Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 7


"Kamu biasanya beli yang mana?" tanya Rian pada sang adik. 


"Yang biasa aku beli lagi gak ada, Abang. Makanya aku nanya ini," ucap Raisa seraya terus memilah dan memilih. "Yang ini aja deh." Wanita utu akhirnya memutuskan. 


Ia kembali melanjutkan langkah untuk melihat-lihat apa yang harus ia beli. Sementara itu, Rian masih terus mengedarkan pandangannya. 


Dan tiba-tiba matanya terbelalak. Ia mengucek mata sebanyak tiga kali untuk memastikan apa yang ia lihat.


"Rafi? Alea?" tanyanya kepada diri sendiri di dalam hati. Langkahnya terhenti, sedangkan Raisa telah cukup jauh melangkah. 


Dari kejauhan, nampak tangan Rafi merangkul pundak Alea seraya berjalan menuju lantai atas. Mereka tengah menaiki eskalator mall itu. Rian masih melongo melihat pemandangan itu. Berani-beraninya Rafi dan Alea bermain di belakang secara buka-bukaan begini. 


"Abang?" Raisa memanggil sang kakak sembari menghampirinya. Tapi, sang kakak tak kunjung menyahuti dirinya. Membuatnya ikut menengok ke arah yang sama dengan Rian. 


"Abang?" panggilnya lagi, membuat Rian tersentak kaget. 


"Hah? Gimana, Raisa?"  tanya Rian memastikan. Fokusnya sedari tadi harus terbagi. 


"Itu siapa, Bang? Kok kayak Rafi, ya?" tanya Raisa mulai curiga. "Tapi kok sama perempuan?" Ia nampak berpikir begitu keras. Sementara itu, Rian sedang memikirkan cara untuk menyembunyikan hubungan Rafi dan Alea dari adiknya. 


"Ah, enggak mungkin deh. Rafi kan lagi sama temannya," imbuh Raisa. Lagipula, ia percaya penuh kepada suaminya akan menjaga perasaannya. 


"I-iya, gak mungkin lah." Rian berusaha meyakinkan ucapan sang adik, walaupun dugaan sang adik sangat benar adanya. 


Rian melihat jelas bahwa Rafi berjalan mesra dengan Alea. "Ya udahlah kita lanjut lagi aja belanjanya," bubuh Rian. 


Sekarang mereka nampak melirik ke bagian gula dan susu. Tanpa menimbang-nimbang, Raisa meraih beberapa bungkus untuk dimasukkan ke dalam trolitroli karena ada merk yang telah biasa ia beli. 


"Oh iya, kamu gak pengin main ke rumah, Sa?" tanya Rian basa-basi untuk mengalihkan fokus Raisa. Takutnya sang adik itu kepikiran mengenai apa yang baru Raisa lihat tadi. 


"Ke rumah Mama Papa maksudnya?" tanya Raisa seraya mengambil sabun cair berukuran besar. 


Rian membalas dengan anggukan. "Iya. Mau mampir ke sana gak nanti?" tanya Rian. Barangkali Raisa tertarik untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Lagipula, orang tuanya pasti rindu dengan Raisa. 


"Mmm ..." Raisa nampak menimbang-nimbang, gerakannya kini terhenti, tidak mengambil barang apa-apa. Fokus memilih tidak atau iya. "Boleh, deh," ucapnya pada akhirnya. 


"Nah, gitu dong." Rian pun senang sang adik bisa ke rumahnya lagi, walaupun hanya beberapa saat nanti.


 "Oh iya, kamu jangan lupa beli susu hamil. Kan kamu lagi hamil," ucap Rian mengingatkan karena Raisa sepertinya hampir melupakan minuman terpenting untuknya saat ini. 


"Iya, Abang," jawab Raisa dengan mengulas senyuman. Memang iya, meskipunseorang adik telah tumbuh dewasa bahkan sudah menikah, ia akan tetap menjadi anak kecil bagi sang kakak. 


Di tempat lain, Alea dan Rafi nampak sedang memilih-milih baju perempuan. Meskipun sudah nampak begitu bosan, tapi tetap berusaha menemani kekasih gelapnya itu. 


"Ini bagus, gak?" tanya Alea dengan menunjukkan satu buah atasan blouse pada Rafi. "Atau bagusan yang ini?" tunjuknya pada blouse yang lain. 


"Bagus yang kiri," balas Rafi seadanya. Ia bahkan mengira semuanya cocok dan tepat jika dikenakan oleh wanita itu karena memang bentuk tubuhnya begitu bagus. 


"Lah, kok dibalikin, sih?" cibir Rafi. "Udah yang tadi aja. Nanti makin lama." Rafi memang sudah sangat bosan. 


"Enggak, kamu gak suka apa yang aku suka soalnya." Alea sebenarnya tadi lebih suka dengan blouse yang sebelah kanan, tapi Rafi lebih menyukai blouse yang sebelah kiri. 


Rafi pun menepuk jidat. "Hadeh, tau gitu aku milih yang kanan tadi."


"Sayang, yang ini aja," tunjuk Rafi pada sebuah setelah baju dan rok ketat dan mini. "Cocok banget tau di badan kamu. Pasti uhhh."


Mata Alea melotot. "Ish, Honey. Jangan nakal dong," sahut Alea. Lama-lama ia tidak suka jika Rafi menggodanya seperti itu. Ia menginginkan hati Rafi yang tulus. Ia ingin Rafi menyukainya karena hati dan sikap, bukan karena paras dan bentuk fisik. 


"Hihihi, ayolah, Honey. Habis itu kita ke hotel, ya," ajak Rafi untuk melakukan hal terlarang. 


Tapi, ditolak oleh Alea karena ia sedang ingin dicintai dengan tulus, bukan untuk melayani keinginan Rafi. "Gak dulu deh, Honey. Aku lagi capek."


"Alah, Sayang. Ayolah." Rafi terus memaksa wanita itu. 


"Kita makan aja, yuk. Sampai pagi gak apa-apa, deh," ajak Alea mengalihkan ajakn Rafi untuk check-in ke hotel. 


"Yang benar aja makan sampai pagi," cibir Rafi. Ia nampak sedang berpikir keras. "Ya udah, kita ke tempat karaoke aja," ajaknya akhirnya memutuskan. Alea pun mengiyakan. 


Lagipula, ia sedang butuh hiburan. Dengan bernyanyi riang, barangkali bisa menyembuhkan suasana hatinya yang kurang enak. 


***


Sekarang, jam menunjukkan pukul 03.00, Alea membuka mata dari tidur lelapnya. Ia nampak mengedarkan pandangan. "Ini di mana?" tanya Alea pada diri sendiri. 


Ia melihat ada seseorang di sampingnya. "Honey," lirihnya saat melihat pria yang dicintainya masih terlelap dalam tidurnya. Mereka berdua tidak berbusana, membuat Alea kedinginan. 


Ia tidak ingat benar mengenai apa yang terjadi semalam. Seingatnya, ia tengah makan malam dan minum minuman pemberian Rafi. Setelah itu, ia seperti dibawa oleh Rafi ke dalam mobil. Kesadarannya hilang beberapa detik kemudian. 


Ini bukanlah di hotel, melainkan sebuah villa. 


Rafi nekat mengajak wanita itu ke villa miliknya yang cukup jauh dari rumah Rafi ataupun kos-kosan Alea. Pria itu sudah tidak tahan untuk menyalurkan hasratnya. Ia ingin bersama Alea dalam waktu yang lama, dan tidak ada satupun orang yang bisa mengganggunya. 


Di kediaman Raisa, wanita itu nampak tidak bisa tidur sejak tadi malam. Sebenarnya, sejak kepulangannya dari rumah orang tuanya, Raisa sudah tidak tenang karena Rafi tidak ada kabar. Tapi, Rian meyakinkan dirinya bahwa Rafi akan segera pulang.


Kini, Raisa pun hanya berdua di rumahnya dengan sang pembantu. Tidak ada sopir yang menginap, ataupun satpam yang berjaga di depan sana. 


"Sayang, kamu ke mana?" tanya Raisa kepada diri sendiri karena terus mencemaskan sang suami. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada suaminya itu. 


Ia memeriksa ponsel, mencoba menghubungi Rafi lagi dan lagi. Namun, lagi dan lagi juga, sambungan teleponnya tidak dapat terhubung. 


Karena sudah begitu geram, wanita itu pun akhirnya menghubungi sang kakak. "Kak, angkat dong. Aku butuh teman."