
Dorr...Dorr...Dorr
Daniel menggedor pintu kamar Ziano dan Sandra.
"Bang, tolongin aku bang."
"Viona mau melahirkan."
Masa bodoh dia mau mengganggu aktivitas mereka atau tidak juga, biar imbang Daniel juga di buat si entongnya merana gara-gara tidak jadi ngegoll malam ini.
Ziano yang masih bergerak di atas tubuh Sandra, dia merasa terganggu oleh Daniel. Padahal tinggal beberapa menit lagi mau menuju pelepasannya.
Dorr...Dorr...Dorr...
"Mas, katanya Viona mau melahirkan." Sandra mencoba mendengar lebih jelas apa yang Daniel ucapkan.
"Tapi ini sebentar lagi..." Namun Ziano kasihan juga jika Viona harus menunggu beberapa menit lagi, nanti bagaimana kalau brojol di jalan?
Ziano terpaksa mencabut si entong, padahal nanggung sekali rasanya, membuat kepalanya mumet. Dia dan Sandra segera memakai pakaian. Kalau tau begini seharusnya dia tadi melakukannya dengan ritme cepat agar cepat keluar.
Ziano segera membuka pintu, "Ada apa ini?"
"Viona mau melahirkan bang, tolong antar kami ke rumah sakit." Daniel terlihat cemas sekali.
"Oh ya udah, ayo kita cepat pergi." Ziano segera mengambil kunci mobil di atas meja di Villa itu.
Mereka pun segera pergi menuju rumah sakit, dengan posisi Ziano dan Sandra berada di depan, sementara Daniel dan Viona berada di belakang.
Namun sialnya karena akhir pekan, keadaan di jalan raya begitu padat kendaraan, menimbulkan kemacetan.
Ziano mencoba menekan klakson beberapa kali, karena dia merasa khawatir melihat keadaan Viona yang sedang berada di pelukan Daniel terus merintih menahan rasa mules di perutnya.
"Aduuhh, aku gak kuat sayang." Keringat bercucuran membahasi pakaian Viona, dia meremas lengan Daniel menahan rasa mulas dan sakit.
"Tahan sebentar ya sayang." Daniel mencoba menenangkan Viona walaupun dirinya sebenarnya sangat gelisah tidak tega melihat Viona merintih seperti itu.
"Shhh... shhh... ahh." Viona sangat kesakitan sekali.
Daniel mencoba menelpon anak buahnya, "Tolong siapkan helikopter ke jalan cempaka dekat Gedung Nugraha." titah Daniel pada anak buahnya sambil memperhatikan ke lingkungan sekitar sana.
"Baik, Tuan."
Klik!
Daniel kembali merangkul Viona yang sedang mengaduh menahan rasa mules di perutnya.
"Aduhhhh sayang...aku gak kuat." Viona merasakan seperti ada yang akan keluar dari dalam isi perutnya.
Sandra segera turun dari mobil, dia ingin mengecek keadaan Viona, dia melihat di balik rok yang Viona pakai. "Wah kayaknya kamu mau melahirkan Vi."
"Wah, bagaimana ini?" Daniel nampak kelimpungan karena helikopter belum datang juga.
"Huhhh...huh...huhhh..." Viona sudah tidak tahan lagi, dia terus mengambil nafas.
Ziano terus menyalakan klakson karena kesal mobilnya terjebak di tengah-tengah kemacetan.
"Huhhh... huuhhh...aku gak kuat...ahhh.."
"Ya udah melahirkan disini juga Vi!" suruh Sandra.
"Bagaimana caranya?" Daniel nampak kebingungan, karena tidak tau caranya mengurus orang yang melahirkan.
"Ada apa ini?" tanya seseorang karena melihat kegaduhan dimobil itu. Kebetulan dia juga sama terjebak di dalam kemacetan.
"Oh Dhika," Rupanya Sandra mengenali orang itu. Begitu juga Daniel dan Viona.
Ziano langsung menoleh begitu Sandra menyebutkan nama Dhika.
"Istriku mau melahirkan kayaknya Dhik." jawab Daniel kepada teman semasa SMA-nya itu.
"Hmm... ya sudah biar aku bantu." Karena kebetulan Dhika juga seorang Dokter, walaupun dia bukan dokter ahli kandungan tapi dia tau sedikit dalam membantu wanita yang sedang melahirkan.
"Tapi..." Tentu saja Daniel sangat keberatan, itu artinya Dokter Dhika akan melihat tempat keluarnya sang bayi. Namun mau bagaimana ini ada dalam keadaan darurat.