Semalam Dengan Istrimu

Semalam Dengan Istrimu
Bonchap 13



Ketiga penculik membawa Sandra ke sebuah kapal pesiar pribadi.


Sandra nampak linglung karena dia ditinggalkan di kapal pesiar sendirian. Apalagi ketiga penculik itu sudah pergi dan meninggalkan kapal pesiar itu.


Sandra tidak bisa kabur karena kapal sudah mulai berlayar mengarungi lautan.


"Aish... mengapa aku dibawa kesini?"


Sandra memperhatikan area kapal pesiar itu, begitu sepi, hanya terdengar suara angin yang menimbulkan suara riuk ombak di lautan sana.


Sandra berjalan melewati pinggiran kapal dengan pandangan matanya yang beredar mencari seseorang, dia kegat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


Dari aroma tubuhnya, Sandra tau pasti itu Ziano.


"Aku merindukan kamu, Sandra." lirih Ziano. Dia memeluk wanitanya dengan begitu erat sambil mencium pundak Sandra.


Sandra mendengus kesal, dengan gampangnya Ziano bilang merindukannya tapi tidak mengabarinya sama sekali.


Sandra melepaskan tangan kekar yang melingkari perut Sandra, dia membalikkan badan, menatap tajam pada Ziano.


"Merindukan aku kamu bilang? Setelah beberapa hari mengabaikan aku, begitu?" Sandra mengucapkannya dengan nada kecewa.


"Aku..."


Ziano tidak diberi kesempatan untuk bicara.


"Selama beberapa hari ini aku gak bisa tidur nyenyak, aku gak enak makan gara-gara mikirin kamu terus. Tega kamu Mister Zi."


Sandra memukul-mukul dada Ziano.


Ziano menahan tangan Sandra, "Aku minta maaf, aku hanya ingin memberi kejutan dan ingin membuat kamu terus merindukan aku."


"Tapi gak begini caranya. Sekali bercanda kamu extrim tau gak, gak mengabari aku terus tiba-tiba menculik aku."


"Hah?" Sandra terkejut mendengarnya.


"Aku ingin kita bisa berkeliling dunia dengan kapal ini."


"Tapi ini tuh terlalu berlebihan,"


"Gaji aku besar. Kamu gak perlu takut tidak bisa makan. Dan ini memang hasil kerja keras aku sendiri."


Ziano jadi teringat dengan ayahnya yang meminta dia untuk tetap tinggal di Belanda untuk mengurus perusahaan, bahkan ayahnya ingin Ziano bisa bersanding dengan salah satu anak dari sahabatnya, namun Ziano tidak ingin menerimanya, baginya sudah bertemu dengan sang ayah, itu lebih dari sekedar cukup. Dia tidak akan meninggalkan Sandra. Dan dia memilih tetap mengabdi pada DG Grup, karena tanpa Tuan Anderson dia tidak akan bisa seperti ini. Dan berencana ingin memiliki kerja sampingan yaitu membangun cabang laundry Qu di berbagai penjuru di negeri ini.


"Aku ingin kita membuka laundry yang banyak di negeri ini."


"Kenapa tiba-tiba ingin membuka laundry? Apa ingin ikut-ikutan dokter Dhika?"


"Mengapa jadi membahas dia?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku tidak suka dari cara menatap dia ke kamu. Setiap memeriksa keadaan aku, dia selalu mencuri pandangan melihat ke arah kamu."


"Kamu cemburu?"


"Tentu saja, apa aku tidak boleh cemburu?"


"Lalu kenapa harus tidak menghubungi aku beberapa hari ini?"


Ziano merangkul Sandra, merapatkan tubuhnya, dia membenarkan anak rambut Sandra yang di mainkan oleh angin laut, "Aku hanya ingin saling memupuk rasa rindu. Agar kita memiliki rasa rindu yang teramat dalam. Karena aku ingin kita sama-sama mencurahkan rasa rindu itu disini. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya."


Sandra memang begitu sangat merindukan Ziano, bahkan rasa kecewa itu kini telah sirna, yang tersisa kini hanyalah rasa rindu yang begitu menggebu, dia melingkari leher Ziano menatap begitu dalam pria itu, "Sejujurnya aku sedang kesal kepadamu tapi kamu sukses membuat aku begitu sangat merindukan kamu. Aku sangat merindukan kamu, Mister Zi."


Keduanya saling menatap, lalu saling menyatukan bibir mereka dengan segala kerinduan yang mereka punya. Angin sepoi-sepoi menjelang siang menuju sore menerpa tubuh mereka, menimbulkan hawa dingin membuat mereka semakin merapatkan kedua tubuh mereka, mereka semakin memperdalam ciuman mereka, saling menjelajah lebih dalam, semakin dalam.