Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 9


"Oalah, ditugaskan ke mana emangnya, Sayang?" tanya Raisa dari ujung telepon. "Aku tuh khawatir banget sama kamu tau gak," bubuh wanita itu. 


"Ke daerah Jawa Barat. Udah kamu jangan khawatir. Aku baik-baik aja, kok," ucap Rafi yang tengah berada di sebelah Alea. 


"Ya udah deh. Jangan lupa makan, ya. Semangat kerjanya." Raisa sama sekali tidak curiga. Kecurigaannya yang kemarin muncul menyesaki ruang dada, kini seketika sirna. 


Wanita itu merasa tidak perlu berpikir lebih jauh, karena sang suami sudah pasti tidak akan berbuat aneh-aneh. Pria yang telah menikah dengannya itu pasti sibuk bekerja keras demi menghidupi dirinya. 


"Iya, Sayang. Makasih, ya," ucap Rafi. Membuat Alea yang ada di sebelahnya seketika melirik, kemudian menampakkan wajah yang cemberut. 


Bagaimana pun juga, wanita itu begitu cemburu saat melihat Rafi bermesraan dengan Raisa. Walaupun dirinya siap untuk menjadi kekasih gelap, tapi bukan berarti hatinya tidak sakit jika pria yang selama ini dicintainya bersikap sangat manis dengan sang istri sah. 


"Iya, Sayangku. Kamu di sana berapa lama?" tanya Raisa lagi seolah masih ingin berlama-lama berbincang dengan suaminya. 


"Sekitar satu minggu," sahut Rafi dengan santainya. "Oh iya, nanti aku minta Rian buat temenin kamu deh, ya." Rafi berbasa-basi seolah begitu peduli. Padahal ia tahu, tanpa diminta pun, Rian akan selalu sigap siaga menjaga sang adik. 


"Iya, Sayang. Makasih, ya." Raisa begitu lega. Kecemasannya perlahan tergerus karena perkataan Rafi yang sangat manis. Pria itu bahkan nampak begitu peduli dengan dirinya. 


"Sama-sama. Aku tutup dulu ya, teleponnya," ucap Rafi, tidak sabar ingin bermesraan terus dan terus dengan Alea. "Ini mau sarapan, terus siap-siap." 


"Iya, Sayangku. See you." Berbeda dengan Rafi, Alea sebenarnya masih ingin mengobrol panjang dengan sang suami. Ia rindu, sangat rindu walau baru ditinggal sejak tadi malam. 


Rafi tak membalas. Akhirnya, Raisa pun menutup sambungan telepon dengan berat hati. 


Tepat di sebelah Rafi, ada Alea yang sudah begitu geram sejak tadi. "Lama banget sih, Honey," protes Alea yang sebenarnya sudah ingin teriak sejak tadi. 


Pun ia ingin leluasa merengkuh pria yang dianggap sebagai kekasihnya itu, meskipun sudah berstatus sebagai suami orang. Barangkali jika ada orang selain Rian yang tahu, ia sudah dicap sebagai perebut lelaki orang.


"Maaf, namanya juga istri. Wajar kalau kaya gitu," ucap Rafi. Bukannya mencoba menenangkan Alea, ucapannya itu justru menyakiti hati wanita yang kini ada dalam pelukannya itu. 


Alea jadi sadar, bahwa ia bukanlah siapa-siapa Rafi, meski ia selalu menganggap bahwa hati Rafi sudah untuk dirinya. 


Sejenak, Alea menundukkan pandangan. Kemudian pandangannya kembali mengarah pada Rafi. Tidak ada waktu untuk bersedih hati. Justru saat ini, ia harus benar-benar memaksimalkan waktu bersama pria yang dipujanya itu. 


"Kita makan apa pagi ini?" tanya Alea memastikan. 


"Mmm... " Rafi nampak menimbang-nimbang. "Biasanya di gang sana sih ada penjual ketoprak yang mangkal." Rafi bangkit, ia nampak memeriksa tempat yang dimaksus dari jendela. Kebetulan jendela itu langsung mengarah pada sebuah gang karena posisinya yang terletak di bawah. 


"Nah, itu ada," ucap Rafi spontan saat melihat gerobak ketoprak langganannya saat tinggal di vila ini. 


Sontak Alea pun turut melihat pemandangan itu. "Ahhh, kelihatannya enak." Alea juga tertarik. Ia bukan pecinta ketoprak. Namun, pada kesempatan seperti ini, ia cukup ingin menyantap makanan itu. 


Mereka pun bergegas ke tempat yang di tuju. Untuk menuju ke sana, ia harus menuruni tangga dan juga jalanan bebatuan. Udara yang begitu sejuk dapat memanjakan diri Alea. Ditambah, sekeliling yang nampak penuh kehijauan. 


Wanita itu hanya diam saja. Sesekali ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya karena suhu cuaca yang begitu dingin. Ia mengenakan kardigan berwarna cokelat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang. 


"Mau dimakan si sini? Atau dibungkus?" tanya penjual ketoprak berjenis kelamin laki-laki itu, memastikan apakah pembelinya ingin menyantap ketoprak di dekat gerobaknya, atau dibawa pulang. 


"Dibungkus aja," usul Alea. 


Sontak Rafi pun melirik wanita itu. Ia mengira mereka akan menyantapnya di sana. "Kenapa? Enakan di sini loh," saran Rafi. 


"Aku gak kuat dinginnya di luar," ucap Alea seraya memperlihatkan bahwa dirinya begitu kedinginan. 


"Oh, ya udah, dibungkus aja, Bang." 


Penjual ketoprak itu pun segera membuat pesanan sang pembeli. Alea dan Rafi menunggu selama beberapa saat, hingga akhirnya ketoprak mereka pun jadi. Mereka kembali ke dalam vila. 


"Oh my God, Honey. Ini dingin banget." Alea sibuk menghangatkan tubuhnya dengan terus menggosok-gosok kedua telapak tangan, kemudian ia tempelkan pada kedua pipinya yang chubby. 


Rafi sibuk mengambil piring dan sendok. "Sabar, Sayang. Kita makan dulu. Setelah itu, aku bakal beri kehangatan buat kamu," ucap Rafi dengan mengulas senyuman. 


Alea yang paham dengan pikiran dewasa sang kekasih itu pun tersenyum geli. "Oh, Honey. Kamu benar-benar idaman," ucapnya seraya menyendok ketoprak ke dalam mulutnya. 


Rafi dan Alea mulai menyantap makanan yang cukup jarang mereka makan itu. Sesekali mereka saling suap-suapan dengan begitu romantis. Tanpa memedulikan ada hati yang terluka di jauh sana. 


Rafi menghabiskan ketoprak di piringnya lebih cepat daripada Alea. Wanita itu memang cukup lama dalam memakan sesuatu. Ia menyendok dan mengunyah makanan dengan begitu pelan. 


"Honey, aku udah kenyang," ucap Alea. Padahal tubuh wanita itu tidaklah kurus, tapi makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya hanyalah sedikit. 


"Ya udah, aku siap habiskan." Rafi pun segera merebut piring Alea yang di dalamnya masih ada makanan ketoprak sedikit. 


"Habis ini, sekalian kamu yang aku habiskan," ucap Rafi dengan lirikan jahat. Alea hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa pria yang dicintainya itu sudah berlebihan dalam menyalurkan hasratnya. 


Tidak lama kemudian, mereka pun menyudahi aktivitas makan pagi. Tanpa mencuci piring terlebih dahulu, mereka justru langsung bergegas ke dalam kamar untuk saling menghangatkan badan. Tubuh Alea menjadi polos hanya dalam hitungan detik. 


***


"Abang?" sapa Raisa pada Rian di ujung telepon. 


"Iya, Sa. Ada apa?" jawab Rian dengan nada yang lembut. 


"Rafi tuh ternyata tugas ke luar kota," ungkap Raisa dengan perasaan sedih karena ditinggal sang suami dalam keadaan hamil. "Seminggu katanya. Dan sekarang aku pengin makan mangga muda."


Rian mencerna perkataan sang adik sejenak. Rafi ditugaskan ke luar kota? Itu tidak seperti biasanya. Ia bahkan paham betul bahwa Rafi tidak pernah ditugaskan ke luar kota. Terlebih, Alea tadi juga tidak berangkat kerja. Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua.