
Sementara di tempat yang berbeda, Andrian sedang menunggu Sandra pulang ke rumahnya, namun rupanya gadis itu belum pulang juga. Sampai dia terus menghubungi Sandra, namun rupanya Sandra sengaja menonaktifkan ponselnya.
"Ah sial!"
Andrian memukul-mukul kepalanya sendiri, menyadari tentang kebodohannya, rupanya ia sadar, bahwa dia tidak sanggup kehilangan Sandra.
Andrian memutuskan untuk menunggu Sandra di depan rumahnya, dia yakin Sandra pasti akan pulang.
Rupanya Sandra sedang bersama Asisten Zi. Asisten Zi terpaksa membawa Sandra ke apartemennya. Karena tidak tau lagi membawa dia kemana, mau di bawa ke Vila, takut Daniel marah membawa orang tanpa persetujuan darinya.
Sandra terus meracau tidak jelas, bahkan dia terus bernyanyi, padahal suaranya sangat fals, membuat telinga Asisten Zi sakit mendengarnya.
"Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku. Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh. Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku. Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku.. "
Asisten Zi hanya bisa menghela nafas sambil mengerutkan keningnya, gara-gara kupingnya linu mendengarkan Sandra bernyanyi.
Asisten Zi memapah Sandra ke kamarnya, kebetulan di apartemennya ada dua kamar. Begitu sampai kamar, dia merebahkan Sandra di atas kasur.
"Sangat merepotkan." keluh Asisten Zi, memandangi Sandra yang terbaring diatas kasur sambil meracau tidak jelas.
Asisten Zi tak sengaja melihat satu kancing Sandra terbuka, dia menelan salivanya begitu melihat ada belahan di dada Sandra. Dia segera memutuskan untuk keluar dari kamar, namun tiba-tiba Sandra terbangun, dia menahan tangan Asisten Zi.
"Sandra..."
"Kau." Sandra menunjuk dada Asisten Zi, "Setiap bertemu dengan kamu. Kenapa kau selalu menatap aku seperti itu hm? Apa menurut kamu aku tidak menarik? Makanya aku selalu diselingkuhi."
Asisten Zi hanya menyeringai, "Aku ini Asisten Zi, Ziano Ferdinand."
Sandra mendekatkan jaraknya pada Asisten Zi sambil berjalan sempoyongan, "Ya aku sedang berbicara dengan kamu Mister Zi. Aku juga sebal sama kamu, karena kamu orangnya menyebalkan. Gak pernah ada kata mau mengalah sama cewek."
Asisten Zi hanya bisa menghela nafas, memang tidak ada dalam kamusnya untuk mengalah demi menjalankan tugas, tidak pernah melihat dia itu lelaki atau wanita.
"Apa jangan-jangan kamu belum pernah pacaran iya kan?" Sandra menebak sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu mabuk berat, lebih baik kamu tidur."
Namun Sandra tidak ingin mendengarnya, dia malah terus mentertawakan Asisten Zi, "Dasar robot, kamu tau kan robot? Kamu itu mirip robot Mister Zi. Muka kamu datar sekali, gak ada ekspresinya."
Sandra menutup mulut dengan tangannya, sambil membulatkan mata, dia membuka mulutnya kembali, "Wah apa jangan-jangan kamu itu robot yang sengaja Daniel buat. Aku harus memastikannya."
"Memastikan apa?" Asisten Zi tidak mengerti.
Sandra berjalan semakin mendekat, tanpa basa basi dia merobek kemeja Asisten Zi, membuat Asisten Zi terbelalak karena kini dada bidangnya terpampang nyata, dia sama sekali tidak pernah memperlihatkan itu semua kepada siapapun.
"Kira-kira dimana Daniel menyimpan baterainya."
Wanita itu seperti orang gila yang sedang mencari baterai di tubuh Asisten Zi.
"Apa mungkin disini?" Sandra menunjuk dada Asisten Zi.
"Ah sepertinya disini!" Sandra menunjuk ada sesuatu yang menonjol di balik celana Asisten Zi.
Wajah Asisten Zi memerah begitu melihat jari telunjuk Sandra menunjuk juniornya, apalagi jari telunjuk itu sangat dekat sekali, hampir bersentuhan dengannya. Asisten Zi segera menepis jari telunjuk Sandra.
Asisten sangat tau orang mabuk itu tidak pernah berpikir jernih. Dia juga sering menjadi korban Daniel saat Daniel tengah mabuk.
"Lebih baik kamu tidur, jangan banyak bicara apalagi nyanyi."
"Apa benar disana baterainya Mister Zi? Aku harus melihatnya, sekalian aku cabut biar kamu tidak tidak bisa bergerak."
Asisten Zi merasa linu mendengarnya. "Aku ini manusia, jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Manusia?" Sandra malah tertawa. "Apa kamu tau apa itu berkencan?"
Asisten Zi malas untuk meladeninya.
"Apa kamu belum pernah berciuman?"
"Semua itu tidak penting. Ya sudah lebih baik aku kelu..."
Cup!
Asisten Zi tidak meneruskan perkataannya begitu Sandra memegang wajahnya dan langsung mengecup bibirnya.
Mata Asisten Zi membulat begitu merasakan ada benda kenyal menempel dibibirnya.
"Seperti itu lah ciuman, aku hanya mencontohkan, apa kamu belum pernah seperti itu Mister Zi?" Sandra malah tertawa lagi, seolah-olah sedang meledak Asisten Zi.
Asisten Zi merasakan kecupan itu nanggung, tanpa dia sadari dia langsung meraih tengkuk Sandra, menyambar bibirnya. Sandra kaget dibuatnya, namun karena dia sedang mabuk, dia malah menikmatinya.
Walaupun ini ciuman pertama. Asisten Zi hanya bisa melakukannya mengikuti nalurinya, dia meneroboskan lidahnya ke bibir manis Sandra, membuat Sandra membalasnya, saling mencecap dan membelitkan lidah dengan begitu menggebu.
Mereka sangat menikmati ciuman mereka, saling menautkan bibir, asalnya ciuman itu begitu lembut, namun lama-lama terkesan menuntut. Seakan ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman.
Namun Asisten Zi teringat dengan Andrian, calon suami dari gadis yang sedang berciuman dengannya. Asisten Zi sudah lama sekali kenal Andrian, dari Andrian masih SMA. Dia segera melepaskan ciuman itu. Tak seharusnya dia melakukan ini, dia ingin memutuskan untuk pergi dari kamarnya.
Namun karena terlalu banyak minum, Sandra merasakan mual, karena ini pertama kalinya dia mabuk.
"Hueekk..."
"Hueekk..."
Sandra muntah lumayan banyak sampai pakaiannya basah terkena muntahannya.
Asisten Zi menggaruk kepalanya yang gak gatal. Oke lah kalau Daniel yang muntah, tidak apa-apa, karena Daniel lelaki. Tapi ini perempuan, bagaimana mungkin dia mengganti baju Sandra. Tapi kalau tidak diganti Sandra akan masuk angin memakai bajunya yang basah semalaman.
"Astaga, gadis ini benar-benar merepotkan."