
"Terus kalau Asisten Zi tidak datang bagaimana?" tanya Viona dengan nada pelan, lewat telepon, karena dia sedang memeluk Daniel yang tengah tertidur, dari kemarin Daniel tidak bisa tidur karena masih sedih atas kepergian papanya.
"Ya sudah, aku rasa lebih baik pernikahan ini gak bisa dilanjutkan." Jawab Sandra, hatinya meringis mengatakannya. "Itu artinya dia masih mencintai wanita itu dan aku tidak ingin hidup dengan orang yang hatinya dibayang-bayangi masa lalu."
"Tapi kalian baru menikah lho San, pernikahan itu bukan main-main."
"Justru karena masih baru, aku takut semakin lama aku tinggal bersama dengannya, perasaan aku semakin besar, sementara Mister Zi tidak tidak bisa melupakan masa lalunya. Aku takut sakit hati yang kedua kalinya Vi."
Viona sebagai seorang wanita, dia mengerti dengan apa yang dirasakan Sandra, apalagi Sandra sudah merasakan sakit hati atas pengkhianatan Andrian. Dia juga pernah berada di posisi itu saat Satria mengkhianatinya, karena itu dia akan menghargai apapun keputusan Sandra, karena Sandra yang menjalankan pernikahan ini, walaupun dia berharap Sandra dan Ziano tidak akan berpisah.
"Hmm... ya sudah, aku akan menghargai keputusan kamu San, walaupun aku berharap kamu dan Asisten Zi tidak akan berpisah. Dan kamu harus memikirkannya secara matang."
Sandra hari ini tidak begitu semangat dalam pekerjaannya. "Iya Vi."
...****************...
Karena masih berduka atas kepergian Pak Anderson, Daniel belum bisa masuk kerja. Karena itu Ziano yang menghendel pekerjaan Daniel.
Namun Ziano tidak bisa konsetrasi karena terus memikirkan Sandra, Ziano yakin apa yang dia rasakan pada Sandra itu adalah sebuah cinta namun mengapa Sandra tidak mempercayainya? Apa dia terlalu kaku?
Ziano mencoba membuka google. dia menulis bagaimana cara menunjukkan rasa cinta kepada wanita.
Klik!
Ziano mencoba mencari halaman tersebut, sampai akhirnya dia membaca beberapa artikel disana. Rupanya Ziano tidak pernah menunjukkan semua itu pada Sandra. Pantas saja Sandra meragukan perasaannya.
Salah satunya adalah bersikap romantis dengan memberikan hadiah pada wanita, Ziano mencari halaman lagi hadiah apa yang disukai wanita, rupanya salah satunya bunga.
"Apa aku harus memberikannya bunga? Tapi bunga apa?" Ziano nampak kebingungan. Karena dia tidak pernah memberikan bunga pada wanita.
Drrrrttt...Drrrrttt...
Ponsel Ziano bergetar, dia melihat ada pesan dari Melinda.
[Zi, sebentar lagi aku berangkat. Tak bisa kah kamu menemui aku sebentar. Begitu penting kah wanita itu untuk kamu Zi makanya kamu mengabaikan aku]
Ziano rasa ucapan Sandra memang benar, dia harus menemui Melinda, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ziano membalas pesan dari Melinda.
[Sekarang aku akan menemui kamu.]
Betapa senangnya hati Melinda saat membaca balasan dari Ziano, dari dulu Ziano selalu ada untuknya dan dia sangat merindukan Ziano yang seperti itu.
Melinda berdandan dengan begitu cantik, bahkan dia menitipkan sebentar Zivana kepada neneknya karena dia ingin bisa berduaan bersama Ziano, dia ingin mencurahkan segala rasa kerinduan kepada pria tampan itu.
Ting...Tong...
Terdengar suara bell berbunyi, terukir jelas senyuman indah diwajah cantik Melinda. Melinda segera membuka pintu, wajahnya begitu berseri saat melihat orang yang sangat dia rindukan datang.
...****************...
Malam ini Sandra menunggu kedatangan Ziano, walaupun dia tidak tau Ziano akan datang atau tidak, namun dihatinya yang terdalam dia berharap Ziano akan datang, itu artinya pria itu sudah mengetahui isi hatinya bahwa benar-benar dia mencintai Sandra.
Namun jika Ziano tidak datang, itu artinya Ziano sudah menyadari bahwa sebenarnya masih mencintai Melinda, dan memilih wanita itu. Tentu saja dengan berat hati Sandra akan memilih merelakan Ziano pergi bersama Melinda.
Sandra memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya karena memang udara malam ini begitu dingin. Dia begitu iri memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di festival sana, mereka saling bergandengan tangan dengan pasangannya dan ada juga yang sama-sama menggandeng anak mereka.
Apakah dia bisa begitu bersama Ziano? Apakah mereka bisa menjalani rumah tangga yang semestinya sampai memiliki seorang anak? Walaupun malam itu mereka sempat akan melakukan malam pertama, namun dia tidak tau Ziano ingin melakukannya atas dasar cinta atau sebatas n@fsu saja.
Satu jam...
Dua jam...
Tiga jam...
Sudah tiga jam Sandra menunggu kedatangan Ziano, bahkan sekarang hampir pukul 12 malam, pria itu masih belum datang juga. Membuat Sandra gelisah.
Apakah Ziano tidak akan datang?
Apakah Ziano sudah tau siapa yang ada dihatinya saat ini bahwa dia masih mencintai Melinda?
Apakah Ziano malam ini masih bersama Melinda?
Beberapa pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya, berharap itu semua salah. Dia berharap Ziano akan memilih dirinya, walaupun mungkin rasanya semua itu tidak akan terjadi.
"Mbak maaf sudah tengah malam, festivalnya mau tutup mbak."
Sandra baru menyadari kini suasana di festival itu begitu sepi.
"Tapi Mas, tunggu sebentar saja, suami aku mau datang kesini sebentar lagi."
"Maaf gak bisa mbak."
Sandra terpaksa meninggalkan arena festival, dia berjalan pelan diatas trotoar, mungkin saja nanti Ziano datang melihat dirinya yang sedang berjalan seorang diri disana sendirian.
Sandra mencoba menelpon Ziano, namun rupanya ponselnya tidak aktif.
Tanpa terasa Sandra menitikan air matanya, dia tidak tau hatinya akan terasa sesakit ini mengetahui fakta bahwa Ziano tidak akan menemuinya malam ini, itu artinya Ziano sebenarnya tidak mencintai Sandra dan memilih menerima keputusan Sandra bahwa mereka akan berpisah.
Sandra malah semakin terisak, begitu menyadari dirinya ternyata memiliki perasaan yang dalam pada pria itu. Padahal hanya kenal sebentar tapi dia sudah jatuh hati padanya, berhasil menyingkirkan Andrian di hatinya, sampai tak ada rasa sedikitpun yang tersisa pada mantan kekasihmya itu. Namun ternyata perasaannya bertepuk sebelah tangan, Ziano tidak mencintainya, pria itu mungkin hanya kasihan padanya.
Benarkah seperti itu?