Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 13


"Apa iya, Sayangku? Jangan capek-capek loh kamu," ucap Raisa dengan penuh perhatian. Sangat berbanding terbalik dengan suaminya yang tukang bohong itu. 


"Iya, Sayang," ucap Rafi dengan nada yang lemah, seolah menunjukkan bahwa dirinya memang sedang benar-benar kelelahan. 


"Terus kamu udah makan apa belum? Harus jaga kesehatan loh ya." Raisa nampak begitu perhatian pada suaminya itu. Sedangkan Rafi sama sekali tidak menunjukkan rasa peduli pada istrinya sendiri. 


"Udah, kok. Ini abis makan," ucapnya seraya melangkah menuju belakang vila. Ada sebuah kebun kecil di sana. Ada pohon jeruk bali, pandan wangi, sereh, rambutan, dan kelengkeng. 


"Syukurlah." Raisa bisa bernapas lega jika mendengar sang suami sudah makan. "Harus jaga kesehatan pokoknya." Wanita itu memperingatkan lagi dan lagi agar sang suami menjaga kesehatan dengan tidak telat makan. 


"Iya. Pasti kok." Tidak lama kemudian setelah mengucap kata itu, Rafi tiba-tiba bersin. Mungkin karena ada di daerah yang terlalu dingin untuk tubuhnya. 


Tapi, hal itu menimbulkan kesalah pahaman untuk Raisa. Ia menganggap Rafi bersin karena sakit flu dan demam. "Kamu sakit, Sayang? Aku susul kamu ke sana atau gimana?" 


Wanita itu langsung panik mendengar suaminya bersin. Raisa memang sudah terlalu dalam mencintai suaminya itu. Saat terjadi hal-hal kecil pada Rafi, wanita itu langsung cemas. Ia merasa seolah tidak becus menjaga suaminya. 


Padahal, yang Rafi perlakukan padanya sangat berbanding terbalik. Pria itu diam-diam justru mengkhianati Raisa yang sudah begitu tulus mencintai dirinya. 


"Enggak, gak usah, Sayang. Aku di sini kerja," tegas Rafi. Jangan sampai istrinya itu menghampiri dirinya, apalagi bersama sang kakak ipar. Jangan sampai kejadian. Ia harus meyakinkan Raisa bahwa dirinya baik-baik saja. 


"Aku udah beli obat kok, tenang aja kamu," ucap Rafi lagi-lagi penuh kebohongan. 


"Kamu yakin? Atau mau pulang aja?" Raisa jadi bingung sendiri kalau sedang panik seperti ini. 


"Eh, enggak perlu dong. Aku kan kerja, Sayang. Masa iya aku meninggalkan tanggung jawabku gitu aja cuma karena flu," jelas Rafi. Ia ingin segera mengakhiri sambungan telepon itu. Tapi, rupanya Raisa malah seolah membuat obrolan menjadi lama. 


"Ya udah ya, aku matikan dulu. Ini mau lanjut kerja lagi," kata Rafi entah sudah berbohong ke berapa kali. Pria itu sudah ingin mengakhiri telepon itu karena ingin tidur dengan memeluk Alea. 


"Aku tuh gak tega sama kamu, Sayang." Raisa justru terdengar sedang menangis. Ia terlalu berlebihan memikirkan sang suami. 


"Eh, jangan nangis dong, Raisa," ucap Rafi dengan nada yang sedikit kesal. Ia sudah malas menghadapi sang istri. 


Niat awal dirinya menghubungi Raisa adalah hanya untuk sekedar berkabar. Sekarang sudah sepuluh menit berjalan, dan telepon itu masih tersambung dengan Raisa, membuatnya geregetan. 


"Aku tutup, ya. Ada bosnya ini." Tidak lama kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Raisa, Rafi lantas menutup telepon itu. 


Ie menghela napas karena sudah kembali lega. Ia berharap Raisa ataupun Rian tidak lagi menghubungi dirinya dan Alea. 


Sekarang ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Menghampiri Alea yang masih terlihat pulas dalam tidur. 


Segera ia merebahkan tubuhnya tepat di samping Alea. Ia rengkuh wanita itu erat-erat, sangat erat, dan semakin erat. 


Setelah Rafi tertidur, tidak lama kemudian Alea mulai membuka matanya. Sesekali ia mengerjapkan mata hingga akhirnya seluruh matanya benar-benar terbuka. 


"Honey?" Wanita itu mengulas senyum saat menyadari Rafi memeluk erat tubuhnya dari belakang. 


Lantas ia pun membalikkan badan, menghadap tepat di depan Rafi. Tubuh mereka bahkan seperti tidak ada jarak. Alea menempelkan hidung mancungnya pada hidung Rafi yang lebih mancung. 


Awalnya, ia ingin kembali tidur agar saat Rafi nanti terbangun, dirinya tidak lagi mengantuk dan sama-sama dalam keadaan yang segar. Tapi apa daya, wanita itu sudah kenyang tidur sedari tadi. Tanpa melepas pelukan Rafi sedikitpun, Alea mulai bermain ponsel. Ia mulai berselancar di dunia maya. 


Dilihatnya akun sosial media milik Rafi. Ada foto pernikahan Rafi dan Raisa di sana, membuat Alea sejenak menundukkan pandangan. Hatinya terasa begitu sesak. Pikirannya kembali berkecamuk. 


Sejenak ia merenggangkan tubuhnya dengan tubuh Rafi, menciptakan jarak yang sebelumnya tidak ada walau satu senti pun. Ia merasa ragu dengan semua yang dia lakukan bersama Rafi karena tidak ada masa depan yang jelas pada hubungan terlarang mereka. 


Tapi, Alea kembali mengingat bentuk perhatian Rafi yang luar biasa baginya. Bahkan Ragi menyempatkan waktu untuk staycasion dengan dirinya selama satu minggu. Ia jadi percaya bahwa Rafi memang benar-benar mencintai dirinya, sama seperti Alea mencintai Rafi. 


Wanita itu kembali merapatian tubuhnya pada tubuh Rafi. 


***


Sekarang sudah hari ke lima, Alea dan Rafi menghabiskan waktu bersama di sebuah vila. Saat Rafi tengah membuka ponsel untuk memeriksa pekerjaan di kantornya, tiba-tiba Rian menelepon.


Sontak Rafi terkejut dan seolah enggan mengangkat telepon dari kakak iparnya itu. Ia bahkan baru ingat jika nanti malam, Rian mengajaknya nongkrong bersama di tempat yang biasa. 


Dua hari lalu, Rafi memang mengaku akan pulang pada hari ini. Padahal, itu hanya kebohongan yang diucap spontan agar obrolan antara dirinya dengan Rian bisa cepat terhenti. 


"Ya, ha-halo?" sapa Rafi dengan nada malas dan terbata-bata. Ia melangkahkan kakinya menuju teras, ada tempat duduk di sana. 


Pandangannya mengarah pada beberapa tanaman dan beberapa jenis bunga yang tumbuh subur di halaman vila itu. Sementara itu, jika dilihat ke arah bawah, nampak hamparan kebun teh dengan jenis tanah terasering, menambah indah pemandangan yang ada di sana, mampu memukau mata semua orang. 


"Hai, Bro. Lagi di mana sekarang?" tanya Rian basa-basi dengan nada yang sangat santai. 


"Lagi di jalan," ucap Rafi tidak sesuai fakta yang ada. "Oh ya, Bro. By the way kamu suka Alea sejak kapan?" Rafi langsung bertanya pada poinnya. Lebih baik memang hal itu harus dibicarakan secara hati ke hati antara mereka berdua. 


"Sejak awal kita bertiga berteman, haha." Rian mengucapkan kalimat itu dengan nada yang entah. Seperti ada rasa kecewa, juga seolah-olah sedang menertawakan dirinya sendiri. 


Rafi yang mendengar pengakuan sang sahabat itu pun membelakakkan mata. "Serius?" 


"Iya, Bro. By the way, aku juga tau kok, sebenarnya kamu masih di sana kan? Kamu di Puncak selama satu minggu, kan?" Rian sudah mengetahuinya terlebih dahulu karena sudah diberi tahu oleh Alea sebelum berangkat. 


Tujuan Rian bertanya pada Rafi tak lain hanyalah untuk mengetes saja.