Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SETELAH SEKIAN LAMA.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Hari ini bagi Selena cukup panjang, seharian bergelut dengan pekerjaan yang bisa dikejarnya. Pekerjaannya benar-benar menumpuk dan sedikit demi sedikit bisa diselesaikan. Selena bersyukur mempunyai sahabat yang pengertian. Sepanjang ia menyelesaikan tugasnya. Chesa dan Ferdinand menemaninya lewat video call. Waktu benar-benar tidak terasa. Akhirnya pekerjaannya yang menumpuk selesai juga. Selena bernapas lega.


Selena mengusap wajahnya dengan tangan. Ia merenggangkan otot-ototnya, lalu menatap langit-langit ruangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia akhirnya memutuskan untuk merapikan meja kerjanya. Setelah selesai, Selena melangkah meninggalkan ruangannya. Kantor sudah sangat sepi. Ia mempercepat langkahnya saat berada di koridor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, langkahnya semakin di percepat.


Saat berada di depan pintu utama. Pak Simon salah satu orang kepercayaan Lucius tersenyum dan sedikit menundukkan kepala ke arah menyapa dengan santun menujukkan rasa hormatnya.


"Selamat malam ibu Selena," Security yang berjaga di pos menyapa Selena dengan senyum ramahnya.


"Selamat malam pak," Selena balik menyapa dan tersenyum ramah kepada pria itu.


"Pak direktur meminta saya mengantar anda bu Selena." Ucap pria itu dengan sopan.


"Dia lagi?"


"Saya tidak perlu diantar pak, saya bisa pulang sendiri."


"Tapi, sebelumnya saya minta maaf bu. Ini langsung perintah dari pak direktur."


"Saya sudah bilang tidak perlu diantar. Terima kasih atas bantuannya." Selena menunduk 45 derajat seraya berterima kasih, lalu melangkah pergi.


"Tapi bu?" Simon mencoba menghentikan langkah Selena.


"Ya. kenapa lagi pak?"


"Anda tidak akan menemukan taksi di jam seperti ini bu. Jadi izinkan saya mengantar anda pulang." Simon segera membukakan pintu mobil bagian belakang. Seperti yang biasa ia lakukan selama ini untuk pak direktur.


Selena mengembuskan napas panjangnya, namun kali ini diikuti putaran bola matanya. "Saya sudah bilang tidak usah repot-repot pak,"


"Tapi bu? pak direktur akan marah jika saya tidak mengantar anda pulang."


"Saya yang bertanggung jawab, bapak tak perlu khawatir. Saya permisi pak!" Selena sedikit menundukkan kepalanya. Ia pun pergi meninggalkan lelaki itu.


Selena menarik napasnya saat melihat taksi melaju ke arahnya. Ia berlari ke arah taksi yang sedang berhenti menurunkan penumpangnya. Kakinya bahkan sampai terkilir dengan heels yang dikenakannya. Begitu di dalam taksi, Selena segera mengatakan alamat yang ditujunya.


"Kita apartemen diamond ya pak. Tapi sebelumnya kita mampir ke supermarket dulu."


"Baik nona."


Di tengah perjalanan.


Selena tengah asyik membalas pesan WhatsApp dari Ferdinand. Ia terkadang tersenyum sendiri saat Ferdinand mengirimkan foto-foto mereka semasa kuliah dulu.


Mobil taksi itu berhenti tepat di depan toko minimarket seperti yang diminta Selena.


"Kita sudah tiba di supermarket nona."


"Oh ya, maaf pak." Selena memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas. "Tunggu sebentar ya pak."


Selena segera turun dari mobil, Ia terpaksa berlari-lari kecil menerjang gerimis menuju minimarket untuk mencari barang-barang yang biasa dibutuhkan oleh wanita. Sebelum tamu bulanannya datang, Selena harus stok barang itu.


"Apa ada tambahan lain nona?"


"Saya rasa cukup." Kata Selena.


Semua barang-barangnya sudah di hitung oleh kasir. "Anda mendapatkan coffee gratis dari kami nona." Kata pelayan kasir kepada Selena.


"Terima kasih. Minuman ini sangat membantu di udara dingin seperti ini." Ucap Selena menerima coffee gratis dari wanita itu. Ia pun membawa barang-barangnya dan segera keluar dari supermarket.


Saat melangkah keluar ke arah pintu. Tiba-tiba muncul seorang wanita dan menabraknya.


"Aaahhhh..." Selena reflek menahan rasa sakit karena terkena air panas. Coffee yang dibawanya tertumpah ke tangannya.


"Kau tidak punya mata ya? " bentak Selena menegur wanita itu.


"Kau yang tidak punya mata, kenapa juga memegang coffee sambil bawa barang banyak seperti itu. Dasar kampungan!" Sarkas wanita itu dengan mata mendelik tajam menatap Selena.


Selena terbelalak, bukannya minta maaf tapi wanita itu bahkan membentaknya.


"Pasti ujung-ujungnya minta ganti rugi." Ucap wanita itu tersenyum sinis.


"Apa?" Ucap Selena kembali di buat terkejut dengan perkataan wanita itu.


"Bukankah begitu, biasanya orang rendahan seperti kamu pasti mintanya ganti rugi." Ejek wanita itu.


"Hanya karena coffee ini, saya minta ganti rugi? Apa aku serendah itu?" Selena mulai meninggikan suaranya.


"Sudahlah, tidak perlu munafik. Saya ganti rugi untuk pengobatan tanganmu yang terkena tumpahan coffee itu."


Wanita itu mengeluarkan beberapa uang kertas dari tas selempang yang dikenakannya. Selena sudah nampak kesal ia mencengkram tangan wanita itu dan menarik tangannya agar semakin mendekat ke arahnya


"Aaarggghh!" Cengkraman pada tangannya begitu kuat. kini jarak mereka cukup dekat. Mata mereka sama-sama memancarkan kemarahan.


"Kau menghinaku?" Ucap Selena menggeram, rahangnya mengencang kuat. Tatapan saat ini siap menelan wanita itu.


Seorang pria menerobos masuk ke supermarket dan memanggil nama seseorang. "Amora...."


"Lepaskan..." Amora berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari Selena. Namun Selena masih menahannya.


"Kau terlalu sombong, lihat tampang jelekmu membuat aku mau muntah." Desis Selena dengan tatapan tidak suka.


"Apa?"


"Hei! apa yang kau lakukan?" Ucap pria itu melangkah panjang menghampiri Amora yang sedang berdebat dengan seorang wanita.


Mendengar suara yang tidak asing, Selena reflek melepaskan tangan wanita itu. Jantungnya berdegup kencang. Hembusan napas Selena terdengar tak beraturan. Selena ketakutan. Ia membeku ditempatnya. Siapa yang tak kenal pria itu. Selena pernah melaporkannya ke polisi. Pria itu sempat mendekam di penjara karena terbukti bersalah telah melecehkan Chesa. Ia juga dikeluarkan dari kampus karena telah mencemarkan nama baik kampus.


"Kau?" Kata pria itu mengerutkan keningnya.


"Kau mengenalnya?" Kata Amora menahan emosi, ia melihat ke arah tangannya yang memerah, akibat cengkraman tangan dari Selena.


Dengan cepat Selena berbalik dan ingin meninggalkan tempat itu. Namun Jack menghentikan langkahnya.


"Tunggu!"


"Kau pergi begitu saja tanpa menyapaku, Selena." Kata Jack tersenyum jahat.


Selena menarik napas panjang dan membalikkan badannya. "Aku tidak mau memperpanjang masalah ini. Sekarang masalah ini aku anggap selesai."


"Enak saja, kau tidak boleh pergi begitu saja." Mata Amora memicing tajam.


Jack tersenyum lagi. Kali ini senyumnya mengandung sejuta makna. "Amora, apa yang terjadi sebenarnya?"


"Dia memerasku."


"Jaga ucapan mu! " Kata Selena tak terima.


"Memeras?" Kata Jack menatap Selena dari atas kepala sampai ujung kaki Selena. Entah mengapa Juniornya langsung bangun dari balik celana jeans yang dikenakannya. Ia masih begitu tergila-gila dengan Selena. Tapi ia tidak pernah berhasil mendapatkannya.


"Aku tidak memerasnya. Sekarang kau jujur, siapa yang salah di sini. Aku atau kau?"


"Ya jelas kau dong. Kau yang gak punya mata. Coffee itu tertumpah ke tanganmu dan kau minta ganti rugi." Sinis Amora.


Selena semakin tak nyaman saat Jack memperhatikannya seperti itu. Mata liarnya terus bergerilya. "Oke, aku minta maaf. Sekarang apa yang kau inginkan?"


Jack mengangkat tangannya agar meredam emosi ke dua wanita ini, "Lebih baik kita periksa cctv, mungkin ini lebih baik."


Selena menarik napas dengan mulut terbuka. Jack sengaja menahannya di sini.


"Bagaimana Selena? adik saya ingin keadilan." Jack sengaja menyindir Selena.


Kesabaran Selena mulai hilang, ia kembali mencengkeram tangan wanita itu dan membawanya ke kasir untuk memeriksa CCTV.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku brengsek." ucap Amora tidak suka saat tangannya ditarik paksa.


Jack hanya tersenyum. Keberanian Selena tak berubah. Itu yang membuatnya semakin tertarik ingin merasakan tubuh mungilnya.


"Lepaskan aku!" bentak Amora.


"Aku akan melepaskanmu setelah melihat CCTV ini." Ucap Selena.


Jack semakin terkekeh, ia terus memperhatikan bokong Selena yang seksi.


"Saya ingin anda menunjukkan video dari cctv lima belas menit yang lalu. Sekarang!" Perintah Selena tidak sabaran. Ia ingin memberi pelajaran kepada wanita sombong ini.


"Baik nona." Kata wanita yang bertugas di kasir.


Dari tadi handphone Selena berdering, namun ia mengabaikannya. Wanita penjaga kasir itu menunjukkan video. Jelas sekali Amora yang asyik melihat ponselnya dan menabrak Selena. Setelah melihat video itu, Jack tersenyum.


"Semua sudah jelas, siapa yang salah di sini. Kalau begitu masalah ini selesai." Kata Selena menatap Amora dengan tajam.


Amora membuang mukanya tidak suka. Ia tidak ingin melihat Selena.


"Baiklah, masalah ini selesai. Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu. Bagaimana Selena?"


"Kau bisa bersenang-senang dengan wanita lain." Ucap Selena dingin. Ia lalu melangkah cepat keluar dari Supermarket.


Saat berada diluar. Selena mengembuskan napas lega. Ia bersyukur bisa terlepas dari pria itu. Ia berlari ke arah taksi yang sudah menunggunya.


"Maaf pak membuat anda menunggu lama." Kata Selena sambil menutup pintu mobil. " Sekarang kita jalan."


"Tidak apa-apa nona. Ini sudah pekerjaan saya."


"Terima kasih atas pengertiannya pak."


Pria itu hanya tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya. Selena menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sambil memejamkan matanya. Hari ini nasibnya begitu sial. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Jack. Bukankah dia sudah menetap di luar negeri? Kenapa ia bisa kembali lagi?


"Nona, sepertinya mobil sedan merah itu mengikuti kita." Lelaki paruh baya itu melihat Selena dari kaca spion yang ada di tengah mobil.


Selena tersentak, dengan cepat ia membalikkan badannya melihat ke arah belakang. "Apa bapak yakin?" tanya Selena mengerutkan keningnya.


"Benar nona. Tadi saya melihat mobil itu berhenti di depan supermarket juga. Saat mobil taksi ini jalan, mobil sedan itu mulai bergerak mengikuti mobil ini."


DEG!


"Apakah itu Jack? Oh my God! apa yang harus aku lakukan?" Ucap Selena dalam hati.


"Tidak apa-apa pak, anda tetap fokus ke jalan saja." Selena berusaha tenang. Walau sejujurnya ia gelisah. Dia masih curiga siapa yang berani mengikutinya.


Sopir taksi tak menjawab, ia hanya bergerak membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


Selena menarik napas dalam-dalam. Ia sesekali melihat ke belakang. Hatinya tidak tenang. Tiba-tiba mobil itu hilang. Lagi-lagi Selena bernapas lega.


"Maaf nona, mobil tidak bisa masuk. Jalan sudah di tutup. Portal juga sudah dipasang." kata pria paruh baya itu memarkirkan mobilnya jauh dari apartemen diamond.


"Tidak apa-apa. Saya bisa jalan pak." Kata Selena mengeluarkan uang dan memberikannya kepada lelaki paruh baya itu. "Ambil saja kembaliannya pak." ia pun keluar dari mobil itu.


"Terima kasih nona."


"Sama-sama pak."


Selena tersenyum menganggukkan kepalanya. Mobil taksi itu pun meninggalkan apartemen diamond. Selena menarik napasnya lagi. Ia melangkah berjalan menuju pagar yang sudah tertutup rapat itu.


"Setelah sekian lama tak bertemu, kau mengabaikanku begitu saja cantik."


Deg!


Selena terkejut dan menjatuhkan semua barang miliknya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan Ia melihat Jack bersedekap, dengan posisi sangat santai sambil menyilangkan kakinya. Ia bersandar di depan mobil sedan hitam miliknya.


"Aku pastikan malam ini, kau tidak bisa lari lagi."


Selena menggelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah dan beberapa detik kemudian Ia berlari sekencang-kencangnya.


"Tolong....!!!!!!"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.