
Pagi ini Ziano merasakan ada yang berbeda pada Sandra, biasanya dia selalu banyak tanya dan cerewet, namun pagi ini Sandra diam seribu bahasa.
"Emm... masakan kamu enak." Tidak seperti biasanya, Ziano memulai pembicaraan sambil memperhatikan Sandra yang sedang makan.
"Oh iya, makasih Mister Zi." jawab Sandra dengan nada datar.
Ziano nampak kebingungan, dia harus bicara apa lagi. Tapi dia rasa dia tidak berbuat sesuatu yang membuat Sandra marah. Dia memang tidak mengerti dengan sifat wanita itu.
Bahkan saat dia mengantar Sandra ke laundry, Sandra tidak berbicara sepatah katapun. Sesekali Ziano melirik ke arah Sandra, wanita itu tidak seperti biasanya, mengapa dia jadi mendadak diam.
"Makasih tumpangannya." Hanya itu yang Sandra ucapkan pada Ziano sebelum turun dari mobil.
Wanita memang sulit untuk dimengerti, Ziano hanya bisa menatap Sandra yang masuk ke dalam laundry Qu.
"Hmm... ada apa dengan dia?" Tapi Ziano tidak mau ambil pusing. Apalagi hari ini dia juga mau bekerja.
Di laundry Qu, terdapat dua orang wanita yang melamun dengan pemikiran masing-masing.
Viona yang merasa deg-degan karena hari ini dia akan bertemu dengan mertuanya. Dan Sandra yang merasa dia mungkin tidak ada artinya di mata suaminya, sakit jika mengingat pembicaraan mereka.
Tentu saja, mereka saling curhat.
"Hmm... aku juga memang ngeri saat melihat Pak Anderson, tapi siapa tau kan dia tiba-tiba luluh sama kamu." Sandra mencoba menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya itu.
"Tapi aku benar-benar deg-degan San. Makanya semalam aku susah tidur. Tapi gak mungkin kan aku bicara sama Daniel, bagaimana pun juga Daniel adalah anaknya." Viona memegang dadanya yang terus berdebar-debar.
"Apapun yang terjadi nanti, aku harap kamu jangan menyerah, anak kamu butuh ayahnya, dan Daniel sangat mencintai kamu."
"Em... iya San. Tapi ya sudah sekarang aku ingin bahas masalah kamu itu, jadi orang yang kemarin ke laundry itu masa lalunya Asisten Zi?"
"Iya Vi, aku mendengarnya dengan jelas, saat itu aku pikir tamunya kamu atau siapa, makanya aku ingin ikut menemui tamunya, rupanya wanita yang bernama Melinda itu datang menemui Mister Zi."
Sandra terkekeh, "Kayaknya gak mungkin dia cinta sama kamu. Aku ini bukan tipenya, dia sendiri yang mengatakan itu."
Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat ada Melinda datang sendirian untuk membawa pakaiannya, "Saya mau membawa pakaian saya." ucap Melinda.
"Oh iya tunggu sebentar," Viona segera membawa pakaian Melinda yang sudah di cuci dan disetrika begitu rapi dan wangi, dia memberikannya pada Melinda.
Sementara Sandra memilih diam, dia memilih pura-pura sibuk dengan laptop di depannya.
Setelah membayar harganya, Melinda mengurungkan niatnya untuk pergi, dia menatap Sandra. "Bisa kita bicara."
Sandra yang merasa sedang diajak bicara oleh Melinda, dia langsung menatap ke arah wanita itu.
...****************...
Sandra memilih bicara dengan Melinda di cafe yang tidak jauh dengan laundry Qu. Semalam tanpa sengaja Melinda melihat foto pernikahan Ziano dan Sandra di dinding ruang tengah karena Ziano saat berbicara dengan Melinda, Ziano membuka pintunya. Makanya Sandra bisa melihat sekilas wajah Melinda.
"Hmm... aku tidak menyangka ternyata kamu ini istrinya Ziano." ucap Melinda sambil memperhatikan penampilan Sandra, dia tidak mengerti mengapa Ziano bisa menikahi wanita seperti Sandra.
"Oh iya, memangnya kenapa?"
"Aku sangat tahu sekali tentang Ziano, yang orang tidak tahu sama sekali, tapi aku tahu semuanya tentang dia. Kami dulu begitu dekat, dan sebenarnya kami saling mencintai." Melinda mengatakannya dengan sikap yang elegannya, sama sekali tidak merasa bersalah.
Sandra terdiam menatap wanita itu.
"Aku pernah menikah tanpa cinta, aku tau rasanya bagaimana. Aku tidak ingin Ziano merasakan penderitaan yang sama dengan aku, karena itu aku rasa tidak ada salahnya jika kalian saling melepaskan."
Sandra hanya diam, dia ingin mentertawakan dirinya sendiri, jika Ziano tidak memiliki perasaan padanya dan terpaksa menikah dengannya, mengapa semalam Ziano meminta haknya padanya? Bukannya Ziano orang yang selalu berpikir dahulu sebelum bertindak? Dia juga tidak bisa membaca dengan sikap pria itu.
"Ziano, orangnya terlalu baik. Aku yakin dia gak mungkin tega meninggalkan kamu kecuali kamu yang mengalah. Aku yakin kamu juga gak akan bahagia menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Ini demi kebaikan kalian berdua."