
"Mampir minimarket aja yuk, Rian. Aku haus nih," celetuk Alea tiba-tiba. Tenggorokannya kering setelah menyaksikan pemandangan tak mengenakkan tadi.
"Siap, Bos. Sekalian beli camilan juga boleh, nanti biar aku yang bayar," sahut Rian dengan enteng. Ia memang selalu siap melakukan apapun untuk sang pujaan hatinya.
Tiba-tiba Alea memijit pelipis karena merasa kepalanya begitu sakit. "Aduh, ini kepalaku kenapa tiba-tiba pusing banget, ya?" keluh wanita itu seraya terus memijit pelipis.
"Apa mau sekalian mampir apotek buat beli obat sakit kepala?" Rian menanyakan hal itu pada Alea terlebih dahulu karena jika pria itu langsung membelikan obat, ia khawatir jika Alea justru tidak mau meminumnya.
Terlebih wanita itu sangat membenci obat. Lagipula, Rian pikir itu hanya sakit kepala biasa, tidak perlu meminum obat, nanti akan sembuh dengan sendirinya biasanya.
Alea menggeleng dengan mengarahkan pandangannya entah ke mana. Kedua matanya seperti tertuju pada luar jendela, tapi dalam matanya, nampak begitu kosong. "Aku gak mau obat, Rian. Kamu kan tahu aku gak suka obat," sahut Alea dengan masih memandang ke arah yang sama.
"Ya udah kalau gitu gak usah beli obat. Nanti dioles aja paki freshcare biar lebih mendingan. Punya freshcare kan?" tanya Rian memastikan. Sesekali pria itu mengarahkan pandangannya pada wajah Alea.
Alea mengangguk-anggukan kepalanya. "Heem," jawab wanita itu dengan singkat.
Tibalah mereka pada sebuah minimarket di tepi jalan. Rian memarkirkan mobilnya tepat di depan minimarket itu. Ia tidak membiarkan wanita pujaan hatinya untuk turun karena wanita itu nampak sedang tidak baik-baik saja, walau mungkin hanya sakit kepala.
"Aku di sini aja ya, Rian?" tanya Alea, masih dengan memijit kedua pelipisnya. Wajahnya pun sudah menjadi pucat sekarang.
Rian yang masih berada di dalam mobil pun mengangguk. "Iya, kamu di sini aja. Mau beli minum apa?" tanya Rian masih dengan nada yang tenang karena ia pikir Alea hanya sakit kepala biasa. Pria itu lalu melepas seat belt mobil.
Tidak ada yang perlu dikahwatirkan secara berlebihan. Apalagi, raut wajah Alea memnag terkadang bisa menunjukkan mimik wajah pucat seperti itu.
"Apa aja deh, Rian. Yang penting segar, ya," pesan Alea. Ia merasa tenggorokannya semakin mengering.
"Okei, Sayang."
Setelah mengucap dua kata itu, tanpa sahutan dari Alea, Rian pun ke luar mobil untuk menuju ke dalam minimarket.
Setelah kembali dari minimarket, Rian membawa dua minuman kesukaan Alea yang ia tahu selama ini, pun lengkap dengan beberapa camilan keripik kesukaan wanita pujaannya itu.
Rian pun mengulurkan minuman kaleng itu pada Alea. "Ini, minum dulu. Kamu suka ini, kan?" tanya Rian memastikan. Meskipun ia sangat yakin bahwa minuman itu memang adalah minuman kesukaan Alea.
Mereka sudah bersahabat begitu lama. Sudah sama-sama tahu mengetahui hobi, kebiasaan, dan makanan ataupun minuman favorit masing-masing. Apalagi Rian begitu mendambakan wanita itu. Sudah pasti ia mengingat segala-galanya tentang Alea.
Alea meraih minuman dalam kaleng itu dengan mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, suka ini kok."
Setelah memastikan bahwa Alea senang dengan minuman yang dibelikan oleh dirinya, Rian pun kembali mengenakan seat belt untuk menjaga keselamatan dalam berkendara.
"Iya sih lumayan, Rian," sahut Alea sekenanya. Jawaban wanita itu membuat Rian merasa lebih tenang karena biasanya kalau sedang merasakan sakit yang amat dalam, Alea pasti menunjukkan rasa sakit itu melalui ekspresi di wajahnya.
Hanya saja, kali ini tidak sehingga Rian pun menyimpulkan bahwa Alea memang tidka baik-baik saja, namun tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan kosan Alea. Tanpa menunggu Rian untuk membukakan pintu mobilnya, Alea justru langsung menuju ke dalam kosnya. Itu membuat Rian merasa sedikit janggal dan kebingungan.
Tiba di dalam kamar, Alea langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Ia menata bantal dengan pasti karena itu akan menjadi alas kepala Alea saat ia tidur. Apalagi kepalanya tengah sakit, posisi bantalnya juga harus tepat.
Sementara itu, dari kejauhan, Rian masih memarkirkan mobilnya di depan kosan Alea. Ia hanya memandang wanita itu dari kejauhan yang bahkan tidak bisa dijangkau karena tertutup oleh gorden jendela dan tembok.
Tapi, ia tidak peduli itu karena tujuannya adalah agar bisa terus merasa bersama wanita pujaannya itu. Setelah beberapa menit, pria itu baru akhirnya pergi dari sana.
Saat tengah malam pada pukul 01.00, Alea merasa panas dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Di luar tubuhnya, ia merasa begitu panas. Suhu tubuhnya pun berangsur-angsur mulai meninggi.
Sementara itu, di dalam tubuhnya, ia merasa begitu kedinginan. Seperti ada es balok yang hinggap di dalam tubuhnya. Kepalanya pun kian pusing seiring waktu berdenting.
Wanita itu hanya bisa menggigil dan mendesis kesakitan. "Ya Tuhan, jangan kasih saya sakit, Tuhan. Aku gak punya siapa-siapa di sini," lirih Alea pada dirinya sendiri.
Ia memang tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri. Tapi kemudian, ia teringat Rian. Hanya pria itulah yang selama ini selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi Alea. Mungkin kalau sekarang ia meminta tolong pada pria itu, mungkin saja ia akan mau.
Dengan kondisi tubuh yang begitu lemah, Alea pun membuka ponselnya. Ia mencari-cari nama Rian di dalam layar pipih itu. Meskipun kemungkinan besar Rian sudha tidur pada pukul segini, tapi Alea berharap Rian bisa dihubungi olehnya.
Alea tidak bermaksud mengemis-ngemis untuk dimintai tolong. Hanya saja, kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan pada orang lain.
Wanita itu pun menghubungi Rian melalui telepon. Satu kali, tidak diangkat. Dua kali tidak diangkat. Alea sebenarnya sudah pupus harapan karena ia berpikir Rian pasti sudah tidur. Pun pria itu mungkin sudah kelealahan.
Tapi, ia mencoba menekan tombol telepon satu kali lagi. Dan benar saja, saat ia menghubungi Rian yang ketiga kali, akhirnya mendapatkan jawaban.
"Halo, Alea, ada apa?" tanya Rian dengan suara yang masih serak. Pria itu baru terjaga dari tidurnya. Setelah pulang dari mengantar Alea tadi, ia langsung tertidur pulas.
"Rian, badan aku panas banget. Aku harus gimana ini? Aku butuh dipeluk, butuh dipijit, butuh ditemani tapi gak ada siapa-siapa di sini," keluh Alea mengatakan apa adanya.
"Ya ampun, Alea. Kamu demam?" Sontak Rian pun langsung cemas dan khawatir.
"Iya, Rian," lirih Alea dengan suara yang begitu lemas.
"Ya udah aku ke sana sekarang, ya," ucap Rian. Pria itu pun langsung bergegas menuju kosan Alea.