
"Kenapa ko tegang gitu sih? Kita mau ketemu keluarga kamu lho bukan algojo?" Canda Daniel sambil menyetir mobil. Dia memperhatikan istrinya yang kelihatan gelisah sekali.
"Emm... tidak apa-apa kok." Viona pura-pura baik-baik saja, padahal dia memang gelisah, dia takut keluarganya akan marah dengan kedatangan mereka. Apalagi kalau ingat perlakuan tante Sinta padanya.
"Kamu takut sama tante kamu?"
Viona lebih baik jujur saja "Kamu tidak tau aja karakter tanteku kayak gimana. Aku takut kamu akan kecewa kalau bertemu dia."
"Apa kamu percaya dengan kekuatan sihir?"
"Gak lah."
"Tapi aku akan menyulapnya, aku akan menyulap keluarga kamu menjadi baik padamu." Daniel mengatakannya dengan nada bercanda.
Viona malah tertawa kecil, dia malah meledek Daniel. "Wah, hebat sekali, kalau begitu aku mau coklat. Bisa?"
Daniel tersenyum, sepulang dari kantor dia memang sudah membeli coklat untuk Viona karena dia tau Viona sangat suka sekali dengan coklat.
"Merem dong!" suruh Daniel.
"Buat apa merem coba?"
"Hanya sebentar."
Viona terpaksa merem, "Hmm... ya lah."
Daniel membuka Dasbor, dia membawa coklat disana. Lalu mendekatkan coklat itu ke arah Viona. "Buka mata kamu."
Viona membuka matanya, dia menatap takjub pada Daniel saat melihat Daniel memegang sebuah coklat. "Wah kok bisa?"
"Bisa lah."
"Hmm... pasti sudah beli dari tadi, iya kan?"
Daniel tak menjawab, dia hanya tersenyum karena memang begitu adanya, dia membelinya dari tadi. Viona langsung memakan coklat itu sampai habis, sesekali dia menyuapi Daniel juga.
Begitu sampai di depan rumah Om Ari, Viona melihat ada keluarga Om Ari sedang berdiri di depan rumah, membuat dia deg-degan saat keluar dari mobil, seakan sedang berhadapan dengan malaikat maut.
Viona kaget, tiba-tiba Tante Sinta dan kedua anaknya langsung berlari ke arahnya, mereka berebutan untuk memeluk Viona.
"Viona!"
"Aku kangen banget sama kamu."
"Apalagi tante, tante selalu ingat sama kamu Vi."
Viona seperti sebutir gula pasir yang sedang diperebutkan tiga semut. Dia merasa aneh sekali pada sikap mereka, dia langsung menoleh ke arah Daniel yang malah nyengir kuda, Daniel malah memilih menemui Om Ari.
Apa Daniel telah menyihir mereka? Viona sama sekali tidak mempercayai dengan hal yang berbau mistis. Tapi apa yang membuat mereka berubah.
"Malam Om." sapa Daniel dengan ramah.
"Emm... iya malam juga," Om Ari terlihat malu sekali bertemu Daniel dan Viona, dia malu karena sudah menjodohkan Viona dengan Satria, dia malu karena selama ini dia bukan Om yang baik padanya, tapi dia bersyukur jika akhirnya Viona bisa mendapatkan kebahagiaannya.
"Terimakasih atas semua hadiahnya, tapi menurut Om ini berlebihan. Om tidak pantas mendapatkan itu semua."
"Oh tidak apa-apa Om, semua itu tidak ada harganya dibandingkan dengan Viona. Karena Om membesarkannya dan menyekolahkannya, akhirnya aku bisa bertemu Viona."
Saat mereka masuk ke dalam rumah, Viona terperangah melihat semua isi rumah yang hampir serba baru, dan dia tau sekali itu semua dari produk yang bermerk dan mewah. Viona langsung menoleh ke arah Daniel. Dia akhirnya paham kekuatan sihir yang dimaksud Daniel adalah dengan kekuatan seorang Sultan, apalagi kalau bukan materi.
Daniel hanya nyengir melihat Viona memelototinya.
Saat tante Sinta dan kedua anaknya sibuk di dapur untuk membuatkan makanan buat Viona dan Daniel, dan Om Ari pergi ke kamar mandi, barulah Viona mengomeli suaminya.
"Ishh... kenapa kamu gak ngasih tau aku dulu, buat apa coba kamu memberikan semua ini?"
"Ya kan mereka keluarga kamu, keluarga aku juga berarti, iya kan?"
"Tapi bukan begini caranya."
"Yang penting sekarang kamu dan keluarga kamu jadi akur. Udah gitu aja."
Mereka berhenti bicara ketika Tante Sinta dan kedua anaknya membawa banyak makanan ke ruang tamu, mereka masak yang banyak sekali untuk Viona dan Daniel.
...****************...
[Ziano, bisa kah kita bertemu sebentar?]
Asisten Zi membaca pesan dari Melinda, dia hanya menghela nafas, dia memang tidak ingin bertemu dengannya lagi. Apalagi sekarang ini dia sudah memiliki seorang istri, dia tidak ingin menjadi pria pengkhianat seperti Andrian atau Satria. Karena itu dia dia memilih untuk tidak bertemu dengan wanita itu.
Asisten Zi menemui Sandra yang sedang memasak di dapur, Sandra sedang melamun memikirkan bagaimana caranya agar membuat si pria kaku itu luluh padanya. Padahal dia selalu berdandan cantik.
"Sedang masak apa?"
Perkataan Asisten Zi mengagetkan Sandra, sampai dia yang sedang mengiris wortel, tangannya sedikit tergores oleh pisau. "Aww..."
Asisten Zi kaget melihatnya, "Makanya kalau masak jangan sambil melamun." Dia malah mengomel.
Asisten Zi segera mengambil kotak P3K, dia langsung mengobati luka di jari manis Sandra.
"Biar aku sendiri."
Tapi Asisten Zi tidak menanggapinya, dia malah meniupi salep luka yang sudah dia oleskan di jari Sandra, lalu menutupinya dengan plester. Dibalik sikapnya yang kaku, ternyata pria itu memiliki sikap yang lembut.
Sandra menjadi salah tingkah begitu ketahuan dia sedang memperhatikan wajah Asisten Zi, dia segera melepaskan tangannya dari gengaman Asisten Zi "Emm...a-aku...harus melanjutkan..."
Sandra terkejut begitu Asisten Zi malah menarik kembali tangannya, membuat jarak mereka begitu sangat dekat. Dia menelan Salivanya memandangi wajah pria tampan itu.
Jantung Sandra berdebar-debar begitu Asisten Zi meraih pinggangnya semakin merapatkan kedua tubuh mereka, mereka salint memandang tanpa berucap.
Asisten Zi mencondongkan wajahnya, menempelkan kedua bibir mereka. Sandra merasakan betapa lembutnya ketika bibir meraka bersentuhan. Asisten Zi menautkan kedua bibir mereka, lalu mereka berciuman dengan sangat lembut, semakin lama semakin terasa panas, sampai kedua lidah mereka saling bermain, saling bertukar saliva, saling mencecap dan menyesap, semakin terasa dalam.
Bahkan Asisten Zi mengangkat tubuh Sandra, dia membiarkan Sandra duduk di meja dapur, sementara dirinya berdiri di depan gadis yang mungkin akan menjadi calon mantan gadis ini. Mereka berciuman kembali, sampai bunyi cecapan kini terdengar begitu nyaring.
Asisten perlahan membuka kemeja Sandra, dia ingin melihat kembali apa yang pernah dia lihat dulu, bukan kah mereka sudah sah? Itu artinya dia sudah boleh menikmatinya.
Sampai sesuatu yang ingin dia lihat lagi itu menyembul ketika Asisten Zi menarik bra ke bawah, dia memandangi bulatan yang sangat putih dan mulus itu apalagi bagian pucuknya yang berwarna merah jambu itu begitu menggoda.
Asisten Zi tak menunggu lama lagi, dia langsung melahap bulatan yang indah bagian kiri itu.
"Mmmhhh..." Sandra membulatkan mata , untuk pertama kalinya dia merasakan begitu gelinya saat Asisten Zi menyesap dadanya, apalagi merasakan kelembutan lidahnya yang menari-nari memainkan put1ngnya, bahkan menghisapnya sangat kuat.