
Ziano semakin erat memeluk punggung Sandra, melingkari tangannya ke perut Sandra.
"Aku juga tidak tau alasannya mengapa aku bisa jatuh cinta padamu, tapi bukan kah cinta tidak butuh sebuah alasan? Aku benar-benar mencintai kamu Sandra. Sangat mencintai kamu. Makanya malam itu aku terburu-buru ingin segera datang ke festival dan ingin mengungkapkan perasaan aku. Karena aku tidak ingin berpisah dengan kamu."
Sandra merasa terharu mendengar penuturan ungkapan cinta dari Ziano, betapa bahagianya hati Sandra saat ini. Dia membalikan badannya menghadap Ziano.
"Aku juga, aku mencintaimu Mister Zi. Aku minta maaf karena telah berpikir untuk berpisah dengan kamu. Aku hanya takut aku akan dikhianati lagi seperti dulu."
Ziano memegang wajah Sandra, membuat kedua mata mereka saling memandang. "Aku bukan tipe pria seperti itu. Aku gak kan pernah mengkhianati kamu."
Sandra mempercayai apa yang Ziano katakan, dia langsung memeluk tubuh kekar pria itu, baginya ini adalah hari yang paling bahagia karena akhirnya dia bisa mendengar kata cinta dari Ziano.
Ziano melepaskan pelukan, dia mencondongkan wajahnya untuk mencium Sandra, namun mereka mendengar suara seseorang membuka pintu.
Ceklek!
Rupanya Daniel dan Viona datang untuk menjenguk Ziano.
Sangat merusak suasana yang romantis tadi.
Daniel dan Viona membawa banyak makanan kesukaan Ziano.
"Ya ampun, kamu sudah bisa berdiri Bang Zi." Daniel terkejut begitu melihat Ziano yang berdiri di dekat Sandra.
Daniel memang sudah memutuskan untuk tidak memanggil Ziano asisten lagi, karena mungkin mulai bulan depan Ziano akan mengelola beberapa cabang milik DG Grup. Ziano berhak mendapatkannya karena saat Daniel masih di Belanda, Ziano yang menghendle pekerjaan saat Pak Anderson yang sudah tidak kuat kerja. Apalagi dia sudah lama mengabdi di keluarga itu, malah Pak Anderson sendiri yang mengadopsinya dan membesarkannya.
"Seharusnya jangan banyak bergerak seperti itu," Daniel membantu Ziano untuk berbaring di atas brankar.
"Tidak usah Tuan..mmm...maksudnya Daniel, aku bisa sendiri."
Namun Daniel tidak mendengarkannya, dia malah membantu Ziano berbaring diatas brankar. "Nah harusnya beristirahat seperti ini bang. Jangan banyak bergerak apalagi kalau sampai bercinta hehe." Daniel mengatakannya sambil bercanda.
Ziano dan Sandra jadi salah tingkah mendengarnya.
"Ini aku masak makanan kesukaan abang Ziano, termasuk makanan kesukaan kamu juga." Viona memberikan makanan di dalam paper bag kepada Sandra.
"Wah, makasih banyak ya Vi." Sandra sangat terharu mendengarnya.
Viona dan Sandra memilih duduk di kursi sofa sambil membicarakan apa saja yang ingin dibicarakan.
Daniel memberikan beberapa lembar kertas kepada Ziano, rupanya itu adalah identitas tentang ayahnya kandungnya Ziano. Sebelum Pak Anderson meninggal, Pak Anderson rupanya menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa ayah kandung Ziano.
"Sebelum papa meninggal, papa menyuruh detektif di Belanda untuk mencari identitas ayah kandungmu bang."
Ziano merasa terharu mendengarnya, matanya berkaca-kaca karena tidak bisa mengucapkan terimakasih secara langsung kepada Pak Anderson. Padahal dia sama sekali tidak pernah meminta Pak Anderson untuk menyelidiki tentang ayah kandungnya, walaupun hatinya masih penasaran, ingin sekali saja dia melihat sekali saja wajah ayahnya secara langsung.
Rupanya ayahnya salah satu pengusaha terkenal di Belanda. Saat ini ayahnya Ziano sedang sakit parah, dia selalu menyebut nama Ziano, anak yang dulu dia telantarkan. Ada rasa bersalah dihatinya karena telah meninggalkan Ziano dan ibunya. Dia ingin meminta maaf pada Ziano untuk terakhir kalinya.
"Ayahmu saat ini sedang sakit parah, katanya dia selalu menyebut namamu bang. Temui lah dia untuk terakhir kalinya dan kembali lagi kesini."