
"Sepertinya ini berlebihan, Tuan." ucap Asisten Zi begitu tau Daniel memberikan kado pernikahan dengan 20% persen saham atas nama Asisten Zi di DG Grup. Mungkin nanti Asisten Zi harus belajar jadi CEO di salah satu perusahaan dibawah naungan DG Grup. Sementara Daniel adalah CEO di kantor pusat, dia yang mengendalikan semua perusahaan dibawah naungan DG Grup.
"Mengapa berlebihan? Bahkan aku sudah anggap kamu itu kakakku, makanya kadang aku tidak nyaman saat kamu panggil aku Tuan. Ini juga memang atas persetujuan papa juga, papa sudah menganggap kamu sebagai anaknya sendiri."
Asisten Zi merasa terharu mendengarnya.
"Emm... oh iya aku sudah merencanakan liburan untuk kita berempat nanti ke Spanyol."
"Kita berempat?"
"Iya, aku, kamu, Viona dan Sandra."
Ketika mendengar nama Sandra, entah mengapa Asisten Zi merasakan jantungnya berdebar, dia merasa gugup jika harus bertemu wanita itu nanti di apartemen, bisa-bisa dia lupa diri jika selalu bertemu dengannya, se apartemen, sekamar pula.
"Sepertinya dari tadi ponsel kamu bergetar." Daniel melihat ponsel Asisten Zi yang bergetar dari tadi.
"Emm... biarkan saja, Tuan." Asisten Zi memang tidak ingin bertemu lagi dengan orang yang telah mengabaikannya.
Daniel mengangguk saja, dia sudah lama tinggal di Belanda dari usia 18 tahun, tentunya Daniel tidak tau siapa saja orang yang dekat dengan Asisten Zi di masa lalu, apalagi Asisten Zi memang jarang terbuka dengan siapapun.
"Hmm... ya sudah, apa semua pesanan aku sudah kamu siapkan?"
"Pesanan untuk om dan tantenya nona Viona?"
"Iya,"
"Sudah Tuan, bahkan sampai tidak muat masuk ke dalam truk."
"Hmm... ya sudah tidak apa-apa. Nanti antarkan saja ke sana, aku dan Viona mungkin malam kesananya."
"Baik, Tuan."
Daniel mengirim pesan pada sang istri, dia merasa bersalah karena semalam sudah membuatnya kelelahan.
[Sayang, mau aku bawakan makanan buat siang ini?]
Tak lama kemudian, Daniel mendapatkan balasan dari sang istri tercinta.
Drrrttt...Drrrttt...
[Gak usah. Hari ini Kak Alvin ingin bertemu aku untuk terakhir kalinya, boleh kah? Di temani Sandra juga. Tapi kalau kamu tidak mengizinkan aku tidak akan menemuinya.]
Daniel memang sangat pencemburu sekali, dia tidak suka istrinya dekat-dekat dengan pria lain, dia menghela nafas dengan pelan berkali-kali, tapi kali ini dia terpaksa harus mengizinkannya. Apalagi pria itu sudah banyak membantu Viona.
...****************...
Viona menemui Alvin di salah satu restoran terdekat dengan laundry Qu, sementara Sandra memilih duduk di meja yang berbeda.
"Semalam suami aku sudah mentransfer uang ke rekening Ka Alvin, apa sudah ada?"
"Iya sudah, padahal seharusnya kamu tidak perlu menggantinya."
"Suami kamu juga mengirim pesan sama aku."
Viona terlihat terkejut mendengarnya, mungkin semalam saat dia kelelahan dan tertidur, Daniel diam-diam melihat nomor Alvin di ponselnya. "Benar kah?"
"Iya, dia bilang terimakasih sudah banyak membantu kamu dan menjaga kamu selama kamu Thailand."
Viona merasa tersentuh mendengarnya, dia tau Daniel pasti cemburu jika mengingat dia dan Alvin sering bersama dalam tiga bulan itu walaupun dalam hal pekerjaan, tapi tak jarang juga Alvin begitu perhatian padanya sampai sering datang ke mess mengirim dia makanan.
"Kelihatannya suami kamu baik sekali, aku merasa lega mendengarnya."
"Hmm... iya dia memang suami yang baik."
"Mungkin kalau suami kamu tidak sebaik dia. Aku bisa tega merebut kamu dari suami kamu itu."
"Hm?" Viona terkejut mendengarnya.
"Ya makanya dulu aku langsung membantu kamu untuk urus perceraian dari mantan suami kamu yang bajingan itu, aku ingin mengambil kamu dari dia, makanya aku menawarkan pekerjaan ke kamu untuk bekerja di Thailand. Tapi setiap aku ingin mengungkapkan perasaan sama kamu, aku merasa ragu, karena aku melihat kamu seperti sedang memikirkan seseorang, dan sekarang aku tahu siapa orang yang selalu kamu pikirkan itu, ternyata dia Daniel, suami kamu yang sekarang."
Viona sama sekali tidak tau perasaan Alvin padanya, dan kalaupun dia tau tetap saja dia tidak bisa menerima perasaan itu karena dihatinya hanya ada Daniel. Cuma dia merasa bersalah pada Alvin, jika dia tau Alvin menyukainya, mungkin dia memilih lebih baik tidak menerima bantuan dari Alvin, karena dia merasa telah menyakitinya.
"Sejujurnya aku suka kamu dari dulu Vi, tapi aku dulu tidak memikirkan tentang cinta, aku ingin fokus belajar."
Viona sedikit menundukkan kepala, "Maafkan aku kak..."
Alvin terkekeh, "Gak apa-apa, gak usah minta maaf. Cinta ini gak ada yang salah kok, hanya saja mungkin datang diwaktu yang tidak tepat. Hmm... tapi aku sangat berharap kamu bisa hidup bahagia bersama suami kamu."
"Aku juga begitu, aku harap kak Alvin cepat mendapatkan pasangan yang bisa mencintai kak Alvin. Kak Alvin orang baik, aku yakin kak Alvin pasti akan mendapatkan jodoh yang baik juga."
Alvin tersenyum penuh haru, "Terimakasih Viona."
"Iya kak, kapan kak Alvin kembali ke Thailand?"
"Sekarang, setelah pergi dari sini."
...****************...
Sementara itu di kediaman Om Ari, Tante Shinta seperti ketiban durian runtuh, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada seseorang pria tampan datang ke rumah mengantarkan banyak sekali barang-barang lebih dari satu truk, berupa sofa yang mewah, kulkas 4 pintu, TV led yang besar, springbed, hampir semua barang dan perabotan rumah telah Daniel kirim. Belum lagi pakaian, tas, sepatu dari brand mewah untuk Om Ari, Tante Sinta dan anak-anaknya.
Dan Viona tidak tau itu.
Padahal Viona hanya mengatakan tantenya suka membeli perabotan rumah dan membeli pakaian diskon, mungkin maksud Viona perabotan rumah itu seperti piring yang harganya 10rbu tiga, atau perabotan yang murah. Tapi Daniel salah pengertian, dia menyuruh Asisten Zi untuk membelikan perabotan rumah apapun untuk keluarga Om Ari, termasuk pakaian untuk mereka.
"Tunggu dulu, sepertinya anda salah kirim, saya tidak membeli semua ini." Tante Shinta nampak shock saat melihat ada banyak bodyguard mengakut barang ke depan rumahnya. Dia memang memerlukan itu semua karena barang-barang di rumah sudah tidak layak pakai, mereka hanya sekali membelinya saat masih baru menikah dulu, puluhan tahun yang lalu, itu juga dulu membelinya secara kredit.
Sementara Om Ari masih di berada di bengkelnya. Dan kedua anaknya tante Sinta ada ada disana, mereka hanya bisa menganga melihat banyak sekali barang yang dikirim ke rumahnya. Tapi mereka lebih sibuk dengan banyak pakaian yang dikirim oleh Daniel.
"Ini semua kiriman dari Tuan Daniel, suaminya nona Viona. Semoga Anda menyukai hadiah dari Tuan kami." jawab Asisten Zi, bahkan Asisten Zi memberikan sebuah kotak perhiasan untuk Tante Sinta.