
Asisten Zi nampak gugup begitu dia terus diperhatikan penampilannya oleh kedua orang tua Sandra. Mereka memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah.
Tentu saja pakaiannya selalu memakai brand yang mewah karena dia memiliki gaji yang cukup fantastis.
"Sepertinya kamu bukan orang Indonesia?" tanya tante Riska, memperhatikan wajah Asisten Zi, mungkin seperti Sandra, dia campuran Indo-Thailand. Bedanya Asisten Zi terlihat kebule-bulean.
"Saya dilahirkan di Belanda, dulu tinggal di panti asuhan. Saya di diadopsi dan sudah lama tinggal di Indonesia." jawab Asisten Zi. Dia memang selalu berkata jujur. Wajahnya berkeringat dingin karena tidak tau mengapa orang tua Sandra bertanya soal pribadinya.
"Oh jadi kamu anak panti asuhan?" Papanya Sandra, Pak Lian, dia merasa sedikit menciut begitu mendengar Asisten Zi anak panti asuhan, padahal dia ingin menantu yang bibit bebet dan bobotnya jelas. Tapi mau bagaimana lagi? Sandra sudah semalaman bersama Asisten Zi, dia tidak tau apa yang mereka lakukan selama satu malam itu. Dia juga merasa Asisten Zi kelihatannya cukup baik dan dewasa.
"Iya, betul."
Sandra hanya diam, dia tidak diberi kesempatan untuk bicara.
"Hmm...ya sudah, jangan tegang begitu. Cepat duduk." Tante Riska memerintahkan Asisten Zi untuk duduk. Tante Riska mencoba ingin mencairkan suasana.
Asisten Zi mangut saja, "Emm... iya." Dia ikut bergabung duduk di kursi sofa disamping Sandra dengan terpaut jarak lebih dari setengah meter.
Keduanya kelihatan nampak canggung, karena mereka tidak sedekat itu. Namun rupanya orang tua Sandra berpikir yang lain-lain, mereka pikir Asisten Zi dan Sandra sedang akting agar tidak terlihat memiliki hubungan yang dekat.
Dasar anak muda!
Sandra mencoba menjelaskan semuanya, "Jangan salah paham dulu Mah, aku dan Mister Zi tidak melakukan apapun semalam, iya kan Mister Zi?"
Asisten Zi memang selama ini dia selalu berkata jujur, makanya dia kelihatan tidak siap saat disuruh berbohong oleh Sandra, Sandra tidak memberinya konfirmasi dulu. Karena sejujurnya mereka semalam bohong jika tidak melakukan apa-apa, jelas lah mereka sudah berciuman, dan bahkan masih terbayang saat Asisten Zi mengganti baju Sandra, dia pria normal, pastinya ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya jika mengingat itu.
Susah ku duga pasti dia lupa dengan apa yang telah dia lakukan padaku semalam._ gumam hati Asisten Zi.
Karena gemas, Sandra menginjak kaki Asisten Zi, "Iya kan Mister Zi?"
"Shhh.." Asisten Zi menoleh kesal ke arah Sandra karena Sandra berani sekali menginjak kakinya.
"Iya benar, kami tidak melakukan apapun malam itu." Asisten Zi mengatakannya dengan nada datarnya.
Namun orang tua Sandra tidak mempercayai ucapan mereka, karena mereka juga pernah muda, tidak bisa dibohongi seperti itu, apalagi Sandra anak kesayangannya, mereka tidak akan rela jika anaknya di rusak oleh orang lain lalu dibuang begitu saja.
"Seorang pria dan wanita tinggal bersama selama semalaman, benar kalian tidak melakukan apapun?"
Tidak melakukan apapun? Wajah Asisten Zi dan Sandra memerah begitu mengingat ciuman panas mereka. Sandra bahkan baru ingat saat Asisten Zi mengganti bajunya, terjadi sesuatu yang membuatnya sangat malu.
Sandra terbelalak begitu mengingatnya.
Malam itu Asisten Zi membuka baju Sandra dengan hati-hati dan perasaan berdebar, karena untuk pertama kalinya dia membuka baju wanita, matanya membola begitu melihat tubuh Sandra yang indah dan rata, sampai dia menelan salivanya berkali-kali. Apalagi dia terpaksa harus membuka bra Sandra juga yang basah. Sampai terlihat jelas bagaimana gunung kembar itu itu menggoda dirinya. Membuat tubuh Asisten Zi terasa panas.
Asisten Zi segera ingin memakaikan bajunya pada Sandra, namun wanita itu malah menariknya hingga hampir tubuhnya menindih tubuh Sandra, bahkan kedua dada itu beradu membuat badan Asisten tegang.
Sandra menjambak rambut Asisten Zi.
"Mengapa kamu tega mengkhianati aku Andrian!"
"Dasar pengkhianat kamu!"
"Tega sekali kamu menyelingkuhi aku!"
"Arrggh!" Asisten Zi berusaha bangkit dan melepaskan tangan Sandra, "Aku Ziano, bukan Andrian."
"Mengapa malam ini kamu menggemaskan sekali? Bagiku kamu adalah robot yang tampan."
Cup!
Cup!
Sandra mengecup bibirnya beberapa kali, bahkan wajahnya. Asisten Zi terus berusaha melepaskan tangan Sandra, dia tidak ingin sampai lupa diri malam itu. "Sandra lepas!"
Untung Asisten Zi kuat, dia bisa melepaskan diri godaan Sandra, dia segera memakai bajunya walaupun tangannya tidak sengaja menyentuh benda kenyal itu gara-gara Sandra tidak bisa diam, apalagi tangan Sandra tak bisa diam, dia terus menggerayami tubuh Asisten Zi.
"Oh padahal kamu robot, tapi tubuh kamu sangat indah. Roti sobekmu membuat aku jadi lapar." Bahkan wanita itu menggigit dada Asisten Zi. Membuat Asisten Zi meringis kesakitan.
"Argghhh!"
Sandra membulatkan matanya begitu mengingat malam itu, mengapa dia baru ingat sekarang?
Mungkin karena saat itu dia melakukannya dengan matanya yang sudah mengantuk, namun dia masih terus berulah gara-gara pengaruh minuman beralkohol itu.
Pak Lian dan Bu Riska melihat wajah Sandra dan Asisten Zi memerah ketika ditanya apa benar semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka, terlihat mereka salah tingkah ditanyain seperti itu.
Sudah jelas, pasti terjadi sesuatu. Makanya mereka salah tingkah begitu.
"Kami tidak melakukan apapun." ucap Sandra dan Asisten Zi hampir bersamaan.
Sebagai orang tua, tentu saja Bu Riska dan Pak Lian tidak bisa melepaskan Asisten Zi begitu saja, mengingat dia adalah orang yang telah menghabiskan malam bersama dengan anaknya, walaupun Sandra dan Asisten Zi tidak mengaku, tapi mereka harus memikirkan resiko ke depannya bagaimana. Apalagi anak mereka seorang wanita, wanita yang akan dirugikan jika mereka tidak segera dinikahkan.
"Melihat dari sikap dan penampilan kamu sepertinya kamu orang yang tegas dan bertanggungjawab?" tanya Pak Lian memperhatikan Asisten Zi.
"Tentu saja, saya orang yang seperti itu." Asisten Zi mengatakannya dengan nada datarnya dan tegas pasti.
"Baiklah kalau begitu, kamu harus secepatnya menikahi anakku. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum menikahi anakku. Bagaimana kalau anakku tiba-tiba hamil?"
Sandra dan Asisten Zi terbelalak mendengarnya, "Menikah?"
"Papa, aku dan Mister Zi tidak berbuat macam-macam..."
"Papa ini lelaki, papa pernah muda. Papa tidak mau terjadi hal yang tak diinginkan oleh putri kesayangan papa."
Asisten Zi mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya, "Tapi kami tidak..."
"Begini saja, kalau kamu memang seorang laki-laki yang bertanggungjawab, kamu datang kesini besok untuk menikah dengan anak saya. Kalau kamu tidak datang, jangan pernah bertemu anak saya lagi."
Asisten Zi nampak bimbang, mengapa masalahnya jadi runyam seperti ini. Jangan pernah bertemu dengan Sandra lagi? Bagi dia tidak ada ruginya, toh Sandra bukan siapa-siapa dia.
Sandra mengigit bibir bawahnya, dia jadi merasa tidak enak pada Asisten Zi. Karena kedua orang tuanya salah paham pada mereka. Mana mau pria seperti Asisten Zi menikahi dia.
Lebih baik dia mengirim pesan pada Asisten Zi, walaupun pria itu ada disampingnya.
[Maafkan kedua orang tua aku, besok kamu tidak perlu datang. Biar ini jadi urusan aku dan mama papa. Maaf sudah banyak merepotkan kamu.]
...****************...
...Apa Asisten Zi akan datang atau tidak?...