Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 52


"Sayang banget lah. Mau kamu gendut, kamu kurus, kamu ada uban, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayangku ke kamu." Ucapan Rian itu membuat Alea jadi salah tingkah dari kejauhan. 


"Masa sih?" tanya Alea lagi seolah tak percaya. 


"Iya, Sayang." Rian terus meyakinkan. 


Alea pun akhirnya menceritakan semuanya pada Rian. Tentang dirinya yang sudah merasa biasa saja saat melihat Rafi dan Raisa bersama. Tentang rasa kagumnya pada adik Rian yang cekatan, rajin, dan serba bisa. 


Sepanjang Alea menceritakan semua apa yang dirasakannya, Rian menanggapi dengan penuh antusias. Terlebih saat wanita itu mengatakan bahwa perasaannya biasa saja ketika melihat Rafi dan Alea bersama. 


Itu berarti perasaan Alea untuk Rafi, tidak lagi tumbuh. Terbukti tidak adanya rasa cemburu pada laki-laki yang selama ini ia akui sebagai laki-laki yang paling ia sayangi itu. Memang, rasa sayang  kalau tidak dipupuk dengan perhatian, lama-lama akan layu juga. 


"Syukurlah, akhirnya, ya," ucap Rian dari ujung telepon. Dapat Alea terdengar bahwa pria itu begitu terharu mendengar  penuturan dari Alea. 


Alea pun semakin sadar bahw Rian memang benar-benar teramat menyayangi dirinya. "Love you, Rian."


Untuk yang pertama kalinya, Alea mengucapkan kalimat untuk khusus teruntuk pria yang selama ini mendamba-dambakannya, Rian. 


"I love you too, Alea. You know i love you so," lirih Rian yang kemudian diiringi dengan setitik air mata yang menetes di ujung matanya. 


"Makasih, ya. Akhirnya perjuanganku selama ini gak sia-sia," lanjut laki-laki itu. Dapat Alea simpulkan bahwa Rian memang terdengar sedang menangis haru. 


"Rian? Are you crying?" tanya Alea. Ia juga jadi ikut merasa terharu biru. Dalam hatinya bertanya, apakah dalam waktu dekat ini, mereka akan melangkah lebih jauh lagi? Entahlah, Alea sebenarnya sedikit takut dan khawatir. 


Rian berdeham. "Aku gak bisa menahan air mata bahagia ini, Sayang," ucap laki-laki itu seraya sesekali menghapus air matanya. 


***


Hari ini adalah jadwal Alea untuk mengecek kehamilannya di rumah sakit. Seperti biasa, ia akan ditemani oleh Rian nantinya. 


"Iya, Sayang. Nanti aku temani kamu pas setelah pulang kerja, kan?" tanya Rian memastikan mengenai jadwal ke dokter untuk mengecek kehamilan Alea. 


"Iya, setengah lima sore pokoknya," ujar Alea dengan volume suara yang rendah, menunjukkan bahwa wanita itu sangat tidak bersemangat. 


Ia lalu menghela napas panjang. "Aku kayak males banget kerja deh hari ini," lirih Alea. 


"Nah kan, akhirnya kamu kerasa juga. Udah aku bilang kamu stop kerja. Biar aku aja. Kamu stop kerja mulai dari sekarang, ya," pinta Rian. 


Sebenarnya laki-laki itu sudah sejak lama meminta agar Alea berhenti bekerja saja. Namun, Alea tidak menggubris permintaan dan arahan dari Rian itu. 


Ia merasa masih kuat bekerja dan justru akan bosan jika tidak bekerja. Alea tidak seperti Raisa, yang walau tidak bekerja, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Tapi, Alea, tidak bisa apa-apa. Bahkan memasak pun wanita itu tidak bisa. 


"Tapi sebentar lagi kita jadi suami istri, kan?" tanya Rian dengan nada yang begitu serius. Laki-laki itu memang sudah tidak sabar lagi menunggu Alea mengiyakan ajakannya untuk menikah. 


"Semoga, ya." Hanya dua kata itu yang bisa diucapkan oleh Alea karena wanita itu masih ada diambang keraguan walaupun ia sudah yakin saling menyayangi dengan Rian. 


"Ya udah, pokoknya mulai hari ini, aku mau kamu stop kerja. Titik," ujar Rian dengan penuh penegasan. 


Pria itu sudah sejak lama mengkhawatirkan kandungan Alea meskipun bayi dalam perut wanita itu bukanlah anaknya. Ia takut jika Alea kelelahan bekerja, nantinya bisa membuat hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. 


"Hmm... Gimana, ya?" Alea terdengar seolah sedang menimbang-nimbang. Padahal Rian hanya mengharapkan satu jawaban, yaitu iya. 


"Gak ada penolakan pokoknya. Harus mau. Udah diam di kosan aja," saran dari Rian, yang kemudian Alea pun memutuskan untuk mengaminkan saran dari Rian. 


"Ya udah deh," ucap Alea yang sebenarnya sedikit keberatan. Tapi, tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi untuk bekerja lagi. "Mau gimana lagi," lirih perempuan itu. 


"Aku tuh punya uang. Punya tabungan. Kamu jangan kayak lagi sama orang susah gitu," ucap Rian bukan berniat untuk menyombongkan diri pada Alea. Hanya saja, pria itu ingin agar Alea tidak sungkan pada Rian karena laki-laki itu memiliki tabungan.


Lagipula, orang tua Rian juga termasuk golongan orang yang kaya raya. Jika Alea bersama Rian, sudah pasti wanita itu tidak akan merasa kesusahan. Ia tidak akan lagi tinggal di kosan sederhana seperti saat ini lagi. 


"Iya, ngerti kok," ucap Alea. "Sombong amat kamu ini," imbuhnya dengan nada candaan kemudian diiringi dengan terkekeh. 


"Ya harus sombong kalau sama kamu, biar kamu gak sungkan-sungkan lagi sama aku," tutur Rian penuh keyakinan.


 "Apa kita beli rumah sekarang aja, biar kamu gak tinggal di kosan itu lagi? Biar kalau ada apa-apa jadi lebih mudah?" tanya Rian. Laki-laki itu berniat untuk membeli rumah, namun kata-kata yang diucapkan begitu enteng seperti hendak membeli baju murahan. 


"Kamu bukannya udah punya rumah? Yang kata kamu beli pakai uang kamu sendir pas itu?" Alea menanyakan tentang apa yang pernah Rian ceritakan pada wanita itu. 


Mereka memang sudah bersama-sama selama bertahun-tahun lamanya. Semua jadi lebih tahu dan paham mengenai satu sama lain. 


"Yang waktu itu udah dipakai Raisa sama Rafi itu. Dibeli sama mereka karena apa ya, aku lupa. Pokoknya intinya dibeli sama dia," ungkap Rian. "Kita beli lagi nanti, yang dekat sama Raisa aja kali ya, biar kamu bisa belajar bareng dia."


"Boleh, deh. Tapi kamu yakin, kita tinggal serumah sebelum nikah?" tanya Alea sedikit ragu. Apa jadinya nanti kalau mereka belum menikah tapi sudah tinggal satu atap? 


Meskipun mereka memang sudah sering menginap bersama di kosan Alea. Hanya saja, ini seperti dua hal yang berbeda. 


"Kamu mau kita nikah dulu? Ayok aja aku sih ikut kamu pokoknya. Selagi kamu nyaman, aku pasti bakal turutin." Dengan entengnya, Rian mengucapkan kalimat itu. Pria itu sangat menurut pada Alea karena memang sudah begitu sayang dan cinta pada wanita itu. 


"Entahlah, aku bingung juga harus gimana, Rian. Kamu yakin kan mau nikah sama aku?" tanya Alea sekali lagi. Takutnya, suatu saat Rian akan mengungkit-ungkit masalah ini karena mereka menikah saat Alea dalam keadaan hamil anak orang lain.