Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
73


"Vio, Kamu dimana?" tanya Sandra begitu menelepon sang sahabat.


"Aku lagi di Villa, kamu kesini aja, nanti aku kirim alamatnya." jawab Viona, saat ini dia sedang duduk bersama Daniel di ruang tengah.


Pria itu terus saja memeluknya sambil menciumi bahu, pipi, dan rambut Viona. Saat ini Viona sedang duduk di pangkuan Daniel.


"Boleh aku kesana?" tanya Sandra, dia memang tidak memiliki tujuan lagi selain Viona, dia takut Andrian masih menunggunya di rumahnya.


"Tentu saja boleh."


"Ya udah, Vi. Aku naik taksi dulu ya."


"Oke San."


Klik!


Setelah menutup panggilan telepon, Viona melihat ada beberapa pesan yang belum dia baca dari Alvin, dia takut Daniel akan salah paham, jadi dia lebih baik menyimpan ponselnya diatas meja. Dia juga tidak tau bagaimana caranya untuk melunasi hutangnya pada Alvin, tidak mungkin dia meminta pada Daniel uang sebanyak itu.


"Katanya mau kerja?"


"Iya sebentar lagi, tapi rasanya gak rela jika beberapa jam aku gak lihat kamu." Pria itu mendadak jadi manja sekali.


"Emm... Daniel."


"Kenapa?"


"Boleh gak aku kerja lagi di laundrynya Sandra?"


Daniel nampak keberatan mendengarnya "Kenapa harus kerja? Aku akan kasih berapa pun yang kamu pinta "


"Ya itung-itung main lah di rumah Sandra. Kan kesal kalau disini terus."


"Main aja, gak usah kerja. Aku gak mau kamu kecapean."


"Kamu tau sendiri kan pekerjaan aku gak berat kok." Viona mencoba menggoda Daniel, dengan mengecup bibir sang suami. "Aku kangen dengan suasana laundry yang dulu."


Daniel terpaksa mengiyakan, "Hm... Ya udah terserah kamu aja, tapi jangan sampai kecapean."


"Iya aku janji."


Daniel mencium bibir Viona kembali, dia memang tidak ingin mengekang Viona, dia takut Viona tidak nyaman dengannya jika dia posesif. Apalagi Viona belum terbiasa dimanja seperti ini, karena dari SMA dia sudah bekerja paruh waktu di laundrynya Sandra. Bahkan setelah nikah pun dia harus membayar biaya cicilan rumah, belum lagi ibu mertua yang selalu meminta uang padanya.


Daniel memberikan kartu Blackcard pada Viona, "Aku gak mau ngekang kamu. Tapi gunakan ini jika kamu menginginkan sesuatu."


Viona nampak sungkan untuk menerimanya, "Tapi..."


"Aku suami kamu, Viona."


Viona terpaksa menerimanya, dia takut Daniel akan kecewa jika Viona menolak blackcard itu.


"Nanti kalau aku pulang, kamu mau aku bawakan apa?"


Viona berpikir sejenak, "Emm... aku belum mau apa-apa, nanti saja aku kasih tau kamu kalau aku menginginkan sesuatu."


Daniel mengusap rambut Viona dengan begitu lembut, "Baiklah."


Viona mengantar Daniel sampai ke depan Villa, Daniel mencium kening Viona. Dan Viona mencium tangan sang suami.


"Aku kerja dulu ya."


"Iya. Hati-hati di jalan."


Daniel menganggukkan kepala, dia tersenyum manis pada sang istri, lalu masuk ke dalam mobil. Rasanya begitu bahagia, ada seseorang yang akan menunggunya pulang tiap hari, apalagi nanti jika anaknya telah hadir, kebahagiaan mereka akan tambah sempurna. Dia berharap mereka bisa secepatnya menikah secara hukum tentu saja harus mendapatkan restu dari Pak Anderson.


...****************...


Seluruh karyawan di kantor merasa heran karena kini Daniel terlihat ceria sekali, bahkan dia terlihat begitu ramah kepada setiap karyawan, padahal selama tiga bulan Daniel telah menjadi bos yang menyeramkan, lebih menyeramkan dari screem.


Setelah melakukan meeting selama dua jam, Daniel terus saja tersenyum membayangkan bagaimana dia bersama Viona semalam, dia tidak menyangka akhirnya Viona kini menjadi istrinya, menjadi miliknya.


Sementara Asisten Zi, tidak konsen bekerja hari ini. Dia masih mengingat tentang kejadian semalam, apalagi saat membuka baju Sandra, tubuhnya menjadi panas dingin dibuatnya. Namun dia kecewa karena Sandra malah pergi tanpa pamit padanya setelah mencuri ciuman pertamanya.


"Asisten Zi!" Asisten Zi dikagetkan oleh Daniel yang beberapa kali memanggil namanya.


"Emm...ada apa Tuan?"


"Hari ini papa mengadakan makan malam bersama keluarga Alexa, sebenarnya aku malas, tapi aku harus datang. Sekalian aku harus bisa membatalkan rencana pernikahan itu. Karena itu tolong antarkan beberapa berkas ini ke Villa nanti."


"Baik, Tuan."


"Hmm...Andrian belum masuk kerja lagi?"


"Belum, dia bilangnya ada urusan keluarga." Walaupun Asisten Zi meragukannya karena teringat perkataan Sandra yang bilang Andrian selingkuh. Harus kah dia menyelidikinya? Tapi atas dasar apa? Biasanya dia menyelidiki sesuatu jika Pak Anderson atau Daniel yang memerintahkannya, tidak pernah urusan pribadinya sendiri.


"Oh iya, aku dengar Sandra main ke Villa, tolong antarkan dia pulang nanti. Bagaimana pun juga dia sahabat istri aku dan dia juga teman sekolah aku."


Deg!


Tiba-tiba Asisten Zi deg-degan mendengarnya. Dia akan bertemu gadis gila itu lagi? Yang sudah menodai bibir dan matanya. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan Daniel.


"Ba-baik Tuan."


Daniel yang sedang sibuk di depan laptop, dia menoleh sebentar ke arah Asisten Zi, tumben Asisten Zi mendadak gagap begitu. Biasanya dia selalu menjawab dengan tegas.