Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
Lupakan Tentang Kita


Drrrt...Drrrt...


Pembicaraan Daniel dan Viona berhenti karena mendengar ponsel Daniel bergetar, Daniel segera membuka pesan itu begitu tahu ada pesan masuk dari Detektif Al.


[Tuan, saya sudah mendapatkan bukti tentang mereka. Saya rasa lebih baik kita bertemu secara langsung saja.]


Daniel merasa lega akhirnya dia bisa mendapatkan bukti juga tentang pengkhianatan Miska, dia melakukan ini bukan untuk menghakimi Satria dan Miska yang selingkuh karena dia juga tau diri saat ini dia mencintai istri Satria. Dia hanya ingin membalas dendam pada Miska yang telah membuat mamanya meninggal, dia yakin pasti Miska yang membuat dia jatuh dari tangga. Dengan begitu dia juga bisa membuktikan kepada papanya kalau Miska selama ini hanya mengincar harta papanya saja.


Daniel tidak akan mungkin langsung bilang semua ini pada Viona, pertama dia juga belum mendapatkan informasi yang jelas dari Detektif Al, yang kedua kondisi Viona yang masih belum sepenuhnya sehat, Viona akan down jika mengetahui berita buruk itu sekarang ini. Dan biarlah Daniel tahu jelas lebih dulu dari Detektif Al, dia tidak ingin gegabah.


"Daniel, ini sudah jam 9 malam. Cepat pulang gih. Mas Satria sebentar lagi pulang." Lagi-lagi Viona mengusir Daniel. Dia sangat takut Satria akan marah besar jika melihat istrinya sedang berduaan di dalam kamar bersama pria lain. Walaupun mereka tidak berbuat apapun.


Daniel terpaksa harus pergi, dia harus menemui Detektif Al, dan juga dia tidak ingin Viona gelisah gara-gara dirinya. "Hmm... ya sudah aku pulang dulu. Kamu tidak perlu antar aku ke depan rumah. Cukup diam disini saja, tidur yang nyenyak dan banyak istirahat. Aku gak mau kamu sakit lagi."


Viona merasa tersentuh dengan ucapan Daniel, tapi dia merasa dia tidak pantas mendapatkan perhatian itu dari Daniel.


Daniel beranjak dari duduknya.


"Daniel..."


Daniel menoleh kembali ke arah wanita cantik itu. "Kenapa Viona?"


Viona tak langsung menjawab, dia menatap Daniel dengan begitu lekat, nampaknya dia ragu untuk mengatakanya, tapi dia rasa dia harus mengatakanya walaupun berat "Aku rasa lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi."


Daniel tercengang mendengarnya, dia tidak terima dengan permintaan Viona itu, "Tapi kenapa Viona?"


Viona sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Karena kita tidak seharusnya begini, aku takut aku akan semakin kehilangan akal jika terus bertemu kamu, aku wanita yang sudah bersuami. Aku harap kamu paham dengan posisi aku sekarang."


"Sekalipun suami kamu berselingkuh?"


"Itu baru dugaan, belum tentu juga. Seandainya iya pun itu biar jadi urusan aku dan suami aku. Kamu gak perlu ikut campur."


Daniel terdiam sejenak, menggigigit bibir bawahnya, lalu menatap Viona, "Apa kamu tau Viona, saat pernikahan kamu, aku diam-diam datang kesana, ingin melihat kamu untuk terakhir kalinya, hati aku sakit. Aku menyesal mengapa dulu tidak ada keberanian untuk menyatakan perasaan aku sama kamu." Daniel mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.


Viona mendongakan kepalanya, menatap Daniel, dia sama sekali tidak tau bahwa Daniel hadir ke pernikahannya bersama Satria.


"Aku mencoba untuk melupakan perasaan itu dan merelakan kamu. Tapi sekarang aku tidak rela jika melihat kamu seperti ini, aku tidak rela siapapun menyakiti kamu, termasuk suami kamu."


Viona sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan Daniel, dia juga sangat mencintai pria itu, tapi dia tidak ingin menjadikan Daniel orang ketiga di antara hubungan dia dan Satria, dia tidak ingin terjebak dalam cinta yang salah. Apalagi dia sangat sadar diri, dia dan Daniel tidak sepadan, dia tidak layak dicintai seperti ini oleh Daniel.


"Tapi aku tidak pernah memiliki perasaan apapun sama kamu." Viona terpaksa berbohong, agar Daniel menyerah padanya.


Daniel terdiam memandangi Viona, benarkah Viona tidak pernah mencintainya?


"Kamu hadir disaat aku sedang kesepian, kamu hanya pelarian. Aku tidak mencintai kamu."


"Viona..."


"Lupakan aku, lupakan perasaan itu, carilah kebahagiaan kamu. Kamu pantas mendapatkan wanita yang setara dengan kamu."


"Gak Viona, yang aku inginkan cuma kamu. Hanya kamu, gak ada yang lain. Karena aku cinta sama kamu Viona." Suara Daniel begitu serak, dia menahan diri agar tidak ada airmata yang menetes. Dia tidak sanggup harus menjuahi Viona.


"Jika kamu cinta sama aku, lupakan aku. Lepaskan aku. Jangan temui aku lagi. Karena aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan kamu. Jadi tolong jangan ganggu kehidupan aku lagi."


Daniel menatap lekat pada Viona, dia mrendahkan suaranya "Apakah selama ini aku mengganggumu, Viona?"


Viona hanya menundukkan kepala, dia mulai terisak.


"Apa kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun sama aku?"


Viona tak menjawab pertanyaan dari Daniel, dia masih saja menundukkan kepalanya.


Daniel menarik nafas dalam-dalam, "Maafkan aku Viona, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu hidup kamu. Aku begini karena aku sangat mencintai kamu. Karena itu izinkan sekali saja kita bertemu lagi di pesta besok, ada yang ingin aku tunjukan sama kamu." Daniel mengatakannya sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes. Setelah berkata begitu, Daniel segera pergi meninggalkan Viona.


Terdengar suara mobil Daniel yang pergi meninggalkan rumah itu, Viona menutup mulutnya dengan tangannya sambil terisak-isak, rasanya begitu menyesekan di dada, padahal hatinya sangat mencintai pria itu tapi dia tidak bisa mengatakannya, dia sadar statusnya apa saat ini. Dia tidak ingin mereka terlibat lebih dalam lagi dengan cinta yang tak semestinya. Dan dia tidak ingin merusak masa depan Daniel, Daniel berasal dari keluarga terpandang, dia yakin Daniel akan mendapatkan masalah besar dengan keluarganya jika mengetahui Daniel mencintai dirinya.


Perasaan ini biarlah seperti dulu, Daniel hanyalah sebuah khayalan untuknya, yang tak akan pernah dia raih dan tidak pernah dia impikan akan hidup bersama pria itu. Walaupun semua itu sangat menyakitkan untuknya.