Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
Tak Akan Membiarkan Kamu Terluka Lagi


Daniel membawa Viona ke apartemennya, awalnya Viona sangat sungkan untuk masuk ke dalam, apalagi keadaan dia yang basah kuyup. Daniel segera membawa handuk, dia mengusap-usap rambut Viona yang basah.


Viona sangat gugup sekali, apalagi sekarang ini posisi dia sedang berhadapan dengan Daniel.


Daniel nampak tenang, sekali-kali dia tersenyum memperhatikan Viona yang kelihatan gugup sampai wajahnya memerah. "Kamu gugup?"


"Emm... oh tidak kok, biar aku saja..." Viona ingin membawa handuk yang sedang Daniel usapkan ke rambut Viona.


"Gak, biar aku saja." Tapi Daniel keukeuh ingin dia yang melakukannya. "Nanti selebihnya pakai hair dryer saja biar cepat kering."


"Em...Daniel."


Daniel menghentikan aktivitasnya sebentar, dia masih memegang kepala Viona, tak sengaja mereka saling menatap dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.


"Kenapa?"


"Apa lebih baik kamu ke rumah sakit aja? Luka kamu pasti belum sembuh." Viona sangat mengkhawatirkan luka dikepala Daniel.


"Gak apa-apa kok, dokter bilang ini hanya luka ringan saja." jawab Daniel dengan santai, dia malah menempelkan kedua hidung mereka sebentar.


Daniel melihat pipi Viona yang merah, "Pipi kamu kenapa Viona?"


"Oh ini, gak apa-apa kok."


"Apa dia menampar kamu?"


Viona terdiam sejenak, "Itu biar nanti jadi urusan aku bersama Mas Satria."


"Tapi ini keterlaluan lho."


Viona menatap lekat kedua bola mata Daniel yang sedang memegang kepalanya dengan handuk, "Gak bisa kah sebentar saja aku melupakan masalah aku dengan suami aku."


Daniel terdiam sejenak, dia terpaksa mengangguk. Lalu Daniel masuk ke dalam kamar, dia membawa sebuah kemeja berwarna putih dan salep, Daniel mengoleskan salep ke wajah Viona dengan lembut.


"Jika sekali lagi dia membuat kamu begini, aku akan membunuhnya." Daniel tidak tega melihat pipi Viona yang merah begini bekas tamparan suami laknat itu.


"Jangan bilang seperti itu."


Daniel melihat Viona sedikit menundukkan kepala, dia hanya menghela nafas karena Viona tidak ingin membahas soal dia dan Satria malam ini. Daniel mencoba menurut saja, tapi dia tidak akan membiarkan Satria menyakiti Viona lagi, dia akan membantu Viona cerai dengan suaminya.


Daniel menutup wajah Viona dengan kemeja yang dia bawa dari kamar "Hmm... Disini gak ada baju cewek karena aku gak pernah bawa cewek ke apartemen, hanya kamu aja." candanya.


Viona harus bersikap biasa saja, dia ingin melupakan semua masalahnya bersama Satria, khusus malam ini, karena itu dia berusaha tampil rilex, meraih kemeja itu, "Hanya aku?"


"Iya, malam itu. Masih ingatkan?" Daniel malah menggoda Viona.


Wajah Viona nampak memerah saat mengingat kejadian itu, "Aku...aku mau ganti baju, dimana kamar kamu?"


Daniel malah nyengir.


"Kok nyengir?"


"Padahal aku sudah lihat semuanya Viona, gak apa-apa di depan aku juga." Daniel mencoba mencairkan suasana.


"No, yang ada nanti aku dimakan kamu. Aku lapar sekali, ingin makan."


"Hmm... iya aku juga lapar, ya sudah nanti aku pesan lewat online saja?"


"Emang ada tengah malam begini?"


"Gak tau juga sih, tapi ada mungkin."


"Ya udah biar nanti aku yang masak." Viona segera masuk ke kamar Daniel untuk berganti baju dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Daniel tersenyum lebar, akhirnya dia bisa juga memakan masakan Viona, terlebih lagi Viona akan memasaknya disini, di apartemennya. Rasanya bahagia yang sangat luar biasa baginya,karena itu adalah salah satu impiannya, dia ingin tau rasa masakan Viona.


Ceklek!


Beberapa menit lamanya dia menunggu, akhirnya Viona membuka pintu kamar, terlihat dia menyembul keluar dari kamar, Daniel menelan saliva begitu melihat Viona hanya memakai kemejanya saja, mungkin karena badannya yang mungil, kemeja itu terlihat seperti gaun sampai ke lututnya walaupun agak atasan sedikit.


"Kenapa? Apa aku terlihat seksi ya? Apa gak ada baju lagi?"


" Gak ada, itu baju aku yang paling besar, makanya jarang aku pake." Kini giliran Daniel yang wajahnya memerah. Daniel segera mengalihkan pandangannya, dia memilih lebih dulu pergi ke dapur. Dia tidak sanggup melihat Viona berpenampilan seperti itu lebih lama lagi.