Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 59


Mereka berempat pun berangkat menuju sebuah restoran yang tak jauh dari rumah baru Alea san Rian. Mereke menggunakan dua mobil agar sama-sama memudahkan jika nanti Rafi dan Raisa langsung ingin pulang ke rumahnya. 


Tiba di restoran, mereka berempat duduk di meja yang sama. Saat yang lain tengah sibuk memilih menu makanan, tiba-tiba Alea justru merasa gelisah tanpa sebab. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rian yang langsung peka dengan tingkah laku sang istri. "Ada yang sakit?" tanya Rian lagi karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh Alea. 


Alea justru meletakkan tangannya tepat pada dadanya. "Kenapa tiba-tiba gelisah, ya?" lirih Alea. Pandangannya tertuju entah ke mana. Pikirannya juga tak jelas arahnya ke mana. 


"Udah udah, gak apa-apa. Mungkin itu berasal dari pikiran kamu yang lagi overthinking." Rian mencoba menenangkan sang istri.


Rian menebak, kini Alea tengah memikirkan tentang perasaan Raisa jika tahu bahwa laki-laki yang menghamili Alea bukanlah Rian, melainkan Rafi. 


"Kamu suka spagetti kan biasanya? Pesan spagetti aja ya kita," tutur Rian. Baru kali ini pria itu memilihkan makanan untuk Alea karena biasanya Rian lah yang selalu mengikuti makanan sang istri. 


"Heem," ucap Alea dengan volume suara yang hampir tak bisa didengar. 


"Alea kenapa?" tanya Raisa. Wanita itu menjadi ikut sedih jika melihat Alea seperti ini. Ia menjadi overthinking apakah penyebab Alea seperti ini adalah karena dirinya? 


Alea menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak, Raisa. Aku gak apa-apa kok." Wanita itu berusaha menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Meskipun sebenarnya dalam hati, ia tidak bisa mengendalikan rasa gelisahnya. 


"Ya sudah, kalau gitu aku ke kamar mandi dulu ya, Sayang, Abang, Alea," pamit Raisa seraya berdiri. Tiba-tiba ia ingin buang air kecil. 


"Aku juga deh." Rafi juga turut berdiri, ia ingin pergi ke kamar mandi. Bukan untuk buang air kecil ataupun besar, melainkan agar tidak diajak bicara oleh Rian. 


Sejujurnya, ia masih canggung dengan Alea. Ia takut jika ada salah kata ataupun tingkah laku. Ia hanya berani jika ada Raisa, sang istri di sebelahnya. 


"Kamu ikut-ikutan aku aja, Sayang," goda Raisa. Mereka pun melangkah menuju kamar mandi masing-masing. Rafi menuju toilet laki-laki, sementara Raisa menuju toilet perempuan. 


Saat Rafi dan Raisa pergi dari meja itu, Alea baru bisa menumpahkan seluruh air matanya di depan Rian. "Ayang, aku gak tau kenapa rasanya sedih banget," tutur Alea dengan menyandarkan kepalanya tepat pada pundak Rian. 


"Sedih kenapa, Sayang?" tanya Rian dengan pelan. Ia membelai rambut panjang sang istri. "Mau minum dulu?" Pria itu menawari sang istri minum karena kebetulan minuman yang mereka pesan baru saja datang. 


Namun, Alea justru menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak mau. Aku gak mau minum. Gak mau makan. Dan yang terpenting, gak mau ditinggal sama kamu," ucap Alea seraya melingkarkan kedua tangannya pada lengan Rian. 


"Aku gak akan ke mana-mana, Sayang. Kamu jangan berpikir berlebihan. Pasti kamu khawatir sama Raisa, ya?" tanya Rian sesuai dugaannya. 


Alea mengangguk-anggukkan kepalanya. "Heem, aku takut kalau dia tahu yang sebenarnya," lirih wanita itu dengan penuh manja di pundak sang suami. 


"Gak akan, Sayang. Raisa gak akan tahu kalau yang menghamili kamu itu Rafi, bukan aku." Penuturan itu tak sengaja didengar oleh Raisa yang baru saja datang dari arah belakang. 


"Aku akan bilang pada dunia bahwa akulah bapak dari anak di perut kamu, meksipun yang berulah adalah Rafi," lanjut Rian yang kemudian membuat Raisa mendengar semuanya. 


Ternyata, laki-laki yang menghamili Alea adalah Rafi, bukan Rian. Sontak dada Raisa terasa sesak seketika. "Abang? Jadi yang menghamili Aela itu Rafi? Iya, Abang?" tanya Raisa memastikan. Meskipun semua yang didengar langsung oleh telinganya tadi adalah sudah pasti benar. 


"Raisa?" Rian dan Alea kaget bukan main. Ternyata Raisa mendengar percakapan rahasia mereka. 


Raisa mematung di tempat yang sama seraya memegangi dadanya yang kian sesak. "Bisa-bisanya," lirih wanita itu. 


Tanpa menunggu penuturan  dari Alea dan Rafi, Raisa lantas mengambil tasnya lalu beranjak ke luar restoran. Kunci mobil yang dibawa Rafi tadi, ada dalam tasnya kini. Ia pulang lebih dulu. Bahkan saat Rafi sekarang masih ada di dalam toilet. 


Tadinya, Rian hendak mengejar sang adik. Namun, adiknya yang bertubuh ramping itu bergerak cepat sekali hingga kehilangan jejak. 


Rafi yang baru tiba dari toilet pun tidak tahu apa-apa. "Raisa ke mana?" tanya Rafi dengan polos. 


"Dia udah tahu semuanya," ucap Rian dengan tegas. "Kemungkinan dia pulang ke rumah. Tidak mungkin ke tempat lain karena ada baby Rara."


"Iya, kunci mobil dia yang bawa. Berarti dia langsung pulang," ujar Rafi. Sementara itu, Alea hanya bisa memegangi kepalanya. Ia yang tadinya sudah merasa tidak baik-baik saja, kini semakin merasa tidak karuan. 


"Ayo kita susul ke rumah," ajak Rafi yang sama paniknya. Ia khawatir dengan keadaan sang istri. Takut jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi selama Raisa dalam perjalanan. 


"Ayok," timpal Rian dengan tegas. Mereka kemudian membayar bill dan membiarkan makanan dan minuman yang datang begitu saja tanpa disentuh sedikitpun. 


Tiba di parkiran mobil, Alea langsung duduk di sebelah Rian yang ada di jok depan. Sedangkan Rafi duduk di jok belakang. Mobil Rafi yang tadinya ada tepat di sebelah mobil Rian, sudah tidak ada. Sudah pasti Raisa pulang lebih dulu. 


Rian langsung menancap gas ketika semuanya sudah memasang seat belt. Ia menjalankan mobilnya menuju rumah Raisa. Karena khawatir dengan keadaan sang adik, Rian pun melajukan mobilnya dengan sangat kencang. 


"Bro, aku tahu kamu panik. Tapi kita juga harus waspada," ujar Rafi mengingatkan. Ia takut dengan cara berkendara Rian yang ugal-ugalan saat ini. 


"Sementara itu, Alea hanya diam saja. Wanita itu seolah tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya seolah terkunci. Tenggorokannya terasa kering, namun tidak ingin minum. Masalah ini benar-benar rumit. 


" Aku juga tau, Bro. Tapi aku benar-benar cemas sama adik aku. Dia gak pernah semarah ini sebelumnya. Semoga dia ada di rumah nanti," sahut Rian. Tatapan matanya begitu tajam lurus ke arah depan. 


Bukan mendengar saran dari Rafi, Rian justru semakin mempercepat kecepatan mobilnya. Alea ketakutan, ia pun akhirnya menegur sang suami. 


"Ayang, hati-hati," lirih Alea yang nampak begitu ketakutan. Rian sama sekali tidak menggubria saran dari Rafi maupun Alea. 


Hingga akhirnya, saat ada di perempatan, ada mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba datang dari arah kanan. Rian tidak bisa mengendalikan mobilnya. 


"Aaaaaa." Suara teriakan terdengar dari seluruh isi mobil. 


Brakkkkk!!!