
Di balik jendela kamar hotel, terlihat Satria yang sedang memperhatikan berlalu lalangnya kendaraan di jalan raya sana, dia berkali-kali menghela nafas, badannya sedang berada disini, tapi hati dan pikirannya tidak, padahal dari sore dia telah menghabiskan tenaganya bersama Miska.
Selama 4 hari ini Viona tidak juga mengalah untuk minta maaf duluan padanya, menyapa pun tidak, biasanya dia tidak seperti itu. Seakan dirinya tidak penting lagi untuk wanita itu.
Mengapa Viona tahan sekali mendiamkan aku? Dari dulu dia tidak pernah seperti itu?
Padahal dulu dia sangat terbiasa dengan sikap Viona yang selalu mengalah dan selalu sabar menghadapinya, dia tidak akan kuat sampai dua hari bertengkar karena itu selalu dia yang mengalah, karena dari kecil Viona selalu terbiasa mengalah kepada tante maupun saudara sepupunya.
Satria merasakan ada tangan Miska memeluk dirinya dari belakang, malam itu Miska masih memakai lingerienya yang s3ksi. Tangannya tidak bisa diam, dia menggerayami tubuh Satria, namun tiba-tiba Satria menahan tangan itu, dia membalikan badan, mentap Miska dengan tatapan serius.
"Bu Miska."
Miska mencibir, dia tidak suka dipanggil seperti itu kesannya dia sangat tua, dia mengalungkan tangannya ke leher Satria, "Panggil aku sayang, aku gak suka jika kamu memanggil aku seperti itu."
Satria terdiam sebentar, dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakanya, "Apa lebih baik kita akhiri saja kontrak patner ranjang kita?"
Miska langsung melepaskan tangannya yang memeluk leher Satria, dia terlihat kecewa mendengar pembicaraan Satria, "Gak bisa, kontrak kita tinggal sedikit lagi. Kamu gak bisa membatalkannya begitu saja. Bukannya kamu ingin hidup bersama aku?"
"Aku tidak pernah bilang seperti itu, apa selama 23 bulan ini tidak cukup buat aku mengabdi kepada Anda, saya sudah memuaskan anda seperti itu."
"Tapi aku mencintaimu, bisa kan kamu sabar sebentar, perusahaan itu akan menjadi milik kita."
Satria terdiam, dia juga sebenarnya menginginkan dirinya menjadi orang serba berkecukupan. Tapi apa pentingnya jika tidak ada Viona? Walaupun dia pernah tergiur lebih baik mencari wanita yang lebih dari Viona, tapi ternyata rasanya tidak rela jika membayangkan Viona menjadi milik orang lain. Viona yang selalu perhatian padanya, dia tidak ingin perhatian itu Viona berikan pada orang lain.
Selama Satria hidup, dia juga tertekan dengan keluarganya yang selalu meminta uang diluar kemampuannya, bahkan dari sejak lulus sekolah dia sudah bekerja keras untuk biaya sekolah adik-adiknya, dan diputuskan mantan pacar karena dia bukan orang yang mampu. Karena itu salah kah jika dia terpaksa menjual dirinya untuk sebentar? Agar dia memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan dan bisa memenuhi semua kebutuhan dia dan keluarganya.
"Maafkan saya bu, saya tidak bisa melanjutkan ini semua."
Satria menjadi emosi mendengarnya, "Baiklah silahkan lakukan, dan saya kan membocorkan rahasia kita berdua kepada suami anda."
Miska menjadi ketakutan, dia tidak ingin jatuh miskin, "Kamu berani melawan aku?"
"Karena itu kita akhiri saja hubungan ini. Mereka akan curiga jika anda menurunkan lagi jabatan saya."
Miska tertawa kecil, "Kamu sedang mempermainkan aku?"
"Nyatanya anda yang akan lebih rugi, saya tidak akan kehilangan apapun jika ada yang membongkar hubungan kita, bahkan istri saya tidak akan pernah meninggalkan saya apapun yang terjadi. Berbeda dengan anda, mungkin anda akan di usir oleh suami anda." Satria mengatakannya dengan santai.
Miska menjadi semakin emosi, dia ingin menampar Satria tapi Satria menahannya, "Kau benar-benar licik, awas saja aku akan menghancurkan hidup kamu." Miska melepaskan tangannya yang kesakitan karena di pegang dengan kuat oleh Satria.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, jika aku hancur, hidup anda juga akan hancur, aku tidak akan tanggung-tanggung membicarakan semuanya pada suami anda."
"Brengsek kamu Satria!"
Plakk...
Akhirnya Miska berhasil menampar wajah Satria. Satria sangat tidak terima ditampar seperti itu, dia ingin balik menampar Miska dengan matanya yang begitu melebar seakan kerasukan setan, tapi dia mencoba dengan kuat menahannya, beruntung dia masih bisa mengendalikan emosinya. Nafasnya tersengal-sengal menahan amarah.
Satria segera melepaskan Miska dari cengkraman nya, dia memakai bajunya kembali, dia bergegas keluar meninggalkan Miska. Bahkan menutup pintu dengan begitu keras. Satria tidak sadar Detektif Al yang sedang memata-matainya.
"Awas kamu Satria!" teriak Miska, dia tidak terima dicampakkan seperti ini oleh Satria.