
Viona ingin melepaskan tangan Satria yang memeluk dirinya. "Mas..."
Tapi Satria semakin mempererat pelukannya, "Tidak perlu menunggu satu bulan lagi Viona, bahkan malam ini pun aku ingin menghabiskan semalaman dengan kamu."
Viona tertegun mendengarnya, mengapa tiba-tiba Satria meminta jatah padanya? Dan dia baru menyadari ternyata Satria waktu itu menjanjikan akan menyentuhnya setelah genap 2 tahun. Mengapa harus menunggu genap 2 tahun dulu waktu itu?
Satria membalikkan badan Viona, membuat mereka saling berhadapan, lalu mencondongkan kepalanya untuk mencium bibir Viona, namun Viona menahan bibir Satria dengan tangannya. "Aku masih kurang enak badan Mas." Viona mengatakannya dengan nada datar.
Viona sedikit mundur menjauhkan jaraknya dengan Satria agar tidak terlalu dekat, entah lah dia sama sekali tidak merasa berdosa, biarlah orang mau mengutuknya seperti apa, seorang istri telah menolak berhubungan badan dengan suaminya sendiri, bagaimana bisa melakukannya jika tidak ada rasa yang tersisa pada pria itu, yang paling utama hatinya masih sakit karena Satria telah membohonginya mengenai keadaannya selama ini. Untuk apa pura-pura ada kelainan pada hormonnya? Dia mulai merasa yakin jika Satria berselingkuh dibelakangnya. Tapi dia tidak bisa menuduhnya tanpa ada bukti yang jelas.
Satria baru ingat Viona belum kuat masuk kerja karena kondisi badannya yang masih sakit, "Apa masih sakit?"
"Sudah mendingan." Viona masih bersikap dingin pada Satria. "Aku mau istirahat dulu Mas." Tanpa menunggu persetujuan Satria, Viona segera masuk ke dalam kamar.
Padahal malam ini Satria ingin tidur satu kamar dengan Viona, tapi dia harus membiarkan Viona menenangkan diri dulu. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan Viona. Satria terpaksa masuk ke kamar yang satu lagi.
Masalah pesta, tentu saja Satria tidak akan pernah membawa Viona datang kesana karena dia takut Miska berbuat sesuatu kepada istrinya, dia tau sekali wanita seperti apa Miska.
Viona merebahkan badannya di atas kasur, dia memandangi kursi yang tadi diduduki Daniel, begitu teringat jelas saat dia melihat Daniel duduk di kursi itu. Rasanya begitu terasa sulit melupakan pria itu.
Bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan pria itu, rasanya dia sangat membenci dirinya sendiri. Dia yang menyuruh Daniel untuk melupakan dirinya, nyatanya dia sendiri yang tidak bisa melupakannya.
Pagi harinya, Viona rasa lebih baik dia bekerja hari ini, badannya sudah mulai enakan. Selama sarapan pagi, tak ada pembicaraan apapun diantara Viona dan Satria. Satria sesekali menatap Viona, haruskah selalu dia yang memulai? Dia tidak terbiasa seperti itu. Biasanya Viona selalu mengalah, tapi sekarang sungguh tidak diduga Viona malah meminta mereka berpisah. Satria rasa lebih baik dia biarkan dulu tenang. Nanti juga Viona akan bersikap biasa lagi.
Viona memilih naik bus untuk berangkat ke Laundry Qu, karena masih pagi bus pun terasa begitu sepi, bahkan Viona duduk seorang diri, dia jadi teringat saat dia duduk berdua bersama Daniel di dalam bus.
Viona menghela nafas, mengapa sulit sekali melupakan pria itu. Semakin dia berusaha keras untuk melupakannya, semakin besar pula ingatan dia padanya. Sangat merindukannya.
Sekitar jam 8 pagi Viona sudah sampai di Laundry Qu, dia disambut hangat oleh para karyawan disana dan Sandra juga.
"Akhirnya kamu sembuh Vi." Sandra memang sudah beberapa kali menjenguk Viona.
"Iya nih suntuk kalau di rumah sendirian."
"Hmm... baguslah aku hari ini bawa banyak makanan karena tau kamu akan kerja."
"Ish... aku sudah sarapan."
"Ayolah sedikit aja,"
Nyatanya Viona malah makan begitu lahap, sama sekali tidak terlihat sudah sarapan.
"Ish...ish...katanya sudah sarapan."
"Walaupun sakit, tapi jujur aja aku sering lapar akhir-akhir ini."
"Ish... jangan lah."
Sampai sore tiba, Viona sudah mempersiapkan buku laporan keuangan Laundry Qu tentang hari ini, dia baru sadar itu artinya dia akan bertemu Daniel lagi. Dia harus mempersiapkan jantungnya agar tidak meledak jika bertemu lagi pria itu.
"Oh iya Vi aku lupa. Daniel bilang laporan keuangannya perbulan saja."
Viona langsung menoleh ke arah Sandra. Rupanya Daniel sudah memenuhi janjinya untuk tidak lagi bertemu dengannya. Rasanya begitu menyakitkan tapi memang itu kan yang dia mau. Bahkan mungkin Daniel akan lebih gampang melupakannya, tidak seperti dia.
"Kamu akan hadir ke pesta nanti malam Vi?"
"Untuk apa? Mas Satria sama sekali tidak mengajak aku."
Alexa dan Pingkan datang ke Laundry, mereka membawa cucian kesana. Viona dan Sandra terpaksa menyambut mereka dengan ramah.
"Hm...aku harus tampil cantik nih, nanti malam aku akan bertemu ayang aku." Alexa mengatakannya sambil melirik Viona yang nampak tertegun mendengar pembicaraan dia dan temannya.
"Wah kalian memang serasi sekali." seru Pingkan.
Viona berusaha bersikap biasa saja, dia tidak boleh cemburu. Walaupun dia tau dari Daniel kalau Daniel tidak pernah mencintai Alexa, dia tidak tau kedepannya bagaimana, mungkin saja Daniel akan mulai mencintai wanita itu. Bukankah dia dulu selalu beranggapan Alexa itu sangat serasi jika bersanding dengan Daniel.
Pingkan menatap Viona, "Vi sebenarnya kadang aku itu malu bertemu kamu."
"Memangnya kenapa? Karena dulu sering bully Viona hm?" Malah Sandra yang bertanya dengan agak ketus. Dia siap pasang badan jika mereka mengganggu Viona.
"Nah itu dia, rasanya malu sekali setiap bertemu Viona. Oh iya kamu tau kenapa kami berhenti bully kamu dulu? Itu karena Daniel yang marah sama kami dan menyuruh kami tidak... ahhhh."
Alexa langsung mencubit lengan Pingkan, dia tidak ingin Viona tau tentang hal itu.
"Oh jadi maksudnya dulu kalian berhenti membully Viona gara-gara Daniel yang marah pada kalian?" Sandra mencoba mencerna perkataan Pingkan.
Pingkan tak menjawab, dia malah sibuk mengusap-usap lengannya yang kesakitan.
"Ya begitu lah Daniel, dia terlalu baik sama semua orang. Tapi cintanya hanya untuk satu orang, dan orang itu adalah aku." Alexa lagi-lagi melirik Viona setiap berbicara. Seakan dia ingin Viona tau bahwa Daniel sangat mencintainya.
Sayangnya Viona sudah tau apa yang diucapkann Alexa itu sebuah kebohongan. Viona malah terus memikirkan ucapan Pingkan tadi bahwa ternyata dulu Daniel begitu perhatian padanya walaupun dengan cara yang berbeda. Betapa besarnya cinta Daniel untuknya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, tepatnya hanya ingin melihat Viona, ingin memastikan wanita itu baik-baik saja, walaupun harus memandanginya dari jarak yang lumayan jauh.
Ya... pria itu adalah Daniel, dia sedang berada di dalam mobil, memandangi Viona dengan tatapan sendu, merindukan wanita itu.
Aku lega kamu sudah sembuh Viona.