Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
94


"Mmmhhh..." Sandra membulatkan mata , untuk pertama kalinya dia merasakan begitu gelinya saat Ziano menyesap dadanya, apalagi merasakan kelembutan lidahnya yang menari-nari memainkan put1ngnya, bahkan menghisapnya sangat kuat.


Tak puas memaikan satu p@yudara, Ziano membuka kemeja Sandra, lalu membuka branya. Kini Sandra telanjang setengah dada. Wajahnya memerah menahan malu, apalagi saat Ziano memperhatikan kedua aset berharganya.


Sandra menutup kedua aset berharga itu, "Mister Zi..."


Namun Ziano membuka tangan Sandra, dia melahap kembali bulatan kenyal yang indah itu, kini yang bagian kanan, sementara yang bagian kiri di rem@s-rem@s dengan begitu lembut oleh tangannya.


Baru bagian atas saja Sandra sudah dibuat melayang-layang ke udara, dia hanya bisa menahan diri untuk tidak mendes@h, memeluk kepalanya dengan sangat erat, gerakan lidah yang menyapu area puncaknya membuat Sandra merasakan kegelian yang teramat nikmat. Bahkan badannya bergetar menikmati di setiap Ziano menghisap nya dengan lembut.


Ziano kini menghisapnya dengan kuat bahkan begitu terdengar bunyi hisapan itu seakan seperti bayi yang lagi kehausan tapi susunya habis.


Ziano menghentikan aktivitasnya sebentar, dia mematikan kompor dulu. Lalu menggendong Sandra seperti koala sambil berciuman.


Sandra nampak tegang saat Ziano merebahkan dirinya diatas kasur, apakah mungkin Ziano ingin melakukannya malam ini dengannya. Namun pria itu tak memberi kesempatan untuk bicara, dia mencium kembali Sandra yang kini berada di bawah kungkungannya.


Sandra melepaskan ciumannya, "Mister Zi."


"Kenapa?" Ziano merasa kesal karena Sandra malah menjeda aktivitasnya.


"Apakah kita malam ini akan melakukannya?"


Ziano tak langsung menjawab, dia memandangi wajah cantik Sandra. "Bukannya kita suami istri?"


"Hm iya aku tau, tapi..."


"Melakukan semua ini adalah kewajiban, harus disegerakan."


"Benar kah?" Sandra tidak tau itu, "Tau darimana?"


"Google." Google menjadi korban fitnahan Ziano.


"Apa kamu tau cara melakukannya juga dari Google?"


Ziano menghela nafas, wanita itu malah banyak mengajaknya bicara, padahal Ziano selalu menerapkan dalam hidupnya sedikit bicara banyak bekerja, "Hmm...iya."


"Tapi kata orang rasanya sakit banget, aku takut..."


"Apa ada wanita yang mati gara-gara malam pertama?"


"Emm... gak kayaknya, aku gak pernah dengar."


"Begitu juga kamu, kamu pasti kuat. Kita akan berdosa jika tidak segera melakukannya."


"Benar kah?"


Ziano tak menjawab, dia mulai fokus kembali dengan dua aset kenyal di dada Sandra, kini kedua benda itu menjadi benda favoritnya. Dia menjilati bagian yang berwarna merah jambu itu yang sudah berdiri menatang, begitu menggoda dirinya.


Sandra semakin membusungkan dadanya tak tahan dengan gerakan lidah di dadanya itu, Ziano malah semakin rakus memainkan mainan barunya, bahkan dia memberikan gigitan kecil di bulatan yang indah dan putih itu.


Tangannya mulai nakal, dia meraba-raba disetiap lekukan tubuh Sandra, perlahan-lahan tangannya mulai turun ke bawah. Meraba perutnya, lalu masuk ke dalam celana Sandra, menelusuri pangkal pahanya, sehingga kini tangan itu mulai menyentuh sesuatu yang teramat berharga bagi Sandra.


"Ahhhh..." Sandra tak bisa menahan des@hannya, saat merasakan Ziano menyelipkan satu jemarinya diantara belahan area intinya.


Sandra merasakan jemari itu bergerak begitu lembut di bawah sana, bergerak maju mundur secara berulang-ulang.


"Owh... Mister Zi." Sandra tak tak harus bagaimana dan berbuat apa, dia harus menahan kegelian di bagian atas dan bawahnya.


Ziano tiada hentinya menghisap bulatan kenyal itu, sementara tangannya terus bergerak-gerak di bawah sana, meningkatkan hasrat kewanitaannya.


Gerakan jemari itu semakin lama terasa semakin memabukan, seakan Sandra dibawa pergi oleh pria itu entah kemana, dia menegangkan badannya, rasanya semakin menggila di buat melayang tanpa arah dan tujuan. "Mister Zi... ahhh"


Sandra tidak tau apa dia ingin protes agar Ziano menghentikan aktivitasnya kerena terlalu menggelikan, atau menyuruhnya untuk melakukan lebih dari ini. Dia tidak tau. Hanya bisa terus meracau menyebut nama pria itu.