
"Berani sekali dia mencoba membunuh aku dengan racun, dasar wanita ular." Pak Anderson mengepalkan tangannya, dia marah saat mengetahui dia sering merasakan sesak karena makanan yang dia makan ditaburi racun.
"Aku akan pastikan dia mendapatkan hukuman yang berat." Lalu Pak Anderson terbatuk-batuk.
Asisten Zi hanya diam, dia setia berdiri di samping brankar.
Pak Anderson jadi teringat dengan Daniel yang begitu peduli terhadap Viona sampai rela terluka demi wanita yang sudah bersuami itu "Zi..."
"Kenapa Tuan?"
"Daniel sedang apa sekarang?"
Asisten Zi terdiam sebentar, dia tau Daniel kabur dari rumah sakit, karena dari rumah sakit belum mengizinkan Daniel untuk pulang. Tapi dia tidak mungkin bilang yang sebenarnya pada Pak Anderson.
"Dia sedang tidur Tuan, tadi saat anda belum siuman. Tuan Daniel memaksakan diri untuk melihat keadaan anda."
"Benarkah?" Pak Anderson merasa tersentuh mendengarnya.
"Iya, Tuan."
"Hm... Zi, aku ingin kamu menyelidiki tentang wanita yang bernama Viona itu. Termasuk tentang keluarganya, aku harus tau itu."
"Tapi untuk apa Tuan?"
"Untuk memberi peringatan jika dia berani menggoda anakku. Bagaimana bisa Daniel menyukai wanita yang sudah bersuami? Itu akan mencoreng nama baik keluarga dan perusahaan. Apalagi wanita itu pasti berasal dari keluarga rendahan."
...****************...
Melihat Viona yang berpenampilan seperti itu, membuat Daniel merasa gerah, sampai tenggorokannya terasa kering. Dia segera mengambil minuman dingin di dalam kulkas dan langsung meneguknya.
"Daniel."
Tiba-tiba Viona datang tanpa merasa berdosa, wanita itu tersenyum manis padanya. Membuat Daniel tersendak.
"Ohok...ohok...ohok..."
Viona panik melihatnya, dia reflek menepuk-nepuk punggung Daniel, "Ya ampun, minumnya pelan-pelan dong." Viona malah mengomelinya.
Sentuhan tangan Viona ke punggung Daniel serasa tubuhnya tersengat aliran listrik, dia segera menjauhkan dirinya dari Viona, membuat Viona kebingungan kenapa pria ini terlihat salah tingkah.
Benar-benar wanita polos padahal dia sudah tidak polos lagi.
"Ka-kamu duluan masak, aku...aku mau ke kamar mandi dulu." Daniel mendadak jadi gagap.
Daniel bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia menyandarkan punggung di daun pintu, memegang dadanya seakan jantungnya akan segera meledak.
Malam ini rasa lapar malah berkurang, bukan ingin memakan nasi lagi, tapi ingin memakan Viona.
"Ah sial, mengapa harus berpikiran mesum kayak gini."
Sementara itu Viona lagi didapur, dia sedang memotong sayuran dan daging sapi, tiba-tiba dia merasakan dirinya mual. Viona berlari ke wastafel, mengeluarkan semua yang mendesak di dalam perutnya, sampai dia merasa sedikit lega.
"Ada apa denganku?" Viona tercekat begitu mengingat bulan ini dia belum datang bulan juga, belum lagi nafsu makannya yang semakin begitu meningkat.
Apa aku lagi hamil?
Viona menggelengkan kepala, dia tidak boleh hamil. Disaat dia sudah bertekad untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan Satria, keluarganya, dan juga... Daniel. Karena itu Viona ingin malam ini menjadi malam yang indah dia bersama Daniel untuk terakhir kalinya.
Viona sangat tau Pak Anderson seperti apa, karena Satria sudah lama kerja disana, sering menceritakan bagaimana kejamnya ayah dari pria yang sangat dia cintai itu. Apalagi Viona sangat ingat dengan ancaman Pak Anderson yang akan membuat dia dan orang disekitarnya menderita jika dia tetap bersama Daniel. Dia tidak ingin menyeret orang-orang disekitarnya harus berada dalam masalah ini gara-gara dirinya.
Viona mengusap perutnya, tapi seandainya dia hamil, dia rasa dia akan bahagia karena memiliki separuh nyawa dari pria yang dia cintai. Karena memang dia dan Daniel tidak akan bisa bersama, terlalu jauh perbedaan diantara mereka, apalagi statusnya yang kini masih menjadi istri Satria.
Viona teringat dengan tawaran Sandra yang ingin mengenalkan dia pada sepupunya malam ini, mumpung ada acara keluarga. Tapi sayangnya Satria tidak mengizinkannya menginap di rumah Sandra. Padahal ada pekerjaan yang sangat diminati Viona.
"Kamu kenapa Viona?" tanya Daniel, begitu melihat Viona berdiri di depan wastafel.
"Oh tidak, aku tidak apa-apa kok."
"Kamu habis muntah?"
"Emm... iya, sepertinya aku masuk angin."
"Hmm... sayang sekali, aku pikir kamu hamil." canda Daniel. Walau di dalam hatinya berharap iya.
"Aku pasti akan bertanggungjawab, aku akan menikahi kamu. Aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita."
Viona terdiam, entah mengapa dia merasa sedih mendengarnya, karena mungkin hari ini adalah hari terakhir dia bertemu dengan Daniel. Karena itu dia ingin satu malam ini dia habiskan bersama Daniel. Ingin membuat kenangan indah diantara mereka berdua.
Walaupun sebenarnya ini sangat menyakitkan untuknya, begitu juga untuk Daniel. Tapi hanya ini jalan satu-satunya yang bisa dia lakukan, untuk kebaikan semuanya, walaupun mungkin dia harus mengorbankan perasaannya. Karena dia tidak akan pernah melihat pria itu lagi, pria yang sangat dia cintai, dia tidak ingin Daniel dan papanya bertengkar gara-gara dia. Dan apalagi kalau sampai Pak Anderson menyakiti keluarganya.
"Viona, kenapa kamu menangis?" Daniel nampak kebingungan begitu melihat Viona tiba-tiba menangis.
Viona segera menghapus air matanya, padahal dia sudah berusaha keras untuk tidak menangis. Sungguh takdir yang dia dapatkan dari begitu menyakitinya, entah kapan dia bisa hidup bahagia. Sementara dia harus pergi meninggalkan orang yang telah membuatnya bahagia. Demi kebaikan Daniel. Dia tidak ingin membuat Daniel menjadi anak yang membangkang gara-gara dirinya. Karena dia tau rasanya kehilangan orang tua itu seperti apa.