
Pagi ini Sandra terbangun dari tidurnya, dia menggeliat sambil menguap, matanya perlahan-lahan mulai terbuka, dia kaget saat melihat kondisi kamar yang dia tempati sama sekali tidak dia kenal.
"Ahhh ... dimana aku?" Sandra memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia segera bangkit dari tidurnya.
Sandra semakin kaget saat melihat baju yang dia pakai, mengapa bajunya berubah menjadi baju pria?
Sandra menutup mulutnya sendiri begitu mengingat kejadian semalam, dia mengingat dengan dengan jelas semuanya, bagaimana saat dia menyebut Asisten Zi robot sampai menujuk benda pusakanya, merobek pakaian Asisten Zi, dan mencium bibirnya.
"Oh gila, apa yang kau lakukan Sandra!" Sandra memukul kepalanya sendiri, dia merasa jadi wanita yang gila mengapa bisa memperlakukan Asisten Zi seperti itu.
Sandra ingat sekali, semalam dia muntah lumayan banyak sampai bajunya basah sekali, mungkin karena itu Asisten Zi mengganti bajunya.
Sandra meraba dadanya, wajahnya memerah karena dia sama sekali tidak pakai BH, BH nya pasti ikut basah juga makanya Asisten Zi melepaskannya.
"Oh tidak, dia melihat dadaku." Sandra menutup wajahnya, saking malunya dia. Padahal Andrian saja belum pernah melihatnya.
Wajah Sandra memerah, tenggorokannya terasa kering membayangkan bagaimana ekspresi Asisten Zi saat mengganti bajunya dan melihat dadanya.
"Tapi bukannya dia seperti robot, mungkin dia datar saja saat mengganti bajuku."
Sandra membayangkan wajah datarnya Asisten Zi saat membuka bajunya tanpa ekspresi. Tapi tetap saja dia malu sekali jika bertemu dengan Asisten Zi akibat kejadian semalam, dia malah berani mencium Asisten Zi, apalagi mengingat Asisten Zi sudah melihat tubuh bagian atasnya.
Sandra mengigit bibir bawahnya, kenapa dia selalu terkesan bobrok setiap bertemu Asisten Zi, pertama dipertemuan pertama mereka, Sandra terus meminta Asisten Zi mengalah untuk memberikan nasi goreng porsi terakhir itu padahal nasi goreng itu memang sudah jatah Asisten Zi, yang kedua dia seperti buronan bersama Viona yang dikejar oleh petugas keamanan, dan yang ketiga ini malah lebih parah, dia malah bersikap seperti orang gila saat dia mabuk, bahkan mencium bibir Asisten Zi.
"Aish....padahal aku ini tidak selalu begitu, aku bisa bersikap elegan."
"Lebih baik aku kabur." Sandra rasa itu adalah pilihan yang tepat.
Sandra segera keluar dari kamar, dia merasakan suasana yang sangat sepi di apartemen itu, sudah dipastikan Asisten Zi pasti masih tertidur. Sandra berjalan dengan perlahan agar Asisten Zi tidak mendengar suara langkanya, sampai akhirnya dia berhasil keluar dari apartemen.
Namun dia dikejutkan dengan Alexa yang tiba-tiba menyapa dirinya.
"Sandra, kenapa kamu bisa di apartemen Asisten Zi pagi-pagi begini." Alexa yang ingin menemui Daniel, dia terkejut melihat Sandra memakai pakaian pria yang tentu saja kedodoran.
"Emm... ada yang harus aku bicarakan sama dia makanya aku datang kesini pagi-pagi."
Alexa malah tertawa kecil, sebenarnya ini sama sekali bukan urusannya, dan juga tidak ada keuntungannya juga untuk dirinya. Hanya saja dia merasa Sandra itu tidak sepolos yang dia kira, karena Andrian yang bilang sendiri, dia belum pernah melakukannya dengan Sandra. Namun rupanya Sandra memiliki hubungan khusus dengan Asisten Zi sampai pagi-pagi sekali Sandra ada di apartemennya, memakai baju Asisten Zi pula. Sudah terpikirkan apa yang terjadi pada mereka.
Alexa mentertawakan hubungan Sandra dan Andrian, karena Andrian malah meminta kepuasan padanya bahkan sampai dia hamil. Sementara pacarnya malah enak-enakan dengan pria lain, apalagi pria itu sangat dikenali sekali oleh Andrian.
Sandra mengerutkan keningnya, begitu melihat Alexa malah tertawa seakan sedang meledek dirinya. "Lalu untuk apa kamu datang-datang pagi sekali ke rumah pria dengan pakaian seperti itu? Apa tidak dingin?"
Sandra memperhatikan Alexa yang memakai rok mini dan pakaian atasanya yang begitu memperlihatkan bagian perutnya.
"Ya terserah aku dong, Daniel memang menyukainya. Malah pagi ini dia menyuruh aku datang kesini dan menyuruh aku berpakaian begini. Kamu tau lah karna kamu juga sudah dewasa." Alexa mengatakannya dengan tersenyum sinis.
Sandra malah ingin tertawa karena dia tau bahwa saat ini Daniel sedang bersama Viona, semalam sebelum dia mabuk, dia mengirim pesan pada Viona, menanyakan Viona ada dimana, Viona menjawab dia sedang berada di Villa bersama Daniel. Bagaimana pun juga dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu, sekalian tadinya mau curhat, namun dia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu mereka.
Sandra tidak peduli jika Alexa memberitahu soal dia yang bersama Asisten Zi semalaman, malah bagus agar Andrian menyerah padanya. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Alexa.
Setelah memastikan Sandra pergi, Alexa mencoba menelpon Daniel, dia ingin menyuruh Daniel membuka pintu apartemennya, namun lagi-lagi Daniel tidak pernah mau merespon telepon darinya.
"Hmm...apa dia masih tidur? Pasti dia kelelahan sekali karena sibuk bekerja." Alexa terpaksa pergi, sambil berjalan ke dalam lift, dia masih melamun, apa yang dia harus lakukan pada kehamilannya. Harus kah dia menggugurkannya saja? Sementara untuk menggoda Daniel dari kemarin selalu sia-sia. Tapi dia tidak boleh menyerah, dia pasti bisa mendapatkannya.
Sementara itu, Andrian masih menunggu Sandra di rumahnya, dia merasa kecewa karena Sandra belum pulang juga dari semalam.
"Tidur dimana dia?" Andrian sangat kesal memikirkannya.
Andrian mencoba menelpon Sandra kembali namun ponselnya tidak aktif. Membuatnya sangat kesal.
Andrian terpaksa menelpon mamanya Sandra.
"Hallo, nak Andrian, ada apa nih?" tanya tante Riska begitu mengangkat telepon dari Andrian.
"Emm... begini tante, aku ingin mempercepat pernikahan aku bersama Sandra. Aku sangat mencintai Sandra, tante."