Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SURAT PERJANJIAN.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Zionathan keluar dari kamar mandi, ia sudah berpakaian rapi dengan celana dan kemeja. Sepertinya ingin pergi.


"Aku akan menghubungi pelayan hotel untuk membantumu membuka gaun itu." Suara Zio melembut. Ia bersandar dengan posisi setengah duduk di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur.


Selena tak menggubris, ia duduk ditepi ranjang dengan pandangan kosong.


Karena tidak ada jawaban, Zionathan kesal lagi. "Apa kau mendengarnya?"


"Aku bisa mengurus diriku sendiri." Jawab Selena ketus tanpa memandang.


"Itu memang lebih bagus. Semakin kau mengerti posisimu, semua tidak akan sulit."


Samar, Selena dapat melihat wajah datar Zio yang terkena cahaya lampu kamar hotel. Sudut bibir kanannya sedikit terangkat membentuk lengkungan.


"Apa kau tidak mau menggunakan tiket itu? Kau bisa berlibur." Zionathan kembali memberikan penawaran.


"Aku tidak mau." Tanpa pikir panjang Selena menjawabnya dengan tegas.


"Baiklah. Aku juga tidak mau memaksamu. Aku bisa memberikan tiket itu kepada Alex. Tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?" tanya Selena dengan kerutan dahi sambil meremas erat-erat gaunnya.


"Selama dua minggu, kau harus berada di sini. Tanpa menghubungi keluarga atau siapa pun itu. Saya tidak mau ayah mengetahui hal ini."


Tangan Selena mengepal kuat. Ini namanya pemaksaan. "Apa anda sudah benar-benar gila!" Selena mendengkus kesal menyikapi kesombongannya.


"Aku tidak mau berdebat, lakukan saja perintahku."


Selena tidak tahan lagi, ia bangun dari duduknya. Semenjak ia bertemu dengan Lelaki angkuh ini tekanan darahnya selalu naik. Emosinya membuncah. "Dengar pak direktur angkuh!" Telunjuk kanan Selena menunjuk ke wajah Zio yang menjengkelkan itu. "Suatu saat, jika anda selalu bertindak semaunya. Aku akan membeberkan semua kepada ayah Alberto."


Setelah menyampaikan uneg-unegnya, Selena langsung masuk ke kamar mandi dan membanting pintu itu cukup keras. Zionathan reflek menutup matanya karena terkejut. Ia menghela napas, lalu meninggalkan kamar hotel.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Kancingnya sudah terbuka nona," ucap pelayan itu menunduk sopan.


"Ahhhhh...." Selena bernapas lega setelah semua benda yang di atas kepalanya lepas dan gaun pengantinnya sudah berhasil terbuka.


"Maaf, nona. Kami juga menyiapkan pelayanan kamar ekslusif. Jika anda bersedia, kami bisa menyiapkannya."


Selena memicingkan matanya dan sepersekian detik bibirnya mengulas senyum. "Ide bagus. Kebetulan sekali aku butuh pijatan."


Pelayan itu tersenyum. "Baik nona. Kami akan mempersiapkannya."


Selena mengangguk mengizinkan pelayan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Dengan segera pelayan mengambil sesuatu dari laci lemari di sisi seberang.


"Pakai ini dulu nona," Pelayan wanita itu mengulurkan handuk berbentuk kimono ke hadapan Selena.


"Oke," jawab Selena antusias.


Tak beberapa lama, pelayan kembali melangkah mendekat ke arah selena. "Sudah siap nona, silakan rebahan di atas kasur."


Selena mengangguk, ia pun merebahkan dirinya. Tubuhnya mulai dipijat dengan minyak esensial beraroma zaitun yang memberikan relaksasi. Aroma terapinya bisa menenangkan pikiran dan merilekskan tubuhnya sejenak. Ia menikmati pelayanan kamar super VIP. Usai itu pelayan hotel meminta Selena mengenakan masker di wajahnya dengan mentimun segar untuk merilekskan mata.


Anggap saja liburan. Walau esok atau lusa Selena akan menghadapi masalah yang lebih berat lagi. Untuk kali ini, Selena ingin menikmati indahnya me time. Tanpa pekerjaan, tanpa masalah kantor dan tanpa memikirkan lelaki arogan yang terus menyakitinya. Benar-benar sendiri dengan jiwa bebas. Dehumidifier yang memancarkan aroma relaksasi pun terus dinyalakan. Suhu ruangan berkasur besar itu pun sudah di setting sesuai kenyamanan Selena. Tertidur terlentang di atas kasur dengan menggunakan bathdrope. Dengan tinggi bantal yang pas untuk menyandarkan kepala dan tengkuknya.


Setelah tubuhnya dipijat, Selena meminta pelayan wanita itu meninggalkannya. Ia ingin membilas tubuhnya sendiri. Tak beberapa lama


Selena masuk ke kamar mandi yang luas dan mewah itu. Sesuai kelasnya, di kamar mandi sudah tersedia berbagai produk perawatan tubuh dan ala spa. Lilin dan aroma terapi di nyalakan Selena. Ia mandi dan berendam. Menikmati aroma zaitun yang menggoda, meresap ke setiap pori-porinya.


Saat pikirannya tenang, tiba-tiba Selena mengingat isi dari surat perjanjian pernikahan yang diberikan Zionathan kepadanya. Kesepakatan pernikahan yang memuakkan itu membuatnya ingin meledak.


"Pernikahan ini tidak mengikat kita. Tapi ada aturan-aturan yang harus disepakati."


Selena memenjamkan matanya saat mengingat lelaki itu begitu tenang mengatakannya.


"Pertama, selama satu tahun saya tidak bisa memberikan biaya hidupmu. Itu artinya kamu tidak mendapatkan uang dariku. Sama sekali Tidak ada. Semua keperluan dapur, kamu tidak perlu khawatir. Pelayan bisa menyiapkannya. kamu tinggal mengolahnya."


"Kedua, Selama di kantor kita hanya rekan kerja. Aku bos dan kau sekretaris. Jangan pernah menganggap bahwa kamu adalah nyonya Lucius."


"Ketiga, Kita berada di satu kamar. Tapi kau tidak boleh tidur di atas kasurku. Terserah mau tidur dimana, mau di sofa atau di lantai. Kau tinggal memilihnya...."


"Keempat, lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Dalam arti kata kau menyiapkan semua keperluanku."


"Kelima, di depan ayah dan ibu, kita harus menjadi pasangan suami-istri. Jangan sampai ayah dan ibu tahu surat perjanjian ini."


"Keenam, kau tidak boleh ikut acara keluarga Lucius. Kau bisa mencari alasan apapun untuk menghindari acara itu. Tapi jika ayah menginginkan kehadiranmu. Mungkin saya bisa mempertimbangkannya."


"Jika kau memenuhi syarat dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Kita balik ke pasal pertama. Kau tidak harus menunggu satu tahun. Satu bulan kau bisa mendapatkankan hakmu. Kartu kredit, mobil atau fasilitas lainnya. Tapi ingat kecuali pasal ke tiga. Jangan mengharapkan tidur bersamaku."


"Haaaaa...." Selena membuang napas dengan mulut terbuka. Kata-kata itu menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Bagaimana ia bisa diperlakukan seperti ini.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Zio...." Arthur melambaikan tangannya.


Zionathan melemparkan tatapannya. Ia menemukan Arthur tengah duduk bersama dua orang wanita. Zionathan melangkah mendekat.


"Banyak cafe di pinggir jalan dan kau tidak harus mengajakku ke sini. Kau tahu aku tidak suka tempat seperti ini." Zionathan mendengkus.


"Hahahaha," Arthur tertawa. "Jangan terlalu anak polos dude, silakan duduk!"


"Saya tidak mau duduk jika ada mereka."


"Ah...kau tidak berubah." Arthur tertawa awkward. Ia lalu memberi kode kepada dua wanita itu agar meninggalkan mereka.


Arthur kemudian menyodorkan gelas kosong kehadapan Zionathan. "Tempat ini bisa melepaskan stres, menghilangkan beban pikiran dan kau bisa mencari wanita untuk bersenang-senang."


"Melepaskan stres tidak harus ke tempat seperti ini." Protes Zio.


Arthur mencondongkan badannya, rasa penasaran membuat Arthur menghubungi sahabatnya itu. "Aku penasaran, akhir-akhir ini berembus kabar mengenai pernikahanmu. Apa kabar itu benar?"


Zionathan menaikkan alisnya, menatap Arthur dengan heran. "Pernikahan?" Ia pura-pura bingung.


"Hmm. Apa benar kabar itu?"


Zionathan menatap datar, seperti tidak terjadi apa-apa. Ia tersenyum sekilas lalu menatap ke arah lain. "Dari mana kau tahu kabar itu dan siapa yang menikah?"


Arthur kemudian menepuk meja. "Aku juga sudah menduga itu. Mana mungkin Zionathan menikah, yang aku tahu kamu belum bisa melupakan Olivia."


Zionathan memilih tak berkomentar. Ia menarik napas singkat dan kemudian menyesap minuman yang ada di depannya.


"Aku dengar Ferdinand sudah menetap di Jepang. Dia sukses di sana, Zio."


"Bisakah kita tidak membahasnya?"


Arthur terkekeh, ia tahu Zionathan pasti kesal Jika membahas Ferdinand. Bukannya diam, ia melanjutkan ucapannya. "Ferdinand juga sepertinya sudah bertobat, dia tidak lagi gonta-ganti pasangan. Apa kau percaya itu?" Arthur tertawa di ujung kalimatnya.


"Bagaimana dengan kau. Aku dengar kau mengambil gadis baru lagi, dimana Rebecca? Apa kau sudah membuangnya?" Kata Zionathan tersenyum smrik.


Wajah Arthur langsung berubah. "CK..." Ia berdecak tidak suka.


"Kau tidak menjawab, apa kau sudah membuang Rebecca? Setelah malam itu Rebecca menolakmu untuk bercinta?" Zionathan menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Tambahkan Wine, seperti biasa ya. Ada sahabatku yang bayarnya." Ucap Arthur kepada pelayan wanita.


"Baik tuan."


Arthur kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku masih berhubungan dengan Rebecca. Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan ini. Aku yakin dia akan merangkak dan bersujud di kakiku. Aku masih ingin bermain-main dulu. Setelah aku menghancurkannya. Disitu lah aku akan membuangnya seperti sampah." sinis Arthur.


"Percaya diri sekali kau. Jangan terlalu menyakiti wanita. Kau tidak tahu jika Rebecca mempunyai keluarga yang kuat. Mereka tidak memberi ampun jika seorang lelaki menyakiti adiknya. Hati-hati Arthur. Aku tahu bagaimana keluarga mereka." Zionathan kembali mengingatkan agar Arthur memikirkan ulang rencananya.


"Apa kau pikir aku takut, aku sudah bilang aku tidak takut dengan siapapun. Termaksud itu keluarganya. Rebecca akan mengemis di kakiku. Lihat saja." Desis Arthur tersenyum sinis.


"Jadi kau sengaja menghubungiku untuk mengatakan itu?"


"Itu salah satu. Aku ingin meminjam uang Dude."


"Aku sudah yakin itu." Zionathan menggelengkan kepalanya.


"Aku harus mendapatkan uang."


"Kenapa kau begitu membencinya? Bukankah Rebecca sangat mencintaimu?" Kata Zio menyesap minuman yang ada di tangannya secara perlahan. "Jangan bilang kau membencinya karena kau di tolak pada malam itu, Arthur."


"Tidak juga? masih banyak wanita yang menyerahkan tubuhnya dengan suka rela di hadapanku dan bahkan lebih indah dari tubuh Rebecca." ejek Arthur tersenyum kecut.


"Jadi apa yang membuatmu sakit hati sampai harus membuangnya seperti sampah?" Tanya Zionathan lagi.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Suatu saat kau akan tahu Zio. Sekarang aku mau pinjam uang. Kau bisa memberikannya kan?" Kata Arthur mengalihkan pembicaraan.


"Berapa yang kau inginkan?"


"100 juta."


"Baiklah, aku langsung transfer."


Pria yang berwajah dingin, dengan tatapan Arthur yang kebanyakan datar itu tersenyum. "Terima kasih Zio." ucapnya tersenyum sumringah.


Sementara Zionathan kembali memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Mereka larut ke dalam pikirannya. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Surat perjanjian suka-suka Zionathan nih... peraturan yang membuat emosi Selena meledak. Hahahaha


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^