
"Viona, kenapa kamu menangis?" Daniel nampak kebingungan begitu melihat Viona tiba-tiba menangis.
"Oh nggak kok, aku gak nangis. Hanya kelilipan aja." Viona mengatakan sambil menghapus air matanya.
"Jangan membohongi aku Viona. Jika kamu punya masalah..."
Viona langsung mengecup bibir Daniel agar Daniel diam tidak bertanya panjang lebar padanya. Daniel mematung begitu merasakan bibir Viona menempel pada bibirnya, dia ingin membalas ciuman itu tapi Viona langsung menghindar.
"Aku masak dulu." Viona langsung pergi tanpa merasa berdosa.
Ciuman yang sangat nanggung. Membuat kepala Daniel terasa pusing. Padahal dia ingin berciuman dengan wanita itu lebih lama lagi.
Viona segera mengeksekusi bahan yang akan dia masak, dia bahagia akhirnya bisa memasak untuk Daniel. Walaupun mungkin ini masakan untuk pertama dan terakhir kalinya yang dia bisa persembahkan untuk Daniel.
"Biar aku bantu." Daniel mengambil daging sapi, dia memotong daging sapi itu menjadi beberapa bagian.
Viona hanya tersenyum memperhatikan Daniel, setiap kali melihatnya rasanya seperti mimpi dia bisa seperti ini bersama seorang Daniel.
Viona mulai memasak, mengocek makanan di dalam wajan, dia dikejutkan dengan Daniel yang tiba-tiba memeluknya dari belakang lalu mencium bahunya. Hembusan nafas Daniel menerpa kulit lehernya, membuat tubuhnya berdesir. Viona sekuat hati untuk terus fokus memasak.
Setelah semua masakannya matang, mereka pun makan bersama, mereka terlihat seperti sepasang pengantin baru yang sangat berbahagia.
"Bagaimana rasa rendangnya?" tanya Viona.
Daniel tak langsung menjawab, menikmati dulu rasa rendang itu. "Emm... enak."
"Benaran?" Viona lega mendengarnya.
"Iya enak sekali, aku ingin kamu tiap hari memasak untukku."
Viona hanya diam, dia pura-pura tersenyum. "Emm... ayo makan."
Daniel menganggukan kepala, dia mulai memakan masakan Viona, matanya tiada henti memperhatikan Viona yang sedang makan juga, padahal Viona lagi makan, tapi terlihat begitu menggemaskan. Dia tersenyum bahagia, dulu dia hanya membayangkan saja seandainya Viona memasak untuknya dan dia makan bersama Viona di meja makan ini. Akhirnya malam ini khayalannya terkabul.
Setelah selesai makan, mereka berdiri di balkon sana, memperhatikan pemandangan di malam hari, kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya sana. Kemudian turun hujan, menemani mereka di sepanjang malam ini. Membuat hawa terasa begitu dingin.
Daniel memperlihatkan sebuah bolpoin berwarna hitam pada Viona, "Apa kamu masih ingat bolpoin ini?"
"Bolpoinnya sama aja kayak yang lainnya. Apa ada kelebihannya?" Viona membawa bolpoin itu, dia mencoba menulis di telapak tangannya, rupanya tintanya susah mengering.
Viona membulatkan matanya, "Yang kamu pinjam itu?" Dia sama sekali tidak menyangka Daniel bisa menyimpannya dalam waktu yang sangat lama, sampai bertahun-tahun.
"Iya, dulu aku sengaja ingin mendekati kamu. Tapi kamu susah diajak bicara. Selalu menundukkan kepala."
Viona merasa terharu mendengarnya, tapi sayangnya dia tidak bisa hidup bersama pria itu. Sampai dia berusaha keras agar air matanya tidak keluar. Dia tidak boleh menangis di depan Daniel.
"Sebenarnya kamu juga cinta pertama aku, Daniel." akhirnya Viona mengakui perasaannya pada Daniel.
Daniel merasakan seperti sedang ditaburi bunga-bunga yang indah. Ternyata Viona juga dari dulu mencintainya.
"Tapi aku tidak bisa menunjukkan rasa cinta itu karena aku tidak memiliki kepercayaan diri. Kamu tau kan dulu penampilan aku seperti apa? Orang lain selalu memanggil aku si culun."
Daniel mendekatkan jaraknya pada Viona, dia memegang wajah Viona, memandangi wajah cantiknya wanita itu. "Dari dulu sebenarnya wajah kamu gak berubah, selalu terlihat cantik. Kamu sangat cantik Viona, hanya kamu saja yang tidak menyadarinya."
Viona malah tertawa kecil.
"Loh kenapa tertawa? Aku serius mengatakannya."
"Aku tidak menyangka saja seorang Daniel Gilbert bisa mencintai aku seperti ini. Rasanya seperti mimpi. Dan aku berharap untuk tidak bangun lagi, ingin selalu bersama kamu walaupun itu di dunia mimpi."
"Karena itu kamu harus bangun, kita harus membuat mimpi itu menjadi kenyataan. Aku ingin menikahi kamu, dan mengurus perceraian kamu dengan Satria."
Daniel sama sekali tidak tau mengenai Pak Anderson yang sudah mengancam Viona.
Keduanya saling menatap. Begitu terasa hening. Semakin lama semakin dalam mengunci pergerakan mereka satu sama lain, Daniel meminimalkan jarak diantara mereka berdua.
Daniel merengkuh pinggang Viona, membawanya semakin dekat, mengarahkan tatapannya hanya menatap kedua bola mata indah Viona. Memandanginya dengan penuh cinta dan memujanya tiada habisnya.
Daniel menundukkan wajahnya, menyatukan kedua bibir mereka, me-***** bibirnya, merapatkan pelukannya sehingga tidak ada jarak satu centimeter pun diantara mereka.
Ciuman itu semakin lama semakin terasa panas, saling mengeksplor dan menyesap rasanya sebanyak mungkin, Viona mengalungkan tangannya ke leher Daniel agar dia tidak terjatuh, karena Daniel semakin rakus mencium dirinya, membuat Viona tidak bisa mengimbanginya.
Hawa malam hari yang dingin kini terasa sangat panas. Mereka saling melepaskan ciuman mereka, menempelkan kedua kening mereka, mencoba untuk mengambil nafas sebentar, saling memandang dengan nafas terengah-engah.
Kemudian Daniel menggedong tubuh Viona, membawanya masuk ke dalam kamar. Hati Viona berdebar-debar, dia masih mengalungkan tangannya ke leher Daniel, memandangi pria tampan yang begitu gagah menggendong dirinya.