata. "Bagaimana mungkin aku bisa berpikir untuk membentak lelaki arogan ini. Bisa-bisa tamat riwayatku." Batin Selena merutuki kebodohannya. Ia hanya bisa mencengkram wadah makanan yang dipegangnya. Pikirannya saat ini benar-benar kacau.
"Ingat, aku tidak ingin melihatmu di sini. Jangan pernah membawa sampah ke rooftop ini." Zionathan menegaskan kalimatnya lagi.
"Sampah? apa dia pikir makanan ini sampah. Astaga angkuh sekali dia." Lagi-lagi Selena hanya bisa menggeram dalam hati. Giginya saling bergesekan karena menahan amarah.
Zionathan melepaskan tatapan tajamnya, ia berbalik arah dan kembali mengenakan jasnya. Zio berjalan meninggalkan rooftop itu.
Selena hanya bisa menatap punggung pak direktur yang tegap menuruni anak tangga. Setelah pak direktur benar-benar pergi. Selena langsung mengembuskan napasnya lewat mulut, huuufffftttt....ia mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan diri.
Selena kembali duduk dan menyantap makan siangnya. Ia mulai bermonolog sendiri.
"Tidak apa-apa Selena, kau harus bisa melalui ini semua. Dia pemimpin perusahaan ini. Kau hanyalah karyawan biasa. Jangan berkecil hati jika pak direktur angkuh itu selalu merendahkanmu." Selena memasukkan makanan itu ke mulutnya lagi.
"Fighting Selena Gwyneth, kau bisa melalui ini semua." Selena terus berbicara
"Uuhukkkk...! Uuhukkk...! Selena tersedak, wajahnya sampai merah. Ia langsung meneguk air mineral yang ada di depannya.
Selena menepuk-nepuk dadanya sendiri, lalu mengusap bibirnya dengan tissue.
Ia menutup mata dan menahan napas sejenak. "Astaga, Kenapa hatiku sakit?" Suaranya gemetar, wajahnya mengerut ingin menangis. Selena membuka mulut menarik napas dan mendongak ke atas. Mencoba sekuat tenaga agar tidak menangis.
"Aku harus menghabiskan makanan enak ini. Ibu sudah memasaknya dengan penuh cinta." kata Selena lagi. Ia santap semua makan siangnya dan semua habis tanpa sisa.
"Ahhh.... rasanya aku tak sanggup berjalan, karena terlalu kenyang." Kata Selena bersandar di kursinya sambil memegang dan mengusap perutnya.
Ia tersenyum lagi, menatap bunga-bunga yang memang sengaja ditanam di atas rooftop. "Kenapa dia bisa semarah itu ya? Apa karena beliau takut aku merusak bunga-bunga ini? atau jangan-jangan bunga ini ada kenangan tersendiri?"
"Ah... bodoh amat, dari pada memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik kita berselfi saja." Selena langsung mengeluarkan handphonenya.
Ia mengambil beberapa foto dari kamera handphonenya. Selena tersenyum sambil membuka foto yang tersimpan di galeri. Selena menggeser layar pipih itu, untuk melihat hasil jepretannya dari kamera handphonenya.
"Wow, cantik sekali." Ia tersenyum sumringah saat melihat hasil jepretannya ternyata lumayan juga. Ia bisa mengambil kerja sampingan saja sebagai fotografer. Selena terkekeh sendiri. Ia kembali berselfie ria untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Setelah puas mengambil beberapa gambar di sana dan berselfi juga, Selena mengirimnya ke media sosial dan mengirim langsung ke snapnya.
Tak beberapa lama setelah fotonya terkirim semua, Chesa langsung melakukan panggilan melalui video call. Selena tersenyum lalu mengangkatnya.
"Cie...cie...yang sudah bekerja! Sombong amat dihubungi gak mau angkat lagi ya?" Chesa memasang wajah sinis dengan bibir mengerucut.
Selena tertawa melihat ekspresi wajah Chesa. Ia bahkan membuat sahabatnya itu bertambah iri. Selena mengetuk dua kali layar handphonenya dengan telunjuknya, memindahkan kameranya ke tampilan kamera belakang. Memamerkan perusahaan Lucius dengan bangga, walau hanya bagian rooftopnya saja.
"Wah rooftop nya saja seindah itu. Astaga bunganya indah sekali. Bisa gak ambil satu untuk aku Selena..." Kata Chesa menjerit histeris.
Selena semakin terkekeh saat mendengar jeritan histeris Chesa yang begitu terpesona dengan keindahan bunga yang ada di rooftop itu. Selena tahu kalau Chesa memang menyukai bunga. Ia bisa gila karena bunga.
"Tempat itu cocoknya taman bunga Selena."
"Betul sekali. Rooftop ini memang banyak bunga." Selena mengarahkan kameranya ke setiap bunga yang ada.
Chesa berteriak sambil menutup mulutnya karena terpesona. "Ambilkan satu untuk aku ya. Pleaseeeee....Satu aja," Kata Chesa dengan nada memohon.
"Astaga...kau mau aku dipecat hanya karena mencuri bunga, jangan gila dong."
Selena kembali memindahkan kameranya ke kamera depan dan mengarahkan ke wajahnya. Selena tertawa renyah di sana sambil memperlihatkan susunan giginya yang rapi dan bersih.
"Kau jahat Selena, itu benar-benar indah. Kau tahu aku suka bunga. Aku bisa bermimpi karena itu." Protes Chesa dengan wajah mengerucut sedih.
"Hei ..siapa yang jahat?"
"Kau sengaja mengirimkan bunga-bunga indah itu ke snapmu kan? Dan aku melihatnya." Chesa tak terima begitu saja.
"Siapa suruh kau lihat snapku?"
"Astaga...."
"Hahahaha..." Selena tertawa awkward. "Kamu sudah puas? setidaknya melihat saja gak apa-apa."
"Cih..." Chesa buang muka tak ingin melihat Selena.
"Kau tahu karena aku di sini beliau marah, dia bahkan mengatai makananku sampah."
Chesa mengerutkan keningnya. "Marah? Siapa yang marah." Emosi Chesa mulai tersulut. Bahkan mengatai masakan aunty Joanna sampah. Dia belum rasakan aja masakannya. Bisa ketagihan dia.
"Pak direktur. Dia lelaki angkuh, arogan dan sombong. Baru kali ini aku temui lelaki seperti itu."
"Jangan mengumpat Selena, nanti jadi cinta." ledek Chesa dengan senyum menggoda. "Tapi serius lelaki itu yang nanam bunga-bunga itu semua ya?"
"Apa lelaki tidak bisa mencintai bunga?"
"Hei .. jangan salah, lelaki juga banyak kok yang suka bunga."
"Oh ya! Aku dengar direktur tempatmu bekerja tampan dan belum menikah, apa benar isu itu?"
"Hmmm, kau selalu cepat mendapatkan informasi." Selena menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu jodohkan dengan aku dong?"
Selena memutar bola matanya, ia langsung membayangkan wajah pria kaku dan dingin itu. Dengan cepat Selena menggelengkan kepalanya. "Jangan mimpi Chesa, dia tidak menyukai wanita seperti kita."
"Benarkah? Tapi aku cantik Selena. Siapa tahu hatinya berubah."
"Cih Berubah? gak bakal berubah deh.." kata Selena dengan yakin.
"Serius, gak tergoda dengan kecantikanku?" Chesa mengibaskan rambutnya.
Selena terkekeh. "Iya, aku serius. Dia tidak akan tertarik dengan wanita cerewet seperti kamu."
"Apa dia gay?"
"Husss...." Selena langsung melihat ke kiri dan ke kanan.
Tawa mereka pun pecah. Mereka asyik berbicara hingga Selena lupa bahwa jadwal rapat siang telah dimajukan dari jadwal sebelumnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
DI RUANG RAPAT.
Zionathan duduk dengan tubuh condong ke depan memangku siku di atas meja. Ia meminta salah satu manager untuk menjelaskan permasalahan yang sering terjadi di anak cabang.
"Bagaimana anda menangani krisis seperti ini, jika manajemen operasional tidak mengatur strategi yang tepat. Bahkan menurut saya tiap tahun, hanya ini yang saya temukan titik permasalahan di sini? saya ingin dengar langsung, bagaimana bisa hal ini terjadi. Silakan!" Kata Zionathan memberi waktu kepada tim yang menangani bagian perencanaan koordinasi. Zio meraih pulpennya dan mengetuknya di atas meja.
"Menurut saya, sepertinya ini terjadi dibagian pemasaran saja pak." ucap pria sedikit ragu.
" Ya, jelaskan secara mendetail."
Hening menyeruak terjadi di dalam ruangan itu, tidak ada yang berani mengangkat wajahnya ketika direktur utama sudah mengetuk pulpennya sedikit keras. Itu salah satu tanda, Zionathan sudah nampak marah.
"Tidak ada yang menjawab?" Zio mengangkat setengah alisnya.
"Saya rasa kita harus mendata ulang bagian yang berhubungan dengan problem yang pertama yang dihadapi manajemen operasional tentang strategi dalam produksi pak, bagaimana kondisi pasar yang akan kita tuju dan kita tinjau langsung ke sana. selanjutnya bagaimana proses pembuatan desain yang baik agar diterima oleh masyarakat."
"Kenapa anda tidak melaksanakannya, jika memang kalian menemukan titik permasalahannya di situ." Zionathan meletakkan pulpennya dengan kasar.
"Maaf pak, kami kurang teliti." jawab Melvin dengan cepat menunduk.
"Oke, kali ini kalian saya maafkan. Jangan sampai hal ini terulang kembali, silahkan di catat pak Melvin dan yang lain juga."
"Baik pak." Jawab Melvin.
"Sebelum kalian terjun langsung melihat kondisi pasar yang akan kita tuju, baik itu proses pembuatan desainnya, kalian harus mengubah input perusahaan menjadi output yang optimal. Dengan begitu kita bisa mengecek bagian pemasarannya secara langsung. Bagaimana klien akan puas, jika dasarnya saja kalian tidak bisa menyelesaikannya. Saya meminta anda untuk teliti, persaingan pasar cukup besar. Jangan sampai omzet kita turun. Mengerti?" kata Zionathan memberikan solusi.
"Siap pak, kami mohon maaf, hal ini tidak akan terulang kembali."
Zionathan membuang napasnya. Ia kembali menatap tablet digital nya dengan wajah mengerut serius. "Saya minta laporan pertanggungjawaban sekarang." Kata Zionathan memeriksa kembali tabletnya.
"Maaf pak, dua hari yang lalu saya sudah menyerahkan kepada pak Alex."
Zionathan mengangkat wajahnya, menatap pak Edward yang duduk di sebelah kirinya. "Kebetulan Alex lagi keluar meninjau proyek. Silakan hubungi Alex. Saya tunggu, sekarang!"
"Baik pak." Jawab Edward bangun dari duduknya. Edward langsung menghubungi Alex. Tak butuh lama, Ia langsung mematikan ponselnya.
"Mohon maaf pak, laporan yang bapak minta akan datang." Kata Edward dengan suara terendahnya.
Tidak ada jawaban, Zionathan masih tetap fokus memeriksa beberapa laporan. Hening dan hening, mereka hanya bisa diam dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara apalagi untuk berbicara. Mereka seakan menyaksikan tampang Zionathan yang terlihat mengerut serius menatap tablet digitalnya.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Zionathan menyandarkan tubuhnya di kursi, setelah selesai memeriksa beberapa laporan. Ia menghembuskan napas panjang. Ia menarik ujung lengan jasnya, melihat jam yang ada di tangannya. Melihat ekspresi direktur utama berubah, mereka nampak gelisah. Ia menghubungi seseorang namun tidak di angkat.
"Bagaimana laporan yang saya minta?" Zionathan membuka suara.
"Maaf pak, tadi pak Alex mengatakan sudah memberikan kepada sekretaris anda."
Dahi Zionathan mengerut. "Maksud anda sekertaris baru itu?"
"Betul pak."
"Dia lagi?" Gumam Zio dengan kesal.
Melihat wajah pak direktur marah. Mereka panik, gugup dan saling berpandangan. Ruangan tiba-tiba berubah menjadi horor. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya.
"Saya tidak mau tahu hubungi dia sekarang," Zionathan menggebrak meja dengan kasar. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^