
Sandra menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir, padahal dia sudah berusaha menahan sekuat dengan tenaga agar tidak menangis. Dia terpaksa berjalan kaki karena malu jika dia harus menangis di dalam taksi.
Suasana jalan raya begitu sepi, Sandra berjalan seorang diri meratapi patah hatinya. Perjalanan cintanya tidak pernah berjalan dengan mulus. Selalu saja pada akhirnya dia yang terluka.
Tapi Sandra tidak bisa menyalahkan Ziano, mungkin Ziano datang ke acara pernikahan itu karena kasihan takut keluarganya malu, dia tau walaupun Ziano bersikap dingin dan kaku seperti robot tapi hatinya sangat lembut.
Ziano telah memilih untuk tidak datang, itu artinya Ziano tidak memiliki perasaan padanya, mungkin Ziano memilih Melinda, wanita yang mungkin dari dulu begitu sangat penting di kehidupan Ziano.
Mungkin Sandra tidak ada apa-apanya dibanding dengan Melinda. Melinda cukup dewasa dan berpenampilan begitu anggun dan elegan, dia yakin wanita itulah tipe yang diidamkan oleh Ziano. Bukan seperti dirinya yang berpenampilan semaunya dan bersikap apa adanya.
Mungkin kah aku harus merelakan kamu pergi Mister Zi? Walaupun hatiku sangat sakit.
Drrrrtt...Drrrrtt...
Ponsel Sandra bergetar, dia melihat ada beberapa pesan yang belum sempat dia balas dari Viona.
[Asisten Zi datang gak?]
[Kok aku yang deg-degan]
Sandra membalas pesan dari Viona.
[Gak Vi]
Viona mengerutkan keningnya begitu melihat jawaban dari Sandra, dia menoleh sebentar ke arah Daniel yang sedang tidur nyenyak. Dia tidak ingin Daniel terbangun gara-gara dirinya, apalagi dari kemarin Daniel tidak bisa tidur karena merasa kehilangan Pak Anderson.
Viona memilih pergi ke balkon dan segera menelpon Sandra. "Kamu gak bercanda kan? Masa Asisten Zi tidak datang? Ini sudah jam 12 malam lho."
Sandra tidak ingin Viona tau bahwa dia habis menangis, "Karena aku yang menyuruhnya, aku bilang kalau ternyata dihati Mister Zi masih ada wanita itu lebih baik tidak perlu datang. Itu artinya Mister Zi masih mencintai wanita itu dan memilih dia. Aku harus bisa menerima kenyataan ini Vi, walaupun sakit."
Dari nada bicara Sandra,Viona tau pasti Sandra habis menangis. "Mungkin saja ada suatu alasan mengapa dia tidak datang. Aku yakin Asisten Zi mencintai kamu."
Sandra tertawa kecil, "Gak mungkin Vi, gak usah hibur aku."
Sandra terdiam begitu mendengar ucapan Viona. Apa iya Ziano benar-benar mencintainya?
"Komunikasi itu penting San, bukan hanya saling mencintai, tapi kalian harus bisa saling memahami sifat dan karakter masing-masing juga. Itu yang dibutuhkan didalam pernikahan."
Viona tidak bisa lama-lama, karena Daniel bisa tidur jika berada di pelukan Viona, pria itu memang ngidam aroma tubuhnya dan terkadang harus sambil menyusuinya juga. "Hm... ya sudah San, aku tidur dulu ya. Aku ngantuk sekali."
"Iya Vi."
"Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa beritahu aku."
Klik!
Sandra sedikit lega setelah mencurahkan isi hatinya pada Viona, dia jadi berpikir, apa kah mungkin Ziano benar-benar memiliki perasaan padanya? Apakah Ziano serius waktu mengatakan soal cinta padanya tadi pagi?
Kalau iya, lalu mengapa Ziano tidak datang?
Drrrrttt....Drrrrttt...
Ponsel Sandra bergetar kembali, mata Sandra berbinar-binar begitu melihat nomor yang dia namai MISTER ZI itu menelpon dirinya. Sandra langsung mengangkatnya.
"Hallo, Mister Zi..."
Sandra mengerutkan keningnya, begitu mendengar suara orang yang menelpon dirinya bukan suara Ziano.
"Apa ini dengan istrinya saudara Ziano Ferdinand?" terdengar suara orang asing yang menelpon Sandra tapi menggunakan ponsel Ziano, padahal ponselnya dari tidak aktif.
Sandra menjadi tidak enak hati mendengarnya, "Iya betul, tapi dimana suami saya? Mengapa ponsel suami saya ada sama kamu?"
"Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahu anda bahwa suami anda saat ini sedang berada di rumah sakit Central, dia mengalami kecelakaan tiga jam yang lalu."