
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena sudah bangun dan tidak langsung membuka matanya. Ia hanya mengerang, merenggangkan otot-ototnya dalam posisi tidur. Tangannya menyapu ke dua sisi tempat tidur. Dahinya berkerut saat menyadari sisi kanannya kosong. Tangannya meraba-raba lagi sisi kosong di sampingnya. Kini dengan tempo yang cepat. Ia membuka matanya mencari sosok Zionathan, sang suami yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga itu. Yang mencintainya lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
"Sayang?" Panggil Selena dengan suara serak khas baru bangun.
Tidak ada sahutan. Keadaan kamar ini sangat sunyi dan sepi.
"Kemana dia?"
Selena membuang napas lalu kembali dengan posisi telentang di atas kasur. Kamar hotel super mewah dan berkelas nomor satu ini membuat Selena tertidur nyenyak. Apalagi ada suami yang selalu memberikan perhatian kepadanya. Liburannya semakin lebih menyenangkan. Perasaan tidak enak itu sirna seketika.
"Apa jangan- jangan Zionathan sedang joging? ahhhh.... tidak mungkin." Selena menggelengkan kepalanya. Cuaca dingin seperti ini ditambah salju yang semakin lebat di luar sana. Membuat Selena semakin yakin pada dirinya. Bahwa Zionathan tidak mungkin olahraga.
Tidak mau mengira-ngira, Selena bangun dengan posisi duduk. Selena mengusap singkat wajahnya. Ia menjatuhkan kakinya di lantai. Berjalan melangkah keluar balkon untuk melihat langsung pemandangan kota Paris di pagi hari. Kamar hotel ini memang cukup besar dan bisa dikatakan unik juga.
Samar-samar ia mendengar suara suaminya melakukan panggilan.
"Ternyata dia ada di sana." Gumam Selena tersenyum lembut. Tangannya membuka pintu balkon dengan pelan. Ia sengaja ingin mengejutkan suaminya pagi ini. Daun pintu terbuka dengan pelan. Ia mendorongnya dengan hati-hati sambil menjepit bibirnya menahan senyum. Selena bisa membayangkan bagaimana terkejutnya Zionathan.
Tangannya masih memegang kenop pintu. Dahi Selena tiba-tiba mengernyit saat mendengar pembicaraan Zionathan lewat telepon.
"Samuel? dia sedang bicara dengan Samuel?"
"Apa yang mereka bicarakan, kenapa raut wajahnya begitu serius?"
Sepersekian detik, Selena diam membeku saat mendengar pembicaraan mereka. Ujung-ujung jarinya tiba-tiba terasa dingin. Jantungnya terpukul kencang. Selena menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha tenang. Namun perasannya tak juga tenang.
"Sakit? Siapa yang sakit? apa ayah mendapat serangan jantung lagi?"
Jantung Selena semakin terpukul kencang. Saat mendengar Zionathan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Selena semakin sulit bernapas. Ia berusaha mengambil pasokan oksigen untuk memenuhi paru-parunya tapi hasilnya masih sama. Selena memejamkan matanya dan memegang dadanya yang terasa sakit.
"Apa maksudmu sayang?" Selena sudah berdiri tidak jauh dari Zionathan.
Zionathan sangat terkejut sampai menjatuhkan handphone yang ada di tangannya. Wajahnya menegang. Posisi Zionathan masih memunggungi istrinya itu.
"Apa yang kau bicarakan dengan Samuel? jawab aku," pinta Selena. "Siapa yang sakit?"
Zionathan menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha bersikap tenang dan berbalik memandang ke arah Selena yang sudah berdiri dihadapannya.
Zionathan masih tak bicara, ia hanya mengacak rambutnya dengan frustasi.
"SAYANG???" Lagi panggil Selena sambil menekankan intonasi bicaranya. "Katakan padaku ada apa?"
Zionathan membuang napas panjang, memiringkan wajahnya dan menatap sendu ke arah istrinya itu.
"Apa ayah sakit?" Mata selena sudah berkaca-kaca.
Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aaarghhhhh." Ia menggeram di sana. Bagaimana ia harus mengatakannya. Ia tak ingin melihat istrinya sedih.
"JAWAB AKU ZIO!" Suara Selena sudah memenuhi kamar hotel itu. "Sampai kapan kamu akan diam?"
Zionathan hanya menatap Selena dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca. Kedua sudut bahunya mengerut dan melengkung ke depan. Mulutnya terbuka dan mulai berkata.
"Ayah." Zionathan menunduk lalu mendongak. "Ayah sakit. Tadi Samuel menghubungiku dan mengatakan ayah sekarang berada di ruang ICU."
DEG!
Wajah Selena menegang, kakinya gemetar, dia memegang dinding untuk tumpuannya agar dia tidak terjatuh. Dugaannya benar. Perasaannya yang tidak enak itu akhirnya terjawab sudah.
"Apakah karena itu ayah tidak datang ke bandara?" Mata Selena berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng masih tak percaya.
"Iya sayang. Ayah saat itu sudah dirawat di rumah sakit."
"Apa?" Mata Selena terbelalak tak percaya. Ia sangat shock saat mendengar itu. Ia memundurkan langkahnya ke belakang. "Ayah sakit dan kita masih tetap berangkat ke Paris?"
"Sayang, maafkan aku."
Selena menggeleng, ia masih tak percaya. Bagaimana Zionathan bisa merahasiakan ini? Bagaimana Zionathan bisa setega ini? Selena terus melangkah mundur. Matanya memandang tangannya yang gemetar.
"Sayang, dengarkan aku," Ucap Zionathan berusaha mendekat.
Namun Selena menolak untuk didekati. Ia hanya terus melangkah mundur. Tangannya mengepal kuat. Emosinya hampir meledak. Lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan masuk kembali ke dalam kamar hotel.
"Selena????" Teriak Zionathan langsung mengejar Selena. Kamar hotel ini memang besar. Ruang tamunya terpisah dari kamar.
"Sayang, dengarkan aku!"
Selena tidak menjawab. Bibirnya gemetar menahan emosi sambil menyapu air mata yang membahasi pipinya. Tidak mempedulikan Zionathan di sana.
"Ayah akan baik-baik saja. Ayah pasti kuat melawan penyakitnya." Kata Zionathan menenangkan istrinya.
"Kau berbohong Zio. Aku sudah katakan tidak suka dibohongi seperti ini. Bagaimana perasaanmu saat melihat ayahku berbaring di rumah sakit namun kau tetap melanjutkan liburan ini."
"Aku tahu, aku salah. Tapi semua ini aku lakukan untuk kita."
"Untuk kita?" Selena tertawa sambil menangis.
"Aku harus pulang...." teriak Selena histeris. Matanya menyorot tajam. Napasnya tersengal begitu cepat naik turun karena menahan segala emosi yang membuncah. Tangannya bahkan gemetar melakukan packing acak-acakan dan terus menangis di sana.
Zionathan menarik napas panjang dan menghampiri istrinya itu. "Sayang, tenanglah...aku akan mencoba menghubungi pihak bandara."
"Setelah kau berbohong kepadaku. Kau masih berani mengatakan tenang." Selena menatap sinis ke arah suaminya itu. Ia kembali menangis saat membayangkan wajah ayahnya tak berdaya. Bagaimana ia bisa menikmati liburan ini. Sementara ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Selena semakin menangis di sana.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukan ini sayang." Zionathan memegang tangan Selena dengan lembut.
Namun Selena menampik tangan Zionathan dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"
"Selena!!!!" Ucap Zionathan dengan tegas.
Selena semakin menangis. Bahunya naik turun gemetar. Ia terlihat kacau. Ayahnya sudah pernah dilarikan ke rumah sakit dan koma beberapa hari karena serangan jantung. Selena selalu menemani ayahnya pada saat itu. Memohon pertolongan kepada Tuhan agar ayahnya sadar kembali. Kini situasinya seperti sedang terjadi lagi. Semua bayangan itu sangat menakutinya. Dan sekarang ia tidak ada di sana untuk menemani ayahnya.
Saat melihat hal itu. Zionathan pun langsung bertindak dengan memeluknya dengan erat.
"Lepaskan aku, aku mau pulang! Aku mau pulang!" Selena terus mendorong tubuh Zionathan dengan keras.
Namun Zionathan terus memeluknya erat. Zionathan sangat faham dengan keadaan istrinya sekarang.
"Tenanglah, aku mohon tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita akan kembali secepatnya."
"SEKARANG! Aku mau sekarang! Bagaimana jika terjadi sesuatu dan aku tidak bisa melihat ayah."
"Aku sudah katakan Ayah akan baik-baik saja."
"Aku ingin pulang...." Tangisan Selena masih terdengar sesenggukan.
"Aku akan mengecek penerbangan. Kita tidak bisa langsung pergi sekarang."
"Hikkkss.... hikkkss..." Selena menangis, ia menghentikan perlawanannya.
Zionathan membelai dan mengecup rambut Selena dengan lembut. Memeluknya dengan erat. Ia juga berharap semoga ayah mertuanya baik-baik saja. Melihat Samuel menangis hatinya juga diliputi rasa sedih yang mendalam. ini pun berat baginya.
Sementara Selena hanya menangis sambil mencengkram kaus Zionathan dengan erat. Ia pun berusaha untuk tenang.
⭐⭐⭐⭐⭐
SIANG HARI DI KOTA PARIS.
Maskapai penerbangan di dunia tentu sudah memprediksi hal ini. Perusahaan pembuat pesawat pun telah mendesain pesawat yang bisa beroperasi saat hujan bahkan ketika salju turun. Maskapai penerbangan pun sudah membuat prosedur keamanan untuk menghadapi kondisi salju yang turun dengan lebat. Apalagi untuk memutuskan pesawat bisa mengudara.
Selena bersyukur jadwal penerbangan mereka tidak ada halangan. Mereka sudah bersiap-siap menuju bandara. Selena banyak diam. Kekhwatiran di wajahnya tak bisa ditutupi. Hal itu terus menerpa Selena. Bahkan di pesawat pun Selena tak bisa tertidur nyenyak. Ia gelisah dan berbalik ke sana kemari. Perjalanan yang memakan waktu lama itu, terasa semakin lama menurutnya.
Zionathan bisa melihat itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Zionathan hanya bisa mengusap tangan istrinya, memberikan ketenangan lewat sentuhannya. Tetap berada di sisi wanita yang sangat dicintainya itu.
Akhirnya mereka pun tiba. Selena mengembuskan napas lega. Penerbangan mereka tidak ada kekurangan suatu apapun. Zionathan merangkul bahu Selena saat turun dari pesawat. Setelah melewati penerbangan yang cukup panjang. Zionathan pun mengeratkan rangkulan dan membuat Selena menempel pada tubuhnya. Ia lalu mengusap-usap lengan Selena dengan lembut.
"Tenanglah, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai. Semua akan baik-baik saja."
Selena menggigit bibir bawahnya. Alisnya mengerut. "Tapi katanya ayah belum sadar dari koma, aku takut sesuatu terjadi pada ayah."
"Hmm. Aku tahu sayang. Kita terus berdoa, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk." Zionathan berusaha menenangkan istrinya itu. Zionathan pun mengecup cepat kening Selena sambil berjalan. Ia pun takut, karena Samuel menghubunginya sebelum berangkat ke bandara. Detak jantung ayahnya semakin menurun.
Setelah melewati proses pemeriksaan imigrasi. Mereka berjalan terburu-buru untuk keluar dari bandara. Alex sudah stand bye menunggu di depan pintu kedatangan, siap menjemput mereka. Zionathan dan Selena segera mendapatinya tanpa istirahat atau melepaskan barang. Selena meminta untuk langsung menuju ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
"Kita ke rumah sakit."
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^