
Andrian membalikkan badan Sandra, menghadap dirinya, dia mengecup bibir Sandra sebentar, merapatkan badannya. "Sayang, kita sudah sama-sama dewasa, mau menikah pula. Aku menginginkan kamu malam ini. Boleh kan?" Dia menatap dengan intens kedua bola mata Sandra.
Sandra ingin menjawab tapi tak diberi kesempatan oleh Andrian, sebuah hasrat yang sudah lama terpendam pada kekasihnya itu kini Andrian tak dapat menahannya. Dia sangat menginginkan Sandra.
Namun Sandra menahan tangan Andrian begitu tangan itu ingin meraba ke bagian dadanya, dia mendorong dada Andrian dengan pelan agar sedikit menjauh darinya.
"Aku gak bisa, kita tidak boleh melakukan ini."
Andrian menarik nafas dalam-dalam, padahal n@fsunya sudah diubun-ubun, dia merasa kecewa karena Sandra tidak bisa mengerti bagaimana susahnya menahan hasrat "Memangnya kenapa hm? Kita akan menikah lho."
"Akan, yang namanya akan itu belum terjadi. Bisa saja kan rencana pernikahan kita itu batal."
"Lho kok ngomong gitu sih?"
"Bukannya kamu mau sabar menunggu sampai kita akan menikah nanti?"
Andrian hanya mendengus, dia terpaksa harus mengalah, dia tidak bisa memaksanya jika Sandra terus menolak. Biar nanti saja dia bisa menuntaskannya bareng Alexa.
Sandra tidak sengaja melihat ada sesuatu yang merah di dada Andrian karena tanpa Andrian sadari dua kancing bajunya terbuka.
Sandra mendekatkan jaraknya pada Andrian, Sandra membuka lagi satu kancing di kemeja Andrian.
Andrian tersenyum smirk, dia pikir Sandra berubah pikiran. "Sayang..."
Sandra tercengang melihatnya, sampai matanya membulat melihat ada tanda kepemilikan di dada Andrian. "Apa ini?" Sandra menujuk tanda merah itu ke dada Andrian.
Hati Sandra benar-benar hancur melihatnya. Rasa sedih, kecewa, marah, semuanya telah bercampur di dalam dada.
Andrian terkejut begitu menyadari apa yang ditunjuk oleh Sandra, "Oh ini.. ini..." Andrian mendadak jadi gagap, "Ini... bekas gigitan nyamuk sayang."
Sandra tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca, dia bukan anak kecil yang gampang untuk dibodohi, apalagi tanda merah itu bukan hanya satu di dada Andrian, "Kamu pikir aku bodoh? Apa selama ini kamu berubah karena memiliki wanita lain?"
Andrian mencoba untuk membela diri, dia masih mengelak "Gak sayang, ini gak benar..."
Plakk...
Sandra menampar Andrian, tanpa sengaja air matanya menetes, sungguh dia sangat merasa di khianati oleh Andrian.
"Argghhh." Andrian meringis memegang pipinya yang terasa perih.
"Lebih baik kita putus. Aku gak mau lagi bertemu lagi dengan kamu."
Andrian tidak terima diputuskan oleh Sandra begitu saja, "Gak, aku gak mau. Hubungan kita sudah lama terjalin. Kita gak bisa mutusin aku begitu saja. Orang tua kita sudah sama-sama setuju dengan hubungan kita."
"Tapi kamu yang sudah menghancurkan semua itu, kamu yang merusak hubungan kita. Selama ini aku setia sama kamu."
"Sayang..."
"Lebih baik kamu pergi!" Sandra mengusir Andrian untuk pergi dari rumahnya.
"Gak, aku gak akan pergi. Aku akui aku salah, aku khilaf, itu semua karena kamu juga gak mau ngasih. Aku pria dewasa, kita sama-sama dewasa, apa salahnya kita melakukan itu semua." Andrian enggan untuk pergi dari rumah Sandra.
"Baiklah, kalau kamu gak mau pergi. Biar aku saja yang pergi." Sandra segera melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.
"Sayang tunggu dulu, tolong dengarkan penjelasan aku." Andrian mencoba untuk mengejar Sandra.
Namun sayangnya Sandra keburu naik ke dalam taksi yang kebetulan melintas.
"Ahhh sial!" Andrian hanya bisa pasrah menatap taksi yang kian menjauh.
"Kenapa Alexa harus memberikan banyak cupa@ng di dada gue?" Andrian menyesali kebodohannya.
...****************...
Setelah membeli uduk, Daniel juga menyuruh Asisten Zi untuk membelkan dia sebotol wine, karena itu Asisten Zi datang ke salah satu bar terdekat.
Begitu memasuki bar terdekat, Asisten Zi matanya malah langsung tertuju kepada wanita yang baru saja dikenalnya.
"Sandra." Asisten Zi menyapa Sandra dengan nada datarnya.
"Sandra, sedang apa kamu disini? Andrian mana?" Asisten Zi duduk di samping Sandra.
Sandra malah meracau tidak jelas, rupanya dia telah teler, "Hmm... semua cowok sama aja, selalu menyakitiku. Dulu pacarku yang pertama selingkuh, yang sekarang juga selingkuh. Semuanya gak ada yang benar."
"Aku adalah wanita yang paling menyedihkan di dunia ini haha, apa aku tak pantas dicinta?"
Sandra memegang wajah Asisten Zi, membuat wajah Asisten Zi memerah, "Lihat lah wajahku!"
"Apakah wajahku sangat jelek makanya aku selalu dikhianati?"
Asisten Zi merasakan tiba-tiba jatungnya tidak aman saat Sandra memegang wajahnya, membuat jarak antara wajah mereka begitu dekat.
Dia segera melepaskan tangan Sandra, rasanya jantungnya seakan mau meledak. Asisten Zi menyesal, seharusnya dia tidak perlu menyapanya. Dia bisa menebak mungkin Andrian menyelingkuhi Sandra, tapi itu bukan urusannya. Urusannya sekarang adalah membeli wine untuk Daniel.
Asisten Zi lebih memilih untuk melaksanakan tugasnya. Dia segera meninggalkan Sandra. Setelah dia membeli wine itu, dia memilih untuk pergi ke Vila memberikan semua yang Daniel minta.
Asisten Zi berniat keluar dari bar itu, namun dia melihat ada pria yang sedang mengganggu Sandra.
"Hei cantik, ikut abang yuk." Dia merangkul Sandra.
"Lepaskan. Aku tidak mau ikut." Sandra mencoba berontak, namun pria itu terus memapahnya untuk membawa Sandra menuju lantai atas, di lantai atas sana terdapat kamar yang bisa disewa.
Asisten Zi tidak ingin ikut campur, namun kenapa hatinya malah bertolak belakang, dia juga tidak mengerti mengapa harus peduli terhadap wanita itu.
Asisten Zi terpaksa menghampiri mereka. Dia menarik tangan Sandra agar mendekat padanya.
"Hei ngapain lu narik gebetan gue? Gak usah ikut campur lu." protes pria berhidung belang itu.
"Dia wanitaku." Asisten Zi terpaksa berbohong. Wanitaku? Bahkan dia tidak pernah sekalipun berpacaran.
"Gak usah bohong lu!" Pria itu ingin melayangkan tinju pada Asisten Zi.
Namun dengan cepat Asisten Zi membalikan keadaan.
Bugh...
Cukup hanya sekali pukulan membuat pria itu terkapar.
Asisten Zi membawa Sandra keluar dari bar itu, dia berniat untuk mengantarkan Sandra pulang. Namun Sandra terus mengatakan tidak ingin pulang.
"Aku tidak ingin pulang, pria brengsek itu pasti sedang menunggu aku di rumah." Memang benar, terakhir Andrian menghubunginya, Andrian bilang akan menungu sampai Sandra pulang.
"Bawa aku kemana saja, asal aku tidak ingin bertemu dengan dia."
Asisten Zi hanya bisa menghela nafas, wanita yang sedang bersamanya ini sangat merepotkan sekali. Seharusnya dia tidak perlu menolongnya.
...****************...
Visual Sandra