
Alea terus membantu Raisa membuat berbagai macam jenis makanan hingga semuanya selesai pada pukul dua siang. Sementara arisan Rafi itu dimulai pada setelah waktu asar.
"Akhirnya, selesai juga," ucap Raisa seraya meregangkan otot-otot lada tubuhnya. Wanita itu sudah berhasil menyelesaikan banyak sekali jenis makanan dan camilan.
Kini tubuhnya sudah begitu lelah dan lengket karena sejak pagi sudah bergelut dengan urusan dapur.
"Makasih ya, Alea, sudah bantu aku," ucap Raisa seraya mengarahkan pandangannya secara tajam pada kedua mata Alea.
"Aku bantu apa sih, Sa? Aku cuma bantu lihatin kamu masak doang." Alea terkekeh, wanita itu rupanya sudah menikmati kebersamaan antara dirinya dan Raisa.
Pun dengan Raisa, Alea diterima secara baik dan sangat hangat oleh wanita itu. "Enggak lah, kamu kan bantu-bantu tadi. Ambil apa yang kamu ingin ambil. Coba apa yang ingin kamu coba, ya, Alea. Jangan sungkan-sungkan." Raisa meraih tangan kanan Alea.
"Iya, Raisa. By the way, aku mau minta maaf soal kejadian beberapa waktu laku, ya," ucap Alea seraya menggenggam tangan wanita itu. Pikiran Alea tertuju pada saat di mana dirinya menjadi kekasih gelap Rafi dalam waktu yang cukup lama.
"It's okay, Alea." Raisa hanya tersenyum membalas perkataan maaf dari Alea.
Itu membuat Alea kembali takjub dan kagum dengan wanita yang kini ada di depannya itu. "Pantas saja kalau Rafi lebih memilih Raisa karena memang dia sesempurna ini," ucap Alea dalam batin.
Pantas saja Rafi lebih memilih Raisa dibandingkan dirinya. Kini Alea sudah mengerti. Wajah Raisa tak kalah cantik dari Alea, meskipun bentuk tubuhnya mungkin tidak begitu menarik di mata para pria.
Hanya saja, kalau ada laki-laki yang mengetahui Raisa semahir ini dalam hal apapun, maka semua laki-laki juga akan jatuh hati padanya.
"Oh iya, Alea. Jaga Abang aku ya. Dia sayang banget sama kamu. Aku mohon jangan kecewakan dia lagi. Kamu tahu kan rasanya dikecewakan sama orang yang paling kita sayang?" Raisa menatap kedua bola mata Alea, membuat wanita yang ada tepat di depannya itu menelan salivanya.
"Pasti, kok, Raisa. Kamu tenang aja ya. Doakan aku juga, semoga bisa menikah sama Abangmu," tutur Alea dengan menunjukkan wajah yang begitu serius.
"Of course, Alea. Semangat ya buat kita." Raisa membasuh punggung Alea dengan tangan kirinya.
Tidak lama kemudian, Rafi datang menghampiri Raisa dan Alea yang ada di dapur. "Sayang?" panggil Rafi secara spontan tanpa memerhatikan jika di sana ada Alea.
Namun, saat menyadari bahwa ada Alea di sana, Rafi mulai merendahkan volume suaranya. "Sayang?" panggilnumya lagi.
"Iya, Sayang," sahut Raisa dengan sigapnya.
"Kamu siap-siap sekarang aja. Ini teman-teman udah pada jalan ke sini tau," ujar Rafi seraya memandangi wajah ayu sang istri yang nampak begitu natutal dan kelelahan.
"Iya, Sayang. Ini udah selesai semua juga kok," timpal Raisa membuat sang suami terkesima dengan semua hasil buatan tangan sang istri.
"Widih, hebat banget sayang aku. Aku kira belum selesai, udah aku suruh Bi Eni buat melanjutkan semua ini. Tapi ternyata kamu sudah menyelesaikan semuanya. Good job, Sayang," ucap Rafi yang terus memuji-muji Raisa di depan Alea.
Sementara itu, Alea sedari tadi hanya menyimak obrolan Rian dan Raisa. Wanita itu hanya bisa mematung di tengah-tengah perbincangan Rafi dan Raisa.
Dan sekarang, ia baru menyadari bahwa sudah tidak ada lagi rasa cemburu yang bersemayam di dalam hatinya saat melihat Rafi dan Raisa bersama. Bahkan saat Rafi dan Raisa memperlihatkan keromantisan mereka di depan Alea, wanita itu hanya biasa saja.
***
Alea merebahkan tubuhnya yang masih kotor di atas kasurnya yang empuk. Ia baru saja kembali dari rumah Raisa. Tadinya, ada Rian yang mampir sejenak di kosan Alea. Hanya saja, tidak lama karena ada urusan mendadak dengan sang mama.
"Uhhh, capek banget," ungkap Alea. Ia cukup kelelahan setelah membantu Raisa mengerjakan semua masakannya.
Meskipun Alea tak lebih hanya melihat Raisa dan hanya sedikit membantu Raisa, tapi tetap saja rasanya pegal semua. "Ternyata di dapur capek banget," keluhnya.
Ia merebahkan seluruh badannya. Dibiarkannya tangan dan kakinya terbuka secara leluasa. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar.
"Akhirnya, urusan perasaanku sama Rafi bisa sirna seluruhnya," ucap Alea penuh rasa syukur.
Mencintai laki-laki orang itu sama sekali tidak ada sisi indahnya. Yang ada hanya rasa takut dan cemas jika ketahuan, dan merasa bersalah karena telah merebut laki-laki dari istri sah seseorang.
Ia belum sempat mengatakan semua ini kepada Rian karena tadi pria itu nampak begitu terburu-buru saat Alea baru saja hendak mengatakan semuanya.
Alea melirik makanan di atas meja. Raisa tadi memberinya lontong beserta sate padang, pun rendang untuk dimakan Alea di kosan. Lagi-lagi, Alea tak henti mengagumi kemurahan hati seorang Raisa.
Ia lantas meraih lontong dan sate padang. Ia memindahkan semuanya ke atas piring, untuk kemudian ia santap. Meski tadi di sana ia sudah menikmati itu semua dan bahkan mencicipi hampir semua hasil masakan Raisa, tapi tetap saja Alea masih lapar.
Masakan Raisa terlalu enak dan nikmat di dalam mulutnya. Entah kapan wanita itu bisa memasak seenak ini juga. Yang pasti ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi seperti sosok Raisa.
Saat Alea sedang sangat menikmati lontong beserta sate padang, tiba-tiba ponselnya berdering. Pertanda ada telepon yang masuk. Ada nama Rian di layar ponselnya.
"Sayang?" sapa Rian dari ujung telepon.
Alea terus menyantap makanan yang ada di depannya. "Iya, Rian," sahutnya seraya mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Kamu lagi apa? Makan, ya?" tebak Rian. Pria itu kini sudah ada di rumahnya. Ia sudah merebahkan diri di atas kasur yang empuk.
"Iya. Makan makanan dari Raisa tadi," ucap Alea. Ia terus memakan makanan itu dengan lahapnya. Bahkan Rian pun dapat mengetahuinya walau hanya dari telepon.
"Kamu udah makan belum?" tanya Alea pada Rian.
"Udah, kan tadi di rumah Raisa, aku makan." Penuturan Rian itu membuat Alea tersadar bahwa dirinya memang kembali makan walau jarak waktu makannya berdekatan.
"Oh iya deh. Tapi kok aku udah makan lagi ya." Wanita itu heran kenapa dirinya begitu mudah lapar.
"Gak apa-apa. Makan aja yang banyak. Biar dedek bayi dalam perutmu sehat-sehat," ucap Rian menenangkan sang pujaan hati.
"Nanti kalau aku tambah gendut, kamu masih sayang aku gak?" tanya Alea secara acak.