
"Apa? Jadi semalam kamu menginap di apartemen Asisten Zi?" Viona mengatakannya sambil memperhatikan baju yang dipakai oleh Sandra.
Sandra sangat malu sekali mengatakannya, "Ya gitu, sumpah aku malu banget Vi! Memang aku yang salah, karena aku yang merengek tidak mau pulang."
"Lalu apa yang terjadi samalam? Mengapa kamu memakai baju Asisten Zi?" Viona akan meminta Asisten Zi bertanggungjawab jika dia macam-macam pada sahabatnya.
Sandra tidak mungkin bilang dia sudah berciuman dengan Asisten Zi, sangat memalukan karena dia yang memulai, hanya saja wajahnya memerah begitu mengingat kejadian semalam. "Semalam aku muntah, baju aku basah, makanya dia ganti baju aku. Tapi itu masalahnya, dia pasti melihat semuanya Vi. Sumpah aku malu banget." Sandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia sangat malu sekali.
Viona jadi bingung harus menanggapinya bagaimana, toh sudah terjadi. "Hm... ya bagaimana lagi itu mungkin rezeki untuk Asisten Zi."
"Ish rezeki apaan coba, Andrian aja gak pernah melihatnya, padahal dia sering minta."
"Karena Asisten Zi yang sudah melihatnya, ya udah kamu jangan melepaskan Asisten Zi, dia harus bertanggungjawab dengan apa yang dia lihat."
"Gak segampang itu Vi, aku baru aja putus dengan Andrian."
Sandra tak sengaja memperhatikan leher Viona yang banyak sekali stempel merah disana, dia menahan tawa, "Lalu apa yang kalian lakukan semalaman hm sampai banyak stempel merah di leher kamu."
Wajah Viona langsung memerah, dia menutup lehernya dengan tangan, pantas saja tadi para ART seperti menahan tawa saat berpapasan dengannya. Sangat memalukan.
"Wah di dada kamu juga Viona!" Sandra tergelak tawa sambil menunjuk stempel mereka di bawah leher Viona, karena Viona memakai kemeja yang kancing bagian atasnya terbuka.
Viona segera masuk ke dalam kamar, dia menutup lehernya dengan syal, dan membawa baju ganti untuk Sandra. Dia jadi teringat dengan malam panas yang dia lalui bersama Daniel di rooftop sana, masih terbayang dan tentu saja masih sangat terasa, rasanya jadi mau mengulangnya lagi, apakah nanti dia harus menyambutnya pulang dengan memakai lingerie.
Viona keluar dari kamar, dia memberikan baju pada Sandra. "Hmm... nyamuk disini pada ganas emang."
Sandra membawa baju yang Viona berikan. "Ya nyamuk kepala gede, aku tidak sepolos itu kali. Andrian juga begitu, dia bilang digigit nyamuk."
"Apa kamu tau siapa selingkuhan Andrian?"
Sandra melihat ada foto Daniel dan Viona yang terpajang di dinding dengan memakai baju pengantin. Matanya membola melihatnya, "Kalian sudah nikah? Wah kok gak ngundang aku!"
"Hanya nikah siri, Kami ingin merahasiakan dulu pernikahan ini. Bagaimana pun juga Daniel harus menuntaskan masalahnya dulu dengan Alexa."
"Hmm... kalau aku kirim foto itu ke grup WA pasti pada heboh. Alexa bakal mati kutu, pasti malu sekali memamerkan kemesraan bersama Daniel, padahal nyatanya tidak pernah terjadi."
"Jangan lah, belum waktunya. Lebih baik kamu ganti dulu baju gih, aku mau buat rujak, kamu mau gak?"
"Mau banget lah."
...****************...
Satria semangat sekali bekerja sebagai manager di cafe sahabatnya, walaupun dia lulusan SMA. Dia sudah berpengalaman banyak dalam bekerja, apalagi dulu menjadi supervisor.
"Apa kamu sudah menemukan Viona?" tanya Bayu pada Satria yang baru saja beristirahat. Dia memang menunjukkan kerja kerasnya sebagai manager disana.
"Belum, aku pasti akan menemukannya."
"Kenapa tidak cari cewek lain aja? Waitress disini pada cantik lho."
"Aku sudah mencobanya, tapi pikiran aku selalu ke Viona. Aku gak bisa melupakan dia. Lagian Om Ari juga akan membantu aku untuk bisa rujuk sama Viona."
Kini Satria tinggal di rumah yang jauh lebih kecil dari rumah yang dulu dia tempati oleh dirinya bersama Viona, dan dia tiap hari dia hanya mengendarai sepeda motornya. Dia sangat berharap bisa kembali seperti dulu dengan Viona, walaupun harus kembali ke kehidupan mereka yang sederhana, namun rupanya dulu begitu sangat bahagia. Apalagi gaji sebagai manager di cafe Bayu yang terbilang kecil itu tidak seberapa.
Satria yakin dulu Daniel hanyalah pelampiasan Viona saja. Pasti masih ada rasa yang tersisa untuk dirinya.