
Berbeda dengan sepasang suami-istri yang lagi bucin-bucinnya. Malam ini mereka tidur bersama sambil berpelukan. Daniel tidak bisa melakukannya setiap hari walaupun dia ingin karena tidak ingin Viona kelelahan gara-gara dirinya.
"Malam ini aku akan berpuasa. Aku gak mau membuat kamu kelelahan." ucap Daniel sambil memeluk Viona.
"Hm... ya sudah." Viona mengangguk saja, dalam hatinya tak percaya kalau Daniel bisa berpuasa.
Pria itu terus saja menciumi wajah Viona, membuat Viona tidak bisa tidur.
"Kapan aku tidurnya jika kamu begini terus?" protes Viona.
"Salahkan wajah kamu mengapa kamu sangat cantik." Daniel mencium pipi Viona kembali.
Sebenarnya Viona tidak bisa tidur karena dia harus bertemu dengan Pak Anderson besok, dia sangat gugup sekali bagaimana jika Pak Anderson tidak menerima kehadirannya nanti.
"Apa kamu beneran siap bertemu papaku?"
"Tentu saja."
"Jika belum siap, jangan memaksakan diri. Kita bisa mengunjungi papa kalau kamu sudah benar-benar siap."
Viona memegang wajah Daniel, "Aku ingin bertemu papa kamu besok. Aku hanya gugup bagaimana jika papa kamu tidak menyukai masakan aku."
"Masakan kamu sangat enak. Aku yakin papa pasti menyukai masakan kamu."
"Aku harap begitu. Ya sudah, lebih baik kamu juga tidur."
"Aku gak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Aku lagi ngidam buah melon."
Memang selama ini lebih banyak Daniel yang ngidam, karena itu Viona sengaja membeli banyak buah-buahan untuk dirinya dan Daniel "Ya sudah, aku bawakan di kulkas." Viona mencoba bangkit dari tidurannya tapi di tahan oleh Daniel.
"Mau kemana?"
"Katanya mau buah melon?"
Daniel malah terkekeh, dia mer3mas dengan gemas buah dada Viona, "Ini buah melon kesukaan aku. Aku lagi ngidam ini."
"Hm?"
Daniel membuka kancing baju Viona, dia mengangkat bra Viona, dan langsung memasukan bagian puncaknya yang masih berwarna merah jambu itu ke dalam mulutnya, lalu menghisapnya dengan kencang dan kuat.
Padahal hanya ingin makan buah melon, tetap saja dibawah sana langsung berdiri. Begitu juga Viona, dia tidak tahan menahan hisapan Daniel di buah dadanya.
Tangan Daniel langsung merayap masuk ke dalam celana Viona, dia menggerakkan jemarinya disana. "Aku hanya ingin menyetuhnya sebentar!"
Namun gerakan jemari itu entah sampai kapan berhentinya, membuat badan Viona terus menggeliat, kakinya tidak bisa diam menahan segala rasa kegelian. Sehingga akhirnya telah mencapai pelepasannya. "Ahhh... Daniel!"
Daniel membuka celana Viona, dia tersenyum karena sudah membuat Viona basah.
"Bukannya kamu bilang mau puasa?" Padahal Viona tidak memintanya, tapi Daniel dengan percaya dirinya dia bilang tidak akan melakukannya tiap hari.
"Besok saja berpuasanya. Aku gak bisa tidur jika adikku terus berdiri."
Belum juga mendapatkan jawaban dari Viona, Daniel langsung menindih Viona, Viona merasakan ada yang menyeruak masuk memenuhi miliknya. Padahal mereka sudah sering melakukannya tapi milik Viona sangat terasa begitu sempit.
Viona memeluk erat punggung Daniel, pria itu begitu gagah dan kuat , terus menggerakan pinggulnya, bergerak keluar masuk dengan ritme perlahan tapi pasti, sesekali mencium bibir Viona, dan melahap kembali buah melonnya.
"Aaahhh...Ahhh..."
Keduanya mengerang panjang begitu sama-sama sudah mencapai puncaknya.
...****************...
Pagi ini Viona memasak semua makanan kesuksesan Pak Anderson, dia harap Pak Anderson bisa menyukai masakannya.
Viona melihat Daniel keluar dari kamar mandi, dengan rambutnya yang basah habis keramas, pria itu begitu terlihat menawan dan menggoda karena hanya memakai handuk saja dari pinggang sampai lutut.
Daniel memeluk Viona dari belakang, wangi maskulin pria itu membuat Viona tidak konsentrasi memasak.
"Aku lagi masak." Protes Viona.
"Hanya meluk, masa gak boleh?"
"Di baju dulu gih!"
Daniel terkekeh, "Bilang aja mau lagi, apa gak puas dengan semalam kita sudah melakukannya 4 ronde hm?"
"Katanya mau puasa hari ini?"
"Iya semoga tidak khilaf lagi." Daniel mencium pipi Viona lalu masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaian.
...****************...
Pak Anderson mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di atas meja kebesarannya, dia sedang memikirkan percakapan telepon Daniel dan Viona waktu itu, dia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, berharap pendengaannya itu salah soal Daniel yang membahas kehamilan dengan Viona.
"Padahal aku sudah menyuruhnya pergi, kenapa dia kembali lagi?"
Walaupun tidak jadi dengan Alexa, Pak Anderson berharap Daniel mendapatkan pasangan yang spadan, sama-sama berasal dari keluarga terpandang, bukan wanita seperti Viona. Salahkan jika seorang ayah menginginkan jodoh yang terbaik untuk anaknya? Namun bagaimana jika ternyata Viona hamil anak Daniel? Apalagi dia sudah mendengar gosip yang beredar bahwa Daniel dan Viona sudah menikah siri.