
Ziano melepaskan ciumannya sebentar dengan nafas terengah-engah seakan sedang menahan sesuatu, "Harus kah kita pulang saja hari ini?"
"Kenapa mau pulang? Apa fasilitas di rumah sakit ini kurang cocok buat kamu?" Tanya Sandra dengan polosnya.
"Emm... bukan, bukan begitu. Tapi..." Ziano mendadak gagap, dia sangat malu jika bilang dia ingin menuntaskan acara mencetak gol yang pernah sempat masuk sedikit itu.
(Kata salah reader mah membuat Sandra jadi semi perawan hehe)
"Kita nanti pulang lusa saja, aku gak mau sakit kamu makin parah nanti karena belum diperbolehkan pulang."
Tapi Ziano juga akan makin merana karena tak bisa menuntaskan hasratnya, apalagi dia sudah pernah merasakan sang jantan sedikit masuk, rasanya luar biasa nikmatnya, apalagi kalau sepenuhnya masuk dan menggerakkannya di dalam tubuh Sandra.
Ah sangat penasaran pokoknya dengan rasanya.
"Tapi..."
Sandra tidak mendengarkan pembicaraan Ziano, dia memilih untuk mandi dulu. "Aku mau mandi dulu sebentar, Mister Zi."
Sandra segera masuk ke kamar mandi yang ada diruangan VVIP-A3 itu, dia memegang dadanya sambil menyandatkan dirinya di daun pintu.
"Apa dia buru-buru mau pulang karena ingin melakukan itu lagi?" Sandra bergidik ngeri saat membayangkan betapa sakitnya saat Ziano menekan sang junior masuk ke dalam.
Tapi Sandra teringat apa kata Viona, Viona bilang awalnya memang sakit dulu, nanti juga akan merasakan enak malah ketagihan, dia tidak bisa membayangkan senikmat apa penyatuan itu.
"Oke Sandra, kamu harus mempersiapkan diri kamu untuk siap melakukan itu jika Mister Zi sembuh nanti."
Sandra membuka seluruh pakaiannya, membuat dia benar-benar telanjang, dia jadi teringat dengan malam itu saat Ziano meraba seluruh tubuhnya dan melakukan forepl@y, membuat tubuhnya merinding seketika, dia tak bisa mengingkarinya bahwa Sandra sangat menikmati apa yang dilakukan Ziano pada seluruh tubuhnya waktu itu sampai dia telah mendapat puncak pelepasannya.
Sementara Ziano tidak bisa mandi, luka ditubuhnya tidak boleh terkena air dulu, karena lukanya belum mengering. Dia hanya bisa menggosok gigi saja dan pastinya dia selalu memakai parfum agar tetap wangi.
Ceklek!
Ziano yang sedang tidur terbaring di atas brankar menoleh kepada Sandra, matanya tak bisa berkedip melihat Sandra yang terlihat sangat cantik dan menyegarkan, beruntung Sandra sudah memakai pakaian utuh di dalam kamar mandi jadi tidak begitu membuat Ziano tersiksa.
"Mister Zi..."
"Hm?"
"Emm... luka ku tidak boleh terkena air dulu."
"Ya sudah biar aku yang membersihkan tubuh kamu aja."
Ziano sangat malu membayangkannya, walaupun Sandra pernah melihatnya, tapi itu saat rasa malu tersingkirkan oleh n@fsunya, dan sekarang dia sedang ada dalam keadaan sadar.
"Oh gak usah, gak perlu, biar aku saja."
Sandra malah nyengir melihat Ziano yang salah tingkah, "Tidak apa-apa, aku sudah melihat semuanya, apalagi aku istri ini kamu. Mengapa kamu harus malu?"
Ziano terpaksa menyetujuinya, dia memang harus terbiasa seperti ini dengan Sandra. Ziano segera duduk dipinggiran brankar membiarkan Sandra menyeka badannya.
Ziano tidak bisa mengalihkan pandangannya begitu Sandra membuka pakaiannya satu persatu, dia terlihat begitu santai, membuka seluruh pakaiannya.
Dan Sandra mulai mengelap tubuh Ziano begitu lembut dengan handuk kecil yang basah, di mulai dari wajah tampan Ziano, turun ke leher, lalu ke dada, dan sampai ke perutnya yang kotak-kotak.
Sentuhan handuk kecil itu malah membuat Ziano terangsang. Ziano berusaha keras untuk menahannya.
Sandra sebenarnya sangat gugup karena Ziano dari tadi memperhatikan wajahnya, apalagi dia melihat badan Ziano yang sangat menggoda, ingin sekali dia menggigit otot-otot di perut Ziano.
Sandra menggigit bibir bawahnya, dia semakin gugup begitu harus membuka celana Ziano, karena dia harus menggantikan boxer Ziano.
"Bagian itu biar aku saja, aku bisa sendiri!" Ziano seperti seorang gadis yang sangat malu-malu karena akan di buka celananya. Apalagi wajahnya memerah.
"Tidak apa-apa Mister Zi, biarkan aku jadi istri yang baik buat kamu." Sandra tidak menggubris ucapan Ziano.
"Tapi pintu sudah dikunci kan?"
"Sudah."
Sandra segera membuka celana Ziano dengan hati-hati, matanya membulat begitu melihat ada yang menonjol di dalam boxer sana. Sepertinya ada yang sudah berdiri tegak karena ulahnya.
Sandra menelan saliva melihatnya, sudah terbayang bagaimana isi di dalamnya karena dia sudah pernah melihatnya malah merasakanya sedikit. Namun dia pura-pura rilex, Sandra tak langsung membuka boxer Ziano, tapi dia mencoba mengelap dulu bagian kaki Ziano, kecuali yang masih di perban, sampai Sandra mengelap bagian paha Ziano.
Ziano dari tadi sekuat hati menahannya, namun apa yang dilakukan Sandra membuat bira-hinya bergejolak. Ziano sudah tak bisa menahannya lagi dia segera menarik tangan Sandra, dan langsung menyambar bibir Sandra. Sandra sangat terkejut dibuatnya, namun dia tak bisa berbuat apa-apa, sampai handuk kecil itu jatuh ke lantai.