Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
76


Sandra terpaksa pulang bersama Asisten Zi, karena kalau menolak, dia tidak diizinkan keluar dari Villa.


Selama di perjalanan, Sandra terus saja mengoceh. "Padahal aku bisa pulang sendiri, mengapa harus memaksa aku untuk pulang bersama kamu."


Selalu saja begitu, Asisten Zi dari tadi tidak menanggapi ucapan Sandra. Membuat Sandra semakin kesal.


"Mister Zi, aku sedang berbicara dengan kamu."


Asisten Zi menghela nafas sebentar, dia terpaksa menjawab ucapan Sandra, "Aku sedang fokus menyetir."


"Astaga. Kamu benar-benar kayak robot ya."


Asisten Zi jadi teringat dengan apa yang Sandra lakukan semalam dan mengatainya robot. Dia tidak suka dipanggil itu.


"Hhh...gara-gara kamu aku tidak jadi membeli kalung buat mama. Lebih baik kamu antar aku sampai ke Mall saja, kamu boleh pulang."


"Tidak bisa, Tuan Daniel memerintahkan aku untuk mengantar kamu sampai ke rumah kamu."


"Ya sudah, kamu tinggal berbohong, bilang saja kamu sudah mengantar aku sampai rumah. Sebentar lagi Mamaku ulang tahun, aku ingin membelinya kalung."


Asisten Zi teringat dulu dia juga memiliki seorang ibu saat dia masih tinggal di Belanda, dia dari kecil hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dan tidak tau sosok seorang ayah, tidak tau dimana ayahnya berada. Saat dia berusia 5 tahun ibunya meninggal, sehingga tinggal di panti asuhan, pada akhirnya Pak Anderson mengadopsinya, membawanya ke Indonesia.


"Biar aku antar." Asisten Zi terpaksa mengantar Sandra ke Mall untuk membeli kalung buat mamanya, karena dia merasa tersentuh dengan ucapan Sandra yang ingin memberikan kado ulang tahun untuk sang mama.


Sandra rasa dia tidak akan seru jika terus diikutii manusia berekspresi datar itu, "Oh tidak perlu, kamu cukup menurunkan aku di Mall saja. Kamu boleh pulang."


"Aku harus melaksanakan tugas aku untuk mengantar kamu pulang sampai ke rumah, karena itu aku harus ikut ke Mall dan mengantar kamu pulang."


"Tapi bagaimana bisa aku belanja bareng manusia robot seperti kamu."


Asisten Zi menghela nafas, "Aku bukan robot."


"Tapi kamu memang mirip sekali dengan robot, hm... tapi ngomong-ngomong siapa yang ganti baju aku?" Sandra mengatakannya dengan malu-malu.


"Tentu saja aku, tidak ada orang lagi di apartemen."


Wajah Sandra memerah membayangkan Asisten Zi melihat dadanya, namun dia melihat ekspresi Asisten Zi biasa saja, kalau pria normal seharusnya dia terlihat gugup atau wajahnya memerah membayangkan dia melihat tubuh Sandra.


"Astaga. Tapi ada untungnya juga kamu itu manusia robot, jadi aku tidak perlu merasa malu." Sandra yakin Asisten Zi tidak bereaksi apa-apa saat mengganti bajunya.


"Sama sekali bukan tipe ideal, badanmu terlalu kurus, apalagi dadamu berukuran kecil. Jadi kamu tenang saja aku sama sekali tidak tertarik untuk menyentuhnya." Asisten Zi mengatakannya dengan nada datarnya.


Sandra tidak menyangka Asisten Zi akan menyebutkan bagaimana ukuran dadanya, dia tidak terima dibilang dada Sandra berukuran kecil. "Astaga kecil kamu bilang?"


Sandra lama-lama bisa emosi jika terus berdebat dengan Asisten Zi, apalagi pria itu selalu saja mengatakannya dengan nada datar. "Kalau bukan tipe ideal, kenapa harus balik mencium ku semalam?"


Asisten Zi tidak menjawab perkataan Sandra, dia menelan salivanya begitu mengingat dia tidak bisa mengontrol dirinya saat Sandra mengecup bibirnya, sehingga dia membalasnya dengan mencium bibir Sandra. Semalam juga sebenarnya dia panas dingin saat mengganti baju Sandra, dia pria normal, pastilah tubuhnya bereaksi.


"Apa jangan-jangan kau memiliki perasaan padaku?"


"Jangan percaya diri. Kamu bukanlah tipe ideal ku."


"Oke, baguslah."


Setelah tiba di Mall, rupanya Sandra lupa ke tujuan awalnya, dia malah memilih-milih dulu beberapa pakaian, tas, sandal, dan aksesoris wanita.


Asisten Zi terus saja mengikuti kemanapun Sandra pergi. Walaupun sebenarnya dia sangat kesal, karena Sandra memilihnya lama sekali, misalnya memilih 10 baju, sampai mencobanya ke ruang ganti, tapi ternyata yang dia beli hanya satu baju. Belum lagi yang lainnya.


"Mengapa tidak kebagian intinya saja? Bukannya kamu datang kesini untuk membeli kalung?" protes Asisten Zi.


"Sudah aku katakan, lebih baik kamu gak usah ikut, biar nanti aku pulang sendirian."


"Tidak bisa, ini adalah tugas."


...****************...


Pada akhirnya penderitaan Asisten Zi mengikuti Sandra belanja selama tiga jam telah berakhir, sehingga malam ini Asisten Zi bisa mengantar Sandra pulang ke rumahnya.


Sandra mencoba mengaktifkan ponselnya, ternyata banyak sekali pesan masuk dan panggillan tidak terjawab dari Andrian dan kedua orang tuanya.


"Ya ampun, ternyata mama dan papa sudah pulang tadi sore."


Drrrtt...Drrrtt...


Asisten Zi mendapatkan pesan dari Detektif Al. Dia melaporkan apa yang dia lihat dan dia dengar malam ini.


[Hari ini target melakukan lamaran ke rumah kekasihnya. Target tidak berbuat macam-macam selama saya pantau hari ini.]


Hari ini Andrian memang tidak bertemu Alexa. Di lebih fokus untuk segera melamar Sandra.


Sandra terkejut saat membaca pesan dari sang mama.


[Sandra, kamu dimana sayang? Kenapa handphone kamu tidak aktif? Andrian bersama keluarganya datang ke rumah. Mereka mau melamar kamu lho, keluarganya ingin mempercepat rencana pernikahan kalian.]